
"Sayang, ayo kita mandi bersama-sama" Gamal mulai merayu sang istri.
"Kak, aku malu" Sera kemudian menutup wajahnya.
"Kenapa mesti malu? kita sudah menikah, sudah bisa melakukannya" Gamal mulai melepas gaun pengantin sang istri.
"Tapi kan kita tidak ada baju ganti, lalu nanti habis mandi kita pakai apa?" Sera cemas karena pakaian mereka masih dalam perjalanan.
"Kita tidak perlu pakaian-pakaian itu beberapa hari ke depan sayang, karena pada akhirnya akan terlepas semua" Gamal menggerayangi tubuh mungil sang istri yang kini hanya tinggal mengenakan pakaian dalam saja.
"Kakkkk kau itu kenapa mesum sekali sih?" Sera yang digerayangi oleh sang suami merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Kan mesumnya sama istri sendiri, ya tidak apa-apa dong?" Gamal mengecup bibir Sera.
"Tapi kak, sepertinya aku harus mengecek sesuatu dulu" Sera menahan Gamal.
"Apa?" Gamal penasaran.
"Tunggu ya!" Sera berjalan ke arah kamar mandi.
"Ada apa sih?" Gamal tidak sabaran.
"Kak, aku berhalangan" Sera menunjukkan wajah sedihnya karena hari pertamanya bertepatan dengan malam pengantin mereka.
"Benarkah?" Gamal terlihat kecewa.
"Maaf" Sera berkaca-kaca.
"Sudah jangan menangis, lebih baik sekarang kau mandi saja, aku akan meminta pelayan membelikanmu pembalut dan pakaian dalam sekali pakai di swalayan" Gamal mengecup kening Sera.
"Iya" Sera pun kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Sementara menunggu pakaian mereka tiba, Sera dan Gamal hanya memakai bathrobe saja.
"Sayang, sambil mengisi waktu menunggu makan malam dan pakaian kita sampai, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke arah belakang menyusuri pantai?" Gamal memberi ide.
"Tapi kita kan hanya pakai bathrobe saja!" Sera ragu.
"Ini kan villa pribadi sayang, tidak ada siapapun yang bisa mengaksesnya kalau tidak dapat ijin, jadi jangan khawatir ada yang melihat kita" Gamal meyakinkan.
"Iya juga ya" Sera manggut-manggut.
__ADS_1
"Ayo" Gamal berusaha mengalihkan pikirannya supaya ia bisa menahan hasratnya untuk melakukan malam pertamanya.
Mereka pun kemudian menyusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan dengan mesra, menghabiskan malam sambil bercerita tentang cinta dan masa depan mereka kelak.
..........
"Kemana mereka? kok sepi sekali sih?" Gide dan Rachel yang sudah tiba di villa mendapati bahwa tempat itu kosong bak tak berpenghuni.
"Coba aku cek ke kamar mereka" Rachel kemudian naik ke atas.
"Bagaimana?" tanya Gide saat melihat Rachel turun sendirian.
"Tidak ada" Rachel kecewa.
"Ya sudah kita pulang saja yuk, yang penting kan kopernya sudah sampai" Gide memberi usul.
"Tapi kak, aku lapar" Rachel menatap meja makan yang sudah tertata rapi dengan berbagai jenis makanan mewah di atasnya.
"Ini kan punya pengantin baru, kalau kita makan bagaimana nasib mereka?" Gide ragu-ragu.
"Siapa suruh mereka merepotkan kita kesini? ya itung-itung ini bayarannya lah, makanan mewah buat kita sang kurir" Rachel langsung duduk dan mulai menyantap makan malamnya.
"Kakak tidak mau?" Rachel mengiming-iming.
"Ahhh anggurnya luar biasa nikmat ya, pasti ini anggur mahal" Rachel meneguk red wine yang tersaji.
"Kau benar, luar biasa" Gide pun ketagihan.
