
"Kak bagaimana kondisimu hari ini?" Sera melakukan panggilan video dengan Gamal.
"Aku sudah lebih baik" Gamal sangat bahagia setiap kali Sera menghubunginya.
"Apa semua makanan dan obatnya sudah kau makan?" Sera selalu saja memperhatikan semua hal detail.
"Sudah tuan putri, hamba sudah menghabiskan semuanya sesuai dengan titah dari Anda" Gamal bergaya layaknya seorang pelayan yang menuruti semua maunya sang majikan.
"Bagus, kalau kau mengikuti semua aturan dari dokter pasti kau bisa segera sembuh" Sera menganggukan kepalanya.
Meskipun Sera membentengi dirinya untuk tidak jatuh cinta lebih dalam lagi kepada Gamal, namun dalam kondisi Gamal yang sedang di rawat di rumah sakit seperti sekarang ini, ia tetap bisa memposisikan dirinya sebagai seorang adik yang memperhatikan sang kakak saat sedang sakit. Ia selalu melakukan panggilan video sebanyak tiga kali sehari untuk memastikan bahwa Gamal sudah makan tepat waktu dan meminum semua obat yang diberikan oleh dokter.
"Sera" Gamal memanggil nama gadis kesayangannya itu dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Hemmm" Sera menyahut dengan asal.
"Kau merindukan aku tidak?" Gamal menunjukkan wajah seriusnya.
"Tidak" Sera berbohong.
"Tapi aku sangat merindukanmu!" Gamal memberi penekanan.
"Kenapa harus rindu? kan kita setiap hari berkomunikasi terus!" sesungguhnya Sera pun merasakan rindu yang sama, namun ia tidak mau memberi sedikit pun celah pada hatinya untuk merindukan Gamal, ia terlalu takut untuk kehilangan dan kecewa, terlebih lagi saat melihat Niken sudah kembali ke kehidupan Gamal.
"Hemmmm, aku rasa itu wajar sih kak, kan biasanya kita selalu bersama, setiap pagi kau akan mengantarku ke sekolah, lalu sore harinya kita pasti bermain dan bercanda bersama di rumah, jadi kau pasti sangat kehilangan adik kecilmu yang cantik jelita ini kan kak? hehehehe" Sera terkekeh untuk mengalihkan rasa sedihnya saat ia tidak bisa berkata jujur kalau ia juga sangat merindukan Gamal.
"Tidak, tidak seperti itu, rinduku bukan sebagai seorang kakak terhadap adiknya, tapi lebih kepada seorang pria yang merindukan gadisnya" Gamal mencoba meluruskan persepsi Sera.
__ADS_1
"Kak, kau ini ngaco sekali, jangan bicara seperti itu, bagaimana kalau kak Niken sampai dengar? nanti dia bisa salah paham padaku" Sera merasa hatinya bergemuruh, disatu sisi ia sangat bahagia mendengar Gamal merindukannya, tapi disisi lain ia takut untuk terlalu berharap.
"Apa tidak ada kesempatan sama sekali untukku Sera?" Gamal kembali memohon.
"Jangan seperti ini kak, kau itu adalah kakakku dan aku adalah adikmu, kau sudah punya kak Niken disampingmu" Sera membangun temboknya dengan sangat tinggi dan kokoh.
"Sudah ya, sekarang lebih baik kakak istirahat saja, jangan berpikir yang aneh-aneh, nanti aku telpon lagi untuk memastikan kalau kau sudah makan dan minum obat sesuai aturan" Sera mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah" Gamal menjawab dengan lesu.
"Selamat istirahat ya kak, cepat sembuh" Sera melambaikan tangannya.
"Iya, bye" Gamal membalas lambaian tangannya.
__ADS_1
"Bye" kemudian Sera memutuskan panggilannya.
Sementara itu Niken yang sejak tadi berdiri di luar ruang rawat mendengar semua percakapan yang dilakukan oleh Sera dan Gamal. Air matanya mengalir deras saat mengetahui bahwa Gamal sangat merindukan Sera. Harapannya untuk dapat bersatu kembali dengan Gamal seperti hilang ditelan bumi begitu saja.