Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 70


__ADS_3


Langit pelabuhan berpendar jingga saat itu, udara air asin terhirup dari segala penjuru. Laura menolehkan wajahnya memandang lautan lepas, debur ombak mengiringi keberangkatannya menuju makam orangtua Sabiel. Dia tak habis pikir dengan apa yang suaminya ucapkan. Lelaki itu bercerita bahwa makam orangtuanya berada di pulau pribadi miliknya.


Pulau itu dibeli oleh orangtua Sabiel ketika mereka berdua sedang asik menjelajah lautan berdua menggunakan yacht jenis Azumi type 60. Laura tak menyangka lelaki yang memaksanya menikah itu ternyata adalah anak dari pasangan konglomerat. Keberhasilan orangtua Sabiel berinvestasi saham, membuat keduanya bisa membeli sebuah pulau kecil di ujung barat Indonesia. Sementara jarak yang ditempuh dari pelabuhan sekitar empat sampai lima jam berjalanan.


Saat ini Laura sedang berdiri di pagar pembatas geladak, pandangannya menerawang jauh pada bangunan-bangunan di pelabuhan yang semakin terlihat mengecil.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Sabiel mengelus perut Laura dari arah belakang. Entah sejak kapan lelaki itu menghampirinya.


"Sayang, selain pulau dan yacht ini. Apa lagi yang orangtuamu wariskan padamu?" Laura melempar pertanyaan balik.


Sabiel memegang pagar pembatas dengan kedua tangannya diantara sisi tubuh Laura, hingga kini posisi wanita itu berada dalam kungkungan Sabiel.


"Sejak tadi kau memikirkan itu?" Sabiel mengecup pelipis Laura ketika wanita itu menolehkan kepalanya mencoba menatap wajah Sabiel.


"Kau selama ini tidak pernah bercerita mengenai kekayaanmu, usaha-usahamu dan apapun itu mengenai dirimu. Aku hanya tahu kau hanyalah seorang dosen biasa" ujar Laura menatap kembali lautan dihadapannya.


"Memangnya aneh seorang dosen memiliki banyak kekayaan?" tanya Sabiel.


"Tidak juga, aku hanya penasaran mengapa kau yang sudah bergelimang harta mau bekerja menjadi dosen? Orang kaya lain mungkin hanya akan ongkang kaki menikmati harta mereka. Tapi kau memilih bekerja disaat gaji seorang dosen mungkin tak ada artinya bagimu" Laura mengemukakan apa yang sedang ia pikirkan.


"Menjadi dosen memang impianku sayang. Terlepas dari seberapa banyak warisan orangtuaku. Lagipula jika aku tak menjadi dosen, mungkin kita tidak akan pernah bertemu" ucap Sabiel.


Entah mengapa Laura justru tersenyum mendengar ucapan suaminya, wanita itu membalikkan badannya perlahan dan menatap hangat bola mata hitam suaminya.


"Ternyata begitu cara Tuhan membuatku bertemu denganmu. Dia sisipkan impian itu dalam hatimu jauh sebelum Ia mempertemukan kita. Entah mengapa aku merasa kau memang ditakdirkan untuk menjadi pemilikku" Laura mengelus kedua pipi suaminya.


Sabiel lepaskan pegangannya dan balas memegangi pipi Laura. Kepalanya merunduk hingga kening keduanya beradu. "Kau memang takdirku, sayang. Tuhan mengarahkanku untuk menemukanmu" nada suara Sabiel terdengar penuh syukur di telinga Laura.


Bibirnya tak tahan ingin menyapu bibir Laura yang melengkung menampilkan senyuman indah yang selalu memabukkan bagi Sabiel. Dia mencium bibir mungil itu. Disaksikan langit jingga dan deburan ombak yang menabrak lambung kapal.


