
Tubuh Sabiel bergetar saat matanya menyusuri bait-bait kata yang berada dalam laman blog Laura, pagi itu. Perasaan kalut dan amarah tiba-tiba menyergapnya dalam diam. Tubuhnya kaku tak berkutik, ketika bola mata hitam itu bergerak turun naik seiring dengan bait prosa yang ia lihat dalam laman blog gadis yang ia cintai.
Matanya tertuju pada tanggal tulisan di publish, itu adalah tanggal yang sama dimana ia dan Laura baru kembali dari Jakarta. Sepertinya sepulang dari Jakarta, malam harinya gadis itu membuat tulisan baru di laman blog nya.
Sabiel memukul mejanya kesal, ketika ia membaca prosa Laura yang ia rasa ditujukan untuk seseorang. Dan itu pasti bukan untuknya. Prosa tentang kerinduan itu tidak mungkin Laura tulis untuk dia, Laura selama ini tidak tahu bagaimana perasaan Sabiel terhadapnya. Terlebih sikap Laura yang Sabiel rasa tak peka pada dirinya, membuat Sabiel menyimpulkan bahwa prosa itu tentu bukanlah ditujukan kepadanya.
Bimasakti?!
Mata Sabiel mendelik waspada, ketika satu nama hadir dibenaknya.
Ya. Dia. Lelaki yang saat ini sedang menarik perhatian Laura dengan komentar-komentar prosa 'konyol'nya. Pasti lelaki itu yang Laura maksud dalam prosa romantis-nya!
"Sialan!" umpat Sabiel dalam hati.
Sabiel mengeratkan gerahamnya ketika sekelibat bayangan senyum Laura yang merekah ikut hadir dipelupuk matanya, saat gadis itu menceritakan pertemuan ajaib dengan aktivis buruh yang telah berhasil mencuri perhatiannya.
Sabiel kembali di dera oleh kegelisahannya sendiri. Tenggorokannya terasa tercekik ketika membayangkan ada lelaki lain yang dekat dengan Laura, selain dirinya. Bahkan lelaki itu sedang dirindukan oleh gadis kesayangannya.
Astaga! Apa yang mesti Sabiel lakukan?!
Kepalanya terasa berkedut ketika Sabiel memaksa otaknya untuk berpikir keras mencari cara mendapatkan Laura. Menjadikan Laura miliknya, dan menjauhkan Laura dari jamahan lelaki lain.
Posisinya saat ini sungguh membuatnya dilematis. Laura tidak mungkin dengan rela mau menjadi miliknya. Gadis itu bahkan terlihat sekali tak memiliki perasaan khusus pada Sabiel.
Sabiel meremas frustasi rambutnya yang lembab. Matanya nanar menatap layar laptop yang masih menampilkan laman blog berisi tulisan terbaru Laura.
Di dalam benaknya terdapat banyak sekali pertanyaan meragukan tentang haruskah ia ungkapkan perasaannya saat ini kepada gadis itu? Apa yang akan terjadi ketika Laura mengetahui keinginannya agar Laura menjadi miliknya? Akan kan sikap Laura tetap sama seperti saat ini?
Semua pertanyaan itu sungguh membuat Sabiel bingung, gundah tak tahu harus bagaimana.
"Aku harus mengatakannya." gumaman bernada yakin keluar setelah beberapa pertanyaan berkecambuk dalam benaknya.
Disaat pikirannya masih tertuju pada Laura, pintu ruang kerjanya terbuka lebar oleh Intan. Wanita itu tersenyum manis berjalan menghampiri suaminya di kursi kerja. Sabiel segera menutup laptopnya begitu Intan semakin mendekat.
"Sayaaaang..." ucap Intan sambil duduk di sisi paha Sabiel. Tangannya bergerak mengelus lembut pundak belakang suaminya itu.
