
J A K A R T A.
"Bim!"
"Bimasakti!!"
Pemuda itu mengerjap dalam tidurnya, matanya langsung terbuka lebar begitu suara nyaring terdengar memekakan telinganya. Dia mengusap wajahnya yang tampak kaget, matanya melihat wanita berkemeja hitam berdiri di hadapan dengan kedua tangan bertumpu di pinggangnya.
Dari raut wajah keibuannya, Bimasakti tahu bahwa wanita itu sedang menahan kesal padanya.
"Kau mengagetkanku Laras!" ucapnya sembari menyibak selimbut.
Laras memutar bola matanya malas. Menatap lekat pemuda tampan yang kehilangan aura ketampanannya itu. Rahangnya penuh dengan bulu-bulu halus, rambutnya semakin gondrong dan tubuh sedikit menyusut.
Dua bulan belakangan ini, Bimasakti berubah total. Sejak kepulangannya dari Bandung, pemuda itu seperti hidup tanpa nyawa. Dia bekerja siang malam menyelesaikan banyak pekerjaan sampai lupa mengurus dirinya sendiri. Seolah-olah pemuda itu sedang mencoba melarikan diri dengan tenggelam pada pekerjaan.
Laras mengetahui masalahnya. Wanita itu turut prihatin atas petaka yang merenggut kebahagian Bimasakti dalam waktu singkat. Kini, pemuda itu semakin terlihat 'berantakan'. Penampilannya kacau sama kacaunya dengan kondisi kamar yang sedang ia tempati.
"Jam berapa kau kembali?" tanya Laras menggeser kursi di pojok kamar untuk ia duduki dekat dengan ranjang pemuda itu.
"Semalam. Aku lupa jam berapa tepatnya" jawab Bimasakti sembari menggaruk rambutnya yang terasa gatal.
Satu pekan lalu, Laras menugaskannya untuk memberi penyuluhan pada komunitas buruh di wilayah terisolir. Pemuda 'brokenheart' itu menerima dengan senang hati dan berangkat tanpa keraguan sedikitpun.
"Bagaimana kondisi disana?" sorot mata Laras menatap jengah pada Bimasakti yang malah kembali berleha-leha merebahkan diri di ranjang. Pemuda itu merenggangkan ototnya yang kaku.
"Parah. Kau tidak akan percaya jika aku ceritakan" jawabnya mengingat apa yang ia lihat disana.
Laras berdiri dari duduknya, sebelah tangannya masuk dalam saku celana cargo yang ia kenakan. "Ceritakan nanti bersama anggota lain. Tapi sebelum itu, kau benahi dulu penampilanmu" ucapnya sambil melangkah mendekati pintu.
Bimasakti langsung duduk. "Memang kenapa penampilanku?" tanyanya heran
Laras menghentikan langkahnya, wanita itu menoleh pada pemuda yang sedang menghirup aroma tubuhnya dengan menarik kerah baju mendekati hidung mancungnya.
"Astagaa! apa kau tidak punya cermin disini?" ucap Laras terbelalak. "Kau seperti manusia gunung. Lihat wajahmu! Rambut panjang kusut, jenggot lebat, ditambah wajahmu yang seperti pecandu heroin....orang lain mungkin mengira kau mantan pemakai daripada seorang aktivis" Laras menggelengkan kepala tak percaya.
"Kau berlebihan. Meskipun begini, ketampananku tidak pernah sirna, bukan?" ujar Bimasakti jenaka.
"Cuih!" Laura pura-pura meludah. "Ketampananmu sudah pudar seiring kewarasanmu yang semakin menghilang" ledeknya.
"Sudah, cepat kau bersiap. Rapikan juga kamar busukmu ini. Aku hampir muntah jika terlalu lama disini" ucap Laras mendelik jijik pada Bimasakti yang tak peduli.
"Kau muntah karena kau tidak pasang KB saat bercinta dengan suamimu. Bukan karena kamarku" ledek Bimasakti seraya bangkit dari ranjangnya.
"Ish, bocah ini. Kau benar-benar membuatku ingin menghajarmu. Kemari kau!" Laras melangkah dengan tegas menghampiri Bimasakti yang langsung mengambil bantal untuk dijadikan tameng dari pukulan wanita itu.
"Kau seharusnya lupakan gadis itu, bodoh!" ucap Laras sambil memukuli bahu Bimasakti yang merunduk. Rintihan mengaduh terdengar dramatis dari mulut pemuda itu. "Jangan buat hidupmu menyedihkan karenanya" sambungnya lagi.
