Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Ekspresif vs Pasif


__ADS_3

"Kak Dimas, Kak Gide" Niken menyapa kedua pria yang baru saja tiba.


"Hai Niken" Dimas tersenyum ramah, sementara Gide tidak merespon Niken sama sekali.


"Bagaimana kondisimu?" Gide berjalan melewati Niken begitu saja.


"Sudah lebih baik" Gamal menjawab.


"Halo kak?" Gide sengaja melakukan panggilan video dengan Sera di depan Niken.


"Kau sedang apa disana?" Gide bertanya.


"Aku baru bangun tidur dan ingin bersiap-siap ke kampus" jawab Sera.


"Oohhh" Gide ber oh ria.


"Ada apa kak? apakah ada yang penting?" Sera heran karena tidak biasanya Gide menelponnya dengan mode video.


"Lihatlah" Gide mengarahkan kameranya ke brankar Gamal.


"Kak Gamal sakit?" Sera terkejut melihat Gamal yang terbaring lemah dengan infus di tangannya.


"Iya, apa kau tidak mau menjenguknya?" Gide berseloroh.


"Memangnya Kak Gamal sakit apa?" Sera penasaran.


"Ini, kau bicara sendiri saja dengannya" Gide kemudian menyerahkan ponselnya kepada Gamal.


"Sera" Gamal menatap layar ponsel yang menunjukkan wajah cantik nan mungil gadis yang sangat ia rindukan selama satu minggu belakangan ini.


"Kak kau kenapa?" Sera menatap wajah Gamal yang sayu.


"Aku tidak apa-apa kok" jawab Gamal sambil tersenyum menutupi rasa sakitnya.

__ADS_1


"Isssshhh kau ini, kalau tidak apa-apa kenapa sampai bisa tidur di situ segala?" Sera mengerucutkan bibirnya, membuat Gamal tergelak karena merasa gemas dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Sera.


"Aku hanya sedikit kelelahan saja" jawab Gamal dengan lembut, ia tidak mau membuat Sera khawatir.


"Dia itu merindukanmu!" Gide merebut ponselnya dari tangan Gamal untuk menggoda sang kakak.


"Gide!" Gamal yang merasa terganggu karena Gide memotong percakapannya dengan Sera langsung berteriak kesal kepada sang adik.


"Lihatlah, saking dia merindukanmu, sampai-sampai dia marah kepadaku karena aku merebut ponsel ini dari tangannya" Gide semakin menggoda tanpa mempedulikan perasaan Niken sama sekali.


"Berikan ponselnya!" Gamal melotot kepada sang adik, membuat Gide dan Dimas tergelak melihat kekonyolan Gamal. Sementara Niken hanya tertegun melihat perubahan sikap Gamal yang langsung ekspresif ketika sedang berkomunikasi dengan Sera, sangat berbeda dengan sikap pasif Gamal tadi saat hanya berdua bersamanya.


"Kak Gide jangan begitu dong, kak Gamal kan sedang sakit!" Sera membela Gamal.


"Ck, kau ini sama saja dengan Gamal, tidak seru ahhhh!!" Gide kemudian memberikan lagi ponselnya kepada Gamal.


"Kak, kau ini sebenarnya kenapa?" Sera mulai penasaran kepada Gamal.


"Tidak!" Sera langsung berkata dengan ketus.


"Kenapa marah-marah hemmm?" Gamal merayu Sera seperti biasanya ketika gadis kecil itu sedang merajuk.


"Habis kau menyebalkan!" Sera menggerutu.


"Lalu aku harus bagaimana?" Gamal bertanya.


"Jawab aku dengan jujur, kau kenapa?" Sera mendesak.


"Baiklah, iya iya, GERD ku kambuh, tapi sekarang sudah tidak apa-apa kok" meskipun akhirnya mengaku, namun Gamal tetap berpura-pura baik-baik saja karena ia tidak ingin membuat Sera cemas.


"Kau ini kebiasaan, pasti kau telat makan ya? kenapa sih selalu mengabaikan aturan? kalau sudah waktunya makan seharusnya kau cepat-cepat makan, sudah tau punya GERD, begini kan jadinya, menyebalkan sekali sih kau ini jadi orang!" Sera terus saja mengomel, membuat Gamal menelan salivanya, sementara Dimas dan Gide tersenyum geli.


"Iya maaf, aku janji tidak akan telat makan lagi" Gamal hanya pasrah menerima ocehan Sera.

__ADS_1


"Kau ini hanya janji dimulut saja, tapi tidak pernah ditepati dan selalu diulang lagi dan lagi, sampai kapan mau begini terus?" Sera masih belum puas mengomel, Ia sama sekali tidak tau kalau ternyata ada Niken di ruangan itu yang sedang mendengarkan percakapan mereka.


"Sudah dong, jangan marah-marah terus, aku kan lagi sakit, masa diomelin terus" Gamal memasang wajah iba.


"Ck, kalau sudah begini saja kau sok-sok memelas, benar-benar menyebalkan!" Sera berdecak kesal.


"Iya maaf, aku tidak akan ulangi lagi, janji deh!" Gamal menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V.


"Janji ya!" Sera memajukan bibirnya lagi.


"Iya janji" Gamal tersenyum bahagia melihat bagaimana Sera begitu perhatian padanya.


"Ya sudah, sekarang kakak istirahat, jangan banyak aktivitas sampai sembuh benar!" Sera memberi titah.


"Baik tuan putri" Gamal mengangguk.


"Bye" Sera melambaikan tangannya.


"Bye" Gamal membalas lambaian tangan Sera dengan senyum sejuta watt.


"Ehemmm" Niken berdehem ketika sambungan video sudah terputus.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya kak" Niken yang sudah merasa tidak nyaman berada di ruangan itu langsung berpamitan.


"Terima kasih ya" Gamal berusaha tersenyum kepada Niken.


"Iya kak, istirahat ya" Niken membalas senyuman Gamal.


"Kak Gide, Kak Dimas, aku pamit ya" Niken berpamitan kepada dua pria yang sedang duduk di sofa.


"Hati-hati di jalan ya" meskipun Dimas tidak menyukai niat Niken untuk kembali berhubungan dengan Gamal, namun ia tetap bersikap ramah, mengingat Niken adalah sahabat baik sang istri.


"Hemm" sementara Gide menjawab dengan malas.

__ADS_1


__ADS_2