Udara malam yang dingin di lautan membuat Sabiel memeluk erat istrinya sebelum membawanya keluar dari kamar utama yacht tersebut. Kapalnya sebentar lagi akan menepi di pulau pribadi itu.


Mata Laura tak bisa menutupi keterpukauannya pada apa yang ia lihat di pantai tersebut. Beberapa bangunan terbuat dari bambu dan kayu dengan atap dari rumput jerami terlihat bersembunyi di barisan pepohonan dan semak pulau. Bangunan-bangunan itu seperti villa-villa kecil yang biasa Laura lihat di media sosial.


Laura melihat beberapa orang menghuni vila-vila itu. Mereka sedang menikmati suasana malam pantai dengan berpesta barbeque di depan salah satu bangunan paling besar berbentuk bulan sabit. Seorang bapak paruh baya dan beberapa pemuda tampak berdiri menatap kedatangan yacht Sabiel. Mereka membungkuk hormat ketika Sabiel dan Laura menjejak tangga yang menghubungkannya dengan dermaga pantai.


"Selamat datang, Tuan" ucap orang yang paling tua itu dengan senyuman lebar.


Sabiel mengangguk, tangannya langsung merangkul Laura. "Aku ingin langsung beristirahat" ujar Sabiel.


Sabiel menolehkan kepalanya pada Laura yang masih sibuk melihat keramaian di pulau itu, "Kau ingin makan diluar atau di dalam vila?" tanya Sabiel.


"Di dalam saja, aku lelah" ucap Laura menatap Sabiel yang menganggukkan kepala.


Pandangan Sabiel tertuju kembali pada bawahannya, "Bawakan makan malam. Kami akan makan di dalam saja" perintah Sabiel yang langsung dianggukkan orang tua itu.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju tempatnya menginap, Laura tak henti-hentinya menatap keindahan pantai dengan pendar lampu kecil dimana-mana. Matanya tertuju pada beberapa orang yang duduk mengelilingi api unggun membentuk lingkaran sambil bernyanyi diiringi petikan ukulele.


"Semenjak orangtuaku meninggal, aku mengubah pulau ini menjadi tempat wisata. Aku menjalin kerjasama dengan pemerintah untuk menarik wisatawan berdatangan. Dan inilah hasilnya, aku tidak menyangka pulau ini akan kebanjiran wisatawan. Bahkan aku harus membuat daftar tunggu untuk para wisatawan lain yang ingin datang secara bersamaan" Sabiel menjelaskan perihal bisnis pariwisata yang ia miliki.


Laura menatap Sabiel dengan raut wajah tak percaya, dosen dihadapannya ini ternyata bukan sembarang dosen biasa. Pantas saja dia memiliki bawahan dimana-mana. Apartemen dan juga vila di pegunungan yang pernah Laura singgahi bahkan hanya secuil dari kekayaan Sabiel. Diam-diam Laura kagum pada sikap dan perangai suaminya yang terlihat biasa saja dengan semua kekayaan yang ia miliki. Lelaki itu tidak terlihat menyombongkan hartanya disana sini. Dia tidak seperti orang kaya pada umumnya, yang lebih senang menggembar gemborkan hartanya dimana pun mereka berada.


"Apa Intan tahu pulau ini?" tanya Laura ketika mereka sudah tiba di dalam villa.


Orang-orang yang membawakan barang bawaan Sabiel dan Laura langsung merapikannya pada tempat yang seharusnya. Sementara Sabiel membawa Laura untuk duduk di ruang tengah yang berhadapan langsung dengan pemandangan pantai.


"Aku pernah membawanya beberapa kali kesini" sahut Sabiel membawa Laura duduk di sofa.


"Pantas saja Intan tak ingin melepaskanmu. Kau bilang dia menggelapkan omset bisnis outletmu, bukan? Bisa jadi dia juga sedang mengincar hartamu yang lain" duga Laura.


"Dia tidak akan berani mengincar pulau ini. Karena disini terdapat makam orangtuaku" ucap Sabiel menyandarkan punggungnya.