Bimasakti yang mulai merasa kesakitan, memegangi lengan Laras sambil menyeringai. "Sudah. Kau membuatku sakit" ucapnya menatap bola mata Laras yang kesal.
Laras terengah setelah memukuli pemuda itu. "Kau juga membuatku sakit karena kebodohanmu itu!" bentaknya. "Lupakan dia. Perbaiki dirimu. Cari wanita lain" perintah Laras beruntun.
Bimasakti tersenyum lembut menatap sinar kecemasan pada bola mata wanita yang sudah seperti kakaknya itu. "Mengucapkan memang lebih mudah daripada melakukannya" ucapnya lirih.
Laras menghela nafasnya berat, ia menghempaskan tangan Bimasakti yang menggenggam lengannya. "Kau menyedihkan dan itu membuatku terluka" ucapnya sendu.
__ADS_1
"Sudahlah, terserah kau saja. Aku hanya menyayangkan kondisimu saat ini. Kau sangat kacau" sambung Laras sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Bimasakti yang diam terpaku menatap punggungnya menghilang di balik pintu.
Pemuda itu melangkah mendekati jendela kamar yang terbuka. Jakarta sore itu, tampak sendu dengan awan kelabu pekat yang menaunginya. Angin dingin berhembus memberi pertanda bahwa langit akan mengeluarkan bebannya sebentar lagi. Pandangan Bimasakti terpaku pada barisan lampu jalanan yang mulai menyala meski hari belum terlalu sore.
Hatinya terasa ngilu saat benaknya dengan lancang menampilkan kembali raut wajah cantik Laura. Senyuman indah itu, tatapan lembut itu, bibir mungil yang bahkan belum sempat ia sesap itu kini tinggal kenangan. Kebersamaan yang hanya sekejap, ternyata tak membuat perasaannya hilang sekejap pula.
Laura. Wanita itu begitu mudah untuk dicintai, namun menjadi begitu sulit untuk dilupakan.
Segala usaha telah Bimasakti lakukan hanya untuk mengalihkan pikirannya dari wanita itu. Namun bayangannya masih saja muncul, mengacaukan denyut jantungnya yang memompa darah semakin cepat ketika ia menyadari, bahwa Laura telah berhasil memerangkapnya dalam perasaan cinta dan benci di waktu yang bersamaan.
🍁🍁🍁
Laura menyingsingkan lengan bajunya, menatap puas atas apa yang baru saja ia lakukan di taman belakang.
Sepulang dari kios penjual tanaman, Laura dibantu Tomi dan dua pembantunya langsung mengeksekusi lahan kosong itu. Kini lahan gersang, berubah menjadi lahan hijau. Beberapa pot tanaman buah-buahan berjejer rapi di sebelah kiri. Sementara di bagian kanan, Laura telah menyebar beberapa benih sayuran yang berbeda-beda dalam setiap barisannya.
Laura menyeka keringat di keningnya, dia melirik Tomi yang duduk disebelahnya dengan tangan bertumpu di belakang pinggangnya. Pakaiannya sudah lusuh dengan noda coklat disana sini. Sorot mataya menatap kedua pembantu paruh baya yang sedang membersihkan pembatas taman.
"Terima kasih untuk hari ini Tom" ucap Laura penuh rasa syukur.
"Tidak perlu sungkan, Nyonya" sahutnya sopan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Laura dan Tomi terkesiap menoleh pada sumber suara. Mbok Yayu dan Suti seketika menghentikan kegiatannya, keempat pasang mata itu melihat Sabiel dan Intan berdiri di ambang pintu taman. Mata Sabiel langsung bersiroboh dengan Laura. Sementara Laura tampak santai melihat kehadiran keduanya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Intan mengulangi pertanyaannya sembari berjalan mendekati Laura dan Tomi yang langsung berdiri dari duduk santainya. Sabiel mengikuti dari belakang.
"Kau bisa lihat sendiri apa yang sedang kami lakukan" sahut Laura santai.
"Kalian baru pulang kan? Silahkan bersantai sejenak. Aku akan membersihkan diri ke kamar" ucap Laura seraya melangkah melewati Intan dan Sabiel.
"Laura!" seru Intan cepat. "Malam ini Sabiel akan tidur denganku, kau tidak perlu menunggunya" ucap Intan tersenyum licik.
