Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 50


__ADS_3

Malam semakin merangkak hampir mendekati tengah malam. Hujan deras menyisakan rintik halus yang tampak jelas jika dilihat dari sorotan lampu jalanan. Sabiel mulai gusar, sepanjang pencariannya yang tak juga membuahkan hasil.


Laura belum juga dia temukan, sementara speedometer sudah menunjukkan kondisi bahan bakar yang hampir sekarat.


"F*ck! Laura, kau membuat kesabaranku habis. Lihat saja nanti, begitu aku menemukanmu, akan aku buat kau tak berdaya untuk pergi kedua kalinya" Sabiel mengeratkan pegangannya di stir mobil. Dia hendak memutar balik kemudi mencari pom bensin terdekat. Lelaki itu masih nekat mencari Laura, ia tak ingin kembali tanpa membawa Laura bersamanya.


Drrrttt... Drrttt... Drrtt...


Bunyi ponsel mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang mulai lenggang.


"Halo" jawab Sabiel tanpa melihat siapa yang menghubunginya.


"Tuan?" suara Mbok Suti membuat Sabiel terkesiap penuh harap. Telinganya awas mendengar nada suara Mbok Suti yang cemas.


"Ya mbok, ada apa?" tanyanya didera rasa tak sabar.


"Nyonya Laura Tuan" Mbok Suti mendadak jadi gagap. Wanita tua itu, melirik pada temannya yang sama-sama cemas. "Nyonya Laura sudah kembali" ucapnya dalam setarikan nafas.


Sabiel terkesiap. Sorot matanya berkilat dengan raut wajah sulit dibaca, tanpa ia sadari seringaian muncul perlahan diujung bibirnya.


"Jaga dia. Jangan sampai wanita itu pergi lagi" ucap Sabiel dingin sembari membanting stir dan segera berjalan menuju apartementnya.


🍁🍁🍁


Jalanan yang mulai sepi, memberikan kesempatan besar bagi lelaki itu untuk lebih kencang memacu mobilnya, dengan bahan bakar full ia tak perlu khawatir kendaraan mewahnya itu tersendat untuk sampai disana.


Sabiel memarkirkan mobilnya sembarang di halaman superior duplex apartment miliknya. Ia keluar dari balik pintu mobil dengan tergesa. Tomi berdiri di pintu depan, menyambut kedatangan Sabiel dengan raut wajah keruh. Lelaki itu langsung meluncur ke apartement begitu Tuannya memberitahu tentang Laura yang sudah kembali.


"Dimana dia?" Sabiel bertanya gusar.


"Di dalam Tuan" jawab Tomi yang memang sudah memastikan sendiri keberadaan Nyonya Laura.


Sabiel melangkah dengan lebar, tangannya terkepal menahan amarah yang bisa saja langsung meledak. Laura sudah membuatnya pusing seharian inj, sudah sewajarnya ia memberi sedikit pelajaran.


Tangannya terkepal erat berjalan dengan tekad seorang pembunuh. Begitu memasuki apartement mewahnya, lelaki itu langsung dihadapkan dengan pemandangan yang sulit untuk ia jelaskan. Tangan yang semula terkepal kuat, melemas sudah melihat istrinya disana.


Ia terpaku menatap wajah istri mudanya yang duduk tertunduk di tangga teratas lantai dua. Wanita itu memeluk lututnya dengan sekujur tubuh yang basah kuyup. Mata Sabiel melihat air hujan menetes dari pakaian Laura yang membasahi setiap anak tangga. Entah apa yang wanita itu lakukan, bagaimana bisa kondisinya kuyup seperti itu? sementara ia pergi dengan sebuah taksi. Mata Sabiel fokus menatap Laura, sementara ditangga paling bawah, kedua pembantunya berdiri dengan raut wajah cemas melihat majikannya yang tampak kedinginan.


"Pergi" ucap Sabiel sembari memberi tanda dengan gerakan tangannya kepada kedua pembantunya. "Kau juga pergilah, Tom" perintahnya pada Tomi yang mengekorinya.


