
Keesokan harinya Gamal dan Sera beraktivitas seperti biasa. Gamal terlebih dahulu mengantar Sera ke kampus sebelum berangkat ke kantornya.
"Sayang apa dosenmu itu bersikap sopan padamu?" sesungguhnya sejak mengetahui bahwa pria yang mendekati sang istri adalah Arnold, teman yang pernah akrab dengannya saat kuliah dulu, Gamal jadi merasa terusik.
"Dia sebenarnya sangat sopan, hanya saja karena dia terlalu berlebihan dalam memberi perhatian, jadi membuatku risih sendiri" jelas Sera.
Sera merasa bahwa sejauh ini Arnold cukup sopan karena belum pernah menyentuh atau berkata yang tidak sopan padanya. Arnold cukup memiliki tata krama sebagai pria yang sedang mengejar seorang gadis. Caranya cukup elegan dan layaknya pria baik-baik. Hanya saja kesalahannya adalah dia mendekati wanita yang sudah bersuami. Namun itu pun tidak seratus persen kesalahan Arnold, karena ia memang tidak pernah tau kalau Sera sudah bersuami. Belum ada kesempatan bagi Sera untuk menjelasakan dan memberitahu statusnya yang sudah menikah dan bersuami kepada sang dosen.
"Memangnya kenapa tiba-tiba kau bertanya seperti itu?" Sera penasaran kenapa tiba-tiba Gamal bertanya kepadanya, padahal selama ini suaminya termasuk tipe yang tidak begitu peduli dengan hal-hal seperti itu.
"Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan saja, kalau dia masih dalam batas sopan ya berarti itu hak dia untuk menyukaimu, asalkan saja kau tidak meresponnya!" Gamal menjelaskan.
"Kau tidak sedang curiga dan menuduhku macam-macam kan?" Sera memicingkan matanya.
"Tentu saja tidak dong sayangku, aku selalu percaya kepadamu!" Gamal langsung membelai pipi Sera dengan lembut.
"Syukurlah, aku kira kau curiga dan tidak percya akan kesetiaanku!" Sera menghela nafasnya.
"Tidak, aku percaya kok kalau istriku ini adalah wanita yang paling setia" Gamal kemudian mengecup tangan Sera dan tidak melepaskan genggamannya.
"Terima kasih" Sera tersenyum mendengar pernyataan dari suaminya.
"Sama-sama sayangku, ya sudah belajar yang rajin dan semangat ya, lalu nanti pulang kuliah hati-hati" Gamal mengecup bibir mungil Sera saat mobilnya sudah berhenti tepat di depan gerbang kampusnya.
"Iya, hati-hati di jalan ya, semangat bekerja suamiku sayang" Sera melambaikan tangannya saat hendak menutup pintu mobil.
Gamal pun kemudian melajukan mobilnya setelah memastikan Sera menghilang dari pandangannya.
..........
"Sera apa kau tau kalau dana yang dibutuhkan sudah terkumpul semua?" Ari yang melihat Sera menghampirinya dan teman-teman yang lain di lorong kelas langsung membuka percakapan.
__ADS_1
"Wahhh benarkah? bukannya jumlahnya masih puluhan juta?" Sera terkejut.
"Benar, kata kakak senior kita ada seorang direktur kaya raya yang dermawan dan mendonasikan uangnya untuk acara tersebut secara suka rela, bahkan melebihi yang kita perlukan!" Bitha bersemangat.
"Jadi seksi dana sudah tidak ada kerjaan dong?" Sera senang karena artinya dia tidak perlu repot-repot mencari donatur dan berkomunikasi dengan Arnold secara langsung untuk melaporkan perkembangan pencarian dananya.
"Iya benar, kita hanya perlu mempersiapkan diri menjadi peserta untuk acara nanti" kata Ari.
"Baguslah kalau begitu!" senyum Sera terkembang.