Sabiel menghela nafasnya yang terasa berat. Baru saja benaknya disibukkan oleh pikiran ketakutan akan kehilangan Laura, dan kini benaknya dipaksa untuk mencari cara melepaskan diri dari jeratan pernikahan tak jelas bersama Intan.
"Ada apa lagi?" tanyanya datar.
Intan tampak ragu untuk mengatakan maksudnya, namun ia tetap berusaha mengatakannya dengan penuh kehati-hatian.
"Kemarin kita terlalu cape, sampai aku belum menceritakan apapun padamu mengenai pekerjaanku disana." ucap Intan sangat hati-hati dengan intonasi suara dibuat manja.
"Aku tidak tertarik untuk mengetahui pekerjaanmu disana." ujar Sabiel.
"Sayang, ada apa denganmu? Kau tampak dingin sekali." tanya Intan heran dengan respon tak menyenangkan dari Sabiel.
"Lebih baik kau lekas katakan apa yang ingin kau katakan, Intan. Siang ini aku ada jadwal mengajar." Sabiel menatap jengah pada istrinya itu.
"Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sedang dipromosikan menjadi desiner tetap disana." Intan tersenyum senang. Rasa heran atas sikap dingin suaminya lenyap sudah ketika ia membahas pencapaiannya dalam berkarir.
"Lantas?" tanya Sabiel seolah sudah menduga apa yang akan Intan katakan selanjutnya.
"Aku harus menetap lebih lama disana." ucap Intan sembari menundukkan kepala, tak berani melihat raut wajah suaminya.
__ADS_1
Sabiel menyeringai jengkel melihat sikap Intan, dia menghela tubuh Intan untuk turun dari pangkuannya.
Sabiel berjalan menuju rak buku yang berada di sebelah pintu ruangan, meninggalkan Intan yang duduk di kursi kerjanya sambil memperhatikan dirinya menjauh. Sabiel mencoba mengatur nafasnya yang sesak menahan amarah.
"Intan, apa tidak sebaiknya kita bercerai saja?!" pertanyaan Sabiel telak membuat Intan membelalakan matanya menatap tajam kearah suaminya itu.
Intan berdiri dari duduknya,
"Apa maksudmu?" tanya Intan penuh selidik.
Cerai?!
Mana mungkin ia mau bercerai dari Sabiel. Selama ini hanya Sabiel lah lelaki yang sangat sabar menghadapi dirinya. Sabiel juga yang bahkan membantu dirinya merintis karir menjadi seorang desainer, memberikan begitu banyak akses bagi Intan untuk mengembangkan bakat dan talentanya di dunia design. Bahkan berkat kekayaan Sabiel lah ia dapat menyelesaian pendidikannya dulu. Orangtua nya yang hidup pas-pas an saja bisa terbantu secara finansial karna kemurahatian Sabiel.
Bagaimana pun juga memiliki suami seorang Sabiel, adalah impian bagi wanita dengan status sosial menengah ke bawah seperti dirinya dulu. Kemampuan Sabiel secara ekonomi, ditambah warisan orangtuanya yang berlimpah, jelas berpengaruh besar dalam hidup Intan yang terlahir dari keluarga pas-pas an. Mana mungkin Intan mau melepas Sabiel? Bagaimana nanti nasibnya setelah ia bercerai dengan lelaki itu?
Tidak, tidak!!
Sabiel tidak boleh lepas dari genggamannya. Intan tidak akan rela jika harus kehilangan Sabiel. Meskipun saat ini karirnya sedang berada di puncak, itu semua tak menjadi jaminan bahwa kehidupan Intan nanti akan senyaman saat ia bersuamikan Sabiel. Sabiel bagai pegangan tali yang kokoh bagi Intan, dia lah tali yang menjadi pegangan Intan dalam melangkah agar Intan tidak mudah terjatuh dan tersungkur.
"Aku ingin menyudahi hubungan kita." ucap Sabiel memperjelas. Lelaki itu menatap Intan dengan penuh tekad.