Laura menghentikan langkahnya sejenak, ia menolehkan kepalanya, melihat Sabiel dan Intan bergantian dengan raut wajah datar.
"Oh. Terima kasih sudah memberitahu" ucapnya tenang. Matanya menatap Sabiel yang diam saja sejak tadi. Laura melanjutkan langkahnya. Dia memilih untuk tidak peduli dengan apa yang akan kedua orang itu lakukan malam ini.
Brak!
Pintu tertutup perlahan. Laura menyadarkan punggungnya pada pintu yang tertutup itu. Wanita itu menekan dadanya yang terasa sakit, sementara air mata sudah mulai mengalir menyusuri pipinya.
"Kuat Laura! Kuat! Ini baru awal pertarungan, kau tidak seharusnya cengeng hanya karena suamimu akan menghabiskan malam dengan wanita itu. Kuat! Jangan cepat cemburu. Kau sudah berjanji untuk tidak cemburu. Ingat itu Laura!" gumam Laura menguatkan diri sendiri.
Nyatanya, sekuat apapun wanita. Tetap saja akan menjadi lemah ketika mendengar suaminya akan tidur dengan wanita lain. Apa yang akan mereka lakukan? Apakah mereka akan bercinta? Tapi bukankah Sabiel sudah tidak memiliki perasaan pada wanita itu? Ya Tuhan, bagaimana jika ternyata perasaan Sabiel pada Intan tumbuh kembali? Astaga! Apa yang harus aku lakukan?
Laura sekuat tenaga menahan isaknya, ia tidak ingin siapapun mendengar kegalauan yang menderanya saat itu. Kakinya lunglai melangkah mendekati kamar mandi. Wanita itu ingin membasuh tubuhnya dengan air shower hangat, benaknya harus segera dijernihkan.
🍁🍁🍁
Dini hari menjelang dengan bayangan lelaki tampan yang sedang mengendap-ngendap keluar dari sebuah kamar dan melangkah menjejaki anak tangga. Lelaki itu langsung masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua.
Senyuman lembut langsung disambut tatapan terkejut dari Laura yang ternyata masih terjaga. Wanita itu sedang asik dengan laptopnya.
"Kenapa kau kemari? Bukankah malam ini kau akan menghabiskan malam dengan istri SAH-MU?!" tanya laura penuh penekanan. Matanya menatap murka pada Sabiel yang berjalan santai menghampirinya.
__ADS_1
Sabiel duduk di sebelah Laura, "Apa yang kau lakukan jam segini?" lelaki itu mengabaikan pertanyaan Laura dan melihat laptop yang sedang menyala.
"Kau tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Laura diliputi kekesalan.
Sabiel tersenyum lembut, ia mengusap puncak rambut Laura dan menciumnya. "Sudah jangan marah lagi, apa kau tidak tahu aku begitu cemas melihat raut wajah masammu sejak sore tadi?"
"Itu karena kau sendiri" ucap Laura ketus. "Sabiel apa yang kau lakukan!?" Laura menatap tajam jemari Sabiel yang menyusup kedalam pakaiannya dan meremas payudaranya.
"Ssssttt sayang, jangan berisik" ucapnya sembari menyibak rambut Laura ke samping dan menyusuri tengkuk mulus Laura dengan bibirnya.
Laura menepis kedua tangan Sabiel yang sedang menangkup payudaranya, "Kau membuatku berisik, lepaskan!"
Sabiel malah semakin merapatkan tubuhnya. Sebelah tangannya menutup laptop Laura dan menggesernya begitu saja. Sementara tangan yang lain membawa wajah Laura untuk menghadapnya dan mencium mesra bibirnya.
"Sayang, apa yang terjadi dengan Intan?" tanya Laura disela ciuman memabukan itu.
Sabiel menyeringai, "Aku memberinya obat tidur" ucapnya sembari membawa Laura untuk merebahkan diri.
"Obat tidur? Kau punya obat itu? Bagaimana bisa?" tanya Laura dengan kedua tangan mendorong dada Sabiel agar tidak mencumbunya terlebih dulu.
Sabiel gemas melihat raut wajah penasaran istrinya, dia mengusap perlahan bibir mungil yang basah itu dengan ibu jarinya. "Aku ingin bercinta sayang" ucapnya parau.
Pipi Laura panas mendengar rajukan yang terdengar seksi itu, dia menggigit bibir bawahnya menatap bola mata suaminya yang berkabut oleh hasrat.