Laura perlahan mengangkat wajahnya, ketika suara Sabiel terdengar olehnya. Matanya langsung melihat tubuh tegap Sabiel dibawah tangga sedang berjalan mendekatinya. Laura beranjak berdiri dari duduknya, ketika Sabiel sudah berada di dua anak tangga bagian bawah. Lelaki itu melangkah dengan perlahan, sorot matanya lekat menatap Laura yang berdiri sambil gemetaran menahan dingin.


Sorot mata Sabiel berkilat penuh antisipasi, ketika ia menyaksikan istri mudanya itu melucuti kancing kemeja yang melekat di tubuhnya.


Dengan bibir bergetar Laura bergumam lirih. "Aku kedinginan, apa kau bisa menghangatkanku? Aku juga lelah"


Tangannya terus saja menanggalkan kancing kemeja satu per satu. Hingga bertepatan dengan Sabiel yang sudah berdiri dihadapannya, kemeja basah itu terlepas dari tubuhnya. Sabiel langsung disuguhi kulit mulus yang pucat dengan bra hitam sebagai penutup terakhir bagian atas tubuh Laura.


Tak ada kata apapun yang keluar dari mulut lelaki itu. Dia sudah terbius dengan sikap Laura yang tampak seperti tawanan yang kelelahan dan memberikan penyerahan diri pada pemangsa. Wanita itu, dengan sadis menyiram bara api dalam hati Sabiel dengan air es beserta bongkahannya. Hingga amarah yang tadi hampir lepas, sirna sudah dari hati lelaki itu.


Sabiel langsung mengangkat tubuh mungil istrinya, ia menggendong Laura tepat dibagian depan tubuhnya. Hingga mata coklat Laura, langsung bertatapan dengan mata hitamnya. Laura mengalungkan tangannya di leher Sabiel. Belum puas memberi Sabiel kejutan dengan penyerahan dirinya, Laura menyentuhkan bibirnya yang dingin pada permukaan bibir Sabiel yang hangat.

__ADS_1


Sabiel terkesiap dalam hitungan detik. Namun ia tak rela ketika bibir Laura menyambangi bibirnya hanya sekejap. Lelaki itu memajukan wajahnya, meletakan bibirnya kembali pada bibir Laura. Keduanya terdiam. Meresapi suasana hening yang tercipta karena pertautan dua bibir itu.


Sabiel dibanjiri oleh sensai menggairahkan saat ia mulai membawa Laura ke dalam kamarnya. Kemeja basah milik istrinya, dibiarkan tergeletak di tangga.


Sabiel menciumi bibir Laura dengan hangat, ia merasakan dinginnya bibir mungil itu. Hatinya berbunga, mengingat cumbuan ini untuk pertama kalinya dilakukan atas dasar keinginan satu sama lain. Bukan pemaksaan seperti apa yang selama ini Sabiel lakukan pada Laura.


Laura memeluk erat leher Sabiel, dadanya berdetak kencang seiring ciuman mereka yang berubah semakin liar. Sabiel langsung membawa Laura ke dalam kamar mandi, kondisi tubuh Laura yang dingin dan pucat harus ia netralkan dengan siraman air hangat.


Lelaki itu melepaskan ciumannya dan mendudukan Laura di kloset yang tertutup. Matanya lembut menatap wajah Laura yang mendongah kepadanya.


"Kau harus membasuh tubuhmu dulu, sayang" ucapnya sembari merangkup pipi Laura dengan kedua tangannya.


Laura hanya diam. Dia membiarkan Sabiel membuka seluruh sisa pakaian yang masih melekat pada tubuhnya. Posisi Sabiel yang berjongkok dengan satu lutut sebagai penopang membuat Laura bisa menatap sendu wajah tampan penuh luka itu.


Lelaki dihadapannya itu suaminya. Wajahnya ternyata sama parahnya dengan Bimasakti. Laura baru menyadari itu.


"Apa sakit?" tanya Laura merangkup wajah Sabiel tepat didepannya.


