
"Selamat pagi" Sera menyapa seluruh nyonya di keluarga Anderson.
"Selamat pagi" jawab mereka semua serentak saat melihat Sera.
"Kak, bagaimana keadaanmu hari ini?" tanya Sera kepada Gaby yang sudah kembali aktif beraktivitas setelah seharian kemarin wanita itu lebih memilih untuk berdiam diri di dalam kamar karena syok atas kehamilan anak ke tiganya yang tidak diharapkan.
"Aku baik-baik saja" jawab Gaby sambil tersenyum. Meskipun ia masih belum mempercayai seratus persen bahwa dirinya hamil anak ketiganya dengan Dimas, karena ia sudah meminum pil KB nya secara rutin, namun sebagai seorang ibu nalurinya sudah mulai terbangun dan memiliki ikatan batin dengan calon bayinya tersebut.
"Syukurlah kalau begitu" Sera merasa senang melihat Gaby yang sudah mulai bisa menerima keadaan.
"Dimana Syeba?" tanya Maya kepada menantunya.
"Masih di kamar sama papanya, nanti akan turun saat sarapan" jawab Sera.
"Ohhhhhh" Maya hanya ber oh ria saja.
"Oya, kita masak apa hari ini?" Sera semangat sekali bisa memasak bersama dengan keluarga besarnya. Meskipun mereka memiliki rumah pribadi masing-masing yang sangat mewah, namun mereka memang sering berkumpul bersama di rumah utama, bahkan di hari-hari kerja biasa.
"Empal dan sop iga" jawab Ayu.
"Wah seru sekali" katanya sambil mulai memotong sayuran yang ada di kitchen island.
Kegiatan memasak terasa begitu menyenangkan seperti biasanya, hingga tiba-tiba Sera jatuh pingsan.
Brukkkk,,
"Sera!" seketika semua orang terperanjat saat tubuh wanita muda itu tumbang.
"Nak, bangun sayang!" Ananda menangis panik melihat tubuh putri bungsunya terkulai lemah tak berdaya.
"Sera, bangun sayang!" Maya pun sama paniknya saat melihat menantunya tergeletak di lantai dapur.
"Cepat angkat ke ruang keluarga" Ayu memberi instruksi kepada yang lainnya.
"Gaby kau jangan ikut mengangkat kasihan janinmu, Rachel cepat panggil Gamal dikamarnya!" perintah Ayu lagi. Untuk hal semacam ini, Ayu memang cukup pandai menggunakan logikanya dibandingkan lainnya yang langsung terserang panik.
Karena semuanya perempuan, maka mereka bertiga agak kesulitan mengangkat tubuh Sera.
"Kak Gamal, tolong!" Rachel berlari sambil berteriak dengan begitu kencangnya menuju kamar pasangan suami istri itu di lantai dua sambil menggendong Cilla di tangannya.
__ADS_1
"Ada apa?" Gamal yang baru selesai memandikan Syeba membuka pintu kamarnya.
"Sera pingsan" Rachel menjelaskan.
"Astaga" Gamal langsung berlari menuruni tangga, meninggalkan putrinya begitu saja.
"Papaa hwaaaaaa" Syeba yang ditinggalkan oleh papanya begitu saja langsung menangis kencang.
"Uhhh sayang cup cup, sini Syeba sama mama Rach dulu ya" dengan sedikit mengeluarkan tenaga ekstra Rachel pun kemudian menggendong Syeba dan Cilla secara bersamaan menuruni tangga untuk menghampiri Sera yang masih pingsan di ruang keluarga.
"Sayang, bangunlah" Gamal mengelus pipi sang istri yang terlihat pucat.
"Aku sudah memanggil dokter untuk datang, mungkin sekitar dua puluh menit lagi akan tiba" kata George.
"Sebenarnya dia kenapa Gamal?" Maya menatap putra sulungnya untuk mendapat penjelasan.
"Aku juga tidak tau ma, semalam dia masih baik-baik saja kok, bahkan kami bertiga masih bercanda di kasur sebelum tidur" Gamal sama bingungnya dengan yang lain.
"Mungkinkah dia hamil?" Ron menaik turunkan alisnya dengan jahil.
"Dad, kau ini keterlaluan, dalam keadaan seperti ini masih saja tidak serius!" Ayu menatap sebal ke arah suaminya.
