Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Tertangkapnya Sang Pelaku


__ADS_3

"Duduklah!" Dimas meminta kedua adik ipar laki-lakinya untuk duduk di ruang keluarga villa tempat Sera dan Gamal berbulan madu.


"Ada apa kak?" Rafael terlihat gugup saat semua mata menatap dirinya dan Richard dengan tajam secara bergantian.


"Bisakah kalian jelaskan apa maksud dari semua ini?" Dimas menyodorkan laptop yang memutar rekaman CCTV saat kedua adik iparnya ini sedang mengendap-endap mencampurkan obat kuat ke dalam makan malam sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu.


"Kak itu,," Richard tidak bisa berkata-kata saking paniknya.


"Kenapa kalian diam saja hah!? ayo jawab pertanyaan kakak ipar kalian!?" Gaby berteriak.


"Mama tenang dulu" Dimas masih berbicara dengan kalem untuk menenangkan sang istri.


"Mereka harus diberi pelajaran pa!" Gaby sangat emosi.


"Kak kami hanya ingin bercanda dan memberi kejutan kepada Sera dan suaminya" Raf mencoba menjelaskan.


"Bercanda katamu!? memberi kejutan!?" nafas Gaby sudah naik turun saking murkanya.


"Kalau tujuan kalian bercanda, menurut kami itu tidak lucu, tapi kalau kalian mau memberi kejutan maka itu sangat berhasil, lihatlah!" Gaby seperti ingin menerkam keduanya hidup-hidup.


"Perhatikanlah hasil kerja kalian!" kini giliran Gamal yang memutar video rekaman dimana Gide dan Rachel menikmati hidangan makan malam hingga pada akhirnya mereka berada dalam kondisi setengah sadar menuju kamar.


"Ini!? kalian!?" Richard terbelalak saat menyadari bahwa korban kejahilan mereka ternyata salah sasaran.

__ADS_1


"Mereka yang terjebak dan melakukannya!" Gamal berbicara pelan sambil menarik nafas dalam dan membuangnya secara perlahan untuk meredam emosinya.


"Apa yang ada di otak kalian berdua hah!? apakah kalian tidak memikirkan resiko yang akan terjadi!?" suara Gaby bergetar menahan tangis.


"Apa kalian sekarang sudah puas melihat hasilnya? beginikah cara kalian menyayangi adik-adik perempuan kalian hah? bagaimana jika Bunda dan Mom melihat kelakuan kalian ini? jawab aku!" Gaby berteriak histeris. Ia merasa gagal menjadi seorang kakak tertua yang tidak bisa mendidik dan melindungi keempat adiknya.


"Ma, tenanglah, ayo duduk" Dimas menarik tangan sang istri.


"Sekarang kami menyerahkan semua pertanggung jawaban ini kepada kalian berdua" Dimas masih berbicara dengan intonasi yang datar.


Ketika Gaby, Dimas dan Gamal menyidang kedua adik mereka, Gide hanya bisa terdiam tanpa ingin berbicara sepatah katapun karena suasana hatinya sangat buruk, sementara Rachel hanya bisa menangis dipelukan Sera.


"Rach, maafkan aku" Richard mendekat ketempat saudara kembarnya duduk dan bersimpuh dikaki.


Namun demikian Rachel yang sangat kecewa dan sedih, sama sekali tidak merespon permintaan maaf kedua kakak laki-lakinya.


"Apakah permintaan maaf kalian bisa mengembalikan kesucian Rachel?" Sera kini membuka suara.


"Sera maaf" Raf menggenggam tangan adiknya.


"Minta maaflah pada Ayah dan Bunda karena kau sudah membuat mereka kecewa!" Sera menarik tangannya dari sang kakak.


"Kak Gide, maafkan kami" Raf menoleh kepada Gide yang sejak tadi tidak membuka suara sama sekali.

__ADS_1


"Kak maafkan sikap ceroboh kami" Richard pun memohon kepada Gide.


"Sejujurnya aku sangat marah pada kalian berdua, tapi yang paling berhak marah disini adalah Rachel, dia adalah korban yang paling dirugikan, jadi minta maaflah padanya dengan tulus!" Gide menatap Rachel yang masih terus menangis meratapi nasib dan masa depannya.


"Kami akan mengakui semua kebodohan kami didepan Bunda dan Mom" Rafael sudah membulatkan tekadnya dan didukung oleh anggukan dari Richard.


"TIDAK!" Rachel histeris.


"Rachel" Sera dan Gaby menyebut nama gadis itu bersamaan karena terkejut dengan reaksinya.


"Aku mohon jangan, anggap saja ini tidak pernah terjadi, kalau kalian semua menyayangi aku, berhentilah sampai disini, jangan pernah ungkit masalah ini dan anggaplah semua ini tidak pernah terjadi!" Rachel berlari menuju lantai dua.


"Rach" Sera mengejarnya.


"Hufffffff, kalian tau kalau ini sangat rumit? aku sendiri pun bingung harus berbuat apa, tapi seperti yang kita dengar bersama, Rachel ingin melupakan semua ini dan menganggapnya tidak pernah terjadi, maka kita harus menghargai keinginan Rachel tersebut!" akhirnya Dimas memutuskan.


"Lalu bagaimana kalau Rachel sampai hamil?" Gaby masih mengkhawatirkan adiknya.


"Aku akan bertanggung jawab!" Gide berkata dengan tegas.


"Ya, seperti yang aku katakan semalam, jika memang pada akhirnya Rachel hamil, maka mau tidak mau kita harus mengatakan semua kebenaran ini kepada orang tua kita!" Dimas menegaskan kembali.


"Berdoalah semoga nasib baik berada dipihak kalian!" Gaby tersenyum sinis kepada Rafael dan Richard.

__ADS_1


__ADS_2