"Eh sudah yuk masuk, sebentar lagi dosennya dateng loh" Indah mengingatkan teman-temannya.
"Iya yuk masuk, nanti kita duduknya misah-misah lagi!" Bitha selalu ingin mereka berempat duduk bersama.
Mereka berempat kemudian berjalan menuju kelas dan mencari kursi yang saling berdekatan untuk mereka duduki. Sera sangat bersyukur karena mendapatkan teman-teman yang baik seperti Bitha, Indah dan Ari.
..........
"Belum pak, jemputan saya masih di jalan" jawab Sera.
"Tidak mau bareng sama saya saja?" Arnold kembali mencari kesempatan.
"Terima kasih pak atas kebaikannya, tapi nanti supir saya kasihan kalau sampai sini tidak ada saya" Sera mencari-cari alasan untuk menolak.
"Baiklah tidak masalah" Arnold langsung duduk mensejajarkan diri dengan Sera.
Kringgg,,,
Ponsel Sera berbunyi.
"Halo ma" Sera mengangkat mode video call.
__ADS_1
"Sayang kau masih di kampus ya?" Maya menelpon menantunya.
"Iya ma, aku masih di kampus menunggu pak supir" jawab Sera.
"Apa bisa nanti pulang kuliah kau mampir ke rumah mommy Ayu dulu sebentar?" Maya bertanya.
"Ada apa memangnya di rumah mommy Ayu ma?" Sera penasaran.
"Mama, Bunda dan Mommy ingin membuat pesta kejutan untuk grandma Ruth yang akan berulang tahun, kak Gaby juga sudah ada di rumah Mommy Ayu" jelas Maya.
"Oke baiklah!" Sera langsung bersemangat ketika mengetahui bahwa tujuannya berkumpul adalah untuk merayakan ulang tahun grandmanya.
"Ya sudah, hati-hati di jalan ya sayang, sampai bertemu di rumah mommy" Maya melambaikan tangannya.
"Iya ma, sebentar lagi aku ke sana ya" jawab Sera sambil membalas lambaian tangan Maya dan kemudian menutup ponselnya.
"Maaf ya pak jadi dicuekin" Sera tidak enak karena setiap ada Arnold selalu saja ada yang menelponnya.
"Ah tidak apa-apa kok, santai saja!" kata Arnold.
"Apa tadi itu mamamu?" tanya Arnold antusias, ia malah merasa senang ketika mengetahui banyak hal tentang kehidupan pribadi Sera.
"Itu mama mertua saya pak, mamanya suami saya" jawab Sera serius, ia merasa inilah kesempatannya memberitau statusnya yang sudah bersuami.
"Benarkah? memangnya kau sudah menikah? yang benar saja, masa anak kecil sepertimu sudah punya suami? hahahaha" Arnold tidak percaya, ia mengira bahwa Sera sedang bercanda.
"Benar pak, tadi itu mertua saya!" Sera menunjukkan wajah kesalnya yang malah terlihat sangat menggemaskan dimata Arnold, pria itu bahkan tetap menganggapnya sebagai lelucon.
"Ya, ya, ya baiklah aku percaya! hahahaha" kata Arnold yang masih tetap menggapnya hanya sebuah candaan sambil menunjukkan mimik gelinya melihat wajah Sera yang kesal.
"Ini orang aneh sekali, sudah dibilang itu mama mertua kenapa malah tidak percaya sih?" Sera bemonolog dalam hatinya dengan kesal.
__ADS_1
Tidak perlu waktu yang lama akhirnya Sera pun bisa terlepas dari Arnold dan pulang menuju rumah Ayu. Ia meninggalkan Arnold di lobby kampus dengan hati yang sedang berbunga-bunga karena bisa menghabiskan sisa sorenya bersama sang gadis pujaan hati. Pria yang sedang mabuk kepayang itu bahkan sama sekali tidak menggubris pernyataan Sera yang mengaku sudah menikah saking ia cintanya kepada sang gadis belia itu.