Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Arnold dan Inka


__ADS_3

"Kak Inka!" Sera memanggil Inka saat melihat gadis itu berjalan seorang diri di lorong kampus.


"Hai Sera!" Inka melambaikan tangannya sambil mengembangkan senyum paling manis.


"Apa kakak sudah baik-baik saja?" Sera menatap wajah Inka yang masih lebam.


"Sudah tidak apa-apa kok!" Inka menutupi rasa sakitnya.


"Oya kenalkan ini teman-temanku, ini Indah, Ari dan Bitha" Sera memperkenalkan teman satu kelasnya kepada Inka.


"Halo kak, semoga kita bisa berteman baik ya" Bitha tersenyum tulus.


"Kak Inka tolong bimbing kami ya" Indah mengangguk sopan.


"Senang bisa berkenalan dengan kakak" Ari juga menyapa Inka.


Mereka bertiga sudah mendapat cerita dari Sera tentang penyesalan Inka terhadap sikap buruknya di masa lalu dan juga kisah sedihnya tentang kekejaman sang Ayah.


"Terima kasih ya kalian mau menjadi temanku" Inka sangat terharu ketika ada orang yang benar-benar tulus ingin berteman dengannya.


"Jangan sungkan kak, kalau butuh sesuatu katakan saja kepada kami ya" Bitha memberikan penawaran.


"Benar kak, kalau kami bisa pasti akan kami bantu" Indah mendukung perkataan Bitha.


"Iya, pokoknya mulai sekarang kakak tidak akan sendirian lagi" Ari sebagai satu-satunya laki-laki diantara mereka merasa mimiliki tanggung jawab menjadi pelindung bagi teman-temannya.


"Aku sangat terharu, kalian baik sekali" Inka menatap semuanya secara bergantian.


"Sudah ku bilangkan, kalau kita baik sama orang lain, pasti mereka akan mau menolong kita" Sera tersenyum penuh kebahagiaan melihat perubahan sikap Inka.


"Iya kau benar, selama ini aku memang sangat jahat!" Inka menyesali perbuatannya.


"Sudah jangan sedih lagi, yang penting kan sekarang sudah lebih baik heheheh" Sera berusaha mencairkan suasana.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau aku traktir kalian semua makan siang? hitung-hitung sebagai ucapan salam perkenalan" kata Inka.


"Wahhhh itu yang paling asik!" Ari to the point.


"Dasar kau ini tidak bisa lihat gratisan!" Sera mencibir Ari, membuat yang lain tergelak.


Sesampainya di kantin mereka memesan menu makanan masing-masing dan mengobrol dengan sangat seru tentang gosip yang sedang beredar di kampus.

__ADS_1


"Wahhhh sepertinya seru sekali nih gosipnya?" Arnold tiba-tiba saja muncul dihadapan mereka berlima.


"Pak Arnold?" mereka serempak menyapa sang dosen tampan itu.


"Kau ini kenapa bandel sekali sih? kan sudah aku bilang jangan kuliah dulu, lihat wajahmu masih seperti itu!" Arnold yang sudah dua malam merawat Inka dan tadi pagi berangkat kerja dari rumah gadis itu berpesan agar ia beristirahat dulu di rumah sampai benar-benar sembuh.


"Aku bosan di rumah saja, lagi pula kan sakitnya hanya di beberapa bagian saja, jadi tidak masalah dengan aktivitas kuliah" Inka yanh hanya ijin dua hari sudah tidak betah sendirian di rumah.


"Dasar gadis keras kepala" Arnold menekan pipi Inka yang masih terlihat biru.


"Awwwwww, sakit pakkkk!" Inka protes.


"Nah kannnn dicolek begitu saja sudah teriak-teriak, makanya di rumah saja dulu!" Arnold menatap sebal ke arah Inka yang membangkang perintahnya.


"Ck, bapak ini cerewet sekali sih!" Inka menjadi ikut-ikutan sebal karena Arnold menjadi over protect.


