Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Inka Ingin Menyerah


__ADS_3

"Sera, aku pulang sekarang saja ya" Inka berpamitan ketika mereka sudah selesai makan malam dan kembali duduk di ruang tamu.


"Kau ini kenapa sih kak?" Sera benar-benar heran dengan sikap Inka yang begitu berbanding terbalik dengan sikapnya saat mereka baru saling kenal kemarin.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin pulang lebih awal saja" jawab Inka.


"Kalau begitu ayo kita pulang bersama" Arnold kemudian bersiap untuk pamit juga.


"Eh jangan pak, saya pulang naik taksi online saja, sudah order kok" Inka berbohong.


"Loh kan tadi kita janji mau pulang bersama?" Arnold mengernyitkan dahi.


"Sudah batalkan saja orderan taksi onlinenya" Gamal memberi saran.


"Iya, batalkan saja!" Sera gemas dengan sikap Inka. Ia jadi merasa sia-sia berjuang dengan membuat skenario yang begitu matang untuk mereka berdua.


"Ayo kita pulang" Arnold kemudian berpamitan kepada Gamal dan Sera.


Dengan terpaksa Inka pun mengikuti Arnold berjalan menuju mobilnya.


"Aku pulang dulu ya" Inka memeluk Sera.


"Hati-hati di jalan ya kak" Sera membalas pelukan Inka.


Setelah Arnold dan Inka keluar dari gerbang, Gamal pun merangkul pingganh sang Istri dan membimbingnya menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Ayo" kata Gamal.


"Sayang, apa rencana kita bisa berhasil?" Sera merasa ragu, karena sikap Inka yang tiba-tiba saja berubah drastis.


"Entahlah, kita tidak bisa memaksakan hati seseorang sayang, yang bisa kita lakukan hanya berusaha dan itu sudah kita lakukan, sisanya biar mereka sendiri yang menentukan.


"Apa kau tau kalau tadi kak Inka bilang ingin menyerah?" Sera mulai bercerita kepada Gamal.


"Loh kok?" Gamal cukup terkejut.


"Katanya dia tidak yakin misinya akan berhasil karena selama ini sikap Arnold sangat cuek padanya" Sera menghela nafas.


"Aku rasa itu wajar saja, artinya dia realistis, tidak mau terlalu bermimpi!" Gamal menelaah sikap Inka.


"Tapi kan selama ini dia getol sekali mengejar pak Arnold, bahkan sampai mengintimidasi setiap mahasiswi yang dianggapnya berpotensi merebut pak Arnold darinya!" Sera sangat tidak habis pikir.


"Sayang ihhhhhh" Sera kegelian saat suami sudah tidak bisa terkondisikan lagi.


Suasana kamar mereka pun semakin memanas hingga akhirnya mereka melebur menjadi satu dengan diiringi suara meracau dari mulut masing-masing.


..........


Sementara di tempat lain, tepatnya di dalam mobil Arnold saat ia sedang mengantar Inka pulang ke rumahnya, suasana terlihat begitu canggung.


"Apa kau sedang tidak enak badan?" Arnold melirik ke arah Inka yang sejak tadi hanya duduk diam mematung.

__ADS_1


"Tidak pak, saya baik-baik saja" Inka tersenyum kikuk.


"Kenapa kau diam saja dari tadi? bukankah biasanya kau itu sangat heboh?" Arnold menggoda Inka.


"Ah tidak kok pak, saya hanya tidak punya bahan pembicaraan saja heheheh" Inka mencari-cari alasan.


"Ohhhh, aku kira kenapa" Arnold pun manggut-manggut, meskipun ia tidak seratus persen percaya begitu saja pada perkataan Inka, namun ia menghargai gadis itu dan tidak mau memaksanya untuk berbicara lagi hingga mereka tiba di rumah Inka.


"Terima kasih pak untuk tumpangannya" Inka tersenyum kepada Arnold saat ia sudah berada di halaman rumahnya.


"Sama-sama Inka" Arnold membalas senyuman Inka.


"Hati-hati di jalan ya pak" kata Inka tulus.


"Aku tidak disuruh mampir dulu?" tanya Arnold.


"Eh?" Inka salah tingkah.


"Hahahahaha" bercanda kok.


"Ohhhh" Inka garuk-garuk kepala karena canggung.


"Aku pulang ya" kemudian Arnold melajukan mobilnya, meninggalkan Inka yang sedang gamang.


Entah mengapa sejak Sera menasehatinya di tenda saat malam inagurasi lalu, Inka jadi berfikir ulang tentang perasaannya terhadap Arnold. Ia merasa bahwa yang ia rasakan mungkin saja bukan cinta melainkan hanya sebuah obsesi hingga ia menghalalkan berbagai macam cara untuk memenangkan hati Arnold. Ia merasa sudah begitu jahat terhadap orang lain.

__ADS_1


"Tenang saja, aku pasti akan membantumu, tapi kau harus janji jangan berbuat seperti yang kau lakukan kepadaku ke orang lain lagi ya. Percayalah kalau cinta itu akan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu dipaksa, apalagi sampai melakukan tindakan yang tidak terpuji. Kita cukup berusaha dengan baik, selebihnya biar takdir yang menuntun kita!" kata-kata Sera terus saja terngiang-ngiang di telinganya hingga membuatnya sadar dan memilih untuk mundur dan tidak lagi mengejar Arnold.


__ADS_2