
"Tidak!" Ananda menolak keinginan Sera untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
"Kenapa sih bunda tidak mengijinkan aku? aku kan sudah besar, dulu waktu bunda seusiaku, bunda juga sudah keluar dari panti untuk bekerja dan hidup mandiri kan?" Sera bersikeras mempertahankan keinginannya.
"Itu berbeda Sera!" Ananda tetap tidak mengijinkan.
"Apa bedanya?" Sera ngotot.
"Tentu saja berbeda, bunda ini hanya anak yatim piatu yang bekerja untuk mengais rejeki, tidak akan ada yang mau bersusah payah melakukan kejahatan kepada bunda karena bunda hanya orang miskin, sementara kau, dengan nama besar Anderson yang kau sandang, sudah pasti akan banyak orang di luar sana yang berbondong-bondong berniat jahat padamu!" tragedi penculikan Gaby tujuh belas tahun lalu masih begitu melekat diingatan Ananda yang pada akhirnya membuatnya begitu over protect terhadap ketiga anaknya.
"Bun, aku hanya kuliah, percayalah padaku, aku pastikan bahwa aku akan baik-baik saja!" Sera terus berusaha.
"Bunda percaya padamu sayang, yang tidak bunda percaya adalah orang-orang jahat di luar sana!" Ananda memberi pengertian.
"Bunda jahat, bunda tidak sayang padaku!" Sera yang kecewa pergi berlari menuju kamarnya di lantai dua meninggalkan kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
"Bun, kenapa tidak kita coba dulu? biarkan Sera menempuh apa yang ia inginkan, selama positif biarkan dia melakukannya" Mike mencoba membujuk sang istri.
"Ayah ini kenapa sih? apa ayah tidak belajar dari pengalaman? apa ayah lupa bagaimana dulu kakak hampir kehilangan nyawanya karena kelalaian kita?" Ananda mengingatkan Mike tentang penculikan Gaby.
"Ayah ingat bun, bahkan masih sangat melekat diingatan ayah, tapi kita juga tidak boleh terus hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Sera masih sangat muda, ia punya masa depan yang panjang, kita tidak bisa terus mengekangnya, dia tidak akan berkembang kalau kita terus membayang-bayanginya, suatu saat jika kita pergi, anak-anak kita harus bisa survive tanpa kita disamping mereka" Mike memberi wejangan panjang lebar kepada sang istri.
__ADS_1
"Bunda tau, bunda juga tidak mengekang, yang bunda tidak suka adalah Sera kuliah ke luar negeri, kenapa tidak di sini saja sih? di sini juga banyak kok universitas ternama yang bisa membuat Sera berkembang, lihat saja kakak, meskipun kuliah di sini, ia terbukti bisa berkembang dan meraih cita-citanya!" Ananda menyanggah sang suami.
"Gaby dan Sera memiliki karakter berbeda, Gaby anak yang penurut, dia tidak akan pernah membangkang apapun yang bunda ucapkan karena ia sangat berkiblat kepadamu, sementara Sera sangat keras kepala, dia tidak akan pernah menyerah dengan apapun selama ia merasa itu benar. Bukankah bunda lebih hebat tentang teori perkembangan psikologi pada anak?" Mike mengingatkan bagaimana Gaby dan Sera sangatlah berbeda.
"Tapi yahhhh" Ananda sesungguhnya setuju dan membenarkan semua yang dikatakan oleh sang suami, namun rasa takut kehilangan anak-anaknya membuatnya menjadi begitu posesif.
"Ayah akan mengutus tim terbaik untuk menjaga Sera selama dua puluh empat jam penuh, akan ayah pastikan semuanya aman terkendali dan selalu dalam pantauan kita bun, percayalah!" Mike merangkul sang istri.
"Tapi Bunda takut yahhhh" Ananda terisak.
"Kita coba satu semester dulu bagaimana?" Mike memberi penawaran.
"Huffffff, baiklah" akhirnya Ananda menyerah.
..........
"Selamat pagi" Ananda menyapa Sera yang baru turun dari kamarnya.
"Pagi" Sera menjawab dengan lesu karena ia masih kecewa dengan jawaban sang bunda semalam.
"Apa tidurmu nyenyak?" Mike bertanya kepada sang putri.
__ADS_1
"Biasa saja" Sera menjawab sembarangan.
"Lalu kapan kau akan mengurus keperluan kuliahmu?" Mike bertanya lagi.
"Keperluan kuliah apa? kampus yang dituju saja tidak ada" jawab Sera dengan malas.
"Apa kau tidak jadi kuliah di kampus yang kau inginkan itu?" Mike menggoda sang putri.
"Tanya saja pada bunda jawabannya" Sera malas meladeni pertanyaan sang ayah.
"Satu semester, bunda memberikan uji coba untukmu" Ananda memberi jawabannya.
"Maksud bunda?" Sera membulatkan matanya.
"Bunda ijinkan kau kuliah di luar negeri, tapi dengan melalui masa percobaan selama enam bulan di awal. Kalau kau berhasil lolos masa uji coba maka kau bisa lanjut, tapi kalau gagal maka kau harus pulang!" Ananda memberi syarat.
"Benarkah? terima kasih bunda" Sera langsung memeluk Ananda dan membanjiri wajah sang bunda dengan kecupan.
"Belajarlah yang baik, setelah kuliah langsung pulang dan tidak boleh keluar rumah tanpa pengawasan!" Ananda tetap memberi syarat yang begitu banyak.
"Siap bundaku" Sera melonjak kegirangan.
__ADS_1
Bagi Sera, bisa berkuliah di luar negeri untuk meraih cita-citanya sambil pergi jauh dari Gamal adalah suatu anugerah yang luar biasa. Ia berkomitmen ingin fokus mengejar cita-citanya dan menjadi orang sukses, hingga tidak bisa diinjak-injak oleh siapun, termasuk oleh pria yang ia cintai sekalipun.