Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 58


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan?!" Sabiel menghempas kedua tangan Intan yang melingkari tubuhnya.


Matanya menatap Laura yang masih diam dengan ekspresi wajah yang Sabiel tak bisa lihat pasti, karena ia berada di belakang wanita itu.


"Aku ke atas dulu" suara dingin keluar dari Laura bersamaan dengan langkah kakinya yang tegas.


"Kita belum berkenalan, LAURA" ucap Intan sedikit meninggikan suaranya karena Laura sudah berjalan menuju tangga.


"Apa maksudmu Intan?" hardik Sabiel menatap tajam pada Intan yang tersenyum. Lelaki itu melihat pula pada Laura yang berhenti melangkah tanpa membalikkan badan.


"Kenapa? Aku istri sah-mu. Wajar saja jika aku ingin tahu istri SIRIMU itu" ujar Intan penuh penekanan.


Laura membalikkan tubuhnya. Ia menatap kedua orang di bawah sana dengan pandangan sulit diterka. Berbeda dengan kondisi hatinya yang mendadak nyeri. Kehadiran Intan memperjelas posisinya. Wanita itu memutuskan untuk kembali menghampiri Intan dan Sabiel.


"Sayang" ucap Sabiel menatap Laura yang semakin mendekat.


Intan menyeringai. Kini ia tahu pasti paras wanita yang berhasil merebut Sabiel. Dia ingat, wajah itu pernah ia lihat saat berada di toko buku bersama suaminya beberapa waktu yang lalu.


"Laura" Laura mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah pada Intan.


Intan menyeringai sinis. "Jadi kau, istri siri suamiku?" tanya Intan tak menyambut uluran tangan Laura.


Laura menurunkan tangannya. Rasa kesal atas perlakuan Intan memenuhi hatinya. Ia berusaha menyembunyikan kekesalannya itu. Karena bagaimanapun, Laura tetap sadar akan posisi Intan sebagai istri sah suaminya. Apalah daya seorang istri siri, jika dihadapkan pada satu kenyataan pahit akan kehadiran istri sah?


"Kita akan segera bercerai Intan. Untuk apa kau datang kemari?" tanya Sabiel menghalangi tubuh Laura agar berada dibelakangnya. "Sayang, lebih baik kau kedalam. Aku selesaikan dulu masalah ini" bisiknya pada Laura.


"Aku sudah membuat keputusan. Dan aku ingin istri sirimu mendengarkan" seru Intan sambil mendongahkan kepala pada Laura yang berada di belakang suaminya.


"Katakan saja keputusanmu, lalu pergi dari sini" hardik Sabiel tak berperasaan.


"Baiklah" Intan menyilangkan tangannya di depan dada, tersenyum dengan sangat licik sambil melirik Laura dari balik tubuh kekar Sabiel. "Aku tidak akan bercerai denganmu, dan aku akan tinggal disini"


Ucapan Intan memaksa Sabiel dan Laura menatapnya curiga. Telinga keduanya terasa berdegung mendengar pernyataan konyol yang Intan ucapkan. Benak Sabiel berputar memikirkan rencana busuk apa yang hendak wanita itu mainkan.


"Omong kosong apa yang kau ucapkan?!" Sabiel menggeram, ia merasakan jemari Laura meremas lengannya.


"Kau mendengar apa yang aku ucapkan sayang. Aku tidak mau bercerai dan aku akan tinggal bersama kalian" ujar Intan perlahan.


Mata liciknya menatap wajah pias Laura yang sedikit terlihat olehnya. Seringai muncul perlahan, rencana yang ia susun untuk menghancurkan Laura tampaknya akan berjalan mulus. Wanita itu sudah mengantisipasi jika Sabiel menolaknya, ia akan gunakan Laura untuk menyetujuinya. Akan dia tekan rasa bersalah dalam diri Laura, agar ia mau menyetujui keinginannya untuk tinggal seatap.


