Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 76


__ADS_3

Kedua bola mata Dato' Faisal terpaku pada sebuah botol kecil dengan tutup berukir bunga teratai di meja. Lelaki itu duduk tegang di balik meja ruangan interogasi yang berada di salah satu lorong penjara bawah tanah istana. Luka cambuknya sudah diobati dan pakaian lusuhnya sudah pula diganti.


Dihadapannya, Dato' Sri dengan nama asli Tengku Zara Nafisah sedang duduk dikursi rodanya. Tangannya saling menjalin di pangkuan, sementara tatapannya tajam menembus bola mata suaminya.


"Sayang, apa ini?" tanya Faisal dengan suara bergetar.


"Arsenik" jawab Tengku Zara lugas.


Faisal terkesiap, "Arsenik? Racun maksudmu?" tanyanya tak percaya.


"Aku ingin kau menenggaknya" ucap Tengku Zara tanpa basa basi.


Wanita bangsawan itu sudah kepalang murka dengan perbuatan kotor suaminya. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan kematian sang suami. Perselingkuhan suaminya tidak bisa ia maafkan. Hatinya sakit setiap kali benaknya mengingat bukti perzinahan yang suaminya lakukan selama ini.


"Sa-yang..." suara Faisal terbata menatap keseriusan dalam raut wajah istrinya. "Aku memang bersalah, aku mohon maaf kepadamu sayang. Aku mohon maafkan aku" Faisal berdiri dari duduknya dan tertatih mendekati kursi roda istrinya.


Lelaki itu bersimpuh di kaki lumpuh Tengku Zara, menundukan kepalanya tepat di kedua lutut wanita itu. "Aku bersalah sayang. Aku bersalah. Aku mohon maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan ini lagi" suaranya parau mengiba.


Tengku Zara yang sudah muak, ia menepis kasar kepala lelaki itu dari lututnya dengan lengannya. Tubuh Faisal seketika terhuyung kebelakang, sementara kursi roda sang istri berjalan menjauhi tubuhnya.


"Aku akan memaafkanmu...jika kau meminum racun itu" ujar Tengku Zara.


Faisal tampak gemetaran. Dia pikir hukuman cambuk yang tadi siang ia terima sudah cukup memuaskan amarah istrinya. Namun ternyata dugaannya bertolak belakang. Sang istri sengaja menangguhkan kematiannya, agar wanita itu bisa membunuh dirinya dengan cara yang lebih sadis.


"Sayang, ingat anak kita. Apa kau lupa? Mereka masih terlalu dini untuk merasakan menjadi anak yatim" Faisal terus berusaha melembutkan hati istrinya.


Tengku Zara mendelik menatap wajah tak tahu malu suaminya, bibir bergincu itu tersenyum tipis mendengar kelakar sok bijak dari mulut lelaki yang telah menjamah tubuh wanita lain dibelakangnya.


"Setelah perzinahanmu terkuak, kau baru mengingat anak-anakmu?! Oohh Faisal, lelaki hasil perjodohan ayahku. Apa harta yang aku berikan telah merubahmu menjadi lelaki tak tahu malu, hah!?" ucap Tengku Zara penuh hinaan. "Kau pikir aku tidak tahu apa yang sering kau bicarakan dengan simpananmu itu tentangku?"


Wajah Faisal langsung pias ketika Tengku Zara mengucapkan hal itu. Benaknya mengingat kembali ucapan yang pernah ia bahas bersama Intan. Tiba-tiba jantungnya berdetak hebat, ketika potongan-potongan percakapannya dengan Intan berputar bagai roda dikepalanya.


Lelaki itu berdiri dari posisinya, ia mendekat kembali pada sang istri. "Maafkan aku sayang" ucapnya mengiba dengan air mata yang menganak di sela matanya.


