
Sekarang ruangan petak itu sudah hampir gelap, hanya sinar rembulan lah satu-satunya cahaya yang menerangi penjara itu melalui celah jendela berjeruji.
Tubuh Bimasakti meringkuk sebagaimana tubuh para tahanan yang lain. Sobekan kain kusam yang dilemparkan Anggera berhasil menghentikan darah yang keluar dari sayatan di bola matanya. Sudah dua hari pemuda itu tak bisa tertidur, matanya belum mulai terbiasa pada kegelapan.
Ditengah senyapnya malam, jeritan dan amukan Bimasakti mengisi kekosongan. Membangunkan jiwa-jiwa lusuh yang terperangkap dalam keserakahan kaum kapital yang busuk.
Kini pemuda itu hanya bisa mengandalkan telinganya untuk mencari tahu akan kondisi yang berada disekitar. Para preman tengik itu tak datang setelah mereka membuat buta kedua mata Bimasakti. Satu hal yang amat disyukuri oleh para penghuni penjara.
Ditengah penghayatannya akan suasana gelap yang pekat. Telinga Bimasakti yang berubah begitu tajam, mendengar sesuatu dari jarak yang ia rasa cukup jauh. Sayup terdengar beberapa langkah manusia menderap mendekati penjara itu. Tiba-tiba hidungnya mencium aroma asing mirip sesuatu yang terbakar. Aroma itu perlahan semakin jelas memenuhi rongga penciumannya. Tubuhnya langsung tegak, kepalanya langsung menengok kiri dan kanan dengan gelisah.
"Kebakaran!!" seru seorang tahanan yang ternyata terjaga sejak tadi.
Bimasakti semakin gelisah. Bau karbondioksida yang timbul dari proses pembakaran semakin menyesakkan dadanya. Ia terbatuk kencang. Suara kepanikan mulai terdengar dari segala sisi.
"Kebakaran! Kebakaran! Toloooong!"
Suara teriakan para penghuni tahanan memaksa Bimasakti berjalan dengan kedua tangan terentang kesegala arah. Digenggam kuatnya jeruji besi yang berhasil ia temukan.
"Pak Anggera! Pak Anggera!" panggilnya pada buruh tua yang pasrah dengan kondisi lumpuhnya.
"Bimasakti!" sautnya tergesa. "Di bagian luar tempat ini sepertinya ada kebakaran. Asap mengepul masuk kedalam sini" Anggera memberitahu situasi terkini.
Suara lolongan ketakutan yang bercampur dengan kepasrahan terdengar saling tumpang tindih. Entah apa yang tengah terjadi diluar. Apakah para preman itu yang memang ingin membakar mereka? Ataukah telah terjadi insiden lain yang membuat area tahanan mereka terbakar tiba-tiba.
"Tolooong! Kebakaran tolooong!" teriakan semakin kencang ketika kepulan asap berhasil berkumpul dan memenuhi sel-sel para tahanan.
Ditengah gegap permintaan tolong yang memekakan gendang telinga, terdengar suara sekelompok orang yang berlarian mendekati ruang tahanan. Bimasakti terkesiap ketika mendengar pintu ruangan terbuka dengan kasar.
"Mereka disini!" teriak seseorang pada arah luar.
"Tolong kami!" seru Pak Anggera menatap samar beberapa sosok lelaki dengan penutup wajah yang mereka kenakan.
Tak berselang lama dari itu, suara nyaring beturan besi terdengar. Bimasakti menduga orang-orang itu tengah membobol jeruji besi yang mengurung mereka. Suasana ramai di sekelilingnya membuatnya sedikit kebingungan.
"Bimasakti?!" suara asing memanggilnya.
"Oh Astaga!" seseorang lain menutup mulutnya yang menganga ketika melihat wajah 'sulit dipercaya' Bimasakti.
"Siapa kalian?!" tanya Bimasakti gelisah. Sementara beberapa kawan penjaranya telah dibawa keluar dari area itu.