Wanita itu tak menyadari, sikap hangatnya telah membawa sejuta perasaan yang begitu besar dalam hati Sabiel. Rasa bahagia, senang, dan cinta menjalari seluruh jiwanya. Sabiel tersenyum hangat menatap kilat kecemasan di wajah cantik istrinya. Sesuatu yang baru kali ini Laura tunjukan padanya.


"Sikap manismu, membuat luka-luka ini tak ada artinya" ucap Sabiel terharu.


"Kita akan mandi bersama?" tanya Laura dengan wajah bersemu merah.


Sabiel menyeringai, "Kau ingin mandi bersama?"


Laura tak berani menjawab. Tiba-tiba rasa malu menyerangnya. Membuat keberanian tadi saat ia mulai mencium Sabiel menciut dan tenggelam di dasar jiwanya. Sabiel memperhatikan Laura yang diam, lelaki itu tersenyum menyadari wajah istrinya yang berubah semakin merona. Laura malu. Dan sialnya, ia terlihat berkali-kali lebih cantik.


Laura masih merasa malu untuk melihat tubuh suaminya yang sudah telanjang bulat. Dia menjadi salah tingkah duduk diatas kloset itu, kepalanya menengok kekiri dan kanan dengan gelisah, berusaha tak melihat tubuh kekar yang terasa liat bila disentuhnya.


Ketika semua pakaian sudah tertanggal, Sabiel membawa kembali Laura bersamanya.


"Ayo sayang, mari saling menghangatkan" ujarnya seraya menggendong kembali Laura yang langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sabiel.


🍁🍁🍁


Sabiel tak berkedip sedikitpun menatap Laura yang serius mengobati luka di pelipisnya diatas tempat tidur.


Sehabis mandi tengah malam, wanita itu keras kepala ingin mengobati luka-luka di wajah suaminya. Dengan kotak p3k di sisi pahanya, Laura mulai mengoles obat pada luka-luka itu. Keduanya diam tak berucap apapun. Sabiel menarik nafasnya dalam, mencoba meresapi aroma tubuh Laura yang dapat ia cium dengan jelas.


Matanya menyusuri keseluruhan tubuh Laura. Piyama berbahan satin membuat lekuk tubuhnya terbentuk dengan sempurna, rambut panjang setengah basahnya berhasil membuat penampilan Laura tampak segar dan menggoda.


Namun Sabiel harus menahan hasratnya. Lelaki itu tahu, kejadian hari ini pasti masih membekas di ingatan wanita itu. Dia tidak cukup gila untuk mengambil keuntungan dari kondisi Laura yang masih dirundung duka.


"Selesai" ucap Laura ketika pengobatan dadakannya telah selesai ia lakukan.


Sabiel tersenyum. Lelaki itu menggenggam tangan Laura, membalikkan telapak tangannya, dan memberikan kecupan dalam disana.


"Terima kasih sayang" ucapnya tulus.


Laura tersenyum. Ia menarik tangannya perlahan dan mulai membereskan kotak p3k yang ia bawa ke atas tempat tidur. Dia letakkan kotak itu di meja nakas.

__ADS_1


Wanita itu kembali duduk berhadapan dengan Sabiel. Dengan canggung ia menatap bola mata hitam yang ternyata sedang memperhatikannya sejak tadi.


Sabiel tak tahan, lelaki itu memeluk Laura erat. Hangat tubuh Laura membuatnya nyaman berlama-lama mendekapnya. Lelaki itu mengusap lembut punggung Laura.


"Maafkan aku Sabiel" ucap Laura lirih. "Aku membuatmu kesulitan"


Sabiel tersenyum lembut dibalik rambut lembab Laura. Lelaki itu sudah terlanjur bahagia menerima semua sikap manis Laura malam ini. Dalam hatinya ia merenungi semua yang istri mudanya lakukan, apakah mungkin wanita yang sedang ia dekap ini sudah mulai mau menerimanya sebagai suami? Dada Sabiel terasa melambung tinggi membayangkan jika apa yang ia pikirkan itu adalah kenyataan.