Tak berapa lama, makan malam yang sedikit terlambat datang. Lelaki paruh baya yang tadi menyambut Sabiel di dermaga diikuti beberapa wanita muda dibelakangnya, meletakan menu makanan khas pantai di meja. Laura menaikkan alisnya, dia berdecak melihat beberapa menu seafood yang terlihat menggoda itu.


Sabiel tersenyum memperhatikan ekspresi senang Laura, dia langsung mengambil udang bakar besar dan membuka cangkangnya untuk ia suapkan pada mulut istrinya yang sudah tak sabar.


"Enak?" tanya Sabiel menggigit pula udang bekas gigitan Laura.


"Ini lebih dari sekedar enak" aku Laura menikmati rasa udang bakar berbalut bumbu khas yang memenuhi rongga mulutnya.


Keduanya tampak sibuk saling menyuapi makanan itu. Sabiel senang akhirnya ia bisa memperkenalkan Laura pada orangtuanya. Malam semakin larut dengan iringan musik serta nyanyian yang tak kunjung reda. Suasana pantai selalu bisa menghipnotis siapapun agar melupakan waktu yang terus berputar.


🍁🍁🍁


"Kau sudah bangun?"


Suara Sabiel mengejutkannya. Wanita itu langsung bangun dari tidurnya dan melihat Sabiel yang sedang duduk di sofa single dekat jendela. Lelaki itu tampak segar pagi hari ini, dia menyeruput minumannya sambil menatap Laura yang menggemaskan ketika bangun tidur.


"Jam berapa kau bangun?" tanya Laura yang langsung menyibakan selimbut dan berjalan menghampiri suaminya.


Sabiel tampak mengingat, "Pukul enam lebih aku rasa" sahutnya ragu.


Sabiel mengulurkan sebelah tangannya pada Laura, sementara sebelah tangannya yang lain menaruh cangkir di meja samping. Lelaki itu menarik Laura ketika jemari Laura terulur menyambut tangannya. Tiba-tiba Laura sudah duduk di pangkuan Sabiel, dengan posisi wajah menghadap ke depan. Lengan kokoh lelaki itu langsung melingkar posesif di pinggang Laura, kepalanya ia sandarkan di punggung lembut istrinya itu.


"Kapan kita mengunjungi makam?" tanya Laura menatap lengan Sabiel di pinggangnya.


Sabiel memejamkan mata menghirup aroma menyenangkan dari balik punggung Laura, dia seperti anak kecil yang sedang mendekap boneka mainannya. "Setelah sarapan mungkin. Makam itu tidak terlalu jauh dari sini. Kita bisa berjalan kaki kesana" ucapnya parau.


Laura merasakan bibir Sabiel menyentuh tengkuknya. Naluri membuat Laura terpejam menikmati sentuhan lembut itu. Aroma chamomile meyakinkan Laura akan minuman yang tadi disesap suaminya.


Sabiel berulah pagi ini. Dia ingin membalas Laura yang meninggalkannya tidur semalam. Lengan kokoh itu, tanpa Laura sadari sudah menyusup kedalam piyamanya. Membelai lembut permukaan kulit Laura yang hangat, sehangat mentari pagi kala itu.


"Sayang.." panggilan Laura membuat Sabiel malas untuk menyahutinya. Lelaki itu terlalu sibuk menikmati kelembutan kulit mulus Laura.

__ADS_1


Tiba-tiba Sabiel mengajak Laura untuk bangun dari pangkuannya, lelaki itu ikut berdiri langsung menggendong Laura ala bridal. "Aku ingin bercinta, sayang" nada suara tegas membuat pipi Laura panas seketika.


🍁🍁🍁


Panas mentari cukup untuk menghangatkan punuk unta saat itu. Laura dan Sabiel keluar dari villa setelah beberapa jam tadi mereka habiskan untuk melepas hasrat yang terpendam.


