Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 68


__ADS_3

Matahari terbit lebih cepat bagi dua manusia yang baru terlelap saat dini hari menjelang. Tubuh polos keduanya bergumul di balik selimbut hangat. Sabiel melesakkan kepalanya di ceruk leher Laura, sementara Laura terlihat nyaman dengan pelukan Sabiel dari arah belakangnya.


Drrrtt..Drrttt...Drrrttt...


Laura menggeliat sesaat ketika dering ponsel terasa mengganggu gendang telinganya. Tangannya mencoba melepaskan tangan Sabiel yang melingkari pinggangnya. Dengan tubuh sedikit terangkat, ia berusaha meraih ponsel yang sejak tadi berdering, sementara Sabiel membalikkan tubuhnya tanpa merasa terganggu oleh pergerakan istrinya.


"Halo?!" suara sengau Laura mengawali sapaan pada seseorang disana.


"LAURAAA! dimana kau?!" teriak gemas suara seseorang yang kini tengah Laura tebak.


"Destri?!" Laura menegakkan tubuhnya.


"Kau pikir siapa?! wahai ratu kesiangan" ucapnya. "Jangan katakan kau masih di apartemenmu, Laura?!" delik Destri curiga.


Laura masih tampak linglung. Sorot matanya langsung membulat ketika ia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sembilan pagi hari.


"Oh Tuhan, maafkan aku Des. Aku kesiangan!" Laura langsung menyibakkan selimbutnya dan berlari menuju kamar mandi dengan kondisi tubuh tanpa busana.


"Ya ampuuuunn, aku sudah menduganya. Cepat datang! sebentar lagi jam persentasi tugas dimulai" perintah Destri gemas sebelum ia mematikan ponselnya.


"Akh" teriak Laura saat lututnya membentur bathub setelah ia menaruh ponselnya di meja kecil kamar mandi.


Sabiel yang mendengar teriakan itu langsung terbangun, "Sayang?" tanyanya pada Laura yang masih di kamar mandi.


Laura yang sedang berada di bawah kucuran shower mendengar suara Sabiel, "Aku baik-baik saja" teriaknya


Sabiel yang memang berubah menjadi suami protektif, tak puas mendengar sahutan Laura. Ia bergegas menyibak selimbutnya dan berjalan menghampiri Laura di kamar mandi.


Ceklek!


"Sayang!!" pekikan Laura langsung terdengar nyaring begitu pintu kamar mandi terbuka.


Sabiel masuk ke dalam kamar mandi dengan santai, "Apa?" tanyanya tak mengerti.


Laura yang sedang membasuh sisa sabun, memutar bola kepalanya malas. "Tubuhmu hei! Kau telanjang!" pekik Laura kembali.


Sabiel mendecih sembari melangkah masuk dalam guyuran shower, tangannya langsung meraih pinggang Laura dan merapatkan pada dadanya "Kau sudah terlalu sering melihatnya, bagaimana bisa kau meneriakiku hanya karena aku berjalan tak menggunakan apapun dihadapanmu" bisiknya dibelakang telinga Laura.


Laura menyikut perut Sabiel pelan, "Jangan mulai! Karena kau aku jadi kesiangan" dengus Laura sebal, tak menghiraukan ucapan suaminya.


Sabiel menyeringai, lelaki itu menghembuskan nafasnya dengan sengaja tepat di lubang telinga Laura. Laura langsung bergidik. "Kau menyalahkanku padahal kau yang ingin tambahan durasi semalam" ujarnya membuat Laura malu sendiri.


Wanita itu menggigit bibir bawahnya mengingat kejadian semalam. Dia juga heran mengapa saat itu gairahnya justru semakin besar pada Sabiel. Padahal jika mengingat kehamilan mudanya, seharusnya ia bisa meredam gairah seksualnya demi keselamatan jabang bayi. Tapi entah mengapa sejak kehamilannya, hal yang paling ia dambakan akhir-akhir ini adalah bercumbu dengan suaminya.


"Ish! Berhenti mengungkit hal vulgar di pagi hari. Kau membuatku malu" dengus Laura


Sabiel terkekeh sambil menciumi leher istrinya. Lelaki itu membelai mesra tubuh basah Laura dengan gerakan yang mematik api gairah Laura muncul kembali.


