Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Salah Belah Duren


__ADS_3

"GIDEON HARPA!" suara Gamal begitu menggelegar hingga membuat kedua orang yang sedang tertidur di ranjang pengantin terkejut.


"Aaaaaaaa" Rachel yang tersadar langsung menarik selimut menutupi tubuh polosnya.


"Oh nooooo!" Gide pun tidak kalah histeris.


"Apa yang kalian lakukan di sini!?" Gamal sangat murka, Sementara Sera masih mematung tak percaya.


"Kak, aku,," Rachel tidak bisa berkata-kata, ia hanya bisa menangis karena bingung.


"Aku bisa jelaskan semuanya, percayalah ini tidak seperti yang kalian bayangkan" Gide berusaha memakai akal sehatnya kembali.


"Penjelasan seperti apa?" Gamal belum bisa meredam emosinya melihat sang adik yang berkelakuan bejat.


"Kak, kami dijebak!!" Rachel yang terguncang menangis histeris.


"Rachel tenanglah!" Gide merangkul Rachel yang terpukul.


"Aku takut kak!" Rachel semakin terisak dipelukan Gide.


"Pakai baju kalian, aku tunggu kalian di bawah!" Gamal kemudian mengajak Sera ke bawah.


Sambil menunggu Gide dan Rachel yang berpakaian, Gamal dan Sera pun kemudian membongkar koper mereka untuk mengambil baju ganti yang sudah ditunggu sejak sore hari tadi.


..........


"Duduk dan ceritakan apa yang terjadi sebenarnya!" Gamal menatap kedua terdakwa di depannya secara bergantian dengan tatapan tidak bersahabat.


Kemudian Gide pun menceritakan kronologis bagaimana mereka bisa sampai melakukan semuanya, mulai dari mereka memakan makan malam yang tersedia dan meminum anggur sampai akhirnya merasakan reaksi tubuh yang aneh dan akhirnya terjadilah semuanya saat Gide hendak membantu Rachel beristirahat di kamar.


"Huffffffff" Gamal menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian meraih ponselnya.

__ADS_1


"Kak Gamal aku mohon jangan bilang sama Mom dan Dad, aku takut!?" Rachel kembali terisak dengan hebat.


"Rach tenanglah" Sera memeluk adik sepupunya itu.


Gamal dan Gide pun mengecek CCTV yang ada di villa. Mereka cukup terkejut ketika mendapati bahwa pelakunya ternyata adalah dari orang terdekat mereka sendiri.


"Dim, bisakah kau ke villa malam ini juga? ini sangat penting, aku butuh bantuanmu segera, tapi cukup kau dan Gaby saja yang datang, yang lain jangan sampai tau!" Gamal menelpon Dimas untuk meminta bantuan.


"Sayang apakah tidak sebaiknya menunggu besok pagi saja?" Sera berusaha menenangkan suaminya.


"Tidak, aku tidak bisa berdiam diri saja melihat semua ini!" Gamal masih tampak sangat emosi, namun kali ini emosinya lebih kepada sang pelaku yang menaruh obat dalam makanan dan minuman mereka.


Tidak berselang lama, Dimas datang bersama Gaby. Setelah mendengar semua cerita yang terjadi Gaby begitu terpukul, sementara Dimas berusaha memutar otaknya dengan cepat.


"Kita harus meminta penjelasan kepada mereka berdua, tapi tidak bisa malam ini, karena pasti akan membuat semua orang menjadi curiga, karena ayah Mike pasti mendapat laporan dari para body guardnya!" Dimas mengingatkan.


"Lalu kapan?" Gide ingin semua ini cepat selesai.


"Baiklah, lebih cepat lebih baik!" Gamal menyetujui.


"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?" Gaby lebih fokus kepada nasib kedua orang yang ia sayangi ketimbang pelakunya.


"Kak, aku mohon jangan bilang kepada siapapun, terutama Mom dan Dad!" Rachel memohon dengan wajah memelas.


"Rach, ini masalah besar, kau tau kan apa resikonya dari kejadian kalian tadi di dalam kamar?" Gaby menggenggam tangan sang adik.


"Kak, anggap saja itu tidak pernah terjadi, biarkan ini menjadi rahasia kita berenam kak!" Rachel bersikeras untuk tidak memberitahukan kedua orang tuanya.


"Apa yang sebenarnya kau takutkan?" Gaby merangkul bahu Rachel.


"Mereka pasti akan marah padaku!" Rachel menangis lagi.

__ADS_1


"Sayang, kau ini korban, mereka tidak akan marah padamu!" Gaby menghapus air mata Rachel.


"Aku juga belum mau menikah, kalau mereka tau, pasti kami akan dipaksa menikah kan untuk menutupi aib ini?" sesungguhnya inilah ketakutan Rachel yang paling besar.


"Apa kau yakin semua akan baik-baik saja jika kalian tidak menikah?" Gaby mengelus rambut adiknya agar bisa lebih tenang.


"Asalkan kalian semua tutup mulut dan bersikap seolah tidak terjadi apapun, aku yakin semua akan baik-baik saja!" Rachel benar-benar tidak mau terikat pernikahan tanpa cinta.


"Bagaimana kalau kau nanti ternyata hamil?" Sera mencoba membuat Rachel membuka pikirannya.


"Mana mungkin, kami hanya melakukannya sekali, lagi pula kan tidak lama!" Rachel teguh pada pendiriannya.


"Tapi aku mengeluarkan semuanya di dalammu Rach" Gide berkata dengan jujur.


"Kak, jangan menakuti aku!" air mata Rachel kembali lolos membanjiri pipinya.


"Rach, aku akan bertanggung jawab, ayo kita coba jalani bersama!" Gide berlutut di hadapan Rachel.


"Kak, aku tidak mau menikah tanpa cinta, apalagi kita ini sudah seperti saudara!" gadis itu menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan usul Gide.


"Sudahlah jangan dipaksa lagi, biarkan Rachel dan Gide berfikir dulu, saat ini biarkan ini menjadi rahasia terlebih dahulu sampai mereka berdua yakin memutuskan langkah selanjutnya, kalau memang sampai beberapa bulan kedepan Rachel tidak hamil dan memang pada akhirnya mereka lebih baik tidak menikah kita bisa apa?" Dimas tidak mau memihak.


"Lalu bagaimana kalau hamil?" Gaby gemas dengan ucapan sang suami.


"Kalau itu terjadi, maka mau tidak mau mereka harus menikah, dan kita yang menjadi saksi malam ini harus membantu mereka menjelasakan bahwa mereka hanyalah korban!" Dimas berusaha bijak.


"Baiklah, begitu saja lebih baik!" Gamal setuju.


Malam itu akhirnya semua cucu-cucu Anderson menginap di villa tempat bulan madu Sera dan Gamal, kecuali Raf dan Richard.


"Untung saja kau lagi datang bulan, kalau tidak aku pasti sudah murka karena mereka semua mengacaukan malam pertama kita!" Gamal memeluk istrinya.

__ADS_1


"Dan yang lebih konyol lagi kita yang menikah tapi mereka yang belah duren! hadehhhhh" Sera geleng-geleng tidak percaya dengan kekonyolan semua keluarganya.


__ADS_2