Seketika ia merasa tangan seseorang menyusup melingkari pinggangnya. Lalu ia merasa tubuhnya melayang. "Hei! Siapa kalian bajingan!" bentak Bimasakti penuh amarah.
"Sudah waktunya kau keluar dari neraka ini" suara asing itu terdengar tegas, setegas derap langkahnya membopong tubuh kurus Bimasakti di pundaknya.
🍁🍁🍁
Ditempat lain, Laura berulang kali melirik Sabiel yang duduk di sebelahnya. Mereka kini tengah bersantai di dalam kamar. Laura bersandar di headboard ranjang dengan sebuah laptop yang terbuka. Ia sedang memeriksa kembali naskah novel yang ia buat. Sementara Sabiel, lelaki itu sibuk membaca laporan bisnisnya dalam sebuah notebook.
Pertanyaan Laura kemarin malam mengenai perubahan tubuh Sabiel ternyata masih menyisakan tanya. Meskipun Sabiel sudah menjelaskan bahwa ia memang sedang menjalankan program kesehatan, tapi hati Laura masih saja tak merasa puas.
Laura memperhatikan Sabiel dengan teliti. Bola mata Sabiel tampak lebih cekung dari biasanya, tulang selangkanya bahkan terlihat lebih jelas. Keseluruhan tampilan Sabiel bukan menandakan jika lelaki itu sedang mengikuti program kesehatan. Melainkan program pengobatan.
Sabiel terlihat sedang sakit. Benak Laura kembali mengingat obat-obatan yang akhir-akhir ini dikonsumsi suaminya.
"Obat itu pasti bukan vitamin!" Laura membatin.
__ADS_1
"Apa kau benar-benar terpesona padaku, sayang?" goda Sabiel yang menyadari lirikan istrinya.
"Wajahmu pucat, apa kau sakit?" Laura bukan seorang wanita yang tahan membiarkan rasa penasaran dalam hatinya begitu saja.
Sabiel tersenyum tanpa menoleh pada istrinya, "Aku tidak sakit. Kenapa kau bertanya begitu?" bantah Sabiel dengan nada heran.
"Aku merasa kau seperti orang sakit. Lihat badanmu, kau kurus Sabiel" ucap Laura cemas.
Sabiel mematikan notebooknya, ia membalikkan badan menghadap Laura yang tampak menanti jawabannya. "Kurus bukan pertanda sakit, sayang" bantahnya lagi.
"Tapi kau... Hupmh!" tiba-tiba Laura membekap mulutnya. Sesuatu dari perutnya seperti memaksa ingin keluar.
Laura langsung menyibakkan selimbut, disaksikan oleh Sabiel yang mengawasi dengan raut wajah terkejut. Lelaki itu bergegas mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi.
"Keluarkan semua sayang" ucap Sabiel sembari memijit tengkuk Laura.
Rasa mual itu menyisakan rasa asam dan getir yang bersamaan memenuhi rongga mulutnya. Laura menekan tombol air di closet, seketika muntahan itu menghilang tersapu air.
"Masih mual?" tanya Sabiel berjongkok di depan Laura yang duduk di closet tertutup.
Laura menganguk lemah. Rasa tak nyaman itu masih ada di lambungnya. Tubuhnya merasa lelah setelah muntah tadi. Benaknya mengingat akan kondisi familiar ini. Kondisi yang biasanya ibu hamil alami. Seketika, harapan baru muncul dalam benaknya. Membuat rasa mual tadi seolah lenyap tak bersisa.
"Apa kau sakit, sayang? Bagaimana jika kita periksa?!" Sabiel mengelus jemari Laura.
Laura menatap wajah suaminya yang cemas, dari jarak begitu dekat seperti saat ini. Laura bisa melihat bahwa raut wajah Sabiel memang berubah. Cekungan matanya terlihat jelas, tulang pipinya sedikit lebih tirus. Laura merangkup kedua pipi Sabiel.
"Kau yang harus periksa" ucapnya lugas.
