
"Selamat datang di rumah kami pak Arnold" Sera menyambut teman baik suaminya.
"Ayo masuk" Gamal mempersilahkan tamunya itu masuk ke dalam ruang tamu.
"Silahkan duduk pak" kata Sera lagi.
"Terima kasih" Arnold kemudian duduk di salah satu sofa single yang ada di ruang tamu besar itu.
"Aku ke dapur dulu ya" Sera kemudian berjalan menuju dapur untuk mempersiapkan minuman untuk tamunya.
"Aku pikir kau tadi akan datang berdua dengan gadis yang sedang kau incar itu" Gamal memancing reaksi Arnold.
"Aku tidak jadi mendekatinya" kata Arnold dengan raut kecewa.
"Kenapa?" tanya Gamal dengan wajah serius.
"Dia sudah ada yang punya" Arnold bercerita dengan jujur meskipun tetap merahasiakan siapa orangnya.
"Benarkah? sayang sekali! Kau jangan berkecil hati karena pasti masih banyak gadis cantik di luar sana yang sudah mengantri untuk menjadi istrimu heheheh" Gamal bisa melihat bahwa Arnold bukanlah tipe pria nekat yang akan menghalalkan segala cara untuk merebut Sera darinya.
"Entahlah, aku belum bisa move on darinya" kata Arnold lagi dengan kecewa.
"Semua itu butuh proses, percayalah semua sudah ada garisnya, kau pasti akan menemukan jodohmu kalau sudah waktunya tiba!" Gamal membesarkan hati teman baiknya itu.
Tok Tok Tok,,
"Kak Gamal, apa Sera ada di rumah?" Inka bertanya dari luar pintu. Ia datang tidak lama setelah Arnold sampai sesuai dengan skenario yang sudah dibuat oleh mereka.
"Hai Inka, Sera ada di dapur, masuk saja langsung!" Gamal langsung berakting.
"Oke kak, eh ada tamu ya, maaf mengganggu" Inka pura-pura tidak tau kalau Arnold datang.
"Halo Inka" Arnold menyapa gadis itu dengan ramah.
"Selamat sore pak Arnold" Inka menundukkan kepala dengan hormat.
"Kak Inka kau sudah datang? aku kira kau tidak jadi ke sini" Sera muncul membawa nampan berisi minuman dan kudapan untuk Arnold dan juga untuk suaminya.
"Maaf ya aku telat, tadi aku harus menyelesaikan pekerjaanku dulu hehehe" Inka terkekeh.
"Ya sudah ayo masuk, bantu aku masak untuk makan malam ya" Sera merangkul lengan Inka.
"Pak Arnold, silahkan diminum ya, saya dan kak Inka masuk dulu ke dapur" Sera berpamitan.
"Permisi pak Arnold, kak Gamal aku ke dalam ya" Inka pun mengikuti langkah Sera menuju dapur meninggalkan dua pria tampan itu di ruang tamu.
__ADS_1
"Aku baru tau kalau istrimu berteman dengan Inka?" Arnold terlihat tidak percaya mengingat selama ini mereka jarang sekali berinteraksi saat rapat panitia malam inagurasi berlangsung.
"Iya, mereka berteman dan memiliki beberapa kesamaan hobi! Kau kenal dengan Inka?" Gamal memancing.
"Tentu saja, dia mahasiswa berprestasi dan populer di kampus" jawab Arnold sambil mengangguk.
"Hemmmm begitu ya? tidak heran sih kalau dia populer, dia kan sangat cantik dan pandai!" Gamal memuji Inka.
"Hey kau tidak sedang berniat menghianati istrimu kan?" Arnold mendelik.
"Ahahahaha memangnya aku sudah gila apa menghianati istriku yang begitu sempurna?" Gamal memuji Sera.
"Syukurlah kalau begitu!" meskipun Arnold sudah merelakan Sera untuk Gamal, namun jika melihat Sera dihianati oleh Gamal ia tidak akan tinggal diam.
"Kenapa kau tidak mendekati Inka saja? bukankah dia itu masih lajang?" Gamal memprovokasi Arnold.
"Aku masih belum bisa melepaskan bayangan gadis itu, sepertinya hatiku masih tertutup rapat untuk yang lain!" Arnold menghela nafas dengan berat.
"Dengarkan aku, kau itu tidak boleh terus terpuruk, kalau memang gadis itu sudah tidak bisa kau miliki, maka yang harus kau lakukan adalah membuka hatimu untuk yang lain, aku tau itu sulit, tapi pasti kau bisa, lagi pula menurutkan Inka itu sangat sempurna, tidak ada salahnya kan kalau dicoba? bagaimana? biar aku bantu hemmmm??" Gamal gencar sekali membujuk Arnold.
