
Bandara Husein Sastranegara.
Pagi ini matahari bersinar terang menyinari bumi, langit biru tanpa gumpalan awan menambah kecerahan di waktu pagi ini. Semua manusia terlihat berlalu lalang dengan barang bawaan mereka masing-masing. Siap untuk melanjutkan perjalanan setelah sekian lamanya terbang melayang diudara.
Sabiel dan Intan keluar dari mobil mewahnya setelah berhasil menemukan tempat untuk memarkirkan kendaraannya. Sabiel berjalan menuju bagasi mobil, dia mengangkat satu koper besar berwarna silver yang terdapat disana. Tangannya yang lain menjinjing satu tas kecil berwarna tosca. Intan terlihat memperhatikan suaminya yang sibuk dengan barang bawaannya untuk di Singapura nanti.
Ya. Hari yang di tunggu-tunggu oleh Intan akhirnya datang. Dia akan segera terbang ke negeri singa untuk mewujudkan impiannya.
Pasangan suami istri itu berjalan bersisian ke dalam bandara. Intan membuka kacamata hitamnya dan melihat kesibukan orang-orang yang tiada hentinya di dalam sana. Tanpa banyak berbicara, Sabiel mengikuti kemana Intan berjalan dengan membawa koper dan tas jinjing istrinya.
"Aku akan menunggu di ruang tunggu." ucap Intan saat ia berhenti di bagian depan ruang tunggu bandara.
Sabiel tak menanggapi ucapan istrinya. Dia memberikan koper dan tas jinjing yang ia pengang itu kepada istrinya. Intan tampak memperhatikan raut wajah Sabiel yang tampak dingin. Dia menggigit bibir bawahnya, meyakini bahwa suaminya itu belum rela mengijinkan dia untuk pergi ke Singapura demi memulai karirnya.
"Sayang..." ucap Intan mendayu.
Sabiel menatapnya tanpa menyahuti panggilan itu. Ia hanya ingin segera pergi dari keramaian bandara itu.
"Apa servis semalam masih kurang untukmu? sampai-sampai tidak aku dapatkan senyuman dari wajahmu itu." Intan merajuk dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Kau bicara apa Intan?!" ucap Sabiel datar.
"Kau masih terlihat seolah aku telah melakukan kesalahan yang fatal padamu." Intan mengerucutkan bibirnya.
"Apa yang kau harapkan dari seorang suami yang akan ditinggal pergi oleh istrinya dalam jangka waktu yang tidak menentu?" tanya Sabiel sinis. Dia sudah sangat jengah dengan sikap Intan yang hanya memikirkan karirnya saja.
"Ayolah sayang, kita sudah terlalu sering membahas ini bukan? Apa kau tega disaat aku akan pergi, kita kembali bertengkar seperti ini." Intan menatap memelas
Sabiel menghirup udara kuat-kuat, dan menghembuskan nafasnya panjang. Dia sadar, tidak seharusnya pagi hari yang begitu mencerahkan ini dinodai dengan pertengkaran melawan wanita egois di hadapannya. Dia harus mengalah.
"Ya. Terserah kau akan pergi kemana. Kini aku akan mencari kebahagianku sendiri." Sabiel membatin.
"Ya sudah, aku tidak bisa menunggu sampai kau berangkat." Sabiel melihat pada arloji di pergelangan tangannya. "Aku harus mengajar sebentar lagi." ucapnya kemudian melihat Intan yang memakai kembali kacamatanya.
"Baiklah, aku akan masuk ke ruang tunggu. Kau bisa pergi sekarang." Intan memeluk erat suaminya. Dan mencium mesra bibir suaminya sebelum ia melepaskan pelukan itu. "Hati-hati, aku akan mengabarimu begitu sampai." Intan tersenyum kemudian melangkah pergi menuju ruang tunggu.
