
Laura dan Sabiel terpaku dengan bola mata saling menatap. Hati keduanya ngilu mendengar kalimat haram yang keluar dari mulut paman Ali. Sabiel menolehkan kepalanya perlahan, menatap sosok lelaki paruh baya itu dengan pandangan hampa.
Menceraikan Laura adalah hal yang tidak akan pernah dia lakukan apapun keadaannya. Laura adalah hidupnya, separuh jiwanya ada bersama wanita itu. Bercerai dari Laura sama artinya Sabiel harus mati.
Sabiel menggelengkan kepala perlahan, namun sarat akan ketegasan. "Aku tidak akan pernah menceraikan Laura" ucapnya penuh penekanan. "Wanita ini adalah nafasku. Dia belahan jiwaku. Tidak ada yang bisa memisahkannya dariku"
Plakkk! Tamparan keras paman Ali mendarat di pipi Sabiel, meninggalkan rasa panas menyengat yang mampu memekakkan gendang telinganya. Paman Ali langsung menarik kerah baju Sabiel, "Kau ingin aku pukuli lagi, huh?!" ucapnya penuh ancaman.
Sabiel tersenyum miring, dia sudah siap dengan segala konsekuensi yang harus ia tanggung karena perbuatannya. "Jika dengan memukuliku membuat paman puas, silahkan pukuli aku. Aku lebih memilih meregang nyawa daripada kehilangan Laura" ujar Sabiel lugas.
Buk! Buk! Buk!
Dengan penuh emosi, tinju paman Ali melesat dibeberapa bagian tubuh Sabiel. Sabiel tersungkur tanpa ada niat untuk sekedar menangkis pukulan itu. Bibirnya kembali berdarah setelah sebelumnya mengering.
Sementara itu, Laura yang berdiri menyaksikan pertengkaran itu merasa sekujur tubuhnya melemas. Matanya nanar melihat tubuh suaminya kembali menjadi samsak. Kaki Laura gemetaran, tak mampu lagi berdiri. Ia terduduk lemah. Kepalanya terasa berputar ditambah pandangan matanya yang mulai kabur. Sayup terdengar suara bentakan pamannya yang memaksa Sabiel untuk tetap menceraikan dirinya. Rasa perih menghujam jantungnya, bagaimana bisa ia berpisah dengan Sabiel disaat hatinya sudah termiliki oleh lelaki itu?
Dengan sorot mata semakin redup, Laura bergumam lirih, "Sayaaang.."
Bruk!
Tubuh mungil itu ambruk menghantam dinginnya marmer. Samar-samar, ia melihat Sabiel dan paman Ali membelalakan mata menatapnya terkapar. Langkah kaki Sabiel tak terdengar lagi begitu ia mendekati tubuh Laura. Mata itu terpejam rapat, bulu mata lentiknya diam tak ada tanda pergerakan, seolah sedang menyembunyikan Laura dari kemelut kehidupannya yang terombang-ambing dalam angkara murka sang paman.
Sabiel mengangkat langsung tubuh mungil itu dalam pangkuannya, ia menepuk pipi Laura perlahan, "Sayang! Sayang! Bangun sayang!" suaranya bergetar dan wajahnya memucat.
Sabiel langsung membopong Laura, dia tak menghiraukan paman Ali yang sama-sama cemas dan mengikuti langkahnya menuju anak tangga.
"Mbok.. Mboook" teriak Sabiel pada kedua pembantunya yang keluar dari tempat persembunyian dengan langkah cepat.
Keduanya terperanjat kaget melihat nyonya Laura sedang digendong dalam kondisi tak sadarkan diri. "Ya Tu-an" sahut Mbok Suti terbata.
"Segera hubungi Dokter Melisa. Suruh dia datang kemari" perintah Sabiel cepat sambil melangkah menaiki anak tangga.
Sabiel meletakkan Laura di atas ranjang, lelaki itu gelisah melihat Laura tak kunjung sadarkan diri, "Sayang bangun, aku mohon bangun sayang" Sabiel mengusap-ngusap telapak tangan dan kaki Laura agar hangat.