"Tak apa-apa, sayangku" Sabiel memberi kecupan di bahu Laura. Ia melepaskan pelukan itu dan menatap hangat kedua bola mata istrinya. "Sudah cukup bagiku jika kau kembali dan mulai menerimaku sebagai suamimu"


"Aku akan mencoba menerimamu"


Sabiel mendengar keraguan dalam suara Laura. Ia yakin, Bimasakti masih menjadi sosok istimewa dalam hati istrinya. Namun sikap Laura malam ini, membuat Sabiel memaklumkan keraguannya. Dia akan membiarkan Laura mulai menerimanya dengan perlahan, sampai sosok lelaki lain dihatinya hilang dan hanya ada dirinya seorang disana. Bersemayam dalam hati Laura, menyatu dengan jiwanya yang indah mempesona.


"Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar menerimaku" ucap Sabiel senang. "Untuk permulaan, bagaimana jika mulai saat ini kau mulai memanggilku 'sayang'?" usul Sabiel tak tahu malu.


Laura sedikit terperangah. 'Sayang'? Tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Sabiel meminta sesuatu yang tak biasa ia lakukan.


"Ayo coba katakan" pinta Sabiel seperti anak kecil.


"Aku lelah. Bagaimana jika besok saja mulainya?" Laura beralasan.


"Tidak mau! Aku ingin mendengarnya sekarang" Sabiel merajuk. Dia menatap mata Laura dengan penuh harap.


Laura tampak bingung melihat sikap Sabiel yang tak beda jauh dengan anak kecil. Lelaki itu selalu saja memaksakan keinginannya. Kadang Laura berpikir, apakah sikap pemaksanya itu lahir karena ia anak tunggal? Sehingga segala keinginannya menjadi sebuah keharusan untuk diikuti oleh kedua orangtuanya dulu.


"Sayang?" Sabiel menyadarkan Laura dari lamunannya.


"Apa?"


"Mana panggilannya?" rengek Sabiel. Lelaki itu menyandarkan kepalanya dibahu Laura dengan manja. "Ayo" tuntut Sabiel.


Laura memutar bola matanya malas, si pemaksa ini tidak akan pernah melepaskan Laura sebelum ia mendapatkan keinginannya.


"Sayang" ucap Laura setengah berbisik.


Sabiel mendengarnya. Suara canggung yang keluar begitu pelan dari mulut istrinya. Lelaki itu menegakkan tubuhnya kembali, menatap senang wajah cantik istrinya yang tersipu malu. Sabiel segera mencium bibir ranum Laura, melepaskan, lalu mencium lagi, begitu seterusnya hingga Laura jengah dan menahan dada Sabiel yang hendak menciumnya kembali.


"Aku lelah, sa-yang" Laura masih canggung memanggil Sabiel dengan panggilan itu.


Sabiel tersenyum lebar. Ia tak bisa menutupi kebahagiaan yang menguar dari dasar hatinya. "Baiklah, sudah saatnya kita tidur" ucap Sabiel sambil mendorong pelan bahu Laura agar berbaring.


Sabiel memposisikan Laura membelakangi tubuhnya, punggung Laura menempel pada dadanya, ia ciumi beberapa kali pundak belakang Laura. Lelaki itu masih terlalu bahagia dengan kejutan di penghujung harinya. Sabiel mulai memejamkan mata, dengan rona bahagia yang menghiasi wajah tampannya. Ia tak menyadari, Laura yang masih terjaga sedang menahan air matanya mengenang lelaki yang beberapa waktu lalu resmi ia tinggalkan.


"Selamat tinggal Bimasakti. Aku akan menjalani takdirku, aku harap kau pun begitu" gumam Laura dalam hati.


Malam menjelang dini hari, menjadi saksi penyerahan diri Laura yang sangat dramatis. Ia meyakini kehadiran Sabiel sebagai takdir Tuhan yang harus ia jalani.


Jemari Laura mencoba menyentuh tangan Sabiel yang memeluknya erat, dia mengelusnya lembut.


"Kau suamiku. Dan aku istrimu. Aku akan menerima itu mulai sekarang" gumamnya sebelum ia memejamkan mata dalam pelukan suami sirinya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2