
"Permisi, apa tuan Gamal ada?" Niken yang sudah berada di lobby kantor pusat perusahaan Anderson bertanya kepada resepsionis di lantai bawah.
"Maaf apa anda sudah buat janji sebelumnya." tanya sang resepsionis.
"Belum, tapi tolong katakan saja kalau Niken yang ingin bertemu" kata Niken.
"Baik sebentar" kemudian sang resepsionis menghubungi sekertaris Gamal.
"Nona, anda bisa langsung naik ke atas, nanti sekertarisnya tuan Gamal akan mengarahkan anda" kata resepsionis setelah menutup telponnya.
"Terima kasih" kemudian Niken langsung menuju lift khusus CEO dan menekan tombol lantai ruangan para petinggi.
"Selamat siang, saya ingin bertemu dengan tuan Gamal" Niken yang sudah keluar lift langsung bertanya kepada para sekertaris CEO yang meja kerjanya berjajar di depannya.
"Silahkan duduk dulu nona, tuan Gamal masih ada meeting dengan para investor" salah satu dari lima sekertaris itu mempersilahkan Niken duduk di sofa ruang tunggu yang sekaligus merangkap ruang sekertaris itu.
"Baik, terima kasih" kemudian Niken duduk dengan anggun.
__ADS_1
..........
"Ada apa kau ke sini?" tanya Gamal dengan datar ketika Niken sudah berada di ruang kerjanya.
"Kak" Niken langsung berhamburan duduk di pangkuan Gamal dan memeluk pria yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu.
"Niken, ini kantor jangan begini!" Gamal berusaha melepaskan pelukan Niken yang begitu erat.
"Aku sangat merindukanmu kak" Niken berbisik di telinga Gamal, membuat pria itu merasakan sensasi geli.
"Niken aku mohon jangan begini" Gamal berusaha melepaskan Niken.
"Niken akuuu,," Gamal tidak bisa melanjutkan kalimatnya.
"Kak" Niken langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Gamal dengan ganas.
Sebagai pria normal yang sudah cukup umur dan sangat merindukan wanita yang selama bertahun-tahun telah mengobrak-abrik hatinya, tentu saja pertahanan Gamal menjadi luluh lantah. Gamal yang selama ini juga sangat merindukan Niken membalasnya dengan penuh kobaran api kerinduan. Cukup lama mereka berpagut untuk saling melepas rindu satu sama lain, hingga akhirnya Gide dan Dimas masuk ke ruangannya secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Gamal apa kau mau ikut makan siang dengan ka,," kalimat Dimas terhenti ketika ia melihat adegan panas di ruangan tersebut.
"Ck" Sementara Gide hanya berdecak sambil menunjukkan mimik kesalnya karena melihat sang kakak yang begitu bodoh meladeni godaan Niken yang sudah pernah mencampakkannya begitu saja selama bertahun-tahun.
"Maaf" Niken yang melihat dua pria itu langsung spontan turun dari pangkuan Gamal dan merapikan pakaiannya.
"Ayo Dim, sepertinya mereka sedang sibuk" Gide yang kesal dengan kebodohan Gamal langsung meninggalkan ruangan kakaknya begitu saja.
"Baiklah, kami makan siang duluan ya" kemudian Dimas menutup pintu ruangan Gamal.
"Apa masih ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Gamal yang sudah kembali pada mode sadarnya kemudian bertanya dengan datar kepada Niken.
"Kak bagaimana kalau kita makan siang berdua?" Niken membujuk Gamal dengan bergelayut manja di lengan Gamal.
"Maaf aku tidak bisa" Gamal kemudian melepaskan tangan Niken.
"Plis kak, aku ingin bercerita banyak denganmu" Niken ingin mencoba menjelaskan alasan kepergiannya selama bertahun-tahun, karena kemarin saat di rumah Mike suasananya tidak kondusif untuk Niken menceritakan secara detail.
__ADS_1
"Baiklah" Gamal yang juga penasaran dengan alasan Niken akhirnya menyetujui untuk makan siang bersama.
Mereka kemudian pergi menggunakan mobil Gamal menuju restoran yang dulunya menjadi tempat favorit mereka berdua saat berpacaran.