
Keesokkan paginya Laura bangun seperti biasa. Wanita itu langsung membersihkan dirinya dan berjalan keluar kamar setelah ia mencium kening suaminya yang masih terlelap.
Laura berjalan menuju dapur, matanya memicing melihat apa yang terjadi disana. Intan tampak sibuk membuat masakan, mata Laura berkeliling mencari keberadaan dua pembantu yang selalu bersamanya ketika membuat sarapan. Tapi hingga ia mendekati dapur itu, kedua pembantunya tetap tak terlihat.
Intan menengok pada Laura yang sudah berdiri di meja pantry, wanita itu tersenyum lebar tanpa menghentikan kegiatannya.
"Aku akan membuat sarapan hari ini" ucapnya santai.
Intan melihat sorot mata Laura yang seperti mencari seseorang. "Aku menyuruh mereka pergi. Aku ingin membuat sarapan kita sendiri" sambungnya mengerti apa yang dicari Laura.
Mata Laura melihat isi kulkas yang berantakan di bawah dan meja pantry, dia juga melirik menu sarapan lengkap yang Intan tengah buat.
"Aku akan membuat nasi goreng kesukaan Sabiel, dulu Sabiel suka sekali jika aku membuatkan ini, dia akan makan lahap sampai kekenyangan" ucapnya tersipu mengingat masa diawal pernikahannya.
Laura hanya diam. Benaknya mempertanyakan ketidaktahuan Intan akan menu sarapan yang biasa Sabiel makan saat ini. Intan bahkan tidak tahu jika kesukaan suaminya telah lama berubah.
"Tapi Sa... "
"Tenang saja, aku hafal apa yang suamiku sukai" potong Intan cepat. "Maaf, suami kita maksudku" ia meralatnya sembari tersenyum.
Laura hanya diam melihat kesibukan Intan disana, dia tak menanggapi apapun ucapan wanita itu. Benaknya malah mengingat apa yang semalam Sabiel ceritakan tentang kenyataan perselingkuhan Intan di Singapura.
Laura berpikir, jika benar apa yang Sabiel ceritakan tentang perselingkuhan Intan. Apakah wanita itu tidak terlalu serakah? dengan memaksa Sabiel untuk tidak menceraikannya sementara dia asik menjalin hubungan dengan lelaki lain. Tiba-tiba Laura melihat Intan dengan pandangan jijik. Bagaimana bisa wanita itu bersikap seolah tidak melakukan kesalahan apapun pada suaminya?
Semalam juga Sabiel menjelaskan bahwa ia akan mengikuti permainan Intan sekaligus membuatnya segera kembali ke Singapura. Laura tersenyum tipis ketika benaknya mengingat raut wajah cemas Sabiel yang mewanti-wantinya agar tidak cemburu ketika Sabiel bersikap manis atau menanggapi sikap Intan padanya.
"Oke, pertarungan dimulai" gumam Laura dalam hati sembari membiarkan Intan menyelesaikan masakannya.
Laura mulai beranjak dari tempatnya berdiri. dia berjalan menghampiri kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan masakan. Hari ini ia akan membuat sandwich dada ayam dengan jus jeruk.
"Kau membuat sarapan juga?" tanya Intan melirik kesibukan Laura di sebelahnya.
"Ya. Aku tak biasa makan nasi di awal hari. Jadi aku buat sendiri sarapanku" jawabnya beralasan. Sebenarnya Laura membuat sandwich itu untuk Sabiel. Karena ia yakin Sabiel pasti tidak akan memakan masakan Intan.
"Ooh maaf. Aku tak tahu" ucap Intan sambil menyembunyikan senyum girangnya. Ia berpikir akan membuat Laura cemburu dengan memperlihatkan keromantisannya bersama Sabiel saat sarapan nanti.
Tepat saat menu sarapan terhidang di meja, Sabiel melangkah santai menuruni tangga. Lelaki itu melihat kedua istrinya sedang duduk menanti kehadirannya. Intan langsung berdiri, tersenyum senang melihat suaminya mendekati meja. Sementara Laura tampak santai melihat Sabiel berjalan semakin dekat.
