Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 62


__ADS_3

Pagi ini terasa lebih segar bagi Intan. Saat ini ia tengah menyiapkan sandwich avocado dengan segelas jus tomat untuk suaminya. Lengkungan di bibirnya tak juga sirna, ketika ingatannya terus saja berporos pada kejadian menyenangkan tadi pagi.


Saat membuka mata dari tidurnya, yang ia lihat pertama kali adalah sosok tampan yang tengah memeluknya sambil terlelap. Ah, hati Intan berbunga-bunga hanya karena tubuhnya tak bisa melupakan dekapan hangat itu.


Namun tak berselang lama, bibirnya mengerucut merasa kesal pada kebodohannya sendiri semalam. Harusnya malam itu mereka tidak hanya tidur. Intan merutuki kecerobohannya karena tertidur lebih dulu sebelum ia menuntaskan gairah seksualnya pada Sabiel. Entah mengapa, semalam Intan merasa sangat mengantuk. Hingga akhirnya ia tak sempat memenuhi kebutuhan biologis suaminya.


"Nanti malam aku tidak boleh tidur duluan!" tekadnya dalam hati.


Tak berapa lama, terdengar suara langkah kaki di anak tangga. Bertepatan dengan pintu kamar Intan yang terbuka. Intan menoleh cepat, matanya melihat Sabiel keluar dari kamar itu dan melirik Laura yang turun dari tangga.


Intan tersipu malu melihat Sabiel yang hanya mengenakan jubah piyama. Lelaki itu mengeratkan tali jubah dan berjalan beriringan dengan Laura yang telah sampai di lantai satu.


"Tidurmu nyenyak, sayang?" tanya Sabiel pada Laura sembari mengecup pipi wanita itu pada saat Intan tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya di meja.


Laura mendelik dengan kedua pipi merona, "Berkatmu" ucapnya seraya berjalan lebih dulu menuju meja makan.


Sabiel menyeringai puas dengan apa yang ia dengar pagi itu. Matanya tak lepas memperhatikan Laura yang berjalan menuju kulkas dan mengeluarkan susu kemasan dari dalam sana.


Sabiel duduk di tempat biasa. Diapit oleh kedua istrinya yang tampak cerah hari ini. Intan menatapnya penuh gairah dan Laura sibuk menyembunyikan wajah meronanya dengan menundukkan kepala.


"Tidurmu nyenyak, Laura?"


Pertanyaan Intan membuat Laura menegakkan wajahnya kembali. Matanya secerah mentari menatap Intan dihadapannya. Ia tersenyum. Ekor matanya melirik Sabiel yang sedang menyembunyikan senyuman tipisnya dengan melahap sandwich buatan Intan.


"Tidak pernah senyenyak ini" ucapnya tanpa keraguan.


Intan tersenyum sembari melihat pada Sabiel "Kami pun tidur dengan nyenyak semalam. Benarkan sayang?" ucapnya dengan nada provokasi yang kentara.


Sabiel yang ditatap Intan, segera mengangguk menyetujui ucapan istri tuanya. Sementara Laura, tampak tak peduli dengan apa yang Intan ucapkan. Wanita itu melihat sikap manis yang sangat dibuat-buat oleh Intan dihadapannya. Ia meminum kembali susu dalam gelasnya, sambil mengingat apa yang Sabiel ceritakan semalam.


Semalam Sabiel bercerita bahwa ketika Intan sedang mengganti pakaiannya, ia menuangkan obat tidur yang ia simpan di kotak obatnya ke dalam gelas minuman Intan di nakas.


Kebiasaan Intan untuk minum segelas air sebelum tidur, membuat aksinya begitu mulus tanpa sedikitpun menimbulkan kecurigaan. Dalam percakapan malam yang membosankan, lelaki itu menanti reaksi dari obat tidur yang telah Intan minum tanpa sadar. Detik menit yang berjalan membuat Sabiel tak sabar ingin segera melihat kemunjuran obatnya. Hingga pada saat Intan ingin mengajak Sabiel bercinta, obat itu bereaksi tepat pada waktunya. Intan lebih dulu tertidur sebelum ia sempat menyalurkan hasratnya. Sabiel segera pindah ke kamar Laura, dia menghabiskan dini hari yang dingin dengan merengkuh hangat tubuh mungil istri kesayangannya. Dan kembali ke kamar Intan beberapa saat sebelum fajar menyingsing.


