
Bimasakti terperangah, menatap Laura yang hanya tertunduk bisu dengan raut wajah sulit terbaca. Wajahnya keruh mendengar pernyataan tiba-tiba yang keluar dari mulut orang tak kenal itu.
"Laura, ada apa ini?" tanya Bimasakti mencoba untuk menerka apa yang sedang terjadi di hadapannya.
Kilat murka dan perangai arogan muncul di wajah tampan Sabiel, sorot matanya mendelik menganggap remeh Bimasakti yang berdiri dihadapannya.
"Wanita ini istriku. Apa telingamu tuli?" ucapnya sinis melirik Laura yang pucat di dekapannya.
"Laura? Bisa kau jelaskan?" pandangan Bimasakti terpaku pada Laura yang mengatupkan mulutnya dengan mata yang mulai berkabut.
"Aku...aku..." suara tersekat, terasa sulit untuk ia berucap. Dadanya seolah terhimpit oleh beban yang berat, sehingga ia kesulitan untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Bimasakti.
"LAURA?!!" Bentak Bimasakti tak tahan melihat keterdiaman Laura.
"Sialan! Berani kau meneriaki istriku?!" Sabiel melepas dekapannya pada Laura, dan langsung mendorong dada Bimasakti dengan kasar.
Bimasakti tak terima. Dia membalas Sabiel dengan mendorong pula dadanya.
"Apa kau, huh?! Aku sedang bicara pada kekasihku." sorot matanya tajam menantang Sabiel.
"Apa kau bilang???" Sabiel mendorong kembali tubuh Bimaskati dengan lebih keras. "Mau menyebut dia kekasihmu?"
Bimasakti yang sempat terhuyung kebelakang karena dorongan Sabiel segera melangkah lebar. Tujuannya adalah Laura. Ia menarik lengan Laura ketika Sabiel lengah. Hingga kini posisi Laura berada di tengah kedua lelaki itu.
"Katakan padaku sayang? Apa yang terjadi?" sorot matanya kembali melembut menatap Laura yang sudah berderai air mata.
Sabiel menarik kembali lengan Laura, namun Bimasakti mempertahankannya. Lelaki itu ingin mendengar jawaban pasti dari mulut Laura sendiri.
"Sabiel lepaskan" pinta Laura dengan bola mata berkaca-kaca. "Berikan aku waktu menyelesaikannya" sambungnya.
Sejenak Sabiel ragu untuk melepaskan genggamannya. Namun melihat bola mata Laura yang mengiba, akhirnya genggaman itu melonggar, jemarinya melepaskan lengan Laura.
Laura menatap bola mata Bimasakti dengan sekujur tubuh bergetar menahan sembilu. Tenggorokannya serasa dicekik perlahan oleh rasa sakit yang menderanya ketika memperhatikan raut wajah sedih bercampur kecewa yang memancar dari paras tampan kekasihnya itu.
Dalam hatinya, berulang kali wanita itu menggumamkan permintaan maaf yang menyayat hati.
"Bimasakti..." suara parau perlahan keluar dari bibir Laura.
"Ya sayang, apa yang terjadi? Mengapa lelaki bedebah itu menyebutmu istrinya?" Bimasakti menatap Sabiel penuh kebencian.
Sabiel hanya diam, berdiri di belakang Laura dengan tangan mengepal kuat.
Laura menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ritme jantungnya sudah tak normal lagi sejak tadi.
"Maafkan aku" kalimat yang sejak tadi ia gumamkan, berhasil ia lafalkan.
"Apa maksudmu Laura?" Genggaman Bimasakti mengerat pada lengan Laura. "Jangan bercanda sayang" matanya menatap Laura dengan nanar.
Laura melepaskan genggaman Bimasakti, ia menghapus air matanya tergesa. Bimasakti merasa dadanya ditinju dengan kuat hingga menimbulkan lebam tak kasat mata. Jiwanya tersulut oleh bara api yang Laura lemparkan dengan tak berperasaan.
"Aku sudah menikah. Maafkan aku" ucap Laura yang berusaha tegar melihat kekecewaan begitu jelas dari lelaki yang ia cintai.
