Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Kisah Hidup Inka


__ADS_3

"Permisi, apa kak Inkanya ada?" Sera bertanya kepada seorang asisten rumah tangga saat mereka sudah tiba di rumah Inka.


"Anda siapa ya?" Asisten rumah tangga itu bertanya karena sejauh ini belum pernah ada satu orang pun yang berkunjung ke rumah ini untuk bertemu dengan Inka.


"Saya Sera teman kampusnya kak Inka, dan ini Pak Arnold dosen kami" Sera memperkenalkan diri.


"Oh, kalau begitu silahkan masuk, biar saya panggilkan nona Inkanya dulu" asistennya begitu ramah.


"Terima kasih" Sera mengangguk dan kemudian mereka berdua duduk di ruang tamu untuk menunggu Inka.


"Maaf nona Inka tidak mau bertemu dengan siapapun, katanya mau istirahat di kamar saja" asisten rumah tangganya gugup.


"Apa ada sesuatu yang terjadi dengan kak Inka?" Sera menatap asisten rumah tangga itu dengan tatapan curiga.


"Anu, emmm aduh gimana ya bilangnya" asisten itu seperti dilema.


"Ada apa? apa ada sesuatu yang serius?" Arnold yang sejak tadi diam ikut buka suara.


"Itu, semalam tuan besar datang bersama istri mudanya, mereka bilang mau pindah ke sini, tapi nona Inka menolak karena rumah ini adalah hak nona Inka yang sudah diwariskan kepadanya sebelum mendiang nyonya meninggal, nona tidak mau kalau wanita yang sudah menjadi perusak rumah tangga kedua orang tuanya tinggal di rumah ini, lalu karena tuan besar murka, nona Inka pun dipukuli sampai babak belur" akhirnya sang asisten berkata jujur dan menceritakan semua hal yang ia ketahui.


"Mungkin saja mereka berdua dapat menolong nona Inka" begitu batin sang asisten.


Pada kenyataannya asisten rumah tangga yang sudah mengabdikan dirinya hampir dua puluh tahun itu sangat kasihan pada nasib Inka yang selalu hidup sendiri layaknya gadis sebatang kara semenjak sang ibu meninggal dunia beberapa tahun lalu. Meskipun masih memiliki ayah kandung, namun sang ayah seperti tidak peduli kepadanya, Pria itu lebih mementingkan dirinya sendiri dan sibuk bersenang-senang dengan istri mudanya. Hal itu juga yang pada akhirnya membuat tabiat Inka menjadi sangat buruk kepada orang-orang yang tidak sepaham dengannya.


"Astaga" Sera terkejut.


"Antarkan aku ke kamar Inka" Arnold berdiri dengan sigap.


"Tapi pak?!" Asisten itu ketakutan.


"Jangan khawatir, aku yang memaksa masuk, kau tidak akan disalahkan!" Arnold paham dengan ketakutan sang asiaten rumah tangga itu.

__ADS_1


"Baik" ia pun akhirnya pasrah dan mengantarkan kedua tamu itu ke kamar Inka.


Tok Tok Tok,,


"Kak?" Sera memanggil Inka.


"Sera, aku mau istirahat, kau pulang saja!" Inka tidak mau membuka pintunya.


"Kak, jika kau ada masalah katakan saja kepadaku, jangan begini" Sera membujuk Inka dari balik pintu.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit kurang enak badan" Inka berbohong.


Gadis itu menebak pasti asisten rumah tangganyalah yang sudah mengadu kepada Sera dan Arnold. Karena sejak lama sebenarnya sang asisten sudah ingin melaporkan tindakan kekerasan ini kepada seseorang yang bisa membantu Inka, namun selalu dilarang oleh gadis itu sendiri.


"Inkania buka pintunya!" Arnold ikut memanggil.


"Maaf pak, saya ingin istirahat!" Inka tetap tidak mau.


"Astaga kakkkkk" Sera ingin menangis melihat kondisi wajah Inka yang sudah penuh luka lebam.


"Aku baik-baik saja, jangan berlebihan!" Inka berbalik dan kembali menuju ke tempat tidurnya.


"Wajahmu seperti itu kau bilang baik-baik saja?" Sera ternganga melihat betapa santainya Inka dengan kondisi seperti ini.


"Ini sudah biasa terjadi, kalian tidak perlu khawatir, besok juga akan baikan kok heheheh" Inka masih bisa terkekeh, membuat Sera dan Arnold tidak habis pikir.


"Ini sudah KDRT, bisa masuk ke ranah hukum!" Arnold to the point.


"Tidak perlu pak, jangan diperpanjang" Inka tidak mau masalah keluarganya terbongkar di hadapan banyak orang.


"Tapi ini tidak bisa dibiarkan, ayahmu harus mendapatkan hukuman yang setimpal" Arnold merasa geram.

__ADS_1


"Aku mohon jangan, aku tidak mau kalau situasinya semakin runyam, sudah cukup semuanya ini, aku sudah lelah!" Inka tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya.


"Kakkkk" Sera memeluk Inka yang mulai terisak.


"Kau gadis yang sangat hebat Inkania!" Arnold memuji Inka dengan tulus. Baru kali ini ia melihat betapa tegarnya seorang gadis belia menghadapi masalah hidupnya seorang diri.


"Aku baik-baik saja, percayalah, ini hanya butuh beberapa waktu saja untuk bisa kembali pulih seperti sebelumnya" Inka yang sudah tenang menunjukkan sisi kuatnya kembali.


"Kak biarkan kami membantumu!" Sera membujuk Inka.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan? dia itu ayahku dan aku harus menghormatinyakan?!" Inka menghela nafasnya dengan berat.


"Dia memang ayahmu, tapi dia juga hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah, dan jika dia salah, dia harus diingatkan akan kesalahannya itu!" Arnold memberi penjelasan.


"Bagaimana caranya?" Inka tidak yakin.


"Serahkan saja padaku, aku yang akan mengurusnya!" Arnold kemudian tersenyum penuh misteri.


Tok Tok Tok,


"Non, ada tamu lagi, katanya suaminya non Sera, namanya Tuan Gamal" sang asisten memberitahu Inka.


"Tolong suruh kesini saja" Inka memberikan perintah.


"Baik" tidak lama kemudian Gamal bergabung dengan yang lain di dalam kamar.


Setelah menedengarkan seluruh penjelasan dari Inka, akhirnya Sera, Gamal dan Arnold pun bertekat untuk memberikan perlindungan ke gadis malang itu.


"Terima kasih ya semuanya, kalian sangat baik!" kata gadis itu.


Inka tidak menyangka bahwa sikap baiknya terhadap Sera beberapa waktu belakangan ini bisa menghasilkan kebaikan pula kepada dirinya. Selama ini ia selalu menunjukkan sikap bermusuhan kepada banyak orang yang tidak sepaham dengannya, sehingga secara tidak langsung ia pun dijauhi oleh mereka semua. Baru kali ini ia merasa memiliki teman yang tulus ingin membantunya seperti Sera, Gamal dan Arnold.

__ADS_1


__ADS_2