"Kau hanya minum susu, sayang?" tanya Sabiel mengaburkan ingatan Laura.


Laura menoleh padanya. "Aku sedang malas makan" jawabnya singkat.


Sabiel tak menerima jawaban Laura. Dia menyodorkan sandwich bekas gigitannya tepat di mulut Laura. "Makan. Minum saja tidak cukup memulihkan tenagamu" ucapnya memberi isyarat.


Tanpa perlawanan Laura membuka mulutnya, dan mengigit sandwich buatan Intan dari tangan Sabiel.


Intan yang melihat itu tersenyum kecut. Apa-apa itu? Sabiel menyuapi Laura di hadapannya?! Dengan sandwich buatannya pula. Intan geram menahan rasa iri dihatinya.


"Sayang, kenapa kau hanya menyuapi dia?!" tanya Intan ketus.


Laura menyeringai dalam hati, ia puas melihat raut wajah merah padam Intan yang terbakar cemburu. Melihat hal itu ia merasa tertarik untuk semakin membuat Intan cemburu. Dengan gerakan cepat tangannya mengambil sandwich sisa di tangan Sabiel, menggigitnya kembali, dan menyuapi Sabiel dengan potongan akhir sandwich itu. Setelah itu Laura berdiri dari duduknya, ia merunduk dihadapan wajah Sabiel dan mengecup bibir Sabiel dengan kuat, sampai menimbulkan suara yang terdengar menjengkelkan di telinga Intan.


"Aku akan bersiap kuliah. Kalian lanjutkan sarapannya" ucapnya sebelum berlari kecil meninggalkan Sabiel yang terperangah dan Intan yang geram menatap sikap Laura yang arogan.


Sabiel mengulum bibirnya menahan keinginan tersenyum mendapati sikap manis Laura di pagi hari. Lelaki itu langsung melahap sarapannya hingga tuntas.


"Aku akan bersiap mengajar, kau selesaikan sarapanmu" ucapnya pada Intan sembari berdiri dari kursinya.


Intan geram melihat itu. Seharusnya pagi ini menjadi pagi yang indah untuknya. Tidur bersama semalaman tak membuat ia puas dan ingin mendapatkan perhatian lebih dari suaminya.

__ADS_1


"Sabiel!!" seru Intan menghentikan langkah Sabiel menaiki anak tangga.


Sabiel menoleh pada Intan yang berdiri menatapnya dengan emosi. "Kau tidak adil!" ucap Intan murka.


Sabiel mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu? Kemarin saat di restoran kau bilang aku tidak adil padamu, dan memintaku untuk tidur denganmu. Aku sudah menuruti itu semalam. Dan kini saat aku ingin berlaku adil pada Laura, kau malah mengatakan tidak adil. Apa sebenarnya yang kau inginkan?"


Intan tak mampu berucap, kenyataan bahwa Sabiel mengikuti keinginannya menjadikan bukti bahwa Sabiel hendak berlaku adil padanya dan pada Laura. Tapi rasa tidak puas Intan membuatnya ingin diperlakukan lebih oleh Sabiel.


"Ingat Intan, kau meminta untuk tinggal seatap dengan alasan ingin memperbaiki dirimu bukan? Maka lakukanlah apa yang menjadi niatmu itu. Jangan berulah disaat aku sedang mencoba menerimamu kembali" ujar Sabiel tegas.


"Tapi kau memperhatikan Laura lebih daripada aku. Aku tidak terima itu" keluh Intan.


"Maka dari itu penuhi keinginanku untuk bercerai. Kau tidak akan lagi melihatku sedang sibuk memperhatikan Laura" Sabiel benar-benar tidak tahan mendengar rengekan Intan.


"Aku tidak akan bercerai darimu! Tidak akan! Kau yang selingkuh, kenapa aku yang harus pergi?!" gersah Intan tak terima ucapan Sabiel.


Sabiel memandang jengah pada Intan, "Tunggu saja, sebentar lagi kau akan malu sendiri dengan kelakarmu itu Intan" Sabiel membatin.


"Terserah padamu. Jika tidak ingin bercerai, berhenti menuntutku" ucap Sabiel sambil melangkah kembali menuju kamar Laura.


"Sabiel! Tapi kau harus adil! Kau harus tidur bersamaku juga! Menyuapiku juga! Dan.. Dan menciumku juga!" teriakan Intan tenggelam oleh bantingan pintu kamar Laura.