Laura yang menyadari hal itu langsung berbalik badan, dan mendorong pelan dada Sabiel. "Berhenti, atau kau akan membuatku semakin terlambat kuliah" ucap Laura.


Dia melangkah keluar bathub meninggalkan Sabiel disana, tangannya meraih handuk yang tergantung di tembok. "Bisa kau percepat mandinya? Aku ada presentasi hari ini. Temanku akan memarahiku jika aku terlambat lagi" ujar Laura menatap Sabiel yang terlihat santai menikmati kesegaran air dari shower.


Sorot matanya memperhatikan Laura yang tergesa berjalan keluar kamar mandi, "Sayang, perhatikan langkahmu!" serunya kesal melihat gaya berjalan Laura yang tergesa.

__ADS_1


"Aku sudah terlambat" pintanya sambil mengambil pakaian di lemari.


"Kau tidak akan terlambat sayangku" suara Sabiel setengah berteriak.


"Apa maksudmu? Aku ada presentasi hari ini" sahut Laura setengah berteriak pula.


Sabiel memutar bola matanya malas, "Kau lupa siapa yang memberikan tugas presentasi itu, sayang?!" ujarnya.


Laura terdiam sejenak. Usahanya untuk tidak terlambat datang ternyata sia-sia. "Astaga! Aku lupa jika suamiku seorang dosen" gumamnya menatap pantulan dirinya di depan cermin dengan beberapa kancing kemeja yang sedang ia kaitkan.


🍁🍁🍁


Laura dan Rena duduk berdampingan di kursi taman depan kantin. Tak berapa lama Destri muncul dari arah dalam kantin, dengan membawa beberapa makanan ringan dan minuman. Gadis genit itu melirik beberapa lelaki yang melintas sambil meletakkan barang bawaannya.


Laura dan Rena yang sudah hafal tingkah genitnya, hanya saling berpandangan sambil lalu. "Laura Dies Natalies jurusan sebentar lagi, kau akan datang atau tidak?" tanya Rena sambil menyeruput minumannya.


Destri mengambil posisi di hadapan mereka, tangannya dengan lincah mengambil makanan yang ia bawa dan memakannya sambil menatap Laura.


"Aku tidak tahu, lihat nanti saja" sahutnya santai.


"Lebih baik kau datang Laura, dis natalies kali ini akan banyak undangan yang hadir. Mereka mengundang jurusan lain pula. Itu waktu yang tepat untuk mencari kekasih" timpal Destri mengedipkan sebelah matanya.


"Kau sibuk mencari kekasih, tapi tak ada satu pun yang berhasil kau dapatkan" ledek Rena menatap jengah pada Destri.


Destri mengerucutkan mulutnya, "Itu karena mata mereka buta, tak bisa melihat pesonaku" dengusnya kesal.


Laura yang sedang menikmati makanan hanya terkekeh geli melihat raut wajah Destri yang mati kutu mendapat ledekan telak dari Rena.


Rena menepuk bahu Laura disebelahnya, "Laura, aku baru ingat. Tempo hari ada senior kita yang mencarimu" ucap Rena sambil mengingat nama seseorang. "Radit kalau tidak salah. Apa kau kenal?" tanya Rena kemudian.


Destri menyeringai jahil, "Dia pasti menyukaimu, Laura" ucapnya.


"Aku rasa juga begitu" timpal Rena.


Keduanya menatap Laura sembari menyeringai jahil, mereka memperhatikan wajah Laura yang terlihat seperti pura-pura tak peduli. Mereka tidak tahu bahwa ketidakpedulian Laura, bukanlah sekedar pura-pura. Nyatanya memang Laura tidak tertarik dengan lelaki manapun, selain suaminya sendiri.


Ditengah suasana kantin yang ramai kala itu, Sabiel melintas bersama beberapa rekan kerjanya. Matanya langsung dapat menemukan Laura sedang duduk bertiga dengan temannya, senyuman mengembang di bibir dosen itu, ketika dari kejauhan ia melihat rona kebahagian yang memancar dari gelak tawa istri mudanya.


"Cantik-ku" gumamnya dalam hati.


🍁🍁🍁


Sepulang dari kampus.


"Aku tidak tahu apakah aku bisa membuat sebuah novel" ucap Laura ragu, ia membanting tubuhnya di atas ranjang dengan ponsel ditelinganya.