"Entahlah" Arnold mengangkat bahunya.
Sebenarnya bagi Arnold Inka adalah gadis yang cukup menarik, parasnya yang cantik dan otaknya yang cemerlang memang menjadi idaman setiap pria, namun hingga detik ini bayangan Sera masih menari-nari terus di kepalanya.
..........
"Kalau tidak kita coba mana mungkin kita tau hasilnya kan? lagi pula kenapa sekarang kau jadi seperti seorang pengecut begini sih kak? bukannya kemarin-kemarin kau sangat berambisi mengejarnya? bahkan kau sampai memusuhi aku heheheh" Sera terkekeh melihat kakak kelasnya ini cemas.
"Entahlah, aku sepertinya ingin menyerah saja, sudah bertahun-tahun aku mengincarnya, tapi tidak sekali pun dia menghiraukan aku, rasanya sudah cukup perjuanganku!" Inka menghela nafasnya.
"Ck kau ini, lemah sekali!" Sera mencibir Inka.
"Aku pulang saja ya?" Inka benar-benar tidak pecaya diri.
"Eitssss, sudah sejauh ini melangkah kau malah mau mundur? minta aku jitak apa?" Sera berkacak pinggang.
Sera bisa melihat bahwa gadis yang selama ini terlihat begitu arogan dan sombong di depan umum ternyata sangat rapuh dan tidak percaya diri.
"Aku menyerah saja ya?" Inka seperti anak kecil yang tidak punya nyali.
"Begini saja, setidaknya untuk malam ini kita coba, kalau memang pak Arnold tidak ada reaksi apapun kepadamu, maka kau boleh menyerah!" Sera memberi ide.
"Huffff baiklah, hanya untuk malam ini ya?" Inka setuju.
"Oke!" Sera bersemangat.
__ADS_1
"Kasihan sekali sih kau kak, sepertinya perjuanganmu selama ini yang selalu tidak dihiraukan oleh pak Arnold membuatmu menjadi sangat tidak percaya diri sama sekali!" Sera membatin di dalam hati.
..........
"Sayang, makan malamnya sudah siap" Sera memberi tau Gamal agar mengajak Arnold beranjak ke ruang makan.
"Oke, terima kasih sayang" Gamal mengangguk.
"Ayo kita makan" Gamal mengajak Arnold menuju ruang makan.
"Silahkan duduk pak" Sera menunjuk sebuah kursi.
"Terima kasih" Arnold mengangguk.
"Inka tidak ikut makan?" Gamal menatap Inka yang sudah bersiap-siap pulang.
"Dia itu takut kemalaman, jadi tidak mau ikut makan" Sera berpura-pura sebal.
"Aku tidak bawa mobil kak, kalau pulang terlalu malam takut tidak ada kendaraan umum yang beroprasi lagi" Inka menjelaskan kepada Gamal.
"Memang rumahmu di mana?" Arnold ikut nimbrung.
"Di The Cassa Estate pak" jawab Inka.
"Kalau begitu kita bareng saja nanti, kita searah kok, makan dulu sini!" Arnold mengajak Inka pulang bersama.
"Nahhhh kan, sudah buruan duduk, tidak ada alasan lagi kan untuk menolak makan malamnya?" Sera tersenyum puas karena rencana awalnya berhasil.
"Tapi pak, nanti saya jadi merepotkan" Inka memang benar-benar ingin menyerah saja rasanya.
"Sudah jangan banyak tapi tapi segala!" Sera menarik Inka duduk di depan Arnold.
"Oya sayang, aku dan Kak Inka berencana ingin jalan ke taman hiburan bersama, boleh tidak?" Sera memulai percakapan yang menjurus.
"Tentu saja boleh dong sayang, masa dilarang sih?" Gamal menjawab dengan mesra.
"Kalian berdua ikut ya?" Sera langsung menembak Arnold sesuai dengan skenario yang sudah ia buat.
"Kapan?" Arnold bertanya.
"Akhir pekan depan" jawab Sera dengan semangat.
"Boleh" Arnold menjawab dengan santai.
"Yesss semakin seru!" Sera tersenyum ke arah Inka, sementara Inka hanya tersenyum dengan kikuk.
__ADS_1
Mereka pun kemudian makan dengan diselingi obrolan santai. Sera, Gamal dan Arnold terlihat begitu menikmati makanan yang dihidangkan, sementara Inka merasa sangat gelisah dan ingin segera menyelesaikan acara makan malamnya. Entah mengapa ia merasa benar-benar ingin menyerah ketika dihadapkan dengan kenyataan bahwa Arnold adalah pribadi yang sangat sulit untuk dijangkau. Padahal sebelumnya ia justru sangat menggebu-gebu untuk mendekatinya sampai terlihat begitu agresif di mata Arnold.