"Apa.. aku tidak salah dengar?" tanya Intan terbata.
"Tidak. Aku serius Intan. Aku ingin bercerai denganmu." Sabiel merapalkan kata per kata di hadapan Intan yang mulai bergetar takut.
"Apa salahku?" tanya Intan dengan kedua bola mata mulai berembun.
Sabiel diam. Dia hafal betul betapa egoisnya Intan, hingga keegoisannya sendiri sudah tidak ia sadari lagi. Wanita itu lupa, jika bertahun-tahun hidup sebagai suami istri dengan Sabiel, begitu seringnya pertengkaran terjadi karna sikap egoisnya. Wanita itu juga lupa, bagaimana Sabiel hampir setiap saat mengeluh karna merasa tak diperhatikan semua kebutuhannya oleh Intan. Menjelaskan semua kesalahan Intan, bagi Sabiel seperti ia mejelaskan warna pada orang buta. Dia tidak akan mengerti mesti berkali-kali dijelaskan.
Dia berjalan menghampiri suaminya, tangannya mencengkram erat kerah jubah piyama yang masih melekat di tubuh suaminya.
"Apa alasanmu ingin bercerai denganku?" tanya Intan tajam. Wanita itu mulai terisak. Kepalanya tertunduk bersandar pada dada Sabiel yang kokoh.
"Intan, hey dengarkan aku." Sabiel mengangkat wajah Intan agar menatap pada dirinya. "Bukankah kau ingin bebas berkarir?!" tanya Sabiel. "Bercerai dariku akan menjadikan dirimu wanita karir seutuhnya. Kau akan bebas, tidak akan terbebani lagi dengan kewajiban seorang istri." Sabiel mencoba meyakinkan.
Intan menggelengkan kepalanya tanda tak setuju. Dia tidak mau bercerai dari lelaki yang selama ini melimpahinya dengan banyak harta dan kenyamanan.
"Kau sudah berjanji di hadapan orangtuaku, Sabiel." Intan mendelik sambil berderai air mata. "Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku, apapun yang terjadi." Intan memukul-mukul dada Sabiel.
Sabiel mulai jengah, dia mencoba menahan diri menghadapi amukan Intan.
"Aku tidak mau bercerai!!" ucap Intan setengah berteriak. "Kau telah bersumpah di hadapan makam orangtuaku. Kau tidak boleh melanggar sumpahmu sendiri, Sabiel." ucapnya penuh amarah.
"Aku sudah tidak bisa bersamamu Intan." ujar Sabiel. "Aku tidak bisa."
"Baiklah!" bentak Intan sambil mendorong dada Sabiel agar menjauh.
Wanita itu berjalan kembali menuju meja kerja Sabiel. Matanya berkilat penuh siasat ketika melihat pena tinta yang terdapat di sisi laptop yang tertutup. Tangannya menyambar pena itu, dan berbalik menghadap Sabiel yang masih terdiam memperhatikan Intan.
"Intan!!! Apa yang kau lakukan?!" Mata Sabiel terbelalak ketika melihat Intan menggenggam erat pena tinta dengan mengarahkan mata pena yang runcing pada lehernya. Sabiel tergesa menghampiri Intan.
"Berhenti atau aku benar-benar akan melumuri pena ini dengan darah." Intan berteriak mengancam, hingga membuat Sabiel menghentikan langkahnya dengan perasaan cemas.
"Kau ingin bercerai bukan?!" tanya Intan memandang sinis suaminya yang terlihat gelisah. "Daripada bercerai, lebih baik aku mati menyusul orangtuaku di alam baka sana." ucapnya penuh tekad.
__ADS_1
"Hey sayang, stop.. please." suara Sabiel bergetar ketika melihat ujung pena mulai terlihat menekan leher Intan dan mengeluarkan tetes darah diujungnya.
"Kau ingin bercerai bukan?!" Intan mulai berteriak.