Intan menatap nanar pintu kamar yang tertutup itu, bara api berkobar semakin besar dalam hatinya. Separuh jiwanya ingin menyerah mempertahankan posisi dirinya sebagai istri sah Sabiel, namun separuh yang lain tak sudi membiarkan Laura menggantikannya dan hidup nyaman dengan bergelimang harta.


Drrrttt... Drrrttt..


Ponsel Intan di meja makan bergetar. Satu pesan masuk dari nomor yang ia kenal.


From. 0XXXXXXXXXX


Kepala Intan terasa sakit tiba-tiba. Semuanya tampak kacau sejak kedatangannya ke Indonesia. Karir impiannya berantakan karena kehadiran jalang sialan itu! Intan merasa bebannya begitu berat. Dia bingung untuk memilih mana yang harus ia pertahankan, karena keduanya begitu penting bagi kelangsungan hidupnya.


Jemarinya segera menari di permukaan keyboard ponsel.


To: 0XXXXXXXXX


Akhir pekan ini aku akan kembali.


Dia membalas pesan dari selingkuhannya. Benaknya sibuk membuat rencana untuk meluluhkan hati Sabiel. Sebelum ia berangkat kembali ke Singapura, ia harus memastikan bahwa Sabiel tidak akan menceraikannya.


🍁🍁🍁


"Kalian akan berangkat?"


Intan yang baru keluar dari kamarnya langsung berlari menghampiri Sabiel dan Laura di dekat pintu. Laura mengerutkan keningnya, melihat Intan tersenyum hangat ketika ia dan Sabiel hendak berangkat bersama menuju kampus.


"Hati-hati dijalan"


Kini Sabiel pun mengerutkan keningnya. Sikap ramah Intan terasa janggal oleh mereka. Namun tak berapa lama, ia tersadar dengan pertengarannya tadi setelah sarapan. Tiba-tiba Sabiel merangkul Laura mesra, ia sengaja melakukan itu di hadapan Intan.


"Ya. Kami akan berangkat" sahutnya santai.


Ujung bibir Intan berkedut menahan emosi, Saat ini Ia ingin menunjukan bahwa niatnya untuk memperbaiki diri benar adanya. Dia ingin Sabiel menerimanya kembali, dan melupakan masalah perceraian.


"Jam berapa kalian pulang? Aku ingin kita pergi makan malam bersama, bagaimana?" tanyanya dengan wajah berbinar cerah.

__ADS_1


Laura dan Sabiel saling menatap, "Aku tidak bisa. Hari ini ada kuliah tambahan" tolak Laura.


"Oh begitu. Bagaimana denganmu sayang?" tanya Intan pada Sabiel.


"Aku juga tidak bisa. Aku harus menemani kepala dekan untuk rapat dengan rektor hari ini" ucapnya tegas.


Intan menghembuskan nafasnya kecewa, "Baiklah, mungkin kita bisa lain kali" jawab Intan pada akhirnya.


Matanya melihat pada Laura, dan seketika Intan berjalan mmendekatinya. "Maafkan aku jika sikapku disini tak membuatmu nyaman. Aku harap kedepannya kita bisa menjadi istri yang rukun untuk suami kita" ucap Intan.


Sorot mata Laura berkilat penuh antisipasi, ia merasa aneh dengan perubahan sikap Intan yang tiba-tiba. Namun Laura memilih untuk tak peduli, sama seperti halnya Sabiel. Mereka tidak ingin menanggapi apapun yang Intan ucapkan.


"Baiklah" ucap Laura singkat.


"Ini sudah terlambat. Kami harus pergi Intan" ujar Sabiel.


Intan melepaskan genggamannya pada tangan Laura. Tanpa bisa dicegah wanita itu mendekati Sabiel, berjinjit di hadapan lelaki itu dan menyematkan kecupan pada bibir Sabiel yang terperangah kaget.


"Sekali lagi hati-hati" ucapnya dengan wajah tanpa beban.


Laura sekuat mungkin tak menunjukan keterkejutannya. Raut wajahnya berhasil dipasang datar ketika Intan mengecup bibir Sabiel dihadapannya. Wanita itu langsung membalikkan badan, melangkah keluar apartement dengan Sabiel yang mengekorinya.


