Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 64


__ADS_3

J A K A R T A


"Bim!" panggil Laras, begitu ia melihat Bimasakti masuk ke dalam markas.


Bimasakti menatap Laras dan beberapa rekan ormasnya. Mereka tengah sibuk dengan agenda rapat yang sedang mereka lakukan. Bimasakti melihat Laras sekilas, wanita itu berjalan cepat menghampirinya.


"Mana laporan itu?" tanya Laras menagih laporan penyuluhan Bimasakti.


Lelaki itu tampak termenung sejenak, kinerja otaknya tiba-tiba menurun akibat pertemuan singkatnya dengan paman Laura tadi.


"Mana?!" tagih Laras setengah menggeram melihat Bimasakti yang tak kunjung memberinya laporan. Lelaki itu malah terlihat seperti orang sedang melamun.


Pemuda itu mengambil apa yang Laras minta dari dalam tasnya perlahan dan langsung meletakkannya pada telapak tangan Laras yang menengadah di hadapannya.


"Aku ke kamar dulu" ucapnya sambil berlalu meninggalkan Laras yang tampak bingung namun membiarkan Bimasakti pergi menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Bimasakti langsung merebahkan diri di ranjang. Matanya terpaku pada bola lampu yang tertempel di langit-langit kamarnya. Pemuda itu tertegun selama beberapa saat, benaknya mencoba menyimpulkan apa yang ia lihat dan rasakan setelah pertemuannya dengan paman Ali.


Bimasakti mengingat raut wajah terkejut paman Ali ketika ia mengatakan Laura telah menikah. Apa raut wajah itu? Pemuda itu mengusap wajahnya kasar. Benaknya seolah berputar memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Keterkejutan paman Ali, membuatnya berasumsi bahwa keluarga Laura nampaknya tak mengetahui perihal pernikahan Laura. Bimasakti mendesah berat, sesuatu dalam dadanya terasa menghimpit hingga ia merasa sulit untuk bernafas.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Laura? Mengapa keluargamu sendiri tak tahu jika kau telah bersuami?" Bimasakti membatin dalam ruang petak yang terasa menyesakkan.


Berbagai pikiran tak masuk akal keluar begitu saja dari kepalanya. Tangannya merogoh ponsel dalam saku celananya. Menatap layar hitam itu lekat dan penuh sesal ketika ia ingat bahwa nomor ponsel Laura sudah lama ia hapus dari kontak person-nya.


Pemuda itu merasa janggal dengan semua hal terkait Laura. Pernikahan tanpa sepengetahuan keluarga, bahkan terkesan mendadak, membuatnya ingin mendapatkan penjelasan dari Laura sekali lagi. Tapi bagaimana caranya? Tadi saat bertemu pamannya pun ia tidak berpikir untuk meminta nomor ponselnya.


"Shit!" umpat Bimasakti kesal dengan ketidakberdayaannya menjangkau Laura.


Pemuda itu memejamkan matanya untuk meredakan semua hal yang membingungkan baginya. Dia tidak sadar, Laras sedang bertolak pinggang di ambang pintu. Menatapnya dengan tatapan jengah.


"Mau sampai kapan kau disini? rapat akan segera dimulai dibawah. Lekas turun!" suara Laras menggema mengejutkan Bimasakti yang tengah merenung.


"Kenapa kau selalu senang mengejutkanku?" ucapnya kesal. Ia menegakkan tubuhnya, berdiri menatap jengah pada atasan yang terasa seperti ibu tiri baginya.


"Itu bagus untuk kesehatan jantungmu" Laras menyeringai jahil. "Lekas kebawah, semua anggota sudah berkumpul, menunggu manusia gunung untuk bergabung bersama mereka" ucapnya menggoda.


"Baiklah, ibu tiriiii" balas Bimasakti sambil berjalan mengikuti Laras yang sudah jalan terlebih dulu.


Lelaki itu menyugar rambut gondrong-nya. Langkahnya tegas menuruni anak tangga, sementara benaknya sibuk memikirkan bagaimana cara agar ia bisa menghubungi Laura kembali.


🍁🍁🍁


Sabiel kehilangan kata-kata ketika layar monitor itu memperlihatkan gambar janinnya. Matanya memandang nanar sesuatu serupa biji yang berada dalam lingkaran rahim istrinya. Laura yang sedang berbaring dengan bagian perut sedikit terbuka, tersenyum lembut menyaksikan raut wajah suaminya yang tampak takjub. Senyuman tidak lepas dari bibir mungilnya.

__ADS_1


"Usia kandungan Nyonya masih sangat muda, saya harap Nyonya menjaga kesehatan dan kurangi aktifitas yang berat" ucap dokter kandungan itu dengan hangat.


Sabiel tak sepenuhnya mendengarkan, matanya tak bisa lepas dari bulatan mungil yang bersemayam dalam buaian hangat rahim istrinya.


"Sayang?" panggil Laura, menyadarkan keterpakuannya pada jabang bayi. Lelaki itu menoleh perlahan padanya.


