Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Mimpi Buruk


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak kepergian Sera ke luar negeri. Gamal yang frustasi dengan kepergian istri kecilnya itu mengalami psikosomatis sehingga penyakit GERD yang dimilikinya kambuh dan ia harus dilarikan ke rumah sakit karena keadaannya yang semakin memburuk hari demi hari.


"Kak, ayo makan dulu, aku suapi ya" Niken dengan telaten mengurus Gamal yang sedang terbaring lemah di rumah sakit.


"Biar aku makan sendiri saja" Gamal mengambil tray dari tangan Niken.


"Baiklah" meskipun sikap Gamal mulai berubah lebih pendiam terhadap Niken, namun ia berusaha untuk tetap bersabar.


"Ini obatnya" Niken menyodorkan beberapa butir tablet kepada Gamal setelah pria itu menyelesaikan makannya.


"Terima kasih" jawab Gamal sambil menerima obat serta segelas air yang disodorkan oleh Niken.


"Bagaimana kondisi kakak saat ini?" Niken yang sangat cemas menelisik wajah pucat Gamal.


"Baik" Gamal hanya menjawab singkat.


"Benarkah?" namun Niken tidak percaya begitu saja karena dari penampilan Gamal terlihat pria itu masih sangat lemah.


"Aku ingin istirahat" Gamal yang malas berbicara kemudian memilih untuk menyudahi percakapan mereka dan memejamkan matanya.

__ADS_1


"Iya, istirahatlah kak, aku akan menjagamu di sini" kata Niken sambil menggenggam salah satu tangan Gamal yang tidak diinfus.


Karena efek obat tidur yang diminum oleh Gamal, maka tidak perlu waktu yang cukup lama ia pun sudah terlelap ke alam mimpinya dan bertemu dengan Sera yang hendak pergi meninggalkannya.


"Tidak, jangan, aku mohon jangan tinggalkan aku, tetaplah di sisiku Sera!" Gamal meracau dalam tidurnya.


"Kak, kau kenapa?" Niken panik melihat Gamal mengigau.


"Sera, aku tidak bisa hidup tanpamu, aku mohon kembalilah padaku!" Gamal terus meracau memanggil nama Sera, butiran keringat mulai mengucur deras di wajahnya yang tampan.


"Kak bangunlah!" Niken berusaha membangunkan Gamal dari mimpi buruknya.


"Sera aku sangat mencintaimu, aku mohon maafkan aku!" Gamal mulai terisak dengan frustasi.


Niken yang mendengar bahwa Gamal sangat mencintai Sera tiba-tiba tersadar bahwa kini sudah tidak ada lagi namanya di hati Gamal. Hatinya begitu sedih dan sakit mendengar pria yang ia cintai kini telah berubah dan mencintai gadis lain. Namun begitu ia pun sadar bahwa ini semua juga terjadi karena ada andil dari dirinya yang menghilang selama beberapa tahun dari hidup Gamal sehingga tempatnya sudah tergantikan oleh Sera.


"Kak, sadarlah, ayo buka matamu" Niken berusaha tetap tegar dan mengguncang tubuh Gamal agar pria itu tersadar dari alam mimpinya.


"Sera!!!!!" Gamal berteriak menyebut nama gadis yang ia cintai sebelum akhirnya kembali ke alam sadarnya.

__ADS_1


"Kak, syukurlah kau sudah sadar" Niken tersenyum melihat Gamal membuka matanya.


"Niken???" Gamal yang tersadar bahwa yang ada disisinya dan menggenggam tangannya bukanlah Sera terkejut dan langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Niken.


"Ini minumlah dulu" Niken yang juga terkejut melihat reaksi Gamal yang tiba-tiba menolak genggaman tangannya berusaha menetralkan diri dengan mengambilkan Gamal segelas air mineral.


"Terima kasih" Gamal yang sudah berangsur-angsur sadar secara penuh pun berusaha menetralisir perasaan sedihnya dengan berusaha tersenyum saat Niken menyodorkan air mineral kepadanya.


"Istirahatlah kembali kak" Niken berkata kepada Gamal yang terlihat begitu sayu.


"Tidak aku sudah tidak mengantuk lagi" Gamal berbohong.


Meskipun rasa kantuk melanda, namun Gamal berusaha untuk tidak kembali tertidur karena ia khawatir akan bermimpi buruk lagi. Ia memilih untuk membuka ponselnya dan mengirimkan pesan kepada sang adik agar segera datang ke rumah sakit untuk menemaninya menggantikan Niken.


"Kau dimana? cepat datang kemari!" Gamal bertanya kepada Gide.


"Aku sedang dalam perjalanan, sepuluh menit lagi akan sampai" jawab Gide yang sedang di mobil bersama Dimas.


"Cepatlah sedikit!" Gamal yang sudah tidak nyaman hanya berdua saja dengan Niken mendesak sang adik untuk mempercepat kedatangannya.

__ADS_1


"Iya, sabar" Gide kemudian meminta Dimas melajukan mobilnya lebih cepat.


Sambil menunggu kedatangan Gide, Gamal berusaha menyibukkan dirinya dengan bermain ponsel. Ia memilih untuk diam dan tidak berinteraksi sama sekali dengan Niken yang sejak tadi menatapnya dengan intens.


__ADS_2