Beginikah akhir dari perjuanganku datang kesini? Menikah? Hal gila apa yang kau ucapkan Laura? Belum lama kita menjalin ikatan asmara? Secepat itukah kau berpaling dariku?
Pandangan Bimasakti berkunang menatap nanar wanita yang menghancurkan hatinya hingga berubah menjadi serpihan kecil. Lelaki itu membiarkan Sabiel menarik kembali Laura dalam pelukannya.
"Maafkan aku Bima..." Laura terbata menyaksikan kehancuran kekasihnya.
"Kau mengkhianati ku Laura?" tanyanya mendelik menatap kedua manusia brengsek dihadapannya. "Maafkan aku? hanya itu yang bisa kau ucapkan pada lelaki yang datang dari jauh hanya untuk menemuimu?" Nafas Bimasakti mulai memburu. Dia tak terima.
"Ayo sayang" Sabiel menghela tubuh Laura untuk berbalik meninggalkan Bimasakti yang mulai murka.
__ADS_1
"Mau kemana kau!?" bentak Bimasakti menarik lengan Laura agar berhenti berjalan.
Bagaimana mungkin lelaki itu membiarkan Laura meninggalkannya dengan cara seperti ini? Setelah semua lebam yang ia berikan di hatinya.
Laura tak mampu berbuat apapun untuk menenangkan amarah Bimasakti padanya. Lelaki itu sudah pasti membencinya saat ini juga.
"Maafkan aku Bimasakti. Aku mohon maafkan aku" Laura memohon dengan air mata kembali menderas melintasi kedua pipinya.
Sabiel yang menyaksikan itu segera menepis tangan Bimasakti dari lengan Laura. "Terimalah kenyataan bung!" ucapnya tegas sembari mengajak Laura kembali berjalan.
Bimasakti geram. Mulutnya mengatup dengan rapat sementara kedua belah tangannya mengepal erat. Langkahnya lebar ketika ia mencoba mengejar langkah kedua manusia di depannya. Dengan sekali tarikan di bahu Sabiel, ia berhasil membalik tubuh lelaki itu. Tangannya langsung teracung pada wajah tampan Sabiel.
Buk! Buk!
Dua pukulan keras berhasil membuat Sabiel terhuyung kebelakang. Laura yang menyaksikan ia terperanjat kaget, kedua tangannya menutupi mulutnya yang menganga.
Buk! Buk!
Bimasakti seperti kesetanan memukuli wajah Sabiel sampai menorehkan darah segar di sudut mulutnya.
Dengan cepat Sabiel yang mulai panas menahan pukulan berikutnya yang ingin Bimasakti berikan padanya. Ia menangkis pukulan itu. Dan memberi pukulan tak kalah kuat di rahang Bimasakti.
Perkelahian hebat tak bisa dielakkan lagi. Dengan pandangan ngeri, Laura mencoba melerai meski percuma. Kedua lelaki itu, seolah sedang berada di atas ring tinju dan begitu keras kepala untuk saling memberikan serangan satu sama lain.
"Hentikan!" teriakan Laura yang kesekian kalinya berhasil membuat orang-orang berduyun menghampiri area perkelahian itu.
Tampak beberapa pemuda mencoba memisahkan kedua lelaki yang sudah babak belur di semua sisi tubuhnya.
"Sudah sudah! Hentikan! Ini di tempat umum" salah seorang pemuda mengingatkan.
"Pengecut!" Sabiel meludah ke arah Bimasakti yang meronta dari kungkungan pemuda yang melerainya.
Laura tampak gamang, melihat betapa banyaknya luka yang Sabiel berikan pada Bimasakti. Hatinya terasa nyeri menelisik setiap lebam dan darah yang hampir memenuhi wajah kekasihnya. Ia ingin berlari dan memeluk lelaki itu.
"Laura, aku tak menyangka kau akan mengkhianatiku seperti ini" ucapnya kecewa.
"Tak perlu kau dengarkan sayang!" seru Sabiel menoleh pada Laura yang berdiri dengan tubuh bergetar karna tangisan.
"Maafkan aku"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut mungilnya, sebelum kemudian Sabiel meminta para pemuda untuk melepaskannya dengan alasan hendak pergi dari lokasi itu.