"Anak kita sayang" ucapnya penuh haru, lelaki itu langsung berdiri ketika melihat Laura telah selesai dengan usg-nya.


Sabiel tak kuasa menahan lonjakan perasaan bahagia yang telah Laura berikan padanya. Lelaki itu memeluk erat istrinya, rasa bahagianya terlalu membuncah hingga Laura merasa tubuh Sabiel sedikit bergetar.


"Aku tidak tahu, dengan cara apa aku harus membalas kebahagiaan yang kau berikan padaku, sayang" bisiknya di balik rambut Laura.


Laura tersenyum hangat, tangannya mengusap punggung Sabiel perlahan. "Cintai kami sampai ajal menjemput, itu sudah sepadan untuk membalas rasa bahagiamu" sahut Laura membuat Sabiel melepas pelukkannya.


Pandangan mereka bertemu, "Kau akan mendapatkannya sayang" ucap Sabiel sepenuh tekad. "Kau akan mendapatkannya" ucapnya lagi sambil memeluk kembali Laura.


Ruang pemeriksaan itu diliputi oleh rasa haru yang memancar dari sepasang calon orangtua baru. Keduanya menyimak dengan baik apa saja yang dokter sampaikan. Semua hal yang dianjurkan dan tidak, disimpan baik-baik oleh Sabiel dan Laura dalam benaknya. Meskipun mereka pasangan dengan perbedaan usia cukup jauh, namun dalam hal ini mereka sama-sama menjadi pemula. Sekian tahun Sabiel menanti, akhirnya keinginan terbesar untuk memperoleh momongan tercapai sudah ketika ia memperistri Laura.


Cahaya jingga bersemu keemasan mengiringi langkah kaki mereka keluar dari rumah sakit. Senyuman senantiasa terukir indah di dua bibir pasangan itu, ketika mereka mulai pergi meninggalkan pelataran parkir. Sabiel terus menggenggam jemari Laura disela waktunya mengemudikan mobil. Dalam hatinya, lelaki itu berjanji untuk segera menyelesaikan masalahnya dengan Intan dan menjadikan Laura wanita satu-satunya yang akan mengisi harinya.


🍁🍁🍁


S I N G A P U R A, waktu setempat.


Rasa nyaman kembali dirasakan Intan saat itu. Bagaimana tidak?! Wanita itu kini bisa kembali mengejar karirnya tanpa perasaan khawatir akan perceraian. Sikap saling menerima antara dirinya, Sabiel juga Laura membuat hatinya merasa lapang. Dia mulai bisa kembali fokus mempersiapkan ajang fashion show yang dilimpahkan kepadanya beberapa saat yang lalu.


"Berikan aku sedikit waktu" ucapnya pada rekan kerja yang duduk diseberang mejanya.


Ia segera membuka pesan itu, dan seketika senyuman licik terlintas di bibir tipisnya.


From. Dato' Faisal.


Kau sudah kembali dan tidak mengabariku?


Oh Intan, apa aku harus memberimu pelajaran malam ini?


Pesan dari atasannya membuat Intan kembali melambung tinggi. Jemarinya tak sabar ingin segera menyahuti pesan itu.


To. Dato' Faisal


Ah Dato' sayang, aku semakin tidak sabar menantikan pelajaran darimu.


Pesan terkirim.


Intan menengok pada rekan kerjanya dengan wajah sumringah. Dua lelaki kaya raya, masih berada dalam genggamannya. Hal itu membuatnya berbangga diri. Keserakahannya membuat ia tidak menyadari bahwa salah satu dari lelaki itu sedang memasang perangkap untuknya.

__ADS_1


Malam menjelang sedikit lambat bagi Intan. Wanita itu berjalan dengan gemulai, suara nyaring sepatu memenuhi koridor apartemen pemberian Dato'. Pintu terbuka setelah ia memasukkan beberapa nomor password pada layar kecil ditembok sebelah pintu. Matanya tersentak kaget saat ia merasa ada kelebatan bayang yang duduk di sofa dalam pencahayaan apartemen yang gulita.


Ditengah rasa kagetnya, seringai menggoda muncul perlahan, seiring bayangan siluet itu berdiri dan memperjelas akan siapa sosok yang tiba-tiba berada di dalam apartemennya.


"Kau mulai nakal, Intan" nada suara berat itu menggelitik pendengaran Intan yang sedang menaruh tas kerjanya sembarang.


Lelaki berperut buncit itu berjalan perlahan, seringai penuh nafsu merambati raut wajahnya. Matanya berkilat memandang kemolekan tubuh wanita di hadapannya.


"Sejak kapan dato' datang?" Intan berjalan menghampiri. Kedua tangannya membuka blazzer yang melekat ditubuhnya. Kemudian melepas dua buah kancing kemejanya, hingga memperlihatkan garis tengah payud*ranya yang menggoda.


Dato' Faisal langsung meraih pinggang Intan ketika wanita itu berada tepat dihadapannya. Ia melingkarkan kedua tangannya dengan posesif. Matanya buas menatap bola mata yang mengerling menggoda tepat di depan wajahnya. "Aku tidak bisa diam ketika tahu kau sudah berada disini, lancang sekali kau tak mengabariku" ucapnya sembari meremas kasar bokong sintal Intan.