Langkah kaki Sabiel begitu santai menapaki jalanan berbatu menuju makam orangtuanya. Dia menggandeng jemari Laura agar mengikuti langkahnya. Pepohonan kelapa berjejer acak disepanjang jalanan yang mereka lalui. Laura melihat beberapa wisatawan keluar dari villa mereka dengan menggunakan pakaian pantai. Para wanita berbikini seksi sementara para lelaki hanya mengenakan celana pantai selutut dengan motif suasana pantai.


"Kapan terakhir kau kemari?" tanya Laura.


Sabiel tersenyum tipis, ia mengangguk pada beberapa bawahannya yang berpapasan dengannya. "Beberapa hari sebelum aku menculikmu" sahutnya terang-terangan.


Laura menoleh kepadanya, "Oh ya?" tanya kembali.


Sabiel mengangguk, "Aku katakan pada orangtuaku, bahwa aku akan membawa istri mudaku mengunjungi mereka" ungkapnya.


Laura mengikut perut Sabiel, "Kau melakukan persiapan yang matang saat memaksaku menikah denganmu" Laura mendelik menatap Sabiel yang tengah meringis.


"Aku bahkan berencana mengurungmu disini, sampai aku bisa memastikan kau bersedia menjadi istriku" ujar Sabiel mengingat rencana besarnya dulu.


Laura terlihat mendengus sebal, ucapan Sabiel mengingatkannya kembali pada masa lalu buruk mereka. Tak berapa lama dengusannya menghilang, ketika bola matanya tertuju melihat satu gundukan berbatu dengan papan nama Rigel Humbert dan Sartika Puspa sebagai nisannya.


"Itukah?" tanya Laura menunjuk gundukan batu itu dengan matanya.


Sabiel mengangguk, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Laura yang mengikutinya perlahan. Lelaki itu berjongkok di hadapan gundukan batu itu. Sementara mata Laura menelisik sekitar gundukan yang tampak indah dan terawat dengan bunga-bunga pemphis acidula berwarna putih dan merah muda. Tamanan liar itu mengelilingi gundukan batu tempat peristirahatan orangtua Sabiel.


"Kemari sayang" Sabiel mengulurkan tangannya pada Laura agar mendekat.


Mata Laura masih menyelidik gundukan itu, orangtua Sabiel keduanya telah meninggal, tapi mengapa makamnya hanya ada satu?


"Ayah dan Ibuku dikubur dalam satu makam. Sebagaimana wasiat yang pernah mereka buat jauh sebelum kecelakaan merenggut nyawa mereka" ucapan Sabiel menjawab pertanyaan dalam hati Laura.


"Rigel Humbert?" Laura merapal nama ayah Sabiel.


"Ya. Itu nama ayahku. Dia percampuran Inggris dan Belanda. Sementara Ibuku asli orang Jawa" Sabiel menjelaskan asal usul orangtuanya.


Sabiel diam terpaku menatap gundukan batu itu. Laura mengawasi bola mata Sabiel yang bersinar oleh rasa rindu yang pekat. Ekor mata Sabiel menangkap Laura yang tengah mengawasinya. Lelaki itu merangkul mesra istrinya.


"Ayah Ibu, ini Laura. Istri baruku, dia sedang mengandung cucu kalian....." Sabiel terus berbicara memperkenalkan Laura kepada jasad orangtuanya yang bersemayam dibawah gundukan batu.


Hingga beberapa saat berlalu tanpa terasa, mereka memutuskan untuk kembali ke vila. Namun ketika baru saja mereka hendak melangkah, ponsel Sabiel berdering nyaring.


Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, dan mengernyitkan dahi ketika nomor telepon apartemen tertera disana.


"Tuan, nyonya Intan datang" nada suara cemas dari Mbok Suti langsung terdengar begitu panggilan dijawab.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2