"Kalian pacaran gih, cocok banget lohhh" Sera menggoda.


"Apa sih, gak lucu!" Inka menyuap soto yang tadi dipesannya.


"Aku tidak akan berpacaran dengannya!" Arnold dengan yakin menjawab.


"Pak kok jahat banget sih ngomong begitu di depan umum?" Sera menatap tajam kepada Arnold.


"Aku kan hanya berkata apa adanya, aku memang tidak mau berpacaran dengannya!" Arnold mengulangi perkataannya.


"Teman-teman, aku duluan ya, permisi!" Inka yang merasa tertolak langsung berdiri dari kursinya.


"Kau mau kemana?" Arnold menarik tangan Inka.


"Saya mau melanjutkan mengerjakan tugas yang kemarin sempat tertunda" Inka berusaha menepis tangan Arnold.


"Apa kau marah terhadap ucapanku barusan?" Arnold memperkuat cengkraman tangannya.


"Saya cukup tau diri pak, kalau anda tidak suka dengan saya, saya pun tidak akan memaksa. Saya sekarang cukup sadar posisi, jadi anda tidak perlu khawatir, saya tidak akan pernah mengganggu anda lagi, jadi mohon lepaskan tangan anda karena saya ingin pergi!" Inka menarik tangannya yang dicengkram dengan erat oleh Arnold.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku!" Arnold tersenyum misterius.


"Tolong lepaskan!" Inka menarik paksa dengan keras.


"Sudah ku bilang sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Arnold menarik pinggang Inka ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Pak, jangan bersikap konyol begini, anda bilang tidak mau berpacaran dengan saya, kalau begitu mohon jaga jarak agar orang tidak salah paham dan menimbulkan fitnah!" Inka mendorong tubuh Arnold menjauh.


"Justru karena aku ingin menghindari salah paham dan fitnah, maka aku tidak ingin berpacaran denganmu, tapi aku ingin langsung menikahimu!" Arnold mempererat pelukannya.


"Jangan bercanda pak, ini sama sekali tidak lucu!" Inka merasa dipermainkan.


"Aku tidak bercanda, aku serius, bahkan sangat serius!" Arnold kini melepaskan pelukannya dan berlutut dihadapan Inka.


"Inkania, maukah kau menikah denganku, menjadi pendampingku dan ibu dari anak-anakku kelak? Ijinkan aku menjadi penjagamu di sisa umurku ini!" Arnold melamar Inka.


"Pak Arnold jangan begini, cepat bangun!" Inka menganggap ini hanyalah lelucon Arnold.


"Jawab aku dulu, apakah kau bersedia menikah denganku dan menjadi istriku?" Arnold mengulangi pertanyaannya.


"Pak tolong jangan seperti ini, cepat berdiri!" Inka yang masih belum yakin akan hati Arnold tidak ingin besar kepala.


"Inka?" Arnold berharap penuh.


"Saya tidak bisa pak, maaf!" Inka merasa semuanya begitu aneh, Arnold yang selama ini selalu mengabaikannya dan menganggapnya seperti angin lalu kini tiba-tiba melamarnya.


"Tapi kenapa?" entah mengapa hati Arnold seperti dicubit saat mendengar jawaban Inka. Ia tidak memprediksi bahwa Inka akan menolaknya mengingat selama ini gadis itu selalu mencari perhatian darinya.


"Ini terlalu cepat!" Inka berkata jujur.


"Kalau begitu aku akan bersabar menunggumu" Arnold berusaha tersenyum.


"Bangun dulu pak" Inka menarik Arnold agar mau berdiri.


"Tapi kau harus berjanji untuk memberiku kesempatan ya?" Arnold memohon.


"Baiklah" Inka terpaksa menyetujuinya.


"Terima kasih" Arnold akhirnya berdiri.


"Semoga kalian berjodoh ya"


"Inka ayo terima"


"Duh romantis banget sihhh"


Siang itu kantin kampus menjadi heboh karena kejadian antara Arnold dan juga Inka.

__ADS_1


__ADS_2