"Bisa jadi sih" Gide mengangguk saat mengingat taruhan mereka.
"Hamil lagi?" Gamal langsung tersenyum lebar mendengarnya.
"Belum tentu!" George berharap jika menantunya benar-benar hamil maka ngidamnya tidak akan merepotkan semua orang seperti yang sudah-sudah.
"Tapi aku rasa sih memang hamil!" Ron tetap teguh pada dugaannya.
"Lebih baik jangan berspekulasi dulu, kita tunggu saja dokternya datang dan memeriksa" Mike akhirnya berkata untuk menghentikan percakapan unfaedah mereka semua.
..........
"Bagaimana dokter keadaan istri saya?" tanya Gamal saat sang dokter sudah selesai memeriksa Sera.
"Selamat tuan, istri anda sedang mengandung, usianya sudah empat minggu" kata sang dokter.
"Benarkah?" Gamal yang mendengar berita kehamilan Sera dari sang dokter langsung berseri-seri.
__ADS_1
"Iya tuan, saat ini lebih baik nyonya beristirahat dulu, kurangi aktivitas fisik yang membuatnya kelelahan agar kondisinya bisa kembali pulih" jelas sang dokter.
"Iya dokter, baik" Gamal mengangguk sambil menatap wajah sang istri yang memang terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Ini saya resepkan vitamin untuk ibu dan janinnya, jika ada keluhan mohon beritahu saya kembali ya tuan" dokter pun kemudian menyerahkan resepnya.
"Terima kasih" Gamal mengambil kertas itu dari tangannya.
"Mari saya permisi dulu" sang dokter pun kemudian keluar dari rumah mewah itu diantar oleh Gide dan Dimas.
"Sayang selamat ya, bunda tidak menyangka kalau akan mendapat dua cucu sekaligus dalam waktu yang bersamaan" Ananda meneteskan air mata harunya.
"Mama juga senang, meskipun Syeba masih kecil, tapi mama senang kau akan memberinya adik" Maya berseri-seri.
"Wah semakin ramai saja deh rumah keluarga kita ini" Ayu pun tidak kalah senangnya.
"Selamat ya sayang" Gaby memeluk sang adik dengan penuh kasih sayang.
"Syeba dan Cilla punya saudara lagi yeeeyyyy" Rachel mengajak Syeba dan Cilla bicara, yang disambut senyum oleh kedua bayi itu. Sejak sang mama pingsan dan papanya panik, Syeba memang hanya mau digendong oleh Rachel saja, alhasil Rachel jadi menggendong mereka berdua secara bersamaan selama sang dokter memeriksa Sera.
"Duhhhh cepatlah sembilan bulan berlalu, aku tidak sabar menggendong cucu baru" grandma Merlyn bersemangat.
"Benar, pasti akan seru ya kalau mereka lahir nanti" grandma Ruth membayangkan bagaimana hebohnya para cicit itu berkumpul.
"Apa aku bilang tadi, Sera hamilkan?" Ron yang sudah menduga langsung jumawa.
"Daddy kok bisa tau sih?" Ayu menjadi curiga.
"Feeling kuat seorang daddy mom" Ron mencari alasan.
"Yang ayah kandungnya kan aku, kenapa jadi kau yang punya feeling kuat?" Mike mencibir adiknya karena ia sudah tau kalau Ron hanya mengarang alasan saja akibat dari taruhan para menantu pria itu.
"Karena kau memang tidak punya hati dan otak sebagai seorang ayah dan kakek!" Ron menjulurkan lidahnya.
"Hey brengsek ya kau, jaga mulutmu!" Mike kesal dengan perkataan sang adik.
"Kalian ini bisa diam tidak sih? kalau mau berkelahi di luar sana, jangan disini, kasihan menantu dan cucuku ingin istirahat!" George menghardik kedua sahabat yang sekaligus juga besannya itu, membuat keduanya langsung menciut. Sementara para istri hanya geleng-geleng melihat kelakuan suami mereka.
Hari itu Sera pun beristirahat di kamar sepanjang hari, yang membuat dirinya terpaksa menyerahkan Syeba kepada Rachel, karena bayi itu memang paling dekat dengan Rachel dibandingkan anggota keluarga yang lain.
__ADS_1