
Keesokan paginya. Laura sudah berada di dapur. Kini ia tampak lebih terbiasa dengan rutinitasnya sebagai seorang istri sekaligus mahasiswa.
"Mbok, tolong ambilkan aku nampan" ucapnya pada Mbok Suti.
Wanita tua itu berjalan pada rak perabotan yang tertata rapi di kitchen set. Menyerahkannya sambil memperhatikan sarapan yang sudah dibuat oleh majikan mudanya.
Dua tangkup sandwich avocado dan segelas jus tomat segar untuk suaminya yang masih tidur tersaji rapi di meja. Sementara disisi lain, semangkuk bubur kacang hijau lengkap dengan roti tawar dan jus jeruk hangat tersaji pula untuknya.
Laura menempatkan kedua menu itu di nampan rotan yang besar.
"Biar saya saja yang bawa Nyonya" Mbok Yayu menawarkan diri.
"Tidak usah Mbok. Aku ingin membawanya sendiri" Laura tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya pada menu sarapan yang sedang ia tata.
"Tuan Sabiel beruntung kali ini"
Ucapan Mbok Suti yang tiba-tiba membuat Laura menoleh padanya. "Kenapa Mbok bilang begitu?"
Sejenak Mbok Suti terlihat ragu untuk mengatakannya. Namun ketika melihat senyuman tulus Laura terpancar dari wajah cantiknya. Pembantu itu memberanikan diri mengatakan apa yang ingin ia ungkapkan atas sikap Laura selama ini.
"Tuan Sabiel tidak pernah diperlakukan seperti Nyonya Laura memperlakukannya" ucap Mbok Suti setengah merundukkan kepala. Mbok Yayu yang berada di dekatnya terpancing pula untuk berbicara.
"Sejak menikah dengan Nyonya..... " ucapan Mbok Yayu tertahan karena merasa tak enak hati membicarakan istri pertama Tuannya.
Laura mengerti itu. "Tidak apa-apa, ceritakan saja" ucapnya tersenyum ramah.
Sambil melirik pada teman seprofesinya, Mbok Yayu melanjutkan bercerita. "Sejak menikah dengan Nyonya Intan. Tuan Sabiel jarang sekali terlihat diperlakukan seperti seorang suami. Disediakan makanan buatan istrinya sendiri, disiapkan segala kebutuhannya, ditemani makan dan hal remeh lainnya yang seharusnya dilakukan bersama"
"Ya. Tuan sampai terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Urusan kebutuhannya, jika tidak diserahkan pada kami, maka ia akan melakukannya sendiri" Mbok Suti kembali menimpali mengingat bagaimana ketidakpedulian Intan pada Tuan Sabiel.
Laura terenyuh mendengar cerita itu. Ia memang sudah mengetahui hal itu dari Sabiel, dulu saat status mereka belum menjadi suami istri. Namun ketika mendengar cerita itu dari pihak ketiga, hati Laura terasa lebih iba pada Sabiel. Perasaan iba pada suaminya timbul memenuhi hatinya seiring kedua pembantu yang terus bercerita secara bergantian.
Cerita itu terus berputar dalam kepalanya hingga pada saat ia mulai beranjak dari dapur menuju kamarnya. Langkah kakinya begitu hati-hati membawa nampan berisi semua menu sarapan. Sementara benaknya terus memikirkan cerita-cerita tentang kehidupan Sabiel bersama istri sahnya.
Betapa tersiksanya ia, memiliki istri yang bahkan tak peduli kepadanya. Sekuat dan semandiri apapun seorang suami, tentu yang paling didambakannya adalah perhatian sebagai bentuk kasih sayang dari seorang istri.
Setelah Laura berada di dalam kamar, ia langsung menaruh nampan itu di atas meja sofa. Dan berjalan menghampiri suaminya yang masih terlelap di ranjang.
Laura duduk di ujung ranjang. Matanya memperhatikan wajah lelap Sabiel yang tampak damai. Pada dasarnya Sabiel itu orang yang baik, dia lelaki yang meskipun marah tidak akan sampai tega melukai wanita, terkecuali wanita itu telah memprovokasinya lebih dulu. Sikapnya juga tergolong manis diusianya yang sudah terlampau dewasa.