Tengku Zara menatap kedua bola mata itu dengan dingin. "Aku tak menyangka, selama ini suamiku sendiri ternyata sedang menunggu kematianku. Kau ingin menikahi wanita hina itu, setelah aku mati dan meninggalkan hartaku padamu. Benar bukan?" ucapnya sinis. "Kau pikir kau siapa Faisal? Orang-orang yang aku pekerjakan untukmu, mereka tidak akan tinggal diam melihat kebusukanmu dibelakangku"


Faisal kembali ambruk. Bersimpuh dengan lutut gemetaran. Selesai sudah nasibnya. Tamat sudah kehidupannya. Ia telah membuat wanita yang lembut ini kecewa dan memperlihatkan sisi kejamnya. Wanita lembut sekalipun ternyata bisa sangat kasar dan lebih kejam ketika ia merasa disakiti. Faisal melupakan hal itu. Lelaki itu terlena dengan apa yang dilimpahkan kepadanya. Harta dan tahta yang ia dapat dari kebaikan hati sang istri, telah menjerumuskannya pada lubang perzinahan.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara pintu ruangan diketuk dari luar. Dato' Sri menyuruh asisten wanita yang berdiri tegap di samping pintu untuk membukanya.

__ADS_1


"Dato' Sri, utusan dari Indonesia sudah pergi. Wanita itu terus mengamuk. Apa yang harus kita lakukan?" ucap seorang pengawal dengan wajah tertunduk sopan.


Pandangan dingin Tengku Zara tertuju pada wajah suaminya, tanpa menoleh sedikitpun dari wajah itu, wanita melayu itu memberi perintah. "Lakukan apa yang ingin kalian lakukan padanya, kalian bisa bersenang-senang dengan tubuhnya sebelum kalian habisi dia" ucapnya tanpa perasaan.


Rasa sakit yang teramat dalam akibat pengkhianatan, membuat Tengku Zara melupakan sejenak sifat keibuan dan kelembutan yang melekat pada dirinya. Wanita perusak itu harus mendapatkan pembalasan setimpal atas rasa sakit yang ia torehkan dalam hati seorang istri. Seringai tipis melengkung di bibirnya, ketika ia melihat wajah suaminya yang semakin pucat mendengar apa yang akan menimpa selingkuhannya.


"Baik Dato', kami akan lakukan sekarang juga" ujar pengawal itu sebelum ia mengundurkan diri dari ruangan itu.


"Sayang....." Faisal tak tahu harus berkata apa lagi.


Tengku Zara kembali menjalankan kursi rodanya. Kali ini ia mendekati meja, dan mengambil botol arsenik dengan kadar tinggi diatasnya. Setelah mengambil benda itu, ia kembali menghampiri suaminya. Botol racun itu ia genggamkan di tangan Faisal. Sementara wajah Faisal sudah tertunduk lemah mengerti apa yang diinginkan oleh istrinya.


"Pilihanmu hanya dua. Mati dengan kehinaan atau mati dengan membawa nama baik. Racun ini akan bekerja cepat menghentikan denyut jantungmu. Aku akan mengatakan kau terkena serangan jantung, tidak akan ada yang tahu tentang kebusukan apa yang mengakibatkan kau mati" ungkap Tengku Zara.


"Aku menyesal sayang. Aku sungguh menyesal. Apa kau tidak melihat kesungguhanku? Apa kau akan sekejam ini pada suamimu sendiri?" Faisal menatap tajam pada bola mata istrinya.


"Aku tidak ingin mendengar apapun lagi dari mulut pengkhianat sepertimu. Kau harus mati, itu adalah ketetapanku padamu. Tidak akan berubah meski kau menangis darah" ujar Tengku Zara yang selalu teringat dengan kenyataan bahwa Faisal sedang menunggu kematiannya untuk bisa menikahi wanitanya.


"Aku akan pergi, para pengawalku akan menunggumu diluar. Jika racun itu tidak kau minum. Mereka akan memaksamu meminumnya dengan cara kasar" ucap Tengku Zara dengan sorot mata kelam.


Asisten wanitanya segera menghampiri Tengku Zara, ia langsung memposisikan diri dibelakang kursi roda dan membawa keluar majikannya dari ruangan itu.


