
"Apa semua sudah dibawa?" Ananda bertanya.
"Sudah Bun" jawab Sera.
"Jangan sampai ada yang tertinggal" Ayu mengingatkan.
"Iya Mom" Sera mengangguk.
"Biar aku cek lagi" Maya ingin membongkar semua barang Sera untuk memastikan.
"Tidak usah, aku sudah yakin kok Tante" Sera mencegah Maya membongkar tasnya yang sudah tapi.
Mempunyai tiga ibu yang selalu memperhatikan semua kebutuhannya memang membuatnya begitu bahagia. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau harus hidup berjauhan dari mereka semua.
"Jaga diri baik-baik, jangan sampai melanggar aturan yang sudah dibuat oleh ayahmu kalau kau tidak ingin aku deportasi" kata Ananda sambil memeluk Putri bungsunya yang sebentar lagi akan berangkat.
"Sering-sering memberi kabar ya supaya kami tidak khawatir" Ayu bergantian memeluk Sera.
"Jangan lupa untuk makan teratur nona, jaga kesehatan karena iklim di sini dan di sana berbeda" Maya juga ikut memeluk.
Mereka semua menangisi Sera yang hendak berangkat.
"Iya, aku janji akan menjaga diriku dengan baik demi kalian, jadi jangan menangis lagi ya" Sera mengecup pipi ketiga wanita kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang.
"Apa sudah siap?" Gamal bertanya kepada Sera yang masih ingin berlama-lama bersama ketiga wanita itu.
"Apa pak supir sudah siap?" Sera bertanya.
"Pak supir tidak bisa mengantar karena ada keperluan keluarga, jadi aku yang akan menggantikan" jawab Gamal sambil mengangkat koper dan tas milik Sera.
"Loh kenapa dia tidak memberitahu Mama kalau sedang ada keperluan mendadak?" Maya yang berperan sebagai manager rumah tangga sangat heran dengan sikap supirnya yang tidak seperti bisa.
"Entahlah" jawab Gamal sekenanya, padahal pada kenyataannya Gamal lah yang meminta sang supir untuk tidak datang agar ia bisa mengantar Sera dan memiliki waktu berdua saja untuk yang terakhir kalinya sebelum entah kapan akan bertemu kembali.
__ADS_1
"Ya sudah cepat berangkat nanti terlambat" Ayu mengingatkan Sera dan Gamal.
Saat Gamal sedang menyusun semua tas di dalam bagasi mobil, tiba-tiba sebuah taksi berhenti tepat di samping mobil milik Gamal tersebut.
"Niken?" Gamal terkejut ketika melihat yang keluar dari dalam taksi adalah Niken.
"Selamat pagi semua" Niken menyapa semua orang yang hendak mengantarkan kepergian Sera.
"Selamat pagi Niken" semua membalas serentak.
"Sera, hati-hati ya di sana, semoga sukses" Niken memeluk Sera untuk memberi dukungan.
"Terima kasih kak" Sera berusaha senormal mungkin dengan membalas pelukan Niken.
"Ayo Sera, sudah siang" Gamal mengingatkan.
"Iya" Sera mengangguk.
"Apa kak Gamal yang akan mengantar? kalau begitu aku ikut ya?" Niken bertanya.
"Kenapa kau di belakang?" Gamal protes.
"Kak Niken saja yang di depan" jawab Sera sambil mencari posisi nyamannya.
Setelah berpamitan kepada seluruh keluarga, akhirnya Gamal melajukan mobilnya keluar gerbang.
"Haloooo" Sera mengangkat ponselnya yang berdering dengan mode video call.
"Cantik, apa kau sudah berangkat?" terdengar dengan nyaring suara Luke.
"Iya Luke, aku sudah berada di jalan" jawab Sera tanpa menghiraukan ekspresi Gamal yang sudah merah padam karena cemburu.
"Kalau begitu aku menyusul langsung ke bandara saja ya?" Luke berkata.
__ADS_1
"Baiklah terserah kau saja" Sera menjawab dengan enteng.
"Sampai bertemu di bandara cantiku" Luke melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan Luke" Sera membalas lambaian tangan Luke.
"Ck" Gamal berdecak kesal dengan situasi yang sedang terjadi. Rencananya untuk dapat berdua saja dengan Sera gagal karena Niken ikut bersama mereka, ditambah nanti akan ada Luke yang akan menyusul.
"Kak, apa kau baik-baik saja?" Niken melihat air muka Gamal yang berubah merasa khawatir.
"Hemmm" jawab Gamal dengan malas. Sementara Sera yang mengetahui bahwa sesungguhnya Gamal sedang kesal berusaha bersikap tidak peduli lebih memilih melemparkan pandangannya ke luar jalanan.
..........
"Hati-hati di negeri orang ya, jangan sembrono" Luke memberi pesan seperti seorang ibu kepada anaknya.
"Astaga Luke, kenapa kau jadi seperti bundaku sih?" Sera tertawa geli.
"Itu karena aku menyayangimu" Luke menunjukkan wajah seriusnya.
"Uluhhhh uluhhhh sayangggg, sini-sini peluk" Sera kemudian memeluk Luke dengan hangat sebagai seorang sahabat.
"Sudah cukup!" Gamal yang melihat adegan pelukan itu menjadi geram.
"Kak, kau ini kenapa sih?" Sera protes karena Gamal melepaskan pelukan mereka.
"Kalian itu lawan jenis dan tidak ada hubungan apapun, jadi harus jaga jarak!" Gamal protektif.
"Luke itu sahabat baikku, jadi wajar saja kami berpelukan, kakak berdua saja kemarin berciuman kan?" Sera menunjuk Gamal dan Niken secara bergantian.
"Itu berbeda!" Gamal menjawab.
"Apanya yang beda? jangan egois kak, kau itu bukan siapa-siapaku, jadi jangan pernah mengatur hidupku!" Sera yang sangat kesal langsung mendorong trolinya ke arah dalam, meninggalkan ketiga orang itu tanpa berpamitan.
__ADS_1
"Serafim Anderson!" Gamal mencoba mengejar tapi terlambat karena Sera sudah masuk di area yang tidak bisa dimasuki oleh pengantar.