Sabiel berdiri menatap punggung istrinya yang semakin menjauh. Dia memperhatikan langkah tegas Intan yang terus berjalan. Tidak ada keraguan dalam langkah itu, bahkan Intan terlalu fokus menatap jalan didepannya tanpa menoleh kembali pada suaminya yang masih berdiri di tempatnya tadi. Sabiel menghembuskan nafasnya kasar, dia menyugar rambut depannya cepat seperti orang yang sedang frustasi. Ia beranjak dari tempatnya, ketika ia melihat Intan hilang di balik pintu kaca.
"Persetan dengan karir!" umpatnya dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Untuk tanya yang tak menemukan jawab.
Aku masih begini.
Ingat kamu, dan itu selalu.
Laura membaca komentar dalam bentuk prosa di laman blog-nya. Komentar itu berasal dari satu akun yang beberapa waktu belakangan ini selalu rutin menyematkan tanggapan atas tulisan Laura.
Laura tampak berpikir ketika membaca kembali prosa yang ditujukan untuknya itu. Apakah dia harus membalasnya? Atau mengabaikannya seperti puluhan komentar lainnya?
Tapi entah mengapa, Laura menyimpan sedikit ketertarikan pada orang yang tidak dia kenal itu. Akun yang bernama Bimasakti itu terlalu sering memberikan komentar dalam bentuk prosa pada setiap tulisan yang Laura posting. Maknanya mengarah pada hal sama. Bahwa orang itu ingin berkenalan dengan Laura. Hal itu Laura yakini karna akun Bimasakti ini pernah mengirim pesan melalui inbox di blog-nya yang isinya meminta Laura menjadi teman dalam kehidupan nyata. Bahkan dengan tak tahu malu, akun ini meminta nomor ponsel pribadi Laura.
Setelah cukup lama menimbang-nimbang, Laura menggerakkan jemarinya untuk membalas komentar akun tersebut.
Untukmu disana.
Tak lelahkah jiwamu?
Mendamba seorang petapa untuk kembali pada kefanaan.
Klik.
Balasan komentar itu berhasil Laura kirim. Laura mencoba menghela nafas dalam, sudah lama dia tidak membalas komentar siapapun di blog-nya. Dan kini, untuk pertama kalinya ia dipaksa untuk membalas satu akun yang tidak ia ketahui siapa sebenarnya.
Rasa ingin tahuku mengenyahkan segala lelah. Jika benar kau seorang petapa, bolehkan aku menjadi gua bagimu? Yang dengan kerelaannya, menjadi tempatmu bersemedi seorang diri.
Kali ini Laura tersenyum. Sungguh konyol akun yang satu ini baginya. Laura benar-benar tertarik untuk membalas kembali prosa itu.
Apa yang ingin kau tahu?
Tak cukupkah barisan kata itu mewakili keberadaanku?
Rasa penasaran tak bisa dipungkiri lagi. Benak Laura membayangkan bagaimana rupa dari Bimasakti itu. Karena foto profil dalam akunnya hanyanya gambar daun maple yang berguguran indah di sebuah taman. Tanpa Laura sadari, kini ia menanti balasan dari akun asing itu. Lama Laura menanti, hingga akhirnya balasan itu kembali muncul.
Aku ini musafir.
Dan kau, air dalam kubangan oase. Menegukmu sekali hanya akan membuat aku menginginkan lebih.
Laura tersenyum lebar membaca prosa itu. Entah untuk alasan apa, kedua pipinya merona ketika ia merapalkan rangkaian kata itu.
"Kau masih disini?"
__ADS_1
Pertanyaan Rena membuyarkan senyuman lebar di bibir Laura. Laura seperti tertarik kembali pada dunia nyata. Dia lupa bahwa kini dirinya sedang berada di perpustakaan, menunggu jam perkuliahan selanjutnya tiba.
"Ya. Seperti yang kau lihat." jawab Laura menatap temannya yang berjalan menghampirinya.
"Aku dengar akhir tahun ini akan diadakan jelajah alam untuk angkatan kita." Rena menyampaikan informasi yang ia dapat dari mading jurusan.