Lelaki itu mengusap kasar air mata yang mengalir di pipinya. Paman Ali berdiri membisu tak jauh dari posisi mereka, lelaki paruh baya itu tertegun melihat bagaimana Sabiel menahan diri dari rasa takutnya akan kondisi Laura. Terlebih lagi ketika paman Ali melihat Sabiel meneteskan air mata menatap Laura yang tak berdaya.
Selama tadi lelaki itu dipukuli habis-habisan, dia sama sekali tidak menunjukkan raut wajah meringis bahkan menangis. Namun hanya ketika dia melihat Laura jatuh tak sadarkan diri, air mata itu menetes tanpa bisa dia tahan lagi. Paman Ali terus berdiam diri, raut wajah khawatir Sabiel menggugah sanubarinya. Lelaki itu seperti ketakutan jika sampai terjadi sesuatu pada Laura.
"Sebesar itukah rasa cintamu, Sabiel?"
Paman Ali merenungi pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Sampai pada saat seorang dokter wanita masuk dengan tergesa, barulah paman Ali tersadar dan berjalan mendekati ranjang tempat Laura berbaring lemah.
Dokter Melisa tak bisa menahan keterkejutannya ketika matanya melihat wajah Sabiel yang penuh dengan jejak pukulan. Lebam di beberapa sisi wajah tampannya, membuat dokter Melisa mengedarkan pandangannya dan mendapati lelaki paruh baya yang berdiri sedikit lebih jauh dari posisi ranjang. Lelaki itu menatap kearah mereka dengan waspada, namun dokter Melisa sempat melihat kecemasan dari raut wajah yang garang itu.
__ADS_1
"Bagaimana dok?" tanya Sabiel cemas. Lelaki itu memperhatikan dokter Melisa yang tengah memeriksa Laura.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu menghela nafasnya perlahan. "Kondisi nyonya stabil, tidak ada luka berarti di tubuhnya. Beberapa saat lagi, nyonya pasti siuman" ujar dokter Melisa menjelaskan.
Sabiel menghela nafas lega, "Syukurlah" ucapnya lirih. Lelaki itu duduk di tepian ranjang, mengusap lembut kening Laura. "Kau membuatku cemas, sayang" bisiknya lirih.
Dokter Melisa yang masih memperhatikan Sabiel kembali berucap, "Apa tuan ingin saya obati itu..." tanya dokter Melisa ragu-ragu sembari menunjuk wajah Sabiel yang penuh luka.
Sabiel tersenyum tipis, "Tidak perlu, nanti saya akan mengobatinya sendiri" ucapnya.
"Baiklah, kalau begitu saya undur diri dulu Tuan" ucap dokter Melisa. "Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Karena itu akan sangat berdampak pada kondisi janinnya" sambung dokter Melisa kemudian.
"Janin?! Laura hamil?!" paman Ali berjalan mendekati kedua orang itu. "Benar Laura hamil, Sabiel?!" lelaki itu membelalakan matanya.
Sabiel dan dokter Melisa mengangguk bersamaan, "Kandungannya baru beberapa minggu. Masih sangat rentan" dokter Melisa mempertegas.
Paman Ali terkejut menatap Sabiel yang tampak tenang. Sementara dokter Melisa telah berlalu meninggalkan kedua lelaki yang kini tengah kembali berhadap-hadapan. Tiba-tiba paman Ali terhuyung kebelakang. Kakinya gemetaran mundur beberapa jarak hingga punggungnya terbentur tembok. Tangannya langsung berpegangan pada tembok itu agar ia tidak limbung di lantai.
"Laura hamil? Oh Tuhan apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku katakan pada ayahnya disana?" Paman Ali bergumam dalam hati.
Langit sudah menghitam kala itu, sorot matanya terpaku pada bibir Laura yang mulai bergerak perlahan.
"Sa--biel" suara lirih Laura terdengar jelas di telinga kedua lelaki itu.
Sabiel menatap istrinya penuh cinta, ia merunduk untuk mendekatkan telinga di bibir Laura yang lemah. "Ya sayang? Kau sudah sadar?" tanyanya penuh rasa haru.