Sementara itu para pemuda yang memegangi Bimasakti, belum juga melepaskan kungkungannya. Para pemuda itu merasa lelaki yang mereka tahan masih menunjukkan gelagat akan menyerang Sabiel kembali.
Mata Bimasakti berkabut, melihat Sabiel mulai merangkul Laura dan membawanya berjalan bersama dengannya. "Laura! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" seru Bimasakti setengah berteriak.
Sabiel segera menahan Laura ketika wanita itu ingin menoleh melihat pada lelaki yang meratapi kepergiannya.
"Lauraaa! Kau tidak bisa meninggalkanku seperti ini" seru Bimasakti kembali.
Para pemuda yang memeganginya melepaskan pegangannya ketika Sabiel dan Laura sudah sampai dimobilnya. Sabiel memaksa Laura untuk segera masuk, saat wanita itu masih ingin melihat Bimasakti.
Matanya sudah sembab sejak tadi, kini mata itu hilang sinarnya ketika melihat dari kejauhan Bimasakti tampak meraung sembari berlutut, lelaki itu terlihat seperti mengerang menahan kesakitan hatinya.
"Laura?" Sabiel menatap tajam pada Laura yang enggan memasuki mobil.
Seketika sorot mata Laura berubah murka, kilatan emosi bercampur bara kebencian membuat Sabiel menggeram dalam diam.
Brak!
Laura membanting pintu mobil dengan kasar. Disusul Sabiel yang sebelum masuk ke dalam mobil, menyempatkan diri melihat kembali lelaki menyedihkan yang babak belur terkapar tak berdaya meratapi kepergian Laura dari hidupnya.
__ADS_1
"Laura sudah bersamaku. Kau pulanglah, terima kasih untuk hari ini" ucap Sabiel pada Tomi melalui ponselnya, ketika ia hendak menjalankan mobilnya. Berkat lelaki itu, Sabiel dapat menemukan Laura tepat waktu.
"Tidak perlu sungkan, Tuan. Hanya saja, ada sesuatu yang ternyata diluar dugaan juga hari ini" ujar Tomi yang saat ini masih berada di suatu tempat persembunyian, tak berapa jauh dari Bimasakti yang masih tampak terpukul seorang diri.
"Apa itu?" tanya Sabiel penasaran sambil terus mengemudikan mobilnya.
"Nyonya Intan sepertinya mengikuti Tuan. Beliau saat ini sedang mendekati mobilnya, mungkin akan mengikuti Tuan kembali" ucap Tomi menatap Intan dibalik mobil hitam yang terparkir dekat pohon palem besar tak jauh dari posisi mobil Intan.
Sebelum kejadian naas itu, Tomi yang datang lebih dulu di lokasi, langsung bersembunyi setelah memberitahukan tempat ia menemukan Nyonya Laura. Ketika Tuan Sabiel datang, tanpa di duga Nyonya Intan membuntuti dari belakang. Intan yang tidak tahu sedang masuk dalam pengintaian Tomi, berdiri setengah merunduk di pohon-pohon pembatas yang tertata rapi sedikit lebih jauh dari lokasi Tuannya. Dan Nyonya Intan menyaksikan semuanya, dengan tampang yang terperangah kaget.
"Halangi dia, urusanku belum selesai. Belum saatnya dia muncul dan membuatku bertambah murka" ucap Sabiel melirik Laura disampingnya.
"Baik Tuan" ujar Tomi sebelum panggilan itu berakhir.
🍁🍁🍁
Sabiel menjalankan mobil dengan hati masih diliputi kekesalan. Kebisuan Laura menambah bentangan angkara murka yang ia tahan.
"Apa kau tetap akan mendiamkanku seperti itu?!" ucap Sabiel mendelik Laura yang mengalihkan pandangannya pada jendela pintu mobil.
Sambil menghela nafasnya yang terasa berat, lelaki itu menyimpang dari badan jalan. Tak digubrisnya bunyi klakson yang nyaring dari kendaraan lain dibelakangnya.