Udara kota Bandung begitu ramah pagi itu. Pohon-pohon yang tumbuh di pinggir jalan tampak rapi dan menambah suasana sejuk kota. Mata Laura menelisik bangunan yang berdiri di bahu jalan. Pandangannya tertuju pada satu bangunan Belanda dengan bagian pagar terbuka cukup luas.


"Disana" tunjuk Laura pada bahu jalan yang lenggang di depan rumah belanda yang terbengkalai itu. "Berhenti disana" ucapnya lagi.


Sabiel menoleh beberapa kali pada Laura, wajahnya bingung dengan permintaan istrinya namun ia menurutinya juga.


Mobil Sabiel belum benar-benar berhenti saat itu, Laura menyusup dalam ruang kosong yang tercipta karena rentangan lengan Sabiel yang sedang memegang kemudi. Sabiel membelalakan matanya ketika Laura memposisikan diri berada di pangkuannya dengan wajah saling berhadapan.


Sabiel belum sepenuhnya mematikan mobil ketika Laura secara serampangan melum*at bibir Sabiel dengan cara yang cukup membangkitkan nafsunya di pagi hari. Sabiel mengelus punggung Laura begitu ia mematikan mobilnya. Bibirnya terasa basah dan panas akibat aksi nekat Laura.


Matanya sedikit berpencar memandang jalanan di hadapannya. Ia Khawatir jika ada seseorang yang mendapati mereka melakukan aktivitas vulgar di tempat umum. Laura mencium bibir Sabiel dengan liar, bayangan bibir Intan yang mengecup bibir Sabiel membuatnya menggila. Ia ingin menghapus jejak kecupan itu, dan membuat Sabiel hanya mengingat jejak bibirnya.


Setengah sekarat Sabiel dibuat terlena oleh cumbuan istri mudanya. Pandangannya sudah berkabut sejak lidah Laura melilit lidahnya. Kondisi mereka yang sedang berada di bahu jalan, membuatnya tak berani melepaskan hasrat yang sejak tadi merongrong menagih penyaluran. Tekanan bibir Laura membuatnya terhuyung dalam lautan gairah purba. Sabiel separuh mendesah merasakan hantaman birahi yang semakin memuncak jika saja Laura tak segera menghentikannya.


Laura terengah di hadapan wajah Sabiel yang sendu. Nafas beraroma susu itu menerpa wajah Sabiel, membuatnya terpuruk memohon pengulangan adegan seksi tadi sekali lagi. Matanya melihat bibir Laura tersungging dengan angkuh. Tak berapa lama bibir dengan rona merah ditepiannya itu merenggang dengan cara yang mematikan. Oh Tuhan, mengapa wajah merona itu terlihat semakin begitu indah ketika ia telah berhasil meluluh-lantahkan batas kesadaran seorang pemuja birahi? Tidakkah Kau terlalu kejam, membiarkan pergulatan erotis tadi terhenti disaat keinginan pelepasan belum terpenuhi?


Oh Laura, dewi cintaku. Haruskah berhenti disaat lelaki malang ini masih ingin dicumbui olehmu?


"Demi Tuhan, meskipun dia istri sah-mu. Aku tak cukup bisa berbesar hati untuk melihat bibirnya menyentuh bibir milikku!"


Damn!


Telinga Sabiel berdengung mendengar nada serakah atas rasa kepemilikan yang dalam dari bibir mungil istri mudanya itu. Laura cemburu! Istri muda itu cemburu hanya karena sebuah kecupan singkat yang nyatanya tak berarti bagi diri Sabiel.


Sabiel tak rela membiarkan Laura bangkit dari pangkuannya. Dia menekan paha atas Laura, mencegah wanita itu untuk meninggalkan tubuhnya.


"Jadi saat ini kau sedang membalas kecupan Intan?" tanya Sabiel menyembunyikan senyuman.


"Bukan membalas. Tapi membersihkan!" ucap Laura lugas. "Aku sudah terlambat. Ayo berangkat!" ucapnya sembari mengangkat tangan Sabiel yang menahannya.


Sabiel menyalakan kembali mobilnya, senyuman terus menghiasi wajah tampan innocent itu. Matanya melirik Laura yang sudah duduk manis dengan seatbelt yang hendak ia pasang.


"Nanti malam ulangi yang tadi, oke?!" ucap Sabiel menyeringai menatap Laura yang tiba-tiba merona malu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2