
"Kita harus segera mengumpulkan banyak kayu bakarnya sebelum gelap, kalau tidak nanti kita tidak bisa menyalakan api unggun dan juga memasak" Dimas memberitahu kedua adik iparnya.
"Apa di sekitar sini tidak ada delivery service?" Gamal yang terbiasa hidup dengan segala fasilitas mewah merasa kesulitan beradaptasi dengan 'liburan' mereka.
"Mana ada, kau ini benar-benar ngaco!" Dimas geleng-geleng.
"Mereka kenapa sih kejam sekali hufffff" Gide mendesah memikirkan sikap istri dan kedua kakak ipar perempuannya.
"Sudahlah, jangan mengeluh, kita jalani saja semua dengan lapang dada, toh salah kita juga kan membuat mereka hamil dalam waktu yang bersamaan, jadinya ide gila mereka muncul tiga kali lipat lebih ekstrim dari biasanya" Dimas berusaha memaklumi keinginan ketiga wanita hamil itu, meskipun pada kenyataannya ia sudah mulai kewalahan.
"Ya sudah ayo kita jalan, sebelum hari mulai gelap" Gamal memimpin rombongan masuk ke dalam hutan untuk mencari kayu bakar. Mereka pun kemudian berjalan menyusuri jalan setapak yang biasanya dilalui oleh para pendaki untuk mencapai puncak.
"Cari yang sudah kering agar mudah terbakar dan tidak banyak asap" Dimas memberitahu Gide.
"Memangnya pengaruh ya?" Gide yang tidak tau menau tentang berkemah bertanya dengan polosnya.
"Tentu saja" angguk Dimas.
"Aku baru tau" Gide memang pria polos apa adanya.
"Makanya kau harus banyak belajar supaya pintar, masa hal beginian saja tidak tau sih!" Gamal mencibir sang adik.
"Memangnya kau tau?" Gide meragukan sang kakak.
"Tentu saja!" angguknya yakin.
"Masa sih?" Gide menatap wajah kakaknya untuk mencari kebenaran.
__ADS_1
"Tentu sajaaaaaa, tidakkkkkk bwahahahahahah" Gamal sangat bahagia bisa mengerjai sang adik.
"Sialan kau!" Gide yang kesal lantas mengejar kakaknya sambil menggenggam sebatang kayu.
"Heyyyy ayo sudahhhhh, kalian kenapa malah bercanda sih!" Dimas frustasi melihat kedua adik iparnya malah bersenda gurau, padahal hari sudah mulai gelap dan awan hitam bergelayut di atas kepala mereka.
Setelah menyelesaikan ikatan terakhir, mereka pun kembali ke tenda dan mulai menyalakan api unggun untuk dijadikan penerangan dan tungku memasak.
..........
"Hey, amankan dulu apinya jangan sampai padam, nanti kita tidak bisa memasak makan malam kalau tidak ada api!" Dimas berteriak kepada kedua adik iparnya saat hujan mulai menerpa mereka.
"Bagaimana bisa?" Gamal bingung.
"Ambil kayu yang paling besar dan bawa ke dalam tenda" Dimas berkata lagi.
"Nanti tenda kita kebakar dong!" Gide merasa ide Dimas tidak masuk akal.
"Ahhhh aku juga bingung!" akhirnya Dimas menyerah.
"Ya sudah kita masuk saja deh, biarkan saja padam!" Gide kemudian mengambil keputusan.
Dengan terpaksa ketiga pria tampan itu pun masuk ke dalam tenda dengan perut kosong dan baju basah kuyup karena gagal memasak akibat hujan turun.
"Astagaaaa cobaan apa lagi ini?" Gamal yang sudah sangat lapar pun akhirnya berteriak kesal.
"Bisakah aku menyerah?" Gide pun rasanya ingin menangis.
__ADS_1
"Aku rasa lebih baik kita mengaku saja pada mereka tentang taruhan itu, mungkin ini adalah hukuman bagi kita karena sudah mengelabui istri kita masing-masing!" Dimas benar-benar ingin menyerah.
"Bahkan alam pun mendukung mereka bertiga dengan membuat kita lebih menderita lagi!" Gamal seperti gadis remaja yang sedang PMS.
"Aku ingin memeluk Rach" Gide sangat merindukan sang istri.
"Benar nasehat orang tua jaman dulu, segala sesuatu yang kita lakukan jika tidak direstui oleh istri kita pasti akan jadi petaka untuk diri kita sendiri!" Dimas rasanya ingin bersimpuh di kaki Gaby dan mengakui segala dosa-dosanya.
"Cepat pindah!" tiba-tiba Gaby, Sera dan Rachel berdiri di depan pintu tenda dengan membawa payung.
"Mama!?" ketiga pria itu berseru secara serempak saat melihat istri masing-masing datang menjemput mereka.
"Cepat, kalian ini dengar tidak sih!" Sera mulai tidak sabar.
"Tau, kami sudah kebasahan nih!" Rachel pun menggerutu karena hujannya semakin deras.
Meskipun ketiga ibu hamil itu masih kesal dengan ulah suami masing-masing, namun melihat kondisi mereka yang kelaparan dalam keadaan basah kuyup pun membuat hati nurani ketiganya terenyuh. Mereka kemudian berinisiatif untuk menjemput para suami agar bisa pindah ke tenda mereka yang kondisinya jauh lebih nyaman dan hangat serta penuh dengan perbekalan.
"Ma, terima kasih ya" Dimas memeluk istrinya dengan perasaan bahagia tak terkira.
"Hemmmm" jawab Gaby masih dengan sikap cuek.
"Papa tau mama adalah istri yang paling baik sedunia" Gamal meraih pinggang sang istri dan membelai lembut pipinya.
"Cih gombal!" Sera berdecih.
"I love you ma" Gide menghujani wajah sang istri dengan banyak kecupan.
__ADS_1
"Dusta!" Rachel masih jual mahal.
Setelah berganti pakaian dan makan kenyang, mereka akhirnya memutuskan untuk segera tidur. Karena kapasitas tendanya memang diperuntukkan bagi sepuluh orang dengan fasilitas lima bed ukuran king, maka mereka pun kemudian bisa tidur dengan pasangan masing-masing, Gaby dengan Dimas, Sera dengan Gamal, dan Rachel dengan Gide. Sementara itu Diva dengan Divo, serta Syeba dengan Cilla.