Sabiel meraih tangan Laura yang terasa dingin, dia meletakkan tangan itu di permukaan bibirnya yang memar. "Aku disini sayang" ucapnya sembari mengecup telapak tangan Laura berulang kali. "Aku disini"
Paman Ali yang sedang berusaha menetralkan keterkejutannya, menyaksikan apa yang tengah Sabiel lakukan. Dari bahasa tubuhnya, terlihat jelas bahwa lelaki itu begitu mencintai Laura. Sorot mata hitam kelam itu terpusat pada Laura yang perlahan membuka matanya, ia tidak menghiraukan rasa sakit yang pasti sedang mendera sekujur tubuhnya karena dipukuli habis-habisan. Entah mengapa hati paman Ali merasa bersalah telah memukuli Sabiel dengan membabi buta seperti tadi.
Semua mata mengawasi kelopak Laura yang mulai terbuka. Mata coklat itu menatap sayu wajah babak belur suaminya. Seketika linangan air mata kembali mengalir, tangannya yang lemah menggapai pipi Sabiel dengan putus asa. Jemarinya menyusuri luka-luka lebam yang menodai paras tampannya. Sabiel membiarkan jemari itu membelai bibirnya, mengusap lembut sudut bibir yang berdarah.
"Laura" panggilan pamannya membuat pasangan itu menoleh pada sumber suara.
Mata keduanya melihat paman Ali yang berjalan sedikit tertahan menghampiri mereka. "Kau baik-baik saja?" tanyanya didera rasa bersalah.
Laura tersenyum lembut, tangannya meraih tangan paman Ali yang berada disebelahnya. "Aku baik-baik saja paman" ucapnya menenangkan kecemasan yang terpatri dalam bingkai wajah kebapakan pamannya.
"Kau......hamil?" paman Ali masih belum puas dengan penjelasan dokter tadi.
Laura mengangguk, "Kami akan menjadi orangtua, paman" ucapnya tersenyum hangat. Pandangannya kini beralih pada wajah suaminya, mereka tersenyum bersama.
"Paman" Laura mengeratkan pegangannya pada tangan paman Ali. "Aku mohon maafkan kami" matanya berubah memelas menatap pamannya yang berdiri menjulang.
__ADS_1
"Masa lalu kami memang kacau paman, Sabiel telah melakukan sebuah kesalahan. Tapi kami tidak bisa memutar waktu untuk memperbaikinya. Bagaimanapun kami tidak bisa mengubah masa lalu, tapi bukan berarti kami tidak bisa merencanakan masa depan yang lebih baik bersama-sama, bukan?" ujar Laura panjang lebar.
"Paman lihat perutku" pinta Laura pada pamannya. "Beberapa bulan lagi perut ini akan membesar. Aku dan Sabiel menantikan saat-saat itu. Aku mohon, biarkan kami hidup bersama membesarkan buah cinta kami paman" ujar Laura dengan suara sengaunya.
Paman Ali tampak bingung, matanya melihat kantung mata Laura yang membengkak akibat terlalu lama menangis. Dibalik rasa kecewanya pada Laura dan Sabiel, paman Ali masih menyimpan rasa iba-nya ketika menyaksikan kesungguhan mereka berdua.
Kenyataannya kini, Laura yang semula telah dipaksa menikah pada akhirnya menerima Sabiel dengan ikhlas. Melihat kesungguhan dalam nada ucapannya, paman Ali menyimpulkan bahwa kini Laura justru tengah menikmati perannya sebagai seorang istri. Rasanya keinginan untuk memisahkan mereka sangat mustahil, apalagi kondisi Laura yang sekarang tengah hamil. Lelaki paruh baya itu tidak akan sampai hati, memisahkan seorang anak dengan ayahnya.
Paman Ali menghembuskan nafasnya pasrah, "Berjanjilah kau akan segera menceraikan istrimu, dan menikah secara resmi dengan Laura" ucapnya tegas menatap Sabiel.