Laura berpikir, betapa bodohnya Intan yang telah menyia-nyiakan lelaki seperti Sabiel hingga membuat Sabiel berpaling dan memilih menikahi wanita lain. Lelaki seperti Sabiel, sudah sepantasnya memiliki wanita yang bisa memberikan kebahagiaan padanya.
"Meskipun Tuhan mengirimmu dengan cara yang tidak aku sukai. Aku akan berusaha membahagiakanmu sayang. Sekarang aku adalah istrimu, maka kebahagiaanmu adalah kewajibanku" Laura membathin sembari mengelus lembut sebelah pipi Sabiel.
Sabiel yang merasakan belaian itu, malah terpancing untuk semakin lelap sebelum Laura mengusiknya dengan sebuah kecupan pada bibirnya.
"Bangun" bisik Laura tepat di permukaan bibir Sabiel.
Bohong jika Sabiel tak tergugah oleh kecupan pagi yang Laura berikan padanya. Lelaki itu dengan mata masih terpejam, menekan kepala Laura yang masih dekat dengan wajahnya. Bibirnya mencium bibir Laura mesra. Mata Laura terperangah, Sabiel terlalu buas merespon godaannya dipagi hari.
"Curang!" Laura memukul dada Sabiel pelan ketika ciuman itu sudah terlepas.
Sabiel menyeringai penuh kemenangan. "Siapa suruh menyerangku lebih dulu"
"Ish! Masih saja berkilah" Laura mendelik malas dengan pipi merona merah. "Ayo bangun, aku sudah buatkan sarapan" ucapnya sembari menarik lengan Sabiel agar turun dari ranjang.
Sabiel turun tanpa perlawanan. Selimbut yang menyelimbuti tubuhnya tersibak dan menampilkan tubuh atletisnya tanpa penutup apapun. Sontak Laura membalikkan badan, ia merasa malu sendiri menyaksikan tubuh polos suaminya.
__ADS_1
"Astaga sayang! kita sudah sering saling melihat bersama. Bahkan semalam kau begitu agresif membelai tubuhku. Apa itu masih membuatmu malu?" ucap Sabiel menatap Laura yang berjalan memunggunginya untuk mengambilkannya jubah piyama.
"Tetap saja, jika dalam keadaan normal seperti ini aku merasa aneh" sahut Laura memberikan jubah piyama tadi lalu langsung berjalan lebih dulu mendekati sofa. Duduk disana menunggu suaminya.
Sabiel mengerutkan kening mendengar sanggahan Laura. "Memang semalam tidak normal menurutmu?" ia menalikan jubah itu dan menghampiri Laura di sofa.
"Tidak normal karena aku merasa menjadi seperti orang gila" aku Laura dengan pipi bersemu merah. Ia segera menghidangkan sarapan suaminya ketika lelaki itu duduk di dekatnya, Laura mendengar kekehan Sabiel yang mengejek ucapannya.
"Hentikan kekehanmu dan makanlah" sorot mata Laura membulat menatap Sabiel yang masih terkekeh geli.
Sabiel menghentikan kekehannya. "Bagiku, kau orang gila tercantik terseksi terliar yang paling aku cintai di dunia. Aku bahkan rela tertular penyakit gilamu, sayang" ucap Sabiel terkekeh kembali. Lelaki itu mengecup kening Laura beberapa kali sebelum menyantap sarapan buatan istrinya.
"Tumben kau sarapan dengan itu" ucap Sabiel disela kunyahannya, melirik mangkuk bubur kacang hijau dengan roti yang Laura celupkan kedalamnya.
Laura mengunyah penuh nikmat. Rasanya kacang hijau buatannya kali ini terasa lebih enak dari yang pernah ia buat sebelumnya.
"Sedang ingin saja" jawabnya santai sambil terus menghabiskan sarapannya.
"Sayang, kenapa taman belakang kau biarkan kosong?" tanya Laura mengingat satu taman kecil di belakang.