Mereka berdua makan dan minum dengan lahap tanpa menyisakan sama sekali makan malamnya bagi kedua pengantin yang sedang berjalan-jalan menyusuri pantai.
"Kak, aku kepanasan" Rachel mulai berkeringat.
"Aku juga Rach" Gide merasa suhu tubuhnya naik.
"Apakah anggur itu yang bikin kita jadi seperti ini?" Rachel mulai gelisah.
"Sepertinya begitu" Gide melepas jas yang ia kenakan dan melemparnya dengan sembarangan.
"Kak, tolong aku, aku tidak kuat berjalan" Rachel memegang tangan Gide agar bisa memapahnya ke kursi di ruang keluarga.
"Rach, bagaimana kalau kau istirahat di kamar saja, ayo aku antar" Gide kemudian merangkul tangan Rachel di bahunya dan mereka menaiki tangga dengan sempoyongan.
__ADS_1
"Kak, aku tidak bisa tahan, ada apa dengan tubuhku" Rachel bergelinjang saat merasa gejolak dalam dirinya tak terbendung lagi.
"Rach, kau baik-baik saja kan?" Gide sesungguhnya juga merasakan hal yang sama, namun ia berusaha bertahan dan memakai akal sehatnya dengan baik.
"Kak, tolong aku" Rachel menarik tubuh Gide, Pria itu kemudian terjatuh tepat diatas tubuh Rachel.
"Kak, eughhhh, aku tidak tahan lagi kak" Rachel terus saja bergelinjang, kakinya tidak bisa diam dan terus membuat sesuatu memberontak dibagian bawah Gide.
"Rach, sadarlah ayo buka matamu" Gide menepuk pipi Rachel.
"Kakkkk" alih-alih sadar, Rachel malah memagut bibir Gide dengan ganas.
Mereka tidak bisa lagi mengendalikan diri dengan baik. Gide yang awalnya berusaha sadarpun akhirnya menyerah karena gerakan-gerakan yang dilakukan Rachel membuat bagian bawah tubuhnya benar-benar meronta ingin dimanjakan. Setelah semua terlepas dari tubuh masing-masing, mereka pun kemudian menyatu.
"Eughhhhh, kakkkkk, ahhhhhh, ishhhhhh" Rachel mengerang saat Gide menghujamnya berkali-kali dan membuatnya terbang melayang.
"Rach aku sudah tidak tahan lagi, ahhhhhh, nooooo,,, eughhhhhh akuuuuu keluarrrrrr" Gide menegang saat berada di puncaknya.
Mereka yang kelelahan dan terpengaruh oleh entah apa itu, akhirnya tidak sadarkan diri dalam keadaan yang polos.
..........
"Sayang, sudah malam, ayo kita kembali ke villa untuk makan malam, mungkin saja Gide juga sudah datang" Gamal membujuk sang istri yang masih sangat betah berlama-lama menikmati pemandangan pantai yang begitu menawan dengan diterangi oleh lampu-lampu taman yang indah.
"Baiklah, tapi besok malam aku mau lagi ya?" Sera merajuk.
"Iya, besok kita kesini lagi" Gamal merangkul sang istri dan menggiringnya agar segera masuk.
"Loh kok meja makannya berantakan?" Sera terbengong-bengong.
"Bukankah ini jas milik Gide? apa anak itu yang memakannya?" Gamal curiga.
"Mungkin dia sudah tidur?" Sera menatap snag suami.
"Ayo kita cek" Gamal menarik tangan Sera dan naik ke atas.
"Tidak ada orang di kamar tamu" Gamal heran dengan keberadaan adiknya itu.
"Mungkin kah dia ada di kamar kita?" Sera menebak-nebak.
"Coba ayo lihat" Gamal kembali menarik tangan sang istri menuju kamar mereka.
__ADS_1
Ceklek,
"Astaga!" Sera terkejut dan menutup mulutnya menyaksikan pemandangan mengerikan di dalam kamar.