"Kau bisa Laura, kenalanku seorang penerbit dia menyukai tulisan di blogmu. Dia mengatakan jika tulisanmu dikembangkan lagi, akan sangat menjual di pasaran" jelas seseorang di seberang sana.


Laura tampak menimbang ucapan dari rekannya itu. Sementara Sabiel muncul dari balik pintu kamar, dan langsung tersenyum melihat Laura merebahkan diri tanpa membuka sepatunya. Kaki jenjang itu dibiarkan tetap dalam posisi tegak, sementara bagian lutut dan badan Laura telentang di ranjang. Lelaki itu menghampiri istrinya santai. Dia menanggalkan jasnya di sofa yang searah dengan posisi ranjang.


"Aku tetap tidak percaya diri" ucap Laura lirih.


"Oh ayolah Laura, aku tahu bagimana kau suka menulis sejak SMA dulu. Kita berteman sudah lama, dan aku tahu kau bisa melakukannya" ujar editor wanita itu meyakinkan.

__ADS_1


Sabiel berjongkok di tepi ranjang, tangannya bergerak untuk memegang kaki Laura yang menjuntai. Seketika itu Laura menegakkan tubuhnya. Pandangan mereka langsung bertemu. Sabiel hendak melepas sepatu Laura ketika tangan wanita itu berusaha menahannya.


"Jangan, biar aku saja" Laura menggelengkan kepala sambil berucap tanpa suara pada suaminya.


"Aku merasa tulisanku tak cukup layak untuk dijadikan novel" ucap Laura pada teman editornya dengan tatapan tertuju pada Sabiel yang masih berjongkok.


Lelaki itu memegang kembali kaki Laura, "Biar aku saja" jawabnya singkat.


Laura tersenyum dengan rasa enggan di hatinya. Namun ia membiarkan Sabiel melakukan apa yang ia inginkan. Tangan Sabiel perlahan membuka sepatu kets itu, melepaskan kaus kaki mustard semata kaki dan meletakkannya di dalam sepatu kets yang tadi ia lepaskan.


"Tapi kau harus mencobanya Laura, tidak ada yang salah dengan mencoba, bukan?" ujar editor itu.


Mata Laura kini hanya tertuju pada Sabiel yang tengah mencium mata kakinya dan menyusurkan bibirnya pada kaki Laura. Desiran hangat dengan malu-malu merambati hati Laura. Sabiel menghentikan ciuman itu, ia menegakkan kepalanya dan tersenyum menatap wajah merona istrinya. Pandangan mereka saling mengunci. Laura sangat senang dengan apa yang tengah suaminya perbuat, dirinya merasa telah menjadi wanita paling berharga dalam hidup Sabiel.


"Laura?" panggilan temannya menyadarkan Laura.


Laura terkesiap, "Ya. Aku mendengarkan. Baiklah, akan aku coba dan nanti aku kirim naskahku padamu. Hubungi aku lagi nanti" ujarnya dengan mata masih terpaku pada Sabiel yang sejak tadi kembali menciumi kakinya.


Laura menutup ponselnya, meletakkannya sembarang di ranjang. "Apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan binar mata tersipu malu.


Sabiel menyeringai menatap Laura setelah ia merasa puas menciumi kaki Laura. "Aku hanya sedang melakukan terapi agar kakimu tidak lelah" ucapnya santai sambil beranjak berdiri.


Lelaki itu langsung merangkup pipi Laura, menatap lekat wanita cantik yang kini sedang mengandung anaknya. Perlahan tubuh itu merunduk, ingin memberikan pertemuan yang manis pada bibir mereka. Laura menyambut pertemuan bibir itu, ia sengaja membuka sedikit mulutnya untuk mempersilahkan lidah Sabiel masuk dan menyapa lidahnya. Sabiel memutuskan untuk mulai menyelinapkan lidahnya dalam mulut Laura yang terbuka. Lelaki itu membiarkan lidahnya bergerak menjelajahi dan merasakan kenikmatan tersembunyi didalam sana.