"ZARA!!" seru Faisal ketika istrinya sudah berada diambang pintu. "Salamkan permintaan maafku pada anak-anak kita" ucapnya lirih sebelum menenggak langsung botol berisi racun itu.


Air mata Tengku Zara menetes perlahan tak kala melihat tubuh suaminya mulai limbung dan rubuh di lantai. Tubuh itu kaku sementara bola matanya memerah menatap dari kejauhan pada wajah istrinya. Ada kilatan rasa sesal yang dalam dari mata itu. Tubuh Tengku Zara bergetar melihat mata suaminya perlahan mulai merapat, ia mengusap air matanya dengan kasar sebelum memerintahkan pada asistennya untuk membawanya pergi dari mayat sang suami yang terbujur kaku.


"Kau sendiri yang memilih jalan salah, Faisal" gumamnya dengan telapak tangan menutup rapat mulutnya.


🍁🍁🍁


Sinar mentari pagi tersaring melalui tirai jendela ruangan itu. Tiga hari berlalu membuat kondisi kesehatan Laura semakin membaik. Aroma obat-obatan khas rumah sakit menjadi aroma terapi baginya. Wanita itu baru saja terbangun dari tidurnya. Wajah cantiknya langsung disapa oleh hangat mentari yang masuk dicelah jendela.


Pucuk-pucuk hijau pepohonan menyejukkan pandangannya. Dahinya berkerut ketika menelisik ruangan, mencari sang kekasih yang belum ia temukan keberadaannya.


Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka. Senyum hangat seseorang menyegarkan perasaannya. "Kau sudah bangun sayang?" tanya Sabiel berjalan menghampiri istrinya.


Laura mengangguk sambil merentangkan tangannya. Sabiel tersenyum semakin lebar, Ia memeluk istrinya dengan hangat. Mencium puncak kepala Laura beberapa kali.


"Kau lapar? Aku membawakan pesananmu semalam" ucap Sabiel mengelus mesra punggung istrinya.


Laura melepaskan pelukannya, matanya langsung tertuju pada bungkusan yang Sabiel letakan di meja nakas. Sabiel mengambil bungkusan itu, membukanya dihadapan Laura yang menanti dengan tak sabar.

__ADS_1


Empat tangkup sandwich ayam, jus tomat dan sup jagung buatan Sabiel terhidang di depan Laura. Sabiel meletakan semua makanan itu di meja lipat. Laura tersenyum puas melihat masakan suaminya yang sejak semalam ia minta, tersaji dengan menggiurkan.


"Buka mulutmu" ujar Sabiel menyodorkan sandwich di depan mulut istrinya.


Laura membuka mulutnya dan menggigit sandwich itu, "Sayang, bagaimana dengan ayah? Apa dia masih marah padamu?" tanya Laura khawatir.


Benak Sabiel langsung berkelana pada saat kedatangan keluarga Laura beberapa hari yang lalu. Pipinya masih mengingat tamparan keras yang ia dapat dari ayah Laura. Lelaki tua itu meskipun dalam kondisi sakit, ternyata masih menyimpan kekuatan yang cukup besar untuk membuat gendang telinga Sabiel berdenging akibat tamparan kerasnya.


Laura juga mengingat kembali kemarahan ayahnya ketika mengetahui fakta yang sebenarnya terjadi. Pernikahannya dan juga keguguran yang Laura alami, berhasil membuat ayahnya murka. Ayah Laura bahkan menangis hebat ketika melihat anak dan menantunya hanya bisa tertunduk diam.


Ini sudah dua hari berlalu dari kedatangan ayah beserta paman bibinya. Mereka kini menginap di apartemen Sabiel dan Laura. Setiap jam besuk mereka akan datang menengok Laura. Meskipun kemarahan masih jelas terlihat dari gestur ayah Laura, namun lelaki lanjut usia itu tidak bisa untukbtidak peduli pada anak semata wayangnya.


"Aku tidak tahu sayang, tapi tadi pagi-pagi sekali aku bertemu dengan ayah saat aku membuatkanmu makanan ini. Beliau hanya menanyakan jadwal jam besuk" sahut Sabiel sembari menyuapi Laura kembali.