"Tadinya aku ingin membuat taman bunga disana. Tapi karena begitu banyak urusan yang harus aku tangani, membuatku melupakan taman itu" ungkap Sabiel. "Memang kenapa?" tanyanya kemudian.
Laura tampak berpikir sejenak, dia ragu idenya akan diterima atau tidak.
"Ada apa sayang?" ulang Sabiel
"Aku ingin membuat kebun disana. Aku ingin belajar menanam sayuran. Apa boleh aku pakai taman itu?" Laura menoleh pada Sabiel yang sedang memperhatikannya pula.
"Kau bicara apa sayang? Tentu saja boleh. Lakukan apapun yang kau inginkan di tempat ini" ucap Sabiel mengusap lembut rambut Laura.
"Kau cantik sekali"
Sabiel tersenyum, lelaki itu mencium pelipis Laura mesra. "Kau sudah mandi sayang?" pertanyaan jebakan mulai ia pasang.
Laura menatap penuh waspada. Suaminya ini tipe lelaki jahil yang senang mengerjai istrinya. Dia tahu apa yang akan suaminya lakukan jika sudah melontarkan pertanyaan itu. Refleks Laura menggeser duduknya.
"Sudah. Aku sudah mandi" ucapnya mengawasi Sabiel yang tampak menyeringai. "Jangan coba-coba sayang!" Laura menggoyangkan telunjuknya di hadapan Sabiel.
"Coba-coba apa? Memang apa yang akan aku lakukan?" ucap Sabiel dengan wajah menyebalkan.
Lelaki itu menggeserkan tubuhnya mendekati Laura yang sudah terpojok di sofa.
Grep!
Cengraman tangan Sabiel mencegah niat Laura untuk berdiri dari posisinya.
"Tadi kau masak bukan? Tubuhmu bau. Lebih baik mandi lagi bersamaku" ucapnya dengan tak tahu malu.
"Tidak. Aku tidak bau. Aku tidak mau mandi lagi" tolak Laura menyilangkan tangan ditubuhnya.
Sabiel semakin tergoda melihat penolakan Laura. "Tapi aku tidak suka kau bau. Aku akan memandikanmu dengan bersih" Lelaki itu menyeringai bersiap membawa Laura bersamanya.
"Sabiel!! Ah!" pekik Laura yang terkejut karena Sabiel langsung menggendongnya dan berjalan menuju kamar mandi.
"Kau harus mandi lagi sayang"
"Tidak! Aku tidak mau! Turunkan aku!"
__ADS_1
"Mandi sebentar saja"
"Kau gila. Mandi denganmu tidak ada yang sebentar. Turunkan aku"
Sabiel tertawa terbahak mendengar ucapan Laura. Lelaki itu segera menutup mulut Laura dengan bibirnya, menghentikan semua rancauan yang hendak Laura berikan padanya. Ia mencium mesra bibir yang mulai pasrah itu, sambil menendang pintu kamar mandi perlahan hingga tertutup rapat.
🍁🍁🍁
Di dalam ruang kerjanya Sabiel berdiri memandang taman belakang yang tadi pagi Laura bahas. Telinganya tampak awas mendengar perkembangan masalahnya dengan Intan dari Tomi.
"Jadi begitu, anak buahmu sudah mengkonfirmasi bahwa apartemen baru itu Intan dapatkan dari lelaki bernama Dato'?!" senyum kemenangan terbit disudut bibirnya.
"Benar Tuan. Mereka sudah menyelidiki apartemen itu. Dan kini Nyonya Intan memang selama di Singapura tidak menempati apartement yang Tuan belikan. Nyonya Intan sudah sejak lama, tinggal di apartement barunya" ungkap Tomi.
"Kau sudah menyelidiki siapa itu Dato'? Aku penasaran bagaimana tampangnya" selidik Sabiel.
"Itu yang menjadi masalah Tuan. Orang ini sepertinya memiliki pengaruh cukup tinggi disana. Hampir setiap kali anak buah saya menyelidiki keberadaannya, mereka seolah menemukan jalan buntu." ungkap Tomi.
