
"Kak, apa kau baik-baik saja?" Niken yang melihat Gamal begitu murung bertanya saat mereka dalam perjalanan pulang setelah mengantar Sera ke bandara.
"Hemmm" Gamal hanya menjawab singkat.
"Apa kau mencemaskan Sera?" Niken bertanya lagi.
"Kau mau aku antar kemana sekarang?" Gamal tidak menggubris pertanyaan Niken.
"Apa kita tidak mau jalan dulu?" Niken memberikan penawaran.
"Aku harus ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan" jawab Gamal to the point.
"Baiklah, aku pulang saja kalau begitu" Niken akhirnya mengalah dan tidak berbicara lagi.
Sepanjang perjalanan mereka berdua diam seribu bahasa. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Niken yang melihat perubahan sikap Gamal sejak mereka kembali bertemu merasa penasaran dengan apa yang sebenaranya terjadi. Sementara yang ada di pikiran Gamal hanya Sera, Sera dan Sera saja.
"Terima kasih ya kak" Niken mengecup pipi Gamal sebelum keluar dari mobil.
"Beristirahatlah supaya kau tetap sehat" Gamal berpesan.
"Hati-hati di jalan ya kak" Niken melambaikan tangan dan dibalas dengan anggukan oleh Gamal sebelum akhirnya ia menjalankan mobilnya.
__ADS_1
..........
"Apa Sera sudah berangkat?" Gide yang melihat Gamal sudah sampai di kantor bertanya.
"Hemmmm" Gamal yang sedang malas berinteraksi dengan siapapun langsung berjalan masuk ke ruangannya tanpa mempedulikan Gide sang adik yang sedang penasaran.
"Kenapa lagi dia?" Dimas yang baru keluar dari ruang meeting juga tak kalah penasarannya.
"Entahlah, paling juga galau karena dua wanita itu" Gide mengangkat bahunya sambil tersenyum jahil.
"Dasar plin plan" Dimas berseloroh, membuat Gide tergelak.
"Ayo kita ganggu dia!" Gide yang melihat Gamal sedang suntuk malah bersemangat untuk semakin menggodanya.
"Kau ini kenapa sih? kami kan hanya ingin ngobrol denganmu saja!" Gide menahan senyumnya.
"Tidak usah pura-pura, aku tau kalian hanya ingin menggangguku!" Gamal melempar pandangan sinis kepada keduanya.
"Issshhhhh piciknya otakmu" Gide benar-benar senang melihat kebodohan sang kakak.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Dimas dengan lebih bijak.
__ADS_1
"Sudah aku katakan tidak ada apa-apa!" Gamal menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Baiklah kalau kau memang tidak mau cerita, ayo Gide kita keluar!" Dimas mengajak Gide.
"Aku harus bagaimana?" Gamal pada akhirnya bertanya kepada keduanya.
"Bagaimana apanya?" Gide berpura-pura polos.
"Jangan sok polos, aku tau kalian sudah tau tentang aku, Sera dan Niken kan?" Gamal mulai terbuka.
"Katakan, apa yang kau rasakan saat ini?" Dimas menatap serius wajah Gamal yang kusut.
"Entahlah, aku seperti berada di persimpangan jalan" Gamal bingung dengan hatinya.
"Aku dan Gide tidak bisa membantu, karena semua ada di sini dan di sini, hanya kau yang bisa menimbang dan memutuskannya, siapa yang paling kau cintai dan butuhkan di dalam hidupmu diantara keduanya?" Dimas berbicara sambil menunjuk dada dan kepala Gamal.
"Aku sungguh bingung" Gamal mengusap wajahnya dengan kasar.
"Pikirkanlah baik-baik, mungkin saat ini kau memang masih butuh waktu untuk berfikir, tapi ingat, jangan berlarut-larut terlalu lama, jangan sampai kau menyesal ketika semuanya sudah terlambat!" Dimas cukup bijak untuk menyikapi semua ini.
"Hufffff" Gamal merebahkan kepalanya di atas meja kerjanya dengan posisi menelungkup.
__ADS_1
Kepala Gamal terasa begitu berat, dadanya pun terasa begitu sesak. Ingin rasanya ia menangis untuk meluapkan semuanya agar hati dan pikirannya menjadi jauh lebih lega dan plong. Semantara Gide dan Dimas hanya bisa menatapnya dengan penuh rasa kasihan, meskipun mereka sering menggoda Gamal dan mengolok-olok kebodohannya, namun pada kenyataannya mereka sangat berempati pada apa yang sedang Gamal rasakan saat ini.