Laura terdiam sejenak, "Semua akan baik-baik saja. Ayah bukan orang yang bisa berlama-lama menyimpan amarah. Dia pasti akan menerimamu segera" ucap Laura menenangkan suaminya dan dirinya sendiri.


"Aku harap begitu" Sabiel berharap.


Disela kesibukannya menyuapi Laura, mata Sabiel berpencar mencari remote tv. Setelah melihat benda itu di terselip di sofa. Lelaki itu beranjak dari ranjang, mengambil remote dan langsung menyalakan tv. Sementara Laura sedang menikmati sop jagung hangatnya.


"Kapan aku di izinkan pulang, sayang?" tanya Laura menatap Sabiel yang berjalan menghampirinya.


"Pagi hari ini kepolisian Malaysia dan Singapura disibukkan oleh penemuan mayat seorang wanita di jembatan tuas second link. Mayat dengan Identitas Intan yang merupakan warga negara Indonesia ini ditemukan tanpa busana dengan luka lebam hampir disekujur tubuh, terutama bagian kepala. Pemeriksaan sementara dari pihak forensik mengatakan bahwa wanita itu juga mengalami kekerasan seksual, hal itu diperkuat dengan temuan kerusakan pada organ vitalnya. Salah satu tim forensik berspekulasi bahwa wanita itu telah diperkosa berkali-kali. Reporter kami melaporkan dari lokasi Jembatan penghubung dua negera yang mulai ramai oleh pasukan polisi dari pihak Malaysia maupun Singapura, kedua kubu ini mengklaim bahwa merekalah yang berhak menangani kasus penemuan mayat wanita tersebut. Hal itu dikarenakan tubuh mayat wanita bernama Intan ditemukan melintang tepat di garis tengah pembatas jembatan......"


Kedua pasang mata di ruangan itu terkesiap mendengar berita pagi dari negara tetangga tersebut. Laura menatap ngeri pada suaminya. Wanita itu bahkan tak sanggup melanjutkan sarapannya.


"Sabiel..." ucap Laura terkejut.


Sabiel menggenggam jemari mungil istrinya, "Intan berselingkuh dengan suami seorang bangsawan Malaysia. Sehari setelah ia meninggalkan Indonesia, pihak kerajaan meringkusnya beserta lelaki itu. Mereka menghukum keduanya di sana" ungkap Sabiel membuat Laura bergidik ngeri.


"Aku tidak menyangka akhir hidupnya akan sangat mengerikan Sabiel" ucapnya masih dengan mata terpaku pada layar tv.


Sabiel hanya diam mendengarkan, lelaki itu lebih bersikap tenang dari pada istrinya, "Kau sendiri yang memilih mati mengenaskan, Intan" gumamnya dalam hati.


Tak berselang lama, berita penemuan mayat Intan padam. Pewarta kini menayangkan kilasan keluarga kerajaan yang ditemukan meninggal karena serangan jantung. Seorang bangsawan wanita berkursi roda terlihat menyembunyikan kesedihannya di hadapan para awak media, menceritakan kronologis penemuan jasad suaminya di kamar mandi.


Sabiel dan Laura saling berpandangan, "Dia istri dari selingkuhan Intan" ucap Sabiel menjawab segala tanya yang tersirat dari bola mata coklat Laura.


Tidak ada yang bisa Laura katakan mengenai kedua berita mengejutkan di pagi hari itu. Sabiel melihat kegamangan di raut wajah istrinya, ia bergerak ke arah samping Laura dan memeluknya erat. Kematian Intan menjadi akhir dari semua drama menyakitkan dalam hidupnya. Kini ia bisa hidup dengan tenang bersama Laura, sambil memikirkan untuk kembali berusaha membuat Laura hamil.


Bagaimana pun Kehilangan hanya bisa disembuhkan oleh kehadiran. Maka Sabiel bertekad untuk merayu Tuhan agar Ia berkenan menghadirkan jabang bayi yang lain di rahim istrinya. Setidaknya, sebelum waktu kembali merampas kebahagiaannya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2