
"Kak, maaf ya besok aku tidak bisa menepati janjiku pergi ke taman hiburan karena sepupuku menikah" Sera merasa tidak enak hati ketika janjinya bermain ke taman hiburan harus batal karena pernikahan Rachel dan Gide yang mendadak dilaksanakan dalam waktu dekat setelah Rachel dinyatakan positif hamil.
"Tidak apa-apa, keluarga adalah yang paling penting, kita kan masih bisa main bersama lain waktu" Inka memahami perasaan Sera yang tidak enak.
"Terima kasih kak" Sera tersenyum lega.
"Ngomong-ngomong kau sedang apa sih kak?" Sera penasaran dengan ekspresi Inka yang senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Oh ini aku sedang ngobrol dengan kakak sepupuku yang di luar negeri, dia akan segera kembali ke sini, jadi aku merasa bahagia" Inka menunjukkan foto seorang pria tampan kepada Sera.
"Wahhhh tampan sekali" Sera terkagum kagum dengan foto yang ditunjukkan oleh Inka.
"Heyyy jaga matamu!" Inka mendelik.
"Aku kan hanya bilang tampan, bukan berarti aku menyukainya" Sera membela diri.
"Kalian sedang apa?" Arnold tiba-tiba muncul di belakang Sera dan Inka yang sedang duduk di lobby kampus.
"Pak Arnold?" keduanya memanggil nama Arnold dengan terkejut.
"Apa aku boleh bergabung?" Arnold langsung duduk di sebelah Inka.
"Bapak tidak perlu bertanya kalau ujung-ujungnya sudah duduk duluan" Sera mencibir Arnold yang sedang modus kepada Inka.
Satu minggu berlalu sejak Arnold melamar Inka di kantin. Meskipun perasaannya belum bisa move on dari Sera, namun Arnold tetap saja gelisah ketika Inka tidak kunjung memberikan jawaban.
__ADS_1
"Ck, itukan namanya berbasa-basi, kau ini seperti tidak tau saja!" Arnold berdecak.
"Oya kebetulan bapak ada di sini, aku mau minta maaf karena sepertinya acara jalan-jalan kita ke taman hiburan harus tertunda karena sepupuku menikah pada hari itu" Sera berkata kepada Arnold.
"Hemmm sayang sekali, padahal aku sudah bersiap-siap loh" Arnold memasang wajah serius.
"Duh maaf pak, aku juga baru tau kalau ternyata acaranya berbarengan dengan rencana kita" Sera memasang wajah menyesal.
"Hahahaha kau ini mudah sekali dikerjai!" Arnold terkekeh.
"Ishhhh dasar pak Arnold usil!" Sera cemberut, membuat Arnold makin terkekeh.
"Oya Inka, karena kita gagal ke taman hiburan bareng Sera dan Gamal, bagaimana kalau kita jalan berdua saja?" Arnold menatap Inka.
"Maaf pak, sepertinya lebih baik kita tidak usah jalan saja kalau tidak ada Sera dan kak Gamal" Inka menolak Arnold.
"Tidak apa-apa, hanya tidak seru saja kalau hanya berdua heheheh" Inka tertawa garing.
"Kau masih menghindariku ya?" Arnold merasa tertolak.
"Pak jangan salah paham, aku bukan menghindari bapak, tapi kan seperti janji awal kita perginya berempat, jadi kalau yang dua batal pasti tidak akan seru" Inka mencari alasan.
"Jadi menurutmu pergi berdua untuk kencan itu tidak seru ya?" lagi-lagi Arnold merasa kecewa.
"Pak, tujuan kita kan hanya bermain di taman hiburan bukan kencan, jadi bapak jangan salah paham" Inka meluruskan persepsinya.
__ADS_1
"Baiklah" Arnold hanya bisa pasrah.
Penolakan yang dilakukan oleh Inka begitu membuatnya sakit, bahkan lebih sakit ketimbang melihat kenyataan kalau Sera sudah menikah dengan teman baiknya sendiri. Arnold sangat menyesal karena selama ini ia telah menyia-nyiakan perhatian Inka kepadanya. Ia bertekad untuk bisa menaklukan hati Inka kembali dan menikahinya agat bisa terus melindungi gadis itu.
"Eh maaf aku duluan ya, supirku sudah tiba" Sera kemudian bersiap berdiri untuk berjalan menjauhi kedua orang yang sedang tarik ulur itu.
"Aku juga sudah mau pulang kok" Inka kemudian menunjukkan kunci mobilnya tanda hendak beranjak ke parkiran mobil.
"Yuk kita pulang" Arnold menyambar kunci mobil Inka secepat kilat.
"Pak Arnold!" Inka terpekik.
"Aku akan mengantarmu" Arnold kemudian menggandeng Inka menuju parkiran mobil.
"Pak saya bisa pulang sendiri, lagi pula kan bapak bawa mobil sendiri, nanti bagaimana dengan mobil bapak?" Inka terus saja mencari alasan untuk menghindari Arnold.
"Itu tidak jadi masalah, aku akan suruh orang mengambilnya dan membawa pulang" Arnold menyeringai penuh kemenangan.
"Tapi pak!" Inka sudah kehabisan akal untuk menolak.
"Sudah sana pulang, nanti keburu sore loh" Sera yang sejak tadi hanya diam melihat interaksi kedua orang ini kemudian mendorong Inka mendekat ke arah Arnold.
"Sera!" Inka membelalakkan matanya dengan kesal karena ia yang sedang tidak siap didorong terjatuh tepat di dada Arnold.
"Byeeee" Sera tidak mempedulikan Inka yang protes, ia langsung berjalan melenggang dengan senyum terkembang karena sudah berhasil membuat keduanya berpelukan walaupun dalam situasi yang tidak sengaja.
__ADS_1
"Ayo kita pulang" Arnold meraih tangan Inka lagi dan menuntunnya ke arah parkiran mobil.
Kali ini Inka tidak bisa menolaknya, ia terpaksa mengikuti semua yang dilakukan oleh Arnold. Meskipun terpaksa namun dalam hati kecilnya Inka merasa begitu senang diperlakukan layaknya seorang pacar oleh Arnold. Ia hanya masih takut berekspektasi terlalu tinggi dan kecewa pada akhirnya.