"Bagaimana Laura?" tanyanya kemudian.


Sabiel merentangkan tangan menghalangi Intan untuk mendekati Laura. "Aku menolak keinginanmu. Jadi lekas pergi dari sini" sorot mata Sabiel tajam.


"Aku tidak berbicara padamu sayang. Ini antara aku dan Laura. Antar sesama istri" timpal Intan.


Laura menghirup nafasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Dia tahu saat seperti ini pasti akan ia alami. Intan datang dihadapannya, dan merendahkan posisinya sebagai istri siri. Laura menekankan pada dirinya, bahwa ia harus sedikit bersabar menghadapi istri sah suaminya. Laura menggeser tubuh Sabiel yang menghalanginya. Masalah ada bukan untuk ia hindari, tapi untuk ia hadapi. Dan Laura memutuskan menghadapi Intan.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Pertanyaan Laura menerbitkan senyuman di wajah Intan.


"Bisakah kita duduk santai sambil berbincang?" pinta Intan tak tahu malu.


"Sayang kau tid...."

__ADS_1


"Baiklah. Mari berbincang" potong Laura. Ia menatap bola mata suaminya, meyakinkan bahwa ia akan baik-baik saja.


Sabiel berjalan dibelakang dua wanita itu. Ia duduk di dekat Laura, sementara Intan berada di seberang mereka. Dalam hatinya, Intan merasa marah setiap kali melihat Sabiel seperti sedang siap siaga hendak melindungi Laura. Namun demi misinya, ia akan menyembunyikan amarahnya. Dia tidak ingin gagal dan berakhir kekalahan melawan wanita perebut suami orang dihadapannya.


"Aku ingin tinggal bersama kalian" Intan mengulangi ucapannya.


"Kenapa begitu?" tanya Laura.


"Karena aku ingin menebus kesalahanku. Aku sadar, mungkin sebagai seorang istri aku telah banyak melakukan kesalahan yang tidak aku sadari padanya. Hingga dia ingin menceraikan aku" ujarnya. "Ditambah dengan kehadiranmu, memperkuat kembali keinginannya untuk segera bercerai. Tapi aku tidak ingin bercerai darinya"


"Intan!" bentak Sabiel tak terima.


Laura menoleh menatap kemarahan di wajah suaminya. Tangannya bergerak untuk mengelus lembut lengan lelaki itu. "Biarkan dia bicara dulu sayang" ucapnya menenangkan.


Intan tersenyum. "Tolong terima aku sebagaimana aku menerima kehadiranmu, Laura" ucap Intan terang-terangan menatap Laura. "Aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik lagi untukmu, Sabiel" kali ini matanya menatap Sabiel yang sedang gusar.


Lelaki itu menggelengkan kepalanya. Hal apa yang sedang direncanakan wanita itu. Datang tiba-tiba dan mengatakan ingin tinggal bersama. Apa dia sudah gila?! Kehadirannya hanya akan mengganggu kenyamanan Laura disini. Dan Sabiel tak ingin itu terjadi.


"Aku tidak peduli Intan. Kau berubah atau tidak, akan sama hasilnya bagiku. Kita tetap akan bercerai" ucapnya lugas.


Intan menghembuskan nafasnya berat, tatapan kesedihan dan kecewa sudah ia pasang sejak tadi. Ia ingin menyentuh sisi feminim Laura. Ia butuh persetujuan Laura yang pasti tidak akan bisa ditolak Sabiel.


"Bayangkan Laura, aku telah lama hidup bersama suamiku. Pasang surut kehidupan, kami jalani bersama bertahun-tahun. Lalu kau datang begitu saja. Merebut suamiku dari...."


"Dia tidak merebutku, aku yang justru merebutnya" Sabiel tak tahan ingin memotong ucapan Intan. Laura sudah sedari tadi mencoba menenangkan kegusaran suaminya.


"Sabiel, dengarkan dulu" pinta Laura lembut. Dan berhasil membuat Sabiel diam dengan tangan terkepal.