Sabiel mematikan mobilnya dekat sebuah pohon kapas besar. Rintik hujan turun tiba-tiba diluar sana.
"Laura?" Sabiel menarik bahu Laura hingga menghadap padanya.
Laura tak sudi menatap wajah Sabiel kala itu. Dia memalingkan mukanya kearah samping, membuat Sabiel geram dengan apa yang ia lakukan. Rasa lelah bercampur marah perlahan menjalari tubuhnya. Sakit dan ngilu akibat perkelahiannya tadi tak lagi ia rasakan. Tatapannya tajam menatap bola mata Laura yang ia paksa bertabrakan dengan bola matanya.
"Apa kau masih akan marah hanya karena lelaki itu?!" tanya Sabiel tajam.
"Kau membuatnya babak belur Sabiel" ucap Laura mendelik. "Kau jahat! Kau lelaki paling jahat yang pernah aku temui" Laura tak bisa menahan ledakan emosi dalam dirinya.
"Itu yang membuatmu mendiamkanku?" tanya Sabiel tak percaya.
"Aku bisa memutuskannya dengan baik-baik, tapi kau membuat semuanya menjadi berantakan. KAU MEMBUATNYA TERLUKA, SABIEL!" ucap Laura berapi-api.
Sabiel sejenak terkesiap melihat lonjakan emosi Laura yang labil, pandangannya berubah muram menatap mata Laura yang berkilat penuh emosi kepadanya.
"Kau memperhatikan lukanya, tapi kau melupakan bahwa aku pun memiliki luka. Wajahku lebam dan berdarah, tapi kau malah mengkhawatirkannya?!" Sabiel membulatkan matanya menatap tajam Laura yang tak peduli.
"Itu salahmu sendiri" ucap Laura enteng. "Kau lupa bahwa kau lah yang merebutku darinya? Apa kau tidak malu? kau merebutku dari orang yang kau pukuli hingga babak belur. Kau seperti seorang maling yang membabat habis korbanmu dan membawa lari barang curianmu" Laura terus melontarkan kata-kata kasar pada Sabiel.
Sabiel bertambah emosi, kata-kata istri mudanya tidak bisa ia terima. "Tutup mulutmu sayang! Atau kau... "
"Atau apa? Apa lagi sekarang yang akan kau jadikan ancaman untukku, huh?!" Laura mendongah menantang. "Aku muak padamu!" ucapnya sebelum ia keluar dan membanting pintu mobil di hadapan Sabiel.
Sabiel terkejut dengan keberanian Laura meninggalkannya sendiri di dalam mobil. Rintik hujan bertambah deras mengiringi Laura yang terus berjalan. Sabiel keluar dari mobilnya, disambut oleh terpaan angin dingin dan air yang turun tak tepat waktu.
"Laura!" serunya ketika melihat Laura terus saja berjalan ditengah hujan.
"Laura, berhenti!" teriaknya kembali. Laura tak bergeming. Dengan cepat ia menoleh pada Sabiel yang berada dibelakangnya. Pandangannya terhalang oleh air hujan yang turun membasahi tubuh mungilnya.
Sabiel mempercepat langkahnya, "Laura! Aku bilang berhenti!" teriakan Sabiel memecah suara deru air yang semakin deras.
Laura sudah jengah dengan kondisinya. Dia merasa tertekan menjadi istri siri Sabiel dengan bayangan Bimasakti di hatinya. Wanita itu menengok lagi kebelakang, matanya berubah waspada ketika Sabiel semakin dekat.
Tanpa menghiraukan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang, Laura nekat menyebrang jalanan. Bunyi klakson dan umpatan dari para pengemudi tak lagi dihiraukannya. Dia tak peduli sekalipun ada salah satu kendaraan yang berhasil melindasnya dan merenggut nyawanya detik itu juga.
"Lauraaaa!" Sabiel geram menatap Laura yang berhasil menyebrangi jalan. Wanita itu dengan sigap langsung menyetop taksi yang melintas. Jalanan dengan dua arah itu, berhasil memutus pergerakan Sabiel mengejar Laura. Lelaki itu menatap dengan murka pada taksi yang membawa pergi istri mudanya.
🍁🍁🍁
__ADS_1