
"Hai Gamaliel!" Sesorang menegur Gamal yang baru saja selesai melakukan meeting dengan kliennya.
"Arnold?" Gamal terkejut ketika melihat teman baiknya saat kuliah di luar negeri dulu berada di restoran yang sama dengannya.
"Kau sedang apa?" tanya Arnold.
"Aku baru saja selesai meeting dengan klien, kau sendiri sedang apa?" kata Gamal.
"Aku baru saja selesai mendampingi mahasiswaku menggalang dana untuk acara kampus" jawab Arnold.
"Jadi kau benar-benar lebih memilih menjadi seorang dosen dari pada menjadi pengusaha?" Gamal yang sudah cukup akrab dengan Arnold waktu mereka sama-sama kuliah di luar negeri benar-benar takjub ketika pria itu lebih memilih pekerjaan yang sesuai dengan hati nuraninya dibanding mewarisi bisnis ayahnya.
"Kau tau aku kan? hehehehe" Arnold terkekeh.
"Ya tentu saja, kau pria keras kepala yang selalu mengejar ambisimu!" Gamal geleng-geleng kepala.
"Ayo duduk kita ngobrol dulu sebentar!" Arnold mempersilahkan Gamal duduk di meja tempatnya.
"Jadi sekarang kau mengajar di mana?" tanya Gamal penasaran.
"Di kampus Internasional Ibukota" jawab Arnold.
"Benarkah? istriku juga berkuliah di sana!" Gamal memberitahu.
"Hey kau sudah menikah? kenapa tidak undang-undang aku hah?" Arnold terkejut saat mengetahui Gamal sudah menikah.
"Maaf, aku memang tidak mengundang teman-teman yang dari luar negeri, takut merepotkan!" Gamal memang tidak mengundang teman-temannya yang pernah kuliah bersamanya di luar negeri karena takut merepotkan mereka harus datang dari negara lain hanya untuk menghadiri acaranya.
"Ck, seharusnya kau undang aku karena aku kan sudah kembali ke sini, apa kau lupa kita ini di satu negara?" Arnold berdecak.
"Iya maaf maaf, kalau begitu sebagai gantinya nanti aku akan mengundangmu ke rumahku untuk makan malam bersama dan memperkenalkanmu pada istriku!" Gamal meminta maaf dan mengundang Arnold ke rumah.
"Baiklah, kalau begitu aku maafkan hehehe" Arnold terkekeh melihat Gamal yang merasa bersalah.
"Benar ya kau mau datang ke rumahku? ajak juga skalian pasanganmu!" Gamal serius.
"Tenang saja, nanti kalau aku sudah berhasil mendapatkan gadis yang aku incar, pasti aku akan mengajaknya ke rumahmu!" Arnold bersemangat saat membayangkan dirinya dan Sera berkunjung ke rumah Gamal sebagai sepasang kakasih.
"Memangnya siapa gadis yang sedang kau incar itu hah?" Gamal penasaran saat melihat raut wajah Arnold yang berubah menjadi sumringah.
__ADS_1
"Ahhhh dia mahasiswa di kampusku, dia sangat manis dan cantik!" Arnold memuji Sera.
"Benarkah? jadi kau mau mengikuti jejakku untuk menikah dengan daun muda juga?" tanya Gamal.
"Jadi kau juga pedofil?" Arnold membulatkan matanya.
"Istriku masih berusia hampir delapan belas tahun, dia masih semester awal" jelas Gamal.
"Wah kebetulan sekali, berarti mereka seumuran ya?" Arnold tidak menyangka ternyata mereka sama-sama berselera dengan gadis remaja.
"Ngomong-ngomong istrimu ambil jurusan apa?" Arnold dibuat penasaran.
Kringggggg,,, tiba-tiba ponsel Gamal berbunyi.
"Sebentar ya" Gamal meminta waktu kepada Arnold.
"Ya sayang ada apa?" Gamal mengangkat panggilan dari Sera.
"Apa kau masih lama?" Sera yang sudah sampai di rumah ingin memasak untuk suaminya.
"Tidak, sebentar lagi aku sudah mau pulang" jawab Gamal.
"Iya, aku makan malam di rumah" Gamal memang sengaja hanya memesan minuman dan cemilan saja tadi saat meeting karena ingin makan masakan sang istri nanti malam.
"Baiklah, kalau begitu aku masak ya" Sera kemudian bersiap memasak di dapur.
"Iya sayang, terima kasih ya" Gamal berkata dengan lembut.
"Hati-hati di jalan ya nanti pulangnya" pesan sang istri.
"Iya sayang" Gamal tersenyum karena sang istri begitu perhatian.
"I love you" kata Sera sebelum menutup telponnya.
"I love you more" Gamal kemudian mematikan panggilannya.
"Duh bikin iri saja sih!" Arnold menggerutu.
"Makanya cepatlah menyusul!" Gamal memprovokasi.
__ADS_1
"Doakan ya, semoga proses pendekatanku dengan gadis ini lancar!" Arnold meminta dukungan Gamal untuk mendekati Sera.
"Pasti aku doakan yang terbaik untukmu!" kata Gamal tanpa mengetahui siapa gadis yang dimaksud.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya, istriku sudah menunggu di rumah untuk makan malam" Gamal berpamitan.
"Baiklah, hati-hati di jalan ya" kata Arnold.
"Kau masih belum mau pulang?" Gamal heran karena Arnold seperti masih ingin berlama-lama di mejanya.
"Aku masih akan bertemu satu donatur lagi untuk acara kampusku, tapi nanti saat jam makan malam!" kata Arnold menjelaskan.
"Oh iya ngomong-ngomong berapa lagi dana yang kurang?" tanya Gamal.
"Masih sekitar empat puluh jutaan" Arnold berseru.
"Mana nomor rekening yang untuk menyalurkan dananya?" Gamal ingin membantu.
"Sebentar" kemudian Arnold menunjukkan kepada Gamal.
"Sudah, coba kau cek!" kata Gamal setelah menyelesaikan transaksi transfer onlinenya.
"Wahhhh gila kau, sebanyak ini?" Arnold tercengang saat Gamal mentransfer sejumlah lima puluh juta ke rekening donasi.
"Buatlah acaranya sebaik mungkin, aku mendukungmu!" Gamal memang teman yang sangat baik.
"Terima kasih kawan, kau dermawan sekali!" Arnold berkata dengan tulus.
"Sama-sama!" kata Gamal.
"Oya, karena kau menjadi donatur terbesar, maukah kau ikut ke acaranya nanti? aku ingin kau memberi kata sambutan dan motivasi bagi para mahasiswa baru agar mereka bersemangat kuliah dan bisa meraih cita-citanya sesuai harapan!" Arnold mengundang Gamal.
"Tentu saja, dengan senang hati!" Gamal berkata.
"Oke, kalau begitu aku akan kirim undangannya ya via email" Arnold kemudian meminta alamat email.
"Sippp, aku tunggu undangannya!" Gamal mengangguk.
Setelah mereka selesai mengobrol, Gamal pun langsung berpamitan pulang karena takut Sera menunggu terlalu lama di rumah. Sementara Arnold tetap bertahan di tempatnya untuk bertemu dengan donaturnya yang terakhir.
__ADS_1