Dari arah luar pintu ruang kerja terdengar derap langkah kaki para pembantu yang berlari menuju ruang kerja karna mendengar teriakan Intan.
Tok tok tok
"Tuan.. Nyonya?" suara seorang pembantu terdengar cemas menanyakan majikannya.
"Jangan masuk!!" teriak Intan pada para pembantu di balik pintu. Seketika tak terdengar lagi suara disana.
"Sayang.. please stop, lehermu terluka." Sabiel berusaha untuk tenang.
"Cih, kau mencemaskan leherku yang terluka?!" Intan berdecih. "Lalu bagaimana dengan hatiku, huh?!" mata Intan tajam menatap suaminya.
"Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kemari sayang.. kau terluka." Sabiel mencoba sedikit melangkah mendekati Intan yang berjalan mundur.
"Kau ingin bercerai? Kau ingin bercerai Sabiel?!!" bentak Intan penuh emosi.
Sabiel menarik nafasnya yang terasa sesak sejak tadi. Dengan perasaan yang sangat tertekan, dia berusaha menenangkan istrinya. Matanya melihat darah semakin deras keluar dari lubang yang tercipta karna ujung pena tinta yang semakin tertekan kedalam permukaan leher Intan.
"Tidak. Aku tidak akan bercerai denganmu. Aku-aku tarik kembali ucapanku, sayang." suara putus asa langsung keluar seiring semakin dekatnya jarak antara dirinya dengan Intan.
"Bohong! Kau berbohong." bantah Intan sembari terisak melawan sakit yang datang dari luka yang ia ciptakan.
"Tidak. Aku tidak berbohong. Kita akan tetap bersama, menjadi suami istri sampai kapanpun kau mau." ucap Sabiel tersekat. Hatinya begitu berat ketika ia berucap.
"Aku tidak ingin bercerai." ucap Intan lirih ketika Sabiel sudah berada didekatnya. Tangan Sabiel meraih dan merampas pena yang tadi menusuk leher Intan. Melemparnya sembarang hingga berbunyi nyaring di lantai. Seketika tubuh Intan limbung namun berhasil Sabiel tahan dengan kedua tangannya yang sigap membopong Intan menjauh dari meja kerja.
Sabiel berjalan dengan Intan yang berada dalam gendongan. Ketika sampai di depan pintu ruang kerja, dia berhenti sejenak.
"Mbok, buka pintunya." pintanya cepat pada pembantu yang ia ketahui masih berada di balik pintu ruang kerja tersebut.
Pintu terbuka seketika. Menampilkan kedua pembantu rumah tangganya yang berdiri kaku dengan raut wajah cemas melihat leher Intan yang mengeluarkan darah.
"Ambilkan aku air hangat dan kotak obat." ucapnya datar sembari melangkah cepat menuju kamarnya.
"Aku tidak ingin bercerai." suara Intan semakin terdengar lemah ketika Sabiel meletakkan tubuhnya di kasur.
"Tidak sayang, kita tidak akan bercerai." ucap Sabiel nanar. Lelaki itu menarik nafasnya kuat-kuat, dan membuangnya kasar. Untuk kesekian kalinya, Intan telah berhasil menjerat kembali Sabiel dengan ikatan yang kuat.
Ditengah kesibukkannya mengobati luka Intan, benak Sabiel sibuk pula memikirkan Laura. Meskipun saat ini ia tidak bisa bercerai dari Intan, bukan berarti tekadnya untuk mendapatkan Laura musnah.
Laura, bagaimanapun cara yang nanti harus Sabiel tempuh. Gadis itu harus berakhir menjadi miliknya. Harus!
🍁🍁🍁
...Hai semua, selamat hari senin.. ...
...semoga sehat selalu ya kalian disana, ...
...Jangan lupa sirami cerita ini dengan Like, Koment dan Vote dari kalian ya.. ...
...Salam sayang dari Author amatir 😘😘😘...
__ADS_1