"Sayang, aku membuatkanmu sarapan" ucap Intan antusias. Matanya mengikuti Sabiel yang mulai duduk di kursi paling ujung.
Sabiel melihat apa yang tersaji di atas meja.
Nasi goreng, ayam kecap, telur dadar, ditambah segelas teh hangat. Sementara itu, matanya melihat piring yang berada di depan Laura berisi empat potong sandwich dan jus jeruk. Mata Sabiel melihat kedua istrinya.
Intan tersenyum lebar siap menghidangkan menu sarapan buatannya. Sementara Laura terlihat mulai menggigit sandwich buatannya dengan gerakan santai. Ketika tatapan mereka bertemu, Laura mengangkat bahunya seolah tak peduli dengan apa yang terjadi di meja makan. Sabiel mendelik kesal, raut wajah Laura seperti sedang meledeknya.
"Kau ingin makan dengan apa sayang?" tanya Intan tak memperhatikan ekspresi keengganan di wajah Sabiel. Wanita itu sudah menyendok nasi goreng pada piring Sabiel yang ia pegang.
"Aku tidak makan nasi di awal hari Intan" ucap Sabiel tak peduli.
Intan terdiam. Matanya menatap Sabiel tak percaya. "Aku sudah lama berhenti sarapan nasi. Apa kau tidak menyadari?" tanya Sabiel membuat Intan malu akan ketidaktahuannya.
__ADS_1
Matanya menatap Laura yang sedang mengunyah sandwich-nya dengan nikmat. "Kau tidak memberitahuku, Laura" matanya mendelik tak suka.
Intan melihat ada tiga potong sandwich di piring Laura, ia menyangka bahwa Laura membuatnya lebih untuk berbagi bersama Sabiel.
"Aku akan mengatakannya tadi, tapi kau menghentikan ucapanku" bela Laura.
Sementara itu, dengan santai Sabiel mengambil sandwich yang berada di piring Laura. Memakannya penuh nikmat tanpa peduli Intan meletakkan piring ditangannya dengan kasar pada meja.
Sabiel melirik sejenak, sambil mulutnya tak berhenti mengunyah sandwich Laura. "Lain kali kau dengarkan dulu perkataan orang lain" ucapnya tak berperasaan.
Intan mengeratkan telapak tangannya di bawah meja. Menatap dengan murka keromantisan Sabiel dan Laura dihadapannya. Lelaki itu bahkan tidak sungkan memakan bekas gigitan Laura, dia juga meminum jus jeruk di bagian ujung sesap yang sama.
"Jam berapa kau akan kuliah hari ini?" tanya Sabiel pada Laura yang sudah menghentikan sarapannya dan membiarkan Sabiel menghabiskan satu potong sandwich yang tersisa di piring.
"Jam sepuluh" jawabnya singkat.
"Berarti aku akan berangkat lebih dulu, ada rapat acara tahunan hari ini" ucap Sabiel.
"Acara apa?" tanya Laura yang menyodorkan jus jeruknya untuk diminum Sabiel.
Mereka asik berbincang bersama, tanpa menghiraukan wajah murka Intan yang menatap keduanya sembari menjejali mulutnya dengan nasi goreng buatannya.
"Dies Natalies. Ulang tahun jurusan" jawab Sabiel. "Nanti aku akan suruh Tomi untuk mengantarmu"
"Tidak usah Sabiel. Aku bisa berangkat sendiri" ujar Laura.
"Tidak. Kau tidak boleh berangkat sendiri" timpal Sabiel tegas.
"Tidak ada tapi sayang, aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu" ucapnya sembari mengusap pipi Laura.
Di ujung kursi seberang sana. Intan berdecih dalam hati. Sikap Sabiel membuatnya ingin melemparkan semua masakan yang ia buat ke wajah Laura. Selama masa pernikahannya, Sabiel belum pernah seprotektif itu pada dirinya. Intan merasa kesal karena keberadaan Laura benar-benar memperjelas bahwa hati Sabiel sudah sepenuhnya terisi oleh wanita itu.