Laura menyusuri wajah Sabiel dengan jemarinya. Cekungan bola mata, pipi yang tirus, bibir yang tampak pucat. Jemarinya terus menyisir permukaan kulit Sabiel yang halus.
Sabiel menggenggam jemari lentik Laura yang masih menyusuri wajahnya. "Aku baik-baik saja" ucapnya tersenyum yakin.
Laura menghembuskan nafasnya. Sabiel terlalu keras kepala untuk tidak menyadari kecemasan yang melanda hatinya sejak semalam. Laura berdiri dari duduknya, diikuti Sabiel yang tetap mengawasi istrinya. Mereka berjalan keluar kamar mandi dan duduk di pinggiran tempat tidur. Sabiel menyentuh bahu Laura, "Kau sakit, sayang?"
"Ini bukan sakit, nanti akan sembuh sendiri" ucap Laura yang menyandarkan kepalanya di dada Sabiel.
"Maksudmu?" tanya Sabiel heran.
"Nanti kau akan tahu" sahut Laura.
🍁🍁🍁
Terang mentari menerobos masuk lewat kaca jendela dengan gorden terkumpul rapi di sisinya. Burung burung kecil terdengar berciap menyalami hari. Mereka bertengger di dahan kamboja yang tinggi.
Binar kebahagiaan terlihat dari bola mata coklat yang terpaku pada dua garis merah yang muncul pada permukaan tespack. Kemarin setelah mual dan muntah yang ia alami tiba-tiba. Malam harinya Laura meminta Mbok Suti untuk membelikannya tespack itu.
Laura mengelus lembut perutnya, ia merasa takjub dengan kehadiran janin baru yang datang begitu cepat. Kehilangan yang berbulan-bulan lalu ia rasakan, Tuhan ganti dengan segera. Seketika matanya berkabut oleh rasa haru yang menyeruak. Dadanya melambung tak sabar ingin berteriak histeris meluapkan kegembiraan yang melingkupi dirinya saat itu.
Benaknya langsung teringat pada Sabiel. Lelaki pemalas itu masih meringkuk membenamkan kepalanya dibalik bantal. Laura bergegas menghampiri tempat tidur. Tanpa menunggu lama, ia menggoyangkan bahu suaminya agar lekas terbangun.
"Sayang! Sayang! Bangun!" seru Laura dengan nada keceriaan yang tak pudar.
Sabiel menggeliat sesaat, sebelum ia membuka kedua matanya yang rapat dengan perlahan. Dilihatnya wajah cantik berseri Laura. "Ada apa?" ucap Sabiel parau, dengan jemari membelai halus pipi Laura.
"Lihat!" Laura mendekatkan testpack itu di depan mata suaminya.
__ADS_1
Sabiel memicingkan mata. Tak berapa lama, mata legam itu terbelalak menatap bergantian pada wajah Laura yang menyeringai senang dan alat tes kehamilan itu. Tubuhnya serta merta bangkit dengan tergesa dari tempat tidur.
"Ini...?!" Sabiel terbata.
Laura mengangguk cepat. Ia membimbing tangan Sabiel untuk diletakkannya di permukaan perut Laura.
"Ada janin mungil yang mulai bernafas dalam air ketubanku" ucap Laura terharu.
Sabiel mengangga tanpa bisa berucap apapun. Matanya mulai berkabut seiring jemari mungil Laura mengajaknya untuk memberi salam perkenalan pada jabang bayi keduanya.
"Hai nak. Ini ayahmu. Dan aku ibumu" ujar Laura menatap perutnya dengan hangat.
Matanya menoleh kembali pada Sabiel, dan langsung terkejut melihat entah sejak kapan bola mata legam itu basah oleh rembesan air mata. Sabiel menangis. Lelaki itu ragu hal mana yang paling menyebabkan air matanya keluar. Apakah rasa bahagia karena kehamilan Laura, ataukah rasa sedih karena kehamilan Laura datang disaat ia sedang berjudi dengan takdir. Tuhan, adilkah ini?
Sabiel tertunduk malu ketika bola mata coklