Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 95


__ADS_3

Mata tajam Sabiel masih tak bisa lepas dari Laura yang tengah berjibaku melepas gaun pengantinnya. Laura membalikkan badan saat suaminya berada di belakangnya. Lelaki itu mengusap perut Laura dan menyematkan kecupan disana.


"Sabiel"


"Hm?"


Sabiel menyusuri kulit Laura dengan jemarinya. Laura sepenuhnya hafal tanda-tanda itu. Ia membiarkan Sabiel menurunkan gaunnya dengan hati-hati. Lelaki itu membelai pundak mulus Laura dan terpaku ketika dua bukit kembar istrinya terpampang dihadapannya.


"Sayang, malam ini bisa kan?" tanya Sabiel menelan kasar ludahnya dengan mata tak beralih dari dua bukit Laura.


Blush! Pipi Laura merona. Mata Sabiel yang tertuju pada buah dadanya membuat Laura malu, hingga ia ingin sekali menutupi dadanya tersebut.


"Sayang...bisa kan?" tanyanya lagi sembari terus memandangi buah dada Laura yang tampak lebih menggoda daripada sebelumnya.


"Jangan melihatku seperti itu! Aku malu" tukas Laura merasa risih dengan tatapan suaminya.


Sabiel menyeringai, ia memegangi tengkuk Laura dan menariknya untuk mencium bibir manis itu. Laura yang tak siap langsung menarik diri, sementara desah kepuasan keluar dari mulut Sabiel.


"Kau belum menjawab pertanyaanku" ujar Sabiel membelai sisi wajah Laura.


Laura merasa dirinya sangat aneh malam itu. Biasanya ia akan langsung menjawab tawaran vulgar Sabiel dengan sikapnya. Namun entah mengapa, malam itu ia merasa seperti pengantin baru yang masih malu-malu untuk menyanggupi permintaan suaminya. Ia tidak pernah segugup ini menghadapi Sabiel.


Mata Sabiel tampak tak sabar menunggu jawaban istrinya. Keterdiaman Laura memancing sikap dominan yang lama tak ia keluarkan. Dalam sekali hentakan, Sabiel membopong tubuh istrinya. Sabiel meletakkan tubuh Laura perlahan di tempat tidur. Kedua tangannya sibuk melepaskan gaun yang tadi belum sempurna ia lepas.


Perut buncit Laura membuatnya tersenyum lembut, dirabanya perlahan perut itu. Dirasakannya sesuatu yang menonjol di permukaan perut istrinya. Ia menduga mungkin itu adalah kepala bayinya, atau mungkin bokongnya. Membayangkan hal itu membuat Sabiel merasa gemas sendiri.


"Sabiel, apa tidak masalah kita meninggalkan pesta resepsi seperti ini?" tanya Laura.


Sabiel menyeringai mengingat aksi culik paksanya pada Laura beberapa saat yang lalu. Ditengah acara resepsi malam, ia menarik Laura untuk ikut dengannya keluar dari area pesta dan menyusup dari pintu rahasia untuk membawa Laura pergi ke sebuah hotel. Dia tidak bisa membayangkan reaksi ayah mertuanya nanti saat tahu bahwa anak dan menantunya sudah lebih dulu mencuri start.


"Tidak apa-apa, ada Tomi disana. Dia yang akan membereskan semuanya" ucap Sabiel menenangkan kegusaran istrinya.


"Tapi..."


Belum sempat Laura menyelesaikan ucapannya, lum*tan kuat dan dalam Sabiel menghentikan semuanya. Lelaki itu mulai mencumbui istrinya. Sepasang kaki Laura langsung dibuatnya menganga dan tubuhnya masuk di antara celah itu.


Laura menggeliat seperti ulat yang kepanasan ketika Sabiel menyusuri leher, tulang selangka dan berhenti di dadanya. Tepat diantara kedua bukit yang mencuat itu, ia ciptakan sebuah noda kemerahan.


Dalam bayangan malam yang semakin larut, suara desahan tertahan memecah kesunyian malam. Memasung gairah Sabiel dalam sebuah imajinasi vulgar akan persenggamaan yang sakral. Laura seperti budak tawanan, merintih oleh nikmat yang Sabiel suguhkan padanya.


"Ahh" wanita itu mendesah sambil melentikkan tubuhnya.


Sabiel tak bisa berhenti memuja Laura. Dia merasa setiap pori-pori Laura mengeluarkan sensani manis yang bisa ia cecap dan hirup sekaligus. Oh Dewa Zeus yang agung, Sabiel tersungkur dalam jurang kenikmatan dunia. Lelaki itu tak habis-habisnya menjejaki tubuh Laura dengan gerakan bibir dan lidah yang erotis.


Seketika Laura merasa jatuh ke dalam lubang tanah. Nafasnya terengah disela tumpahan birahi Sabiel yang membara. Sapuan lidah lelaki itu di bawah sana, membuatnya menggigit bibir dengan penuh nikmat. Ah! Laura kehabisan akal. Jiwanya melayang membersamai kekasihnya di langit surga yang tak berujung.


Sabiel benar-benar lelaki berpengalaman dalam hal menjamah. Ia berhasil membuat Laura tergelincir oleh kelihaiannya menyentuh titik-titik kritis dalam tubuhnya. Tanpa sadar, Laura meremas rambut suaminya. Lelaki itu menengadah menatap wajahnya yang berpendar oleh gairah.


"Kau membuatku gila, sayang"

__ADS_1


Oh ya Tuhan! Laura menyukai bagaimana lelakinya kelimpungan ketika bercinta dengannya. Nada suara serak nan seksi itu membuat Laura tak kuasa ingin mereguk segala kenikmatan yang bisa ia berikan padanya.


"Jangan berhenti sayang..aku mohon" rintih Laura menerbitkan selaksa gairah yang semakin memuncak.


"Bagaimana aku bisa berhenti..." Sabiel mencium dada Laura. "Sedang aku sendiri tidak ingin berhenti" sambungnya.


"Ah"


Desah Laura mulai terdengar kembali ketika Sabiel untuk kesekian kalinya mencumbu tubuhnya. Bibir ranum Laura merenggang merasakan kecupan bertubi Sabiel di perutnya. Urat-urat Sabiel yang matang membuat Laura basah kuyup dihujani sensasi menyenangkan yang tak terperi.


Desahan bercampur geraman akhirnya mengoyak langit surga. Birahi Sabiel tertumpah ruah pada bagian terdalam tubuh Laura. Memunculkan rasa hangat ditengah tubuh keduanya yang bergetar hebat. Sabiel mengerang, menangkupkan tubuhnya pada dada tel*njang Laura yang basah. Ia terpejam penuh kepuasan, disela keringat yang lengket, bisikan lirihnya terdengar menggelitik, "Laura, tubuhmu membuatku kehausan. Tapi aku menginginkanmu lagi"


🍁🍁🍁


Satu tahun berselang.


Semenjak Secret Affair rampung dan menjadi novel. Laura mulai disibukkan dengan berbagai acara terkait promosi di beberapa tempat. Sambutan masyarakat pada novel perdananya cukup memuaskan. Hal itu menjadi suntikan semangat untuk dirinya agar terus berkarya.


Laura kini tengah duduk di sebuah kursi di hadapan puluhan orang yang datang pada acara seminar penulis muda yang dirinya sendiri menjadi narasumber acara tersebut.


"Apa benar novel pertama anda ini, adalah kisah nyata kehidupan anda sendiri?" tanya seorang audiens pada Laura.


Laura tersenyum sebelum menjawab, seorang moderator memberinya microphone. "Sebagian besar memang terinspirasi dari pengalaman pribadi" jawabnya mengundang bisikan-bisikan diantara audiens yang tampak tertarik pada Secret Affair.


Sebagian dari para pembacanya memang sering menanyakan hal yang sama. Mereka begitu penasaran akan kehidupan seorang mahasiswi yang terjerat dalam dunia romantisme seorang dosen. Novel Laura yang mengisahkan perjalanan hidupnya mengarungi gejolak pasang surut kehidupan, dengan semua kejadian menyenangkan atau tidak, tergambar dalam lembaran kertas bersampul biru laut dengan cover seorang gadis berpakaian pelajar yang terkurung didalam sangkar berbentuk hati tersebut.


Laura tersenyum geli saat mengingat bagaimana Sabiel merajuk meminta cover novelnya diganti. Lelaki itu mengatakan bahwa Laura terkesan menggambarkan dirinya menjadi tokoh lelaki pemaksa yang tergila-gila pada seorang murid, seperti seorang pedofilia menyedihkan.


Laura tampak berpikir sejenak, "Tokoh utama dalam novel itu, gabungan dari dua tokoh lelaki dalam kehidupan nyata saya. Kalian bisa menikmati sisi melankolis dan sisi pragmatis pada satu tokoh tersebut"


Laura mengedarkan pandangannya. Di depannya tampak para audiens menangguk penuh minat pada Secret Affair yang mereka genggam masing-masing. Rasa bahagia berada lekat dalam hatinya, novel itu bukan sekedar novel cinta picisan yang hanya terpaku pada romantisme para tokoh didalamnya. Lebih jauh dari itu, Secret Affair menjadi saksi bisu akan sebuah makna hidup yang Laura jalani. Pada ratusan lembar tulisannya, sang penulis menumpahkan semua penghayatannya atas takdir Tuhan yang ia yakini akan selalu menjadi pilihan terbaik.


Tuhan yang Maha Kuasa, dan takdir yang penuh misteri. Adalah kesatuan yang akan selalu manusia pahami sebagai bentuk rasa cinta yang besar dari Sang Pencipta. Laura tidak akan pernah tahu jalan hidupnya akan berakhir indah seperti saat ini, padahal jika ia mengingat bagaimana ia membenci suaminya dahulu. Rasanya tidak mungkin kebahagiaan ini dapat ia rasakan. Pada titik itu, Laura tersadar oleh sesuatu yang sempat luput dari benaknya. Ternyata benar apa yang Tuhan katakan dalam firmanNya, bahwa sesuatu yang kau sukai belum tentu baik untukmu. Dan sesuatu yang kau benci, belum tentu juga buruk untukmu. Semua tergantung pada caramu memandang dan menerima. Dan Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk setiap hambaNya.


Ditengah tanya jawab yang hampir habis itu, tiba-tiba wajah Laura berpendar cerah. Senyumnya merekah sempurna ketika ia melihat seorang lelaki tampan berdiri di ambang pintu dengan seorang bayi cantik dalam gendongannya. Tatapan Laura yang tertuju pada lelaki itu membuat manusia lain dalam ruangan mengikuti kemana tatapan sang penulis muda itu tertuju. Mereka menoleh pada sosok yang sama. Yang dengan pakaian santainya dan kacamata hitam bertengger di batang hidupnya, membuat para wanita terbius oleh kesan jantan yang manis.


"Apa belum selesai juga?" tanya lelaki itu.


Laura terdiam sesaat, sebelum ia menoleh pada moderator yang tak lain adalah teman editornya. Setelah mendapat anggukan, Laura langsung melangkah membelah para audiens di jalan tengah bangku-bangku itu. Langkahnya menciptakan suara berirama dari high heels yang ia kenakan.


Suara itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar nyaring disela keheningan yang tercipta tiba-tiba. Sorot mata Laura semakin menyala saat ia memperhatikan tingkah bayi mungil yang tersenyum lebar melihat kedatangan ibunya. Mata legam itu mengingatkannya pada belahan jiwanya.


"Laura..." seru sang editor yang ternyata menyusulnya.


Laura menghentikan langkahnya sejenak, ia menoleh pada temannya yang berada dibelakang. "Ada apa?" tanyanya.


"Kita belum membahas lebih lanjut masalah royalti novelmu bersama penerbit" bisik editor.


"Tidak ada pembahasan apapun tentang itu denganku. Aku sudah memutuskan untuk menyumbangkan semua hasil penjualan novelku ke beberapa rumah sakit kanker. Kau bisa langsung mengurusnya" ungkap Laura. "Aku harus segera pergi, mereka sudah menungguku disana" sambungnya kemudian.

__ADS_1


Setelah editor itu mengangguk, Laura kembali melangkah. Oh Tuhan jangan ada lagi jeda. Laura ingin segera sampai pada mereka. Langkahnya menjadi sedikit lebih cepat ketika jaraknya dengan lelaki itu tinggal beberapa meter. Sementara itu, dari arah mimbar terdengar moderator tengah mengakhiri sesi tanya jawab.


"Kau terlalu lama" dengus lelaki tampan itu.


"Maafkan aku, aku tidak tahu audiens akan sebanyak ini" jawab Laura dengan tatapan menyesal. Ia langsung menyampirkan tasnya di pundak, dan mengambil alih bayi mungil kesayangannya dari gendongan lelaki itu.


Buk!


Pukulan di pundak belakang membuat lelaki tampan itu menoleh, diikuti oleh Laura yang menyeringai melihat raut wajah kesal dari lelaki tampan lainnya.


"Berhenti berperan menjadi suaminya. Dia istriku, bodoh!" tukas Sabiel yang memarahi Bimasakti.


Bimasakti terkekeh mendengar nada cemburu menggelikan ditelinganya. "Salahmu sendiri, siapa suruh tertidur saat menunggu istrimu selesai bekerja" Bimasakti membela diri. "Laura, anakmu hampir jatuh tadi saat suamimu tertidur sambil memangkunya" adu Bimasakti.


Laura langsung memasang raut wajah kesal yang pura-pura. "Ceroboh sekali ayahmu, nak" sindirnya menatap tajam Sabiel tengah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Efek semalam sayang. Kau tahu kan aku sering terbangun juga saat anak kita menangis di malam hari" Sabiel beralasan. Dalam hatinya dia memang menyesali kecerobohannya. Untung saja baby Syahila langsung digendong Bimasakti. Jika tidak, mungkin petaka baru akan segera merusak rencana liburan mereka.


"Alasan" cemooh Bimasakti.


"Kau... "


"Sudah! Berhenti bertengkar" Laura langsung memotong ucapan suaminya. "Ayo Syahila sayang, kita tinggalkan ayahmu dan pamanmu" Laura menatap gemas pada bayi cubby-nya. Ia melangkah melewati Sabiel dan Bimasakti.


"Thanks bro!" Sabiel merangkul pundak Bimasakti. "Untung saja kau ambil anakku, jika tidak..." ia bergidik ngeri membayangkan anaknya terjatuh dari pangkuan.


Bimasakti tersenyum hangat. "Jika tidak, Laura pasti menceraikanmu dan kembali padaku" sambung Bimasakti jahil.


Sabiel membulatkan matanya, "Sialan!" umpatnya sambil meninju pelan perut Bimasakti.


Keduanya terkekeh dalam candaan ringan. Terik mentari yang semakin membara, menciptakan kilauan indah pada lengkungan senyum keduanya. Mereka bergegas melangkah mengikuti Laura yang sudah berada jauh di depan. Sejak pengunduran dirinya menjadi dosen, Sabiel memfokuskan diri pada perusahaan orangtuanya. Dia mengembangkan perusahaan itu dengan mengajak Bimasakti bergabung bersamanya.


Keikutsertaan Bimasakti ditengah kesibukan Sabiel dan Tomi membangun kerajaan bisnisnya, membuat perusahan Sabiel berkembang pesat. Ia menciptakan beberapa brand sendiri, dan mulai memperluas cabang-cabang perusahaannya.


Hari ini mereka akan pergi berlibur ke pulau pribadi Sabiel, tempat dimana dulu Bimasakti mendapatkan perawatan atas semua jejak penyiksaan yang menimpanya. Perlahan Laura naik ke dalam mobil sejenis van yang Sabiel pesan khusus untuk berlibur. Matanya langsung terperangah melihat Gisel, Rena, Destri beserta keluarganya duduk manis menunggu kedatangannya.


"Hai semuanya, maaf membuat kalian menunggu" sapa Laura mendapat sambutan heboh dari sahabat-sahabatnya yang kesal menunggu.


Ayahnya langsung berdiri dan menggendong Syahila bersamanya. "Ya Tuhan, kau mewarisi kecantikan nenekmu sayang" gumamnya sambil berjalan kembali ke tempatnya.


"Semua sudah siap?!" Tomi berseru memecah kehebohan di bagian tengah van.


"Siaaaap! Let's Go, honey!" seru Destri mendapat sorakan dari yang lain.


Sementara di bagian depan, Tomi tampak malu sendiri mendapat godaan dari salah satu sahabat majikannya. Bimasakti yang duduk disebelahnya, menyikut lengan Tomi. "Kesempatan tidak datang dua kali" ucapnya jahil.


Di kursi lain, Sabiel menikmati waktu berduanya dengan Laura. Lelaki itu memaksa ingin memangku Laura dan memeluk erat istrinya yang tengah malu mendapat tatapan menggoda dari semua orang dalam van. "Aku mencintaimu, sayang. Dan itu akan selalu" bisik Sabiel yang tak peduli sorakan tertuju padanya.


TAMAT

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2