"Kau datang dan merebut suamiku begitu saja. Bayangkan Laura, wanita mana yang tidak terluka hatinya diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri? Kau dan aku sama-sama wanita, kau pasti bisa merasakan bagaimana kondisi hatiku saat ini" Intan menyeka air mata yang berhasil ia keluarkan untuk meyakinkan Laura.


Tanpa mereka sadari, Intan sedang menatap keduanya dengan tatapan tajam. Rahangnya mengetat melihat sikap yang belum pernah ia lihat dari diri Sabiel sebelumnya.


"Tapi sama saja" Intan siap menyanggah ucapan suaminya. "Kehadiranmu membuat dia melupakan bahwa ada aku disisinya. Kau memang tidak merebutnya secara langsung, Laura. Kau merebutnya secara perlahan, bahkan tanpa kau sadari"


Ekor mata Intan melirik Sabiel yang tampak kesal dengan apa yang ia utarakan. Namun ia tak peduli. Ia telah bertekad untuk meraih kembali suaminya, apapun caranya.


Laura masih terdiam. Benaknya berputar memikirkan apa yang Intan ucapkan. Ia tersenyum untuk menutupi kegelisahan hatinya. Separuh hatinya tak setuju dengan apa yang Intan ucapkan, namun separuh hatinya yang lain menyetujui hal itu. Laura dilanda kebimbangan.


Keinginan Intan untuk tinggal bersama bisa menjadi buah simalakama baginya. Tapi batin Laura meyakini ada sesuatu yang ingin Intan lakukan disini. Wanita itu tidak sedang ingin memperbaiki dirinya untuk Sabiel, dia lebih terlihat ingin menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.


Laura menganggukkan kepala ketika satu keyakinan membulat dalam hatinya. Dia harus membiarkan Intan tinggal disini. Dan menyaksikan sendiri apa yang wanita itu rencanakan.


"Baiklah... "


"Sayang!" Sabiel berdiri dari duduknya. Lelaki itu gusar hanya karena mendengar nada suara mengalah dari bibir Laura.


Laura dan Intan jelas melihat kekesalan Sabiel dari raut wajahnya. Nafasnya yang menggebu dengan kedua bola mata membulat sempurna menatap Laura yang mendongah padanya, menandakan bahwa saat ini amarahnya sudah mencapai puncak. Lelaki itu menggelengkan kepalanya perlahan, memohon tanpa ucap agar Laura tak mengamini keinginan Intan.


"Jangan" satu kata tegas keluar dari bibir Sabiel.


Laura tak menghiraukan ucapan itu. Dia menoleh kembali pada Intan, tersenyum hangat seolah tak terjadi apa-apa barusan.


"Kau boleh tinggal disini, Intan" ucapnya membuat Sabiel murka dan menghentakkan kaki berjalan lebar menuju kamarnya tanpa menoleh sedikit pun pada kedua wanita itu.

__ADS_1


Sementara Intan, memandang kemarahan Sabiel dengan senyuman licik di wajahnya. Intan tak sadar, bahwa Laura pun saat itu sedang memandanginya.


"Aku ingin lihat permainan apa yang ingin kau mainkan" gumam Laura dalam hati dengan raut wajah datar.


🍁🍁🍁


Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam. Laura masih bersandar di headboard ranjangnya, memandang Sabiel yang tidur membelakanginya. Lelaki itu masih tidak terima dengan keputusan Laura membiarkan Intan tinggal bersama.


"Sayang? Kau masih marah padaku?" tanya Laura menggoyangkan bahu Sabiel.


Sabiel tetap diam. Lelaki itu tak ingin menerima keputusan Laura yang ia anggap gegabah. Menerima Intan sama artinya dengan kau harus bersiap dengan segala perbuatan tak menyenangkannya nanti. Sabiel tahu betul bagaimana licik dan serakahnya Intan. Selama tinggal bersama sudah pasti wanita itu akan berulah.