"Setelah itu berjanjilah untuk menceritakannya padaku" ucap Laura yang menahan desiran di dadanya ketika Sabiel mengelus lembut pahanya.
Sabiel merunduk, mencium dalam leher Laura, "Aku berjanji"
Setelah mengucapkan itu, mereka mulai menghangatkan dini hari dengan letupan gairah di hati. Laura merasa Sabiel telah membawanya kedalam labirin cinta yang menyesatkan. Bibir basahnya menggiring Laura untuk ikut hanyut dalam kesesatan birahi yang semakin terpacu. Sabiel belum selesai menuntaskan keinginannya merengkuh Laura malam ini. Wajah cantik dengan bola mata terpejam nikmat itu membuat nadinya berdenyut tak terkendali.
Sabiel melepaskan ciuman bibir yang sejak tadi menghanyutkan keduanya. Kini lelaki itu ingin menyesatkan Laura pada kenikmatan tak terperi yang akan membuat wanita itu menuntut untuk mengulanginya lagi. Sabiel merangkak semakin ke bawah. Laura mendesah sepenuh hasrat. Bibir lelaki itu, terlalu buas mencumbu area sensitifnya. Mempermainkan Laura hingga batas akhir dari kesabarannya. Laura mengerang, frustasi akan kenikmatan yang mulai menyiksanya perlahan. Tubuhnya melenting tak kuasa dengan pemberian rasa cinta Sabiel yang begitu menggoda jiwanya.
Sabiel merangkak kembali, pandangannya menyisir tubuh istrinya yang berkeringat dan tampak seksi baginya. Dia mengecupi bola mata coklat kesukaannya, meresapi rasa Laura yang menguar dari pori-pori tubuhnya.
Sabiel mendesah, aroma manis tubuh Laura membuatnya gila. Bibirnya kembali menciumi wajah itu dengan gerakan liar yang terkendali. Ia ingin mengajak Laura mencapai puncak surga bersama. Nafas keduanya terengah, jemarinya saling memberi dan menerima sinyal erotis di sekujur tubuh polos keduanya.
Sabiel mengangkat kedua kaki Laura untuk ia sandarkan di bahunya. Lelaki itu membuatnya mendesah panjang dengan ciuman mautnya di sepanjang kaki jenjang Laura. Sesekali Sabiel menjil*ti jemari kaki mungil itu. Membuat Laura benar-benar tak berdaya oleh pemujaan Sabiel yang menakjubkan pada setiap jengkal tubuhnya.
"Lakukan sayang! Kau membuatku gila" suara tuntutan sensual keluar dengan tak sabar dari bibir yang basah itu.
Sabiel tersenyum mendengar penyerahan Laura atas penaklukannya malam ini. "Katakan sayang. Berapa lama kau ingin terbang bersamaku?" ucap Sabiel sambil meremas payudara Laura.
Laura gemetar, wanita itu semakin frustasi karena Sabiel membuatnya menunggu. "Lakukan sekarang. Dan biarkan aku merasakan terbang lebih lama malam ini" ucapnya mendesah.
Sabiel merunduk untuk memberikan ciuman kuat pada bibir yang berani menantangnya. "Kau akan mendapatkannya sayang" ujarnya sembari mengarahkan pusatnya untuk terbenam dalam pusat Laura.
Desahan panjang mengawali semua gerakan erotis pinggul Sabiel yang seksi. Tangan Laura terangkat ingin menjamah perut sixpack suaminya. Jantung keduanya berdebar hebat dengan tubuh yang semakin terasa panas. Keduanya berpacu, mencari kenikmatan tersembunyi dari perpaduan dua tubuh polos yang terlihat saling mengisi.
Sabiel bergerak semakin kencang, matanya berkabut menatap telunjuk jarinya yang tenggelam dalam mulut Laura, ia merasakan lidah itu menjil*ti jarinya, melilitnya dengan benang saliva yang membawa getar sensual dalam jiwanya.
Laura semakin melentikkan tubuhnya, sementara tubuh Sabiel bergetar hebat ketika benih itu telah berhasil memenuhi rahim Laura. Pandangan keduanya bertemu, ada rasa puas dalam tatapan cinta dari keduanya.
"Aku mencintaimu, Laura" bisik Sabiel sebelum ia merengkuh Laura untuk masuk dalam dekapannya. "Selalu mencintaimu"
🍁🍁🍁
__ADS_1