Sangkakala Milik Serafim

Sangkakala Milik Serafim
Menunggu Dijemput


__ADS_3

"Serafim kamu lagi ngapain disini?" tanya Arnold saat melihat Sera duduk di lobby kampus seorang diri.


"Eh pak Arnold, saya lagi menunggu supir saya pak, dia lagi dalam perjalanan, tadi ada urusan dulu di kantor ayah saya, jadi agak sedikit terlambat menjemput" kata Sera menjelaskan.


"Kamu pulang ke arah mana?" Arnold penasaran.


"The Mansion City pak" jawab Sera.


"Apa supirnya masih lama? bagaimana kalau bareng sama saya saja? kebetulan searah, biar saya antar sampai rumah!" Arnold mulai mencari celah.


"Terima kasih pak, tidak usah, nanti malah merepotkan!" Sera sudah mulai merasa risih.


"Tidak kok, sama sekali tidak merepotkan!" kata Arnold.


"Tapi supir saya sudah dekat pak, saya lebih baik menunggu sebentar lagi saja!" Sera menolak dengan halus.


"Kalau begitu biar saya temani ya, kan lumayan ada teman ngobrol dari pada bengong sendiri hehehe" Arnold kemudian duduk di samping Sera.


"Ya ampun pak tidak usah repot-repot, bapak pulang duluan saja, saya tidak apa-apa kok, paling sebentar lagi juga sudah sampai!" Sera benar-benar tidak nyaman harus berdua saja dengan Arnold.


"Santai saja, saya kebetulan tidak ada kegiatan lagi kok habis ini, jadi bisa pulang kapan saja" Arnold gigih mencari celah.


"Maaf ya pak, jadi merepotkan" Sera jadi salah tingkah sendiri.


"Tenang saja, tidak repot kok!" Arnold justru merasa bahagia karena bisa memiliki waktu hanya berdua saja dengan Sera.


Kringgggg, ponsel Sera berbunyi dan menunjukkan panggilan video masuk dari Gaby.


"Halo kak?" Sera mengangkat telponnya di depan Arnold.


"Kau dimana sekarang?" Gaby bertanya kepada sang adik.


"Aku masih di kampus menunggu dijemput, ada apa?" tanya Sera.


"Kau mau lasagna tidak? aku mau buat untuk anak-anak, kalau mau biar nanti aku antar ke rumahmu" tanya Gaby.


"Mauuuuuu" Sera langsung semangat.

__ADS_1


"Baiklah nanti aku antar ya" kata Gaby.


"Tidak usah, nanti aku saja yang mampir ke rumah kakak sekalian pulang kuliah, mumpung kak Gamal masih di kantor, jadi aku tidak sendirian di rumah" kata Sera.


"Oke baiklah, kalau begitu aku tunggu ya" kata Gaby kepada sang adik.


"Aunty" Diva tiba-tiba muncul di layar ponsel dan menyapa Sera.


"Halo anak cantik, kau sedang apa?" Sera selalu gemas dengan kelucuan Diva.


"Aku lagi bantu mama masak lasagna" jawab gadis kecil itu.


"Uhhh pintarnya keponakan aunty" Sera rasanya ingin mencubit pipi Diva.


"Nanti aunty kesini kan?" Diva selalu senang bermain dengan Sera.


"Iya cantik, nanti aunty mampir, Diva mau nginep di rumah aunty Sera dan uncle Gamal tidak?" Sera bertanya.


"Iya mau!" Diva semangat.


"Tidak, tidak, nanti kamu ganggu aunty dan uncle, dedeknya gak jadi-jadi deh!" Gaby nyeletuk dibelakang Diva.


"Belum sayang, belum ada dedek" Sera menjawab.


"Yahhhhh" Diva kecewa.


"Diva minta sama mama dan papa saja ya!" Sera memprovokasi Diva.


"No way!" Gaby melotot membuat Sera terkekeh.


"Sudah jangan ngelantur, nanti jangan lupa mampir sebelum pulang ya!" Gaby memutus percakapan tentang bayi.


"Oke" Sera mengangguk.


"Bye" Gaby melambaikan tangan.


"Bye" Sera membalasnya sebelum akhirnya menutup telpon.

__ADS_1


"Maaf ya pak, tadi kakak saya dan anaknya" Sera meminta maaf karena telah mengobrol lama dengan sang kakak saat ada Arnold.


"Tidak apa-apa" kata Arnold.


"Kamu memangnya berapa bersaudara?" Arnold malah seperti mendapat peluang mencari informasi pribadi tentang Sera.


"Tiga pak" Sera berusaha menjawab sekenanya saja.


"Kamu yang bungsu?" Arnold menebak.


"Iya" jawab Sera singkat.


"Yang tadi kakak yang tertua?" tanya Arnold penasaran.


"Iya, kak Gaby tadi yang tertua" Sera mengangguk.


"Kakak kamu yang nomor dua pasti laki-laki ya?" Arnold menebak.


"Kok bapak bisa tau?" Sera bingung kenapa Arnold bisa tau kalau kakaknya yang nomor dua laki-laki, padahal tadi dia dan Gaby tidak menyebut nama Raf sama sekali.


"Sudah pasti dong hehehehe" kata Arnold dengan percaya diri.


Arnold menyangka Gamal adalah kakaknya Sera, karena tadi nama Gamal disebut-sebut oleh Sera dan Gaby. Ia juga mengira saat Diva bertanya tentang dedek, yang dimaksud adalah adiknya Sera bukan anaknya dengan Gamal.


"Bapak seperti cenayang saja" Sera masih heran.


"Rumah kakak kamu dekat dengan rumahmu?" Arnold benar-benar niat mengorek informasi sebanyak mungkin tentang kehidupan pribadi Sera.


"Lumayan dekat, kami sekeluarga besar memang satu komplek semua, kecuali grandma yang agak jauh dan beda komplek" Sera menjelasakan.


"Wah seru dong kalo lagi kumpul keluarga besar?" Arnold membayangkan bertemu dengan keluarga Sera dan menjadi bagian dari mereka.


"Lumayan heboh sih kalau semua kumpul" Sera mengangguk.


"Pak, jemputan saya sudah datang, kalau begitu saya pamit dulu ya" Sera berdiri dan memberi hormat dengan menundukkan kepala.


"Oke, hati-hati di jalan ya" Arnold tersenyum ramah.

__ADS_1


"Iya pak, mari" kemudian Sera langsung menuju ke arah mobil.


"Gadis yang membuat penasaran!" Arnold menyunggingkan senyum misteriusnya.


__ADS_2