Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Gamal Sudah Menduga


__ADS_3

"Sayang, aku mau bercerita sesuatu padamu" Sera memeluk sang suami setelah mereka selesai menunaikan tugas mulianya.


"Ada apa? katakanlah!" Gamal mengecup kening Sera dan mengeringkan sisa keringat yang masih menempel di wajah istri kesayangannya itu.


"Ini masalah dosenku" Sera memulai bercerita.


"Kenapa dengan dosenmu?" Pria tampan itu membelai lebut pipi Sera yang merah merona karena kelelahan.


"Dia sepertinya sedang berusaha mendekati aku, dia sempat sengaja makan siang di mejaku bersama Bitha, lalu tadi saat aku sedang menunggu pak supir yang terlambat menjemput dia juga sengaja menemaniku di lobby dan mengorek informasi pribadiku, dia malah mengajakku pulang bersama, padahal aku sudah menolaknya" Sera bercerita sambil menusuk-nusukkan jarinya ke dada bidang sang suami.


"Hemmmm" Gamal sudah menduga bahwa ini akan terjadi mengingat istrinya masih muda dan sangat cantik, tidak heran jika banyak pria yang akan tertarik padanya dan mencoba mendekati untuk merayunya.


"Kenapa hanya hemmmm saja?" Sera kesal dengan reaksi sang suami yang terlihat datar dan biasa saja.

__ADS_1


"Lalu aku harus bagaimana?" Gamal menarik dagu sang istri supaya ia bisa menatapnya.


"Memangnya kau tidak cemburu?" Sera merasa suaminya tidak perhatian.


"Apa kau menyukainya?" Gamal bertanya.


"Maksudnya?" Sera bingung dengan pertanyaan sang suami.


"Apa kau menyukai dosenmu dan tindakannya yang sedang mencoba mendekatimu?" Gamal bertanya dengan lembut dan tenang.


"Nah berarti tidak ada yang perlu aku takutkan bukan? karena aku percaya bahwa istriku adalah wanita yang setia dan sangat menyayangiku sepenuh hatinya!" Gamal kemudian mengecup bibir Sera.


"Kau tidak marah?" Sera masih heran dengan sikap Gamal.

__ADS_1


"Aku hanya akan marah kalau kau macam-macam, tapi selama kau tidak berubah dan tidak menanggapinya ya bagiku tidak masalah!" kata Gamal sambil memainkan benda kenyal kesayangannya.


"Kita tidak bisa mengontrol apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain tentang dirimu karena itu hak mereka, yang bisa kita lakukan adalah menjaga diri kita sendiri, bagaimana kita berfikir dan bertindak padanya. Tetaplah berbuat baik pada dosenmu, tapi juga harus jaga jarak dan tunjukkan bahwa kau hanya menganggapnya sebagai seorang dosen saja tidak lebih!" Gamal memberi pengertian kepada sang istri.


"Tapi aku kan risih!" Sera tetap tidak terima.


"Dengar, kau itu wanita yang sangat cantik dan kau juga masih muda, jadi wajar saja bila banyak yang mengejarmu, aku sudah memprediksi ini sejak lama, jadi bagiku yang terpenting adalah sikapmu terhadap pria yang mengejarmu, kalau kau tetap bersikap biasa saja dan hatimu tetap untukku, maka itu sudah cukup untukku!" Gamal berusaha berbicara setenang mungkin meskipun pada kenyataannya hatinya sangat dibakar rasa cemburu.


"Baiklah, aku mengerti sekarang!" Sera paham dengan penjelasan sang suami, ia menjadi lebih lega setelah mendengar semua ucapan Gamal.


"Karena kau sudah mengerti, maka sekarang aku ingin mengujimu, sejauh mana kau paham dengan kata-kataku barusan!" Gamal mengungkung sang istri di bawah tubuhnya.


"Kau mau apa? emmmhhhhhh" Sera merasa geli ketika Gamal sudah menyusuri leher jenjangnya.

__ADS_1


"Ahhhhhhh sayanggggg eugghhhhh" lenguhan demi lenguhan lolos dari bibir mungil Sera.


Mereka pun kemudian terbuai dalam pergulatan cinta keduanya. Suasana kamar yang temaram begitu terasa panas dengan suara-suara yang saling bersahutan dari bibir kedunya. Pertarungan terus saja berlangsung hingga tengah malam sampai keduanya benar-benar terbang melayang ke langit ketujuh.


__ADS_2