Geraknya perlahan ketika Sabiel merangkak naik ke atas ranjang, membuat Laura secara otomatis bergerak mundur tanpa membiarkan lidah mereka berpisah. Tangannya terangkat kebelakang leher Sabiel, memainkan rambut Sabiel dengan gerakan lembut menggoda. Ciuman itu berubah liar dari waktu ke waktu. Kedua pasangan suami istri itu seolah ingin menuntut sesuatu yang lebih dari sekedar pertemuan benang saliva.


Tangan keduanya mulai sibuk saling menjamah. Sabiel membuka kemeja berbalut sweater mustard Laura, memancing ketidaksabaran Laura untuk membuka kemeja hitam yang memeluk tubuh atletis suaminya.


Laura mengerang nikmat, ketika Sabiel mencumbu area leher dan kedua bukit kembarnya. Tubuhnya meremang merasakan sentuhan halus yang terasa menggairahkan. Sabiel membuatnya tersihir. Bibir kenyal itu semakin menghilangkan kewarasan benak Laura.


"Sayang.." desah frustasi Laura membuat Sabiel semakin hilang kendali.


Lelaki itu perlahan turun kebawah, jemarinya membelai dada Laura dan menjalari area perut dan pusar Laura. Ia mengecupnya lama disana. Seolah sedang meminta izin pada satu sosok mungil yang masih bersemayam dibalik perut datar itu.


"Ayah akan melakukannya perlahan, kau tidak akan terganggu sayang" gumamnya dalam hati, dengan bibir sibuk mengecupi permukaan perut Laura.


Rasa geli dan hangat memenuhi hati Laura, ia meletakkan tangannya di kepala Sabiel, lalu meremas lembut rambut itu. Bibir Sabiel bergeser semakin bawah ke tempat yang paling ingin ia jamah. Lelaki itu langsung mencumbui pusat gairah Laura. Laura semakin merasa terbang, remasannya mengeras seiring kenikmatan yang Sabiel hantarkan untuknya dibawah sana.


Sapuan lidah yang tak sabar membuatnya mengerang. Tubuhnya bergetar untuk kali yang pertama. Sabiel dengan wajah seringai puas, merangkak kembali ingin menatap wajah pasrah istrinya. "Katakan jika kau lelah, sayang" bisiknya sebelum menjilat manja cuping Laura.


Sabiel mencium kening Laura yang tengah meredakan nafasnya yang tersenggal. Ia ingin menyatu dengan wanita itu, "Maafkan aku membuatmu harus kelelahan malam ini"


Laura tersenyum hangat, dia tak menyangka disaat paling erotis ini Sabiel masih sempat meminta maaf atas yang sebenarnya Laura sendiri menyukainya.


"Lakukan apa yang kau mau, sayang. Tubuhku ini milikmu, kau berhak atas segalanya" ujar Laura mengelus lembut sebelah pipi Sabiel.


Sabiel memeluknya langsung. Tak berselang lama Sabiel berlutut disela kaki Laura. Tangannya mengangkat sedikit pinggul ramping Laura hingga tepat mempertemukan dua pusat yang siap bekerja saling memberi. Perlahan penyatuan itu terjadi. Sabiel melakukannya dengan lembut, tangannya merambat menuju dada Laura. Meremasnya hingga membuat desahan terdengar kembali dari bibir mungil itu.


Laura hilang kendali, ia ingin Sabiel semakin kuat menghujamkan pusatnya disana. Gerakan mereka semakin lama semakin cepat dan kuat, nafas keduanya terengah disela bulir keringat yang mulai muncul membasahi tubuh keduanya yang polos.


Sabiel tahu detik selanjutnya ia akan mencapai puncak, dan ia ingin mencapai puncak bersama dengan Laura. Ritme gerakan semakin cepat dari menit ke menit, hingga saat yang dinanti tiba, keduanya mendesah dan mengerang hebat disana. Sabiel terengah merasakan kepuasan dan letih secara bersamaan. Laura merentangkan tangannya, meminta sebuah pelukan hangat dari suaminya sebagai akhir dari percintaan tadi.


Dalam dekapan, keduanya tersenyum sambil memejamkan mata. Hawa panas yang melingkupi keduanya perlahan sirna setelah satu penyaluran dituntaskan.

__ADS_1


Sabiel memeluk erat tubuh Laura, ia mencium kening wanita yang tengah memejamkan matanya itu. "Kau hebat, sayang" ujarnya dengan seringai menggoda yang kental.


🍁🍁🍁


__ADS_2