
"Sera" Gamal mengetuk pintu kamar Sera yang tepat berada di depan kamarnya.
"Ada apa kak?" Sera menatap Gamal yang sudah berganti pakaian tidur.
"Boleh tidak aku tidur di kamarmu lagi seperti semalam?" Gamal memasang tampang memelas.
"Kak tapi kita kan belum menikah!" Sera mengingatkan Gamal akan status mereka.
"Aku tau, aku hanya ingin menghabiskan sisa waktuku yang hanya sebentar sebelum besok kembali pulang" Gamal mengemukakan alasannya.
"Tapiiii" Sera ragu.
"Apa kau tidak percaya padaku? aku janji tidak akan macam-macam, aku hanya ingin berada di dekatmu saja" Gamal meyakinkan Sera.
"Baiklah, tapi janji jangan macam-macam yaaaa" Sera masih khawatir.
"Iya, aku janji" Gamal menunjukkan dua jarinya membentuk V.
"Ayo masuk" Sera kemudian mengajak Gamal masuk ke dalam kamarnya.
"Terima kasih" Gamal tersenyum bahagia.
Bagi Gamal bisa berlama-lama bersama Sera adalah sebuah kebahagiaan tersendiri yang tiada tara sebelum akhirnya mereka akan berpisah sampai entah kapan baru bisa bertemu lagi.
__ADS_1
Setelah mereka berdua naik ke atas tempat tidur, Gamal kemudian menarik Sera ke dalam pelukannya.
"Kak!?" Sera agak ragu-ragu.
"Aku hanya ingin memelukmu saja, tidak lebih kok" jawab Gamal yang paham akan ketakutan Sera.
"Besok pagi aku akan berangkat pukul delapan" Gamal memulai percakapan.
"Aku antar ya" Sera mengajukan diri untuk mengantar kepergian Gamal.
"Bukankah besok kau kuliah?" Gamal mengeratkan pelukannya.
"Aku bisa ijin sehari untuk mengantarmu" Sera berkata dengan santai.
"Memangnya kenapa aku tidak boleh bolos?" Sera heran kenapa Gamal malah menolaknya untuk mengantar, padahal bukankah itu justru menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk dapat berduaan sebelum berpisah.
"Kalau kau sering bolos, nanti nilai-nilaimu bisa jelek, kalau nilaimu jelek maka kau harus mengulang mata kuliah yang sama lagi, kalau kau mengulang mata kuliah yang sama lagi maka waktu kuliahmu akan semakin panjang, kalau waktu kuliahmu semakin panjang maka kita tidak akan bisa cepat-cepat menikah!" Gamal menjelaskan urutan sebab-akibat mengapa Sera tidak perlu mengantarnya secara rinci dan bertahap.
"Issshhh kau ini, aku kan hanya ijin satu hari saja, bukan satu semester, jadi tidak akan sefatal itu akibatnya!" Sera mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan sikap Gamal yang berlebihan.
"Kondisikan bibirmu!" Gamal mengancam dengan senyum jahil yang terkembang, sontak membuat Sera menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Kenapa sih kau itu menggemaskan sekali?" Gamal kemudian mengecup kepala Sera.
__ADS_1
"Kenapa sih kakak gombal sekali?" Sera membalas pertanyaan Gamal dengan bertanya balik.
"Kau sudah pintar membalas rupanya?" Gamal mengitik-itik pinggang Sera, membuat Gadis itu bergelinjang kegelian.
"Kak, kau jahil sekali!" Sera berusaha melepaskan diri dari Gamal namun usahanya sia-sia karena tenaga Gamal lebih kuat darinya.
"Minta ampun tidak?" Gamal semakin gencar menggoda Sera.
"Iya, iya ampun, geli kakkkk hahahahahaha" Sera sudah kehabisan tenaga untuk melepaskan diri saking gelinya.
Gamal yang sudah mendengar Sera menyerah akhirnya melepaskan gadis itu dan memposisikan wajahnya menghadap ke wajah Sera.
"Aku mencintaimu Serafim Anderson" kemudian Gamal mengecup bibir gadis kesayangannya itu dengan lembut.
"Kakkkk" Sera bingung harus bereaksi seperti apa saat bibir Gamal sudah menjauh dari bibirnya.
"Ayo kita tidur" Gamal kembali memposisikan dirinya memeluk Sera.
"He em" Sera mengangguk dan ia pun membalas memeluk Gamal dengan erat dan meletakkan kepalanya di dada bidang pria tampan itu.
"Selamat malam sayang, semoga mimpi indah" kata Gamal dengan lembut.
"Selamat malam kak, semoga mimpi indah juga" Sera membalasnya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya tertidur dengan posisi saling berpelukan hingga pagi hari datang.