Sorot mata Sabiel terkesiap mendengar ucapan paman Laura, ia menegakkan tubuhnya menatap balik paman Ali dengan penuh keyakinan, "Aku berjanji, paman"
Malam semakin berkuasa saat itu. Setelah dipaksa oleh Laura, paman Ali memutuskan untuk menginap di apartemen Sabiel. Kini adik kandung ayah Laura itu tengah beristirahat di kamar bawah lantai satu. Di kamar yang pernah dipakai oleh Intan.
Sementara itu Sabiel masih sibuk mengaduh saat Laura tengah sibuk mengobati luka-lukanya. Sabiel memejamkan mata ketika Laura mengoleskan obat di pelipisnya yang lebam. Posisi duduk mereka yang saling berhadapan dengan kaki bersilang di atas ranjang, membuat kedua tangan Sabiel tak tahan ingin membelai paha Laura lembut.
"Diam sayang!" bentak Laura pelan.
Dengan mata yang masih terpejam, Sabiel menyeringai jahil. "Terima kasih sayang" ujarnya sambil meringis menahan perih dari obat oles Laura.
Laura mengedarkan matanya, menelisik bagian luka mana lagi yang belum ia obati. "Untuk?" tanyanya.
"Kau membelaku mati-matian tadi, padahal dulu kau sangat membenciku" timpal Sabiel membuka matanya.
Laura menghentikan kesibukannya mengobati luka Sabiel, wanita itu membalas tatapan Sabiel dengan senyuman manis. "Kondisi kita sudah berubah lebih baik Sabiel. Tentu saja aku akan membelamu, aku tidak ingin membesarkan anak kita seorang diri" tukasnya sembari merunduk menatap perut datarnya.
Sabiel mengulas senyuman hangat, matanya menatap pula pada jabang bayi yang sedang tumbuh dibalik perut Laura. Lelaki itu langsung memeluk Laura, dadanya terasa hangat ditengah luka lebam dan goresan yang membuatnya ngilu.
"Kau juga mengatakan cinta saat tadi" bisiknya parau dibalik rambut Laura. "Hatiku begitu bahagia ketika kau mengatakannya sambil menangis" ungkapnya kemudian.
Laura membalas pelukan Sabiel dengan erat, wanita itu bahkan bisa merasakan jantung Sabiel yang berdebar kencang. Bibirnya kembali melengkung, memberi senyuman terindah atas apa yang Sabiel ucapkan.
Esok harinya paman Ali memutuskan pulang kembali ke Jarakta. Laura dan Sabiel mengantarkannya sampai stasiun kota. Kini mereka sedang berdiri berhadapan di gerbang utama, Sabiel memberikan tas gendong paman Laura dengan senyuman hangat.
"Jaga Laura, biarkan ia meneruskan pendidikannya" ujar paman Ali pada Sabiel yang menganggukkan kepala.
"Paman...ayah?" ucap Laura dengan gelisah.
Seolah mengerti kerisauan keponakannya, paman Ali mengelus lembut pundak Laura. "Paman akan bantu kalian menjelaskan masalah ini pada ayahmu. Paman yakin, dia pun pada akhirnya akan mengerti" ucapnya menenangkan kegelisahan Laura.
Seketika Laura tersenyum lega, dan senyum itu menular pula pada Sabiel. Setelah memeluk Laura dan Sabiel, paman Ali berjalan memasuki stasiun. Sepasang suami istri itu menatap punggung paman Ali yang berjalan menjauh dari tempat mereka berdiri.
Sabiel merangkul pinggang Laura, sementara Laura menyandarkan kepalanya pada dada Sabiel.
__ADS_1
Mereka tak menyangka, perjalanan hidup yang Tuhan gariskan untuk mereka begitu berliku. Namun hati keduanya sama-sama yakin, bahwa Tuhan dengan semua takdir tak terduganya, selalu memberikan segala yang terbaik bagi hambaNya. Laura percaya, bahwa Tuhan mendatangkan Sabiel dihidupnya pasti dengan tujuan baik pula.
🍁🍁🍁