"Sayang?" Laura menarik bahu Sabiel agar menghadapnya. "Jangan marah lagi" ucapnya memohon.


Sabiel menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Dia bangkit dari tidurnya, langsung menatap bola mata coklat Laura yang indah.


"Apa tujuanmu menerima dia disini?" tanyanya lugas.


Laura mengelus lembut rahang Sabiel. Matanya menatap penuh pengertian pada lelaki yang masih terlihat kesal itu.


"Karena aku ingin tahu, apa tujuan sebenarnya istri sah-mu itu memilih tinggal bersama kita. Aneh bukan? tiba-tiba datang dan minta tinggal bersama dengan wanita berstatus istri siri suaminya" ucapnya seperti sedang berpikir.


"Berhenti memanggilnya dengan sebutan istri sah. Sebentar lagi status itu akan hilang bersama surat resmi perceraian" Sabiel gusar setiap kali Laura menyebut Intan dengan panggilan itu.


Laura terkekeh geli. "Baiklah" ucapnya santai. "Entah mengapa aku merasa Intan sedang merencanakan sesuatu, mungkin dia ingin menyingkirkanku"


"Itu tidak akan pernah terjadi" Sabiel langsung menyanggah.


"Maka dari itu. Jika memang dia ingin menyingkirkanku. Aku harus menunjukkan bahwa dia tidak akan bisa melakukannya. Aku harus memukul mundur dia secara halus, memperlihatkan sedikit demi sedikit kesalahannya saat kalian masih bersama" ujar Laura.


Sabiel menggeleng tegas. "Aku tetap tidak bisa menerimanya. Aku ingin bercerai darinya karena aku muak padanya, Laura. Tapi kau justru membuatku terpaksa harus melihatnya setiap saat disini" Sabiel mengusap kasar wajahnya.


"Justru karena itu. Jika kau muak padanya, biarkan dia melihat sikap muakmu padanya setiap saat. Buat dia mengerti bahwa kau benar-benar sudah tak ingin bersama dengannya lagi" Laura mencoba membuat Sabiel mengerti dengan tujuannya.


"Ayolah sayang, dia saat ini sedang mengajak kita bermain. Kenapa kita tidak mengikuti dulu permainannya, sebelum kita benar-benar mengakhiri semuanya dan membuatnya pergi dengan kekalahan" sambung Laura.


Sabiel tampak berpikir, benaknya mengingat kembali saran yang diucapkan Tomi padanya beberapa waktu yang lalu mengenai berbaikan dengan Intan agar Intan segera kembali ke Singapura.


"Apakah memang harus dengan cara ini?" gumam Sabiel penuh keraguan.


"Kau pikir aku senang dengan kehadiran dia disini? Tidak ada satupun wanita yang senang melihat wanita lain suaminya, Sabiel" ucap Laura mengembalikan perhatian suaminya.


"Intan datang kesini, aku rasa hanya ingin mengejek statusku. Dia ingin membuat mentalku sebagai wanita hancur dengan cara mempertegas statusnya yang lebih berhak atas dirimu" sambung Laura.


Sabiel memeluk tubuh Laura. Ucapan Laura membuatnya mengerti perasaan istri mudanya itu.


"Berjanjilah, bahwa kau tidak akan terprovokasi dengan segala sikap atau ucapan Intan selama disini" pinta Sabiel sembari mencium puncak kepala Laura.


Laura membalas pelukan Sabiel, "Aku berjanji"


Sabiel tersenyum mendengarnya. "Ada hal yang harus aku ceritakan padamu tentang Intan dan rencanaku bersama Tomi" ucap Sabiel.


Laura mendorong dada Sabiel, melepaskan pelukan itu. Kepalanya mendongah menatap penasaran pada wajah tampan suaminya.

__ADS_1


"Ceritakan padaku" ucapnya penuh tuntutan.


🍁🍁🍁


__ADS_2