🍁🍁🍁
Laura hendak kembali ke kamarnya setelah ia membersihkan taman belakang yang akan ia gunakan untuk bercocok tanam. Ketika langkahnya mulai menaiki tangga, ekor matanya melirik Intan yang tampak bersantai di ruang keluarga, tangannya sibuk memoles kutex merah di kuku jemarinya.
"Jam berapa kau pergi?" tanya Intan tanpa menoleh pada Laura yang berhenti melangkah.
"Sebentar lagi" jawabnya singkat hendak melanjutkan langkahnya.
"Aku heran, wanita cantik dan muda sepertimu mengapa mau menjadi istri siri suami orang lain" ucap Intan santai. Bola matanya melirik Laura yang membalikkan badan menghadapnya. "Apa dunia ini kehabisan lelaki single?" sambungnya dengan nada suara menghina.
"Cih! Akhirnya kau membuka topengmu, Intan" gumam Laura menyunggingkan sedikit bibirnya.
"Aku juga heran. Mengapa Sabiel mau mengambil resiko yang besar dengan menikahiku. Apa mungkin dunia sedang kehabisan istri baik?" tanya Laura sinis.
"Aku mungkin istri yang tidak baik. Tapi setidaknya aku tidak pernah bersikap memalukan dengan merebut suami wanita lain" balas Intan tak kalah sengit. Wanita itu meniupi kutex yang baru ia oles di kukunya.
Laura tersenyum mengejek, "Lantas apa bedanya? Istri tidak baik dengan wanita yang merebut suami orang. Bukankah sama saja?!" Laura menyilangkan tangannya di dada, "Kau menyakiti hati suamimu dengan sikapmu, sementara aku hanya membalaskan luka seorang suami yang merasa terabaikan haknya. Impas bukan?!" timpal Laura.
Intan menoleh dengan tatapan murka. Dan Laura puas melihatnya. Laura memandang penuh antisipasi ketika Intan berdiri dan berjalan menghampirinya di tangga.
__ADS_1
"Kita jelas berbeda. Aku istri sahnya! Hukum agama dan negara mengakuiku. Sementara kau, hanya istri siri yang bahkan tak banyak orang ketahui keberadaanya. Jadi jangan pernah menyamakanku denganmu" ucap Intan penuh penekanan.
Telak! Tiba-tiba ucapan Intan menusuk hatinya. Dadanya terasa nyeri oleh kenyataan pahit itu lagi. Dengan sakit yang mulai berubah menjadi lebam di dadanya, sejenak Laura tak mampu membalas ucapan pedas Intan. Mulutnya keluh untuk mengeluarkan sanggahan. Namun Laura harus menekan rasa sakit itu. Dan Ia berhasil menyembunyikannya dari wanita yang tengah menyeringai di hadapannya. Dia tidak akan membiarkan Intan membuatnya lemah dengan terus menyerang statusnya.
"Bagiku. Sikap yang Sabiel tunjukan selama ini kepadaku. Perasaan cintanya, kasih sayangnya. Sudah cukup menutupi status siri yang tersemat dalam diriku. Karena aku sadar, cinta tidak pernah bertumpu pada status" ucap Laura tenang, "Lagipula Sabiel berniat tetap bercerai denganmu, Intan. Dia mengatakan itu semalam saat memelukku sampai tertidur" ujar Laura memprovokasi Intan.
Intan geram menatap penuh emosi pada Laura. Tangannya terkepal erat di kedua sisi. Tiba-tiba tangannya mendorong bahu Laura. "Semua ini karena kau, JALANG!" bentaknya tepat di muka Laura.
Laura mencoba menahan dorongan itu. Kondisinya yang berada di tangga membuatnya harus melirik berkali-kali ke arah belakang. Tangannya langsung mencengkram lengan Intan, ketika ia melihat Intan hendak mendorongnya lagi.
Laura menyeringai dengan tatapan mengerikan, melihat bola mata Intan yang terbelalak melihat keberaniannya.
"Kenapa kau menyalahkanku?! Sadar Intan, Sabiel menikahiku itu semua justru karenamu. Karena kau dan ketidakbecusanmu mengurusnya sebagai istri. Lalu sekarang kau malah melimpahkan semua kesalahan padaku?!" Laura memicingkan matanya, "Dimana letak urat malumu? kau menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kau buat sendiri" Laura menghempaskan lengan Intan kasar.