"Oh ya? Aku tidak tahu." Laura menyahuti santai. Ia segera menutup akun blog-nya sebelum ia mematikan laptop miliknya.
"Dimana tempatnya?" Laura menanyakan mengenai tempat yang akan dipakai untuk jelajah alam.
"Hmm.. Aku lupa." Rena tampak mengingat-ngingat. "Ah! daerah Lembang." seru Rena ketika mengingat tempat yang akan dipakai jelajah alam oleh mahasiswa angkatannya.
Acara jelajah alam ini menjadi acara tetap yang diadakan hampir setiap tahunnya. Setiap angkatan harus mengikutinya di tahun pertama mereka berkuliah. Kali ini angkatan Laura lah yang harus mengikutinya. Semua mahasiswa di angkatan baru dengan di dampingi oleh beberapa dosen pengajar akan pergi kesuatu tempat untuk saling mengakrabkan diri disana.
Rena melihat jam di pergelangan tangannya. Menyadari bahwa sebentar lagi jam perkuliahan akan segera dimulai.
"Sepertinya jam kuliah selanjutnya akan tiba. Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Rena ketika melihat Laura merapikan kembali isi tasnya. "Jika sudah, lebih baik kita kembali ke kelas." sambungnya kemudian.
"Ya. Aku sudah selesai." Laura memasukkan laptopnya terakhir kedalam tas. Dia berdiri dari duduknya. Mendekati Rena yang berdiri diseberang meja tempat yang tadi Laura pakai.
"Let's go!" ucapnya penuh semangat.
🍁🍁🍁
Di waktu yang sama, di ruangan salah satu dosen. Seorang lelaki dewasa terlihat menahan geraman, tangannya terkepal di atas meja, sorot matanya berkilat oleh bola api amarah. Dia membaca komentar itu. Di kolom blog Laura yang selalu dia baca hampir setiap hari. Lelaki itu membisu dengan nafas yang memburu. Sabiel mulai dilanda cemburu.
Dia terus membaca ulang komentar saling berbalas yang Laura tujukan pada akun Bimasakti. Hatinya merasa panas seketika. Selama yang ia ketahui, Laura tidak pernah membalas komentar-komentar di laman blog-nya. Sabiel mengetahui itu karna hampir setiap ia membuka blog pribadi Laura, ia selalu menyempatkan diri membaca komentar para pembaca yang sebagian besar selalu bernada pujian atas kepiawaian Laura merangkai kata. Dan dari banyaknya komentar-komentar itu, Laura tidak pernah membalasnya.
Perasaan cemas dan gelisah melanda hatinya, jelas dia menyadari rasa terbakar di dadanya ini adalah rasa yang sudah lama tidak ia miliki. Sebuah rasa yang membuat siapapun yang merasakannya sakit bagai tertusuk mata anak panah. Dia ingin Laura hanya dekat dengannya. Tidak dengan siapapun lagi.
Sabiel akui kecantikan Laura sudah pasti menjadikannya target dari mata para lelaki. Saat di dalam kelas pun, Sabiel sering memperhatikan beberapa pasang mata mahasiswa-nya yang biasa duduk di barisan belakang, mencuri pandang pada Laura. Namun itu semua tidak membuat Sabiel cemburu atau merasa takut, karena sikap tidak peduli yang Laura perlihatkan pada para lelaki itu.
Sungguh berbeda dengan yang satu ini. Meskipun Sabiel tidak tahu siapa Bimasakti itu, namun rasa takut dan cemasnya seperti terasa mencekik lehernya hingga ia merasa sulit untuk sekedar bernafas. Terlebih lagi, Laura tampak tertarik pada Bimasakti. Mereka saling berbalas prosa di kolom komentar.
Siapa dia?
Berani sekali mendekati gadisku.
Sabiel memicingkan matanya menatap akun Bimasakti yang begitu mengusik hatinya. Laura, tidak akan ia biarkan dekat dengan lelaki manapun. Kecuali dirinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1
Like, Vote dan Komen, Ok?! 😘😘😘