
"Kau sudah datang?" Ayu menyambut sang keponakan yang baru saja tiba dari kampus.
"Iya mom, apa yang lain sudah datang?" Sera tidak melihat tanda-tanda orang berkumpul di ruang tamu.
"Biasalah, kalau ibu-ibu kan pastinya ngumpul di dapur" jawab Ayu.
"Ohhhh" Sera ber oh ria.
"Yuk masuk" Ayu menggandeng lengan keponakan kesayangannya itu menuju dapur.
"Kau sudah sampai?" Gaby menyapa ketika Sera menciun satu persatu orang yang ia temui di dapur.
"Bagaimana kuliahmu?" Ananda bertanya kepada sang putri bungsu.
"Baik bun, lancar dan menyenangkan" Sera menjawab.
"Apa kau sudah makan?" Maya bertanya kemudian.
"Belum, hehehehe" Sera memang selalu manja kepada Maya.
"Mau makan?" Ayu kemudian membuka tudung saji yang ada di meja dapur.
"Nanti saja mom, bareng kak Gamal" Sera memang lebih senang makan berdua dengan sang suami.
"Ya sudah kalau tidak mau" Ayu menutup kembali tudung sajinya.
__ADS_1
"Oya dimana Rach?" Sera yang sangat akrab dengan sepupunya mencari-cari keberadaan Rachel.
"Dia di kamarnya, sudah dua hari belakangan ini dia sepertinya masuk angin dan muntah-muntah terus" jawab Ayu.
"Ohhh baiklah, aku ingin melihatnya dulu ya Mom" Sera jadi penasaran dan ingin menengok Rachel.
Tok Tok Tok,,
"Rach, apa aku boleh masuk?" Sera bertanya kepada Rachel.
"Masuklah!" Rachel menjawab segera.
"Kau kenapa?" tanya Sera yang terlihat lesu.
"Entahlah, aku agak sedikit tidak enak badan dua hari belakangan ini" Rachel merebahkan kembali tubuhnya di tempat tidur.
"Belum, semoga saja besok sudah tidak apa-apa!" Rachel adalah termasuk orang yang anti dengan dokter dan rumah sakit, sebisa mungkin jika memang tidak terlalu parah ia lebih memilih untuk beristirahat di rumah.
"Semoga saja ya" Sera merasa kasihan melihat adik sepupunya sangat tidak bersemangat.
"Oya, aku dengar dari temanku kau menjadi panitia inagurasi ya?" Rachel penasaran dengan info yang ia dapatkan.
"Hufffff iya, aku diminta oleh pak Arnold, dosen yang menjadi pendamping panitia, padahal sesungguhnya aku malas!" Sera kemudian menghempaskan diri di sebelah Rachel.
"Loh memang tidak ada orang lain selain dirimu?" Rachel merasa aneh.
__ADS_1
"Nah itu dia, kalau kata teman-temanku pak Arnold itu suka sama aku dan sedang berusaha melakukan pendekatan" Sera akhirnya melakukan sesi curhat dengan sepupunya.
"Pendekatan? maksudnya dia naksir?" Rachel terbelalak.
"He em, kata mereka sih dia begitu!" Sera mengangguk.
"Memangnya kau tidak bilang pada dosenmu itu kalau kau sudah menikah dan punya suami?" tingkat rasa ingin tau Rachel meningkat tinggi, bahkan seketika rasa lemasnya hilang.
"Sudah, aku sudah bilang kalau aku sudah menikah dan punya suami, tapi dia tidak percaya, bahkan tadi saat mama Maya menelpon dan aku bilang bahwa mama Maya adalah mertuaku dia malah tertawa terbahak-bahak, dia bilang masa gadis kecil sepertiku sudah menikah? kan aneh dia bikin kesal saja!" Sera mengadu tentang rasa kesalnya kepada Arnold yang tidak percaya kalau dirinya sudah menikah.
"Hemmmmm, dia tidak salah seratus persen sih, soalnya memang benar, usiamu itu masih terlalu kecil untuk ukuran wanita yang sudah siap menikah, kau saja yang sudah terlalu ngebet dan doyan hahahah" Rachel malah memanfaatkan kekesalan Sera untuk dijadikan bahan ejekan.
"Ihhh kau ini jahat sekali sih? aku lagi curhat dan kesal kau malah mengejek, menyebalkan, sudah ah aku pergi saja!" Sera kemudian bersiap untuk berdiri.
"Ehhhh mau kemana, masa begitu saja ngambek, iya maaf, maaf, hahahaha" Rachel memang selalu senang melihat sepupunya kesal.
"Tau ah!" Sera memasang wajah pura-pura cemberut.
Tok Tok Tok,,,
"Sayang ayo ke bawah, kita kan mau merencanakan kejutan buat grandma!" Ayu memanggil Sera dan Rachel.
"Oke mom" jawab Sera.
"Cepat yaaa" Ayu kemudian kembali turun ke bawah.
__ADS_1
"Ayo!" Sera kemudian menuntun Rachel yang masih terlihat lemas.
Mereka pun kemudian menghabiskan malam bersama-sama di rumah Ayu dan Ron dengan anggota keluarga Anderson yang lain untuk membahas acara untuk grandma Ruth. Para suami dan anak laki-laki serta menantu juga menyusul setelah pulang kantor dan kuliah.