Tatapan Laura tajam menantang Intan. Dia tidak terima dijadikan kambing hitam atas kondisi mereka saat ini. Tidak tahukah Intan? Seberapa kerasnya Laura menolak Sabiel saat dahulu. Seberapa sakitnya hati Laura menyandang predikat istri siri ditengah hubungan asmaranya yang baru seumur jagung. Lantas, dengan membabi buta, wanita angkuh ini menyalahkannya?! Cih! Omong kosong!
"Kau... " Intan menggeram murka menatap Laura. Namun tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Memecah pertarungan sengit mereka.
Intan merogoh ponselnya, matanya berubah gugup melihat nomor asing yang tertera di layarnya. Tangannya bergetar halus menyembunyikan ponsel dalam dekap dadanya, agar Laura yang sedang berhadapan dengannya tak melihat. Namun sayang, apa yang mendadak terjadi pada Intan tak lepas dari pengawasan Laura. Dengan wajah yang dibuat datar, Laura penasaran siapa yang menghubungi Intan.
"Urusanku denganmu belum selesai Laura!" geram Intan yang kemudian langsung melangkah cepat meninggalkan Laura.
Mata Laura mengikuti derap kaki Intan yang terlihat janggal baginya. Ia menatap punggung Intan yang tenggelam dibalik pintu kamarnya. Laura tampak berpikir, matanya memicing penuh curiga.
"Siapa yang menghubunginya, sampai raut wajahnya langsung berubah seperti itu?" gumamnya seorang diri.
🍁🍁🍁
"Aku sudah katakan, jangan menghubungiku ketika aku sedang di Indonesia, Dato" ucap Intan menahan kekesalannya.
Lelaki tua diseberang sana malah terkekeh mendengar nada kekesalan yang coba ditutupi Intan dengan percuma.
"Santailah, aku hanya ingin mengingatkan proyek kita harus segera disiapkan. Kau terlalu lama disana, sayang" ucap Dato' santai.
Intan menatap langit-langit kamarnya, memang benar apa yang diucapkan lelaki itu. Semula dia hanya akan berada di Indonesia sekitar seminggu. Namun fakta pernikahan siri suaminya, menahannya untuk segera kembali ke Singapura. Wanita itu menghela nafasnya kasar.
"Beri aku tenggat waktu lagi. Urusanku disini belum selesai Dato'. Aku harap kau mengerti" ucapnya memohon.
"Aku bisa mengerti urusanmu disana, tapi bagaimana dengan pemilik saham lainnya. Ini proyek besar Intan. Profesionalisme-mu dipertaruhkan" ujar Dato' lugas. "Lagipula, apa kau tidak merindukan keperkasaanku disini?!" tiba-tiba suara itu terdengar menggoda.
Intan menyeringai memahami maksud lelaki tua itu. "Maka berilah aku tambahan waktu, sebelum aku tuntaskan rinduku pada keperkasaanmu, Dato' sayang" timpalnya, "Kau pasti merindukan kehangatanku pula bukan?" ujar Intan menggoda.
Diseberang sana, lelaki tua itu memejamkan matanya. Benaknya membayangkan sentuhan jemari Intan disekujur tubuhnya yang mulai kendur. Lidah Intan yang basah menggoda, seolah menari-nari menjalari tubuhnya. Aaahh, tua bangka itu berkhayal erotis di pagi hari. Bagian bawahnya tegang hanya karena mendengar Intan yang memberikan suara desahan menggoda di gendang telinganya.
"Lekaslah kembali, aku butuh 'servismu' disini" ucapnya parau.
Intan tersenyum puas. Matanya berkilat oleh perasaan bangga karena merasa diinginkan.
"Tunggu aku disana. Setelah urusanku selesai. Aku akan segera menghubungimu" ucapnya sebelum memberikan kecupan dalam sebagai penutup panggilan dari selingkuhannya.
🍁🍁🍁
__ADS_1