"Sudahku duga Tom. Dato' itu gelar kehormatan dari sultan atau kerajaan. Kau tidak akan semudah itu menemukannya karena tidak sedikit nama Dato' yang bersebaran disana. Perkiraanku, jika sampai Intan berhasil mendapatkan apartement dari lelaki dengan dengan gelar seperti itu, aku yakin ada hubungan spesial yang mereka lakukan dibelakangku" ucap Sabiel. "Jika benar apa yang kita duga, masalah ini pasti akan mengundang polemik baru disana" sorot mata Sabiel berkilat penuh perhitungan.
"Aku tidak menyangka, akibat ulah mabuknya, malah menggiringku pada masalah yang sepertinya akan menarik untuk dijadikan senjata melawannya" Sabiel menyeringai. "Kau harus menemukan jalan untuk membongkar semuanya Tom" ucapnya tegas.
"Itu dia Tuan. Sepertinya satu-satunya jalan adalah dengan membuat Nyonya Intan kembali kesana. Kehadiran Nyonya disana, akan menuntun tim saya untuk menemukan lelaki itu" Tomi mengutarakan strateginya.
Sabiel mengangguk sepakat dengan penuturan Tomi. "Ya. Kau benar. Hanya saja aku bingung bagaimana membuat Intan kembali kesana"
Tomi yang mendengarkan tampak ragu untuk mengutarakan sarannya yang lain. "Tuan.." ucap lelaki itu.
"Apa?"
"Bagaimana jika anda berbaikan terlebih dulu dengan Nyonya..."
"Apa kau gila?!" potong Sabiel segera. "Aku muak dengannya, sekarang kau minta aku untuk berbaikan kembali dengan wanita itu?! Kau ingin aku hajar Tom?!" ucap Sabiel gusar.
Tomi menghela nafasnya berat. Respon Tuannya sama persis dengan apa yang ia duga. "Demi kelangsungan penyelidikan Tuan. Hanya itu cara tercepat membongkar perselingkuhan Nyonya disana"
Sabiel tampak berpikir. Dia memang mengakui apa yang Tomi sarankan terdengar masuk akal. Semakin ia keras pada Intan, maka semakin Intan tidak akan mau pergi jauh dari dirinya. Wanita itu begitu takut untuk melangkah keluar, karena sikap Sabiel yang tidak membuatnya tenang akan statusnya.
"Tuan?" tanya Tomi yang tak mendengar suara Sabiel cukup lama.
"Ya. Baiklah, aku akan pertimbangkan. Tapi kau harus segera menyelesaikan penyelidikan itu begitu Intan kembali kesana" Sabiel memicingkan mata
"Pasti Tuan!" sahut Tomi lugas.
Dari luar ruangan terdengar derap langkah seseorang yang mendekat. Tak berapa lama pintu itu terbuka.
"Sayang, aku sudah siap" suara Laura membuat Sabiel menoleh padanya. Lelaki itu tersenyum hangat menyambut kedatangan istrinya.
"Baiklah. Aku akan pergi bersama Laura. Aku akan menghubungimu kembali" Sabiel mengakhiri panggilannya tanpa mendengar respon Tomi disebrang sana.
Pandangannya sudah teralihkan sepenuhnya pada Laura yang tampak segar di weekend siang hari ini. "Kita berangkat sekarang?" Sabiel berjalan menghampiri Laura diambang pintu. Merangkul pinggang kecilnya dan menyematkan kecupan di kepala Laura.
"Kau cantik" pujinya membuat Laura tersipu malu.
Mereka berjalan beriringan. Pancaran rona kebahagiaan tak surut dari paras pasangan sempurna itu. Sabiel terkekeh setiap kali Laura menggerutu sambil mengingat aktifitas mandi bersamanya yang cukup lama. Wanita itu mendelik dengan cara menggemaskan mengingat kelakuan vulgar suaminya di dalam sana.
Langkah keduanya ringan tanpa beban. Kehadiran Laura membuat Sabiel tak pernah kekurangan untuk selalu merasa dicintai dan mencintai. Sabiel berjanji, bahwa dalam kesempatannya kali ini, Ia akan menjaga dan memperlakukan Laura sebagai seorang ratu. Ratu dalam hatinya. Ratu dalam sendi kehidupannya.
__ADS_1
🍁🍁🍁