Intan meringis nikmat merasakan remasan itu. Tangannya merambati dada Dato' dan membuka dasi dongker yang melingkari leher atasannya. "Aku hanya ingin kau merasa tak sabar menanti pertemuan rahasia kita, sayang" bisiknya sebelum memberi kecupan di bibir Dato'.


Dato' terkekeh, tangannya mengangkat dagu Intan. "Kau pintar memancing gairahku, sayang" ucapnya sebelum ******* bibir Intan dengan kasar.


Intan serta merta membalas ciuman panas itu, tangannya melingkar di leher Dato' dan memperdalam ciumannya. Sementara kedua tangan Dato' menjelajahi permukaan tubuh Intan. Lelaki itu melepas semua pakaian Intan dengan buas, seperti seekor singa yang sedang merobek kulit mangsanya.


Setelah membuat tubuh Intan polos, Dato' menggiring Intan untuk duduk di tepi ranjang. Langkahnya tergesa, tanpa melepaskan ciuman panasnya.


Intan dibuat terlena oleh bibir dan lidah Dato' yang menyusuri kulitnya. Tubuhnya meremang ketika lidah Dato' bergerak sensual menjalari pucuk telinganya. "Aah" desahan pertama tak bisa diredam oleh jiwa yang terlena dalam buai erotis pasangannya.


"Dato' bagian bawahku sudah tidak tahan" suara parau Intan membuat Dato' terkekeh.


Lelaki itu segera membuka pakaiannya, sementara Intan sudah memposisikan diri di ranjang. Tubuhnya meliuk sensual menggoda pandangan mata Dato' yang sedang berdiri dengan kedua tangan sibuk melepas pakaian. "Ayo sayang, segeralah" ucap Intan tak sabar.


"Ini baru awal Intan. Malam ini aku akan membuatmu kelelahan hingga dini hari" sahut Dato' yang langsung menghampiri tubuh Intan di ranjang.


Intan mendesah panjang ketika Dato' kembali mencumbu tubuhnya, tangannya terangkat ingin meremas rambut lelaki itu. "Aaahh Dato' aku..." desahan Intan menyulut gairah Dato' untuk semakin memuncak.


Lelaki yang sedang dikuasai nafsu itu meremas dua bukit Intan yang besar. Lidahnya memainkan peran yang cukup besar hingga membuat dua puncak bukit Intan mengeras sempurna. Dengan bagian mulut yang sibuk di dua bongkahan bukit itu, tangannya merambat turun menuju pusat Intan yang sudah sejak tadi basah. Jemarinya bergerak dengan tak sabar di bawah sana.


"Ah Dato' aku mohon" pinta Intan yang sudah tidak tahan menahan keinginan untuk klimaks.


Dato' tersenyum miring, ketika Intan mencoba mengambil alih pergulatan dengan memutar balik posisinya. Wanita itu kini duduk di atas tubuh Dato'. Ia merunduk untuk mencium leher serta menjilati sisi rahang Dato'. Sementara bola mata lelaki itu, terpejam menikmati apa yang tengah diperbuat pasangan selingkuhnya.


Intan terus menyusuri tubuh Dato' yang panas oleh gairah. Ia memberikan kecupan sensual dibeberapa bagian tubuh Dato' tanpa meninggalkan jejak. Tangan Dato' bergerak meremas rambut Intan ketika wanita itu dengan lihai memberikannya servis dengan mulutnya. Rasa nikmat yang tidak bisa diungkapkan kata-kata, membuat mulut Dato' terasa keluh.


Bibirnya mengulas seringai, menahan kepala Intan untuk tetap berada bagian bawahnya. "Terus Intan, lakukan dengan cepat" rancaunya pada Intan yang tengah memberi kenikmatan dibawah sana.


Sepasang pelaku selingkuh itu, menghabiskan malam dengan pergulatan erotisnya. Keduanya tampak tak mengenal lelah memberi dan menerima pelayanan seks masing-masing. Intan mendesah panjang ketika Dato' memberinya hentakan kuat di pusatnya. Tubuhnya bergetar hebat merasakan sesuatu yang hangat mengaliri area sensitifnya.


Hingga dini hari menjelang desahan dan rancauan tak juga berhenti dari balik pintu apartemen itu. Dato' belum juga puas setelah memenuhi pusat Intan dengan benihnya sejak tadi. Intan dipaksanya untuk menjadi sapi perah, yang bisa ia setubuhi berkali-kali. Bahkan sampai Intan merasa kewalahan melayaninya. Nafsu yang melingkupi diri mereka membuat keduanya tak menyadari keberadaan benda kecil yang sedang berkedip disudut langit-langit kamar. Meski ukurannya sangat kecil, namun benda itu dapat merekam semua yang terjadi dengan baik. Intan tak sadar, ketamakannya kali ini justru berakibat fatal bagi terbongkarnya peran ganda yang ia mainkan sebagai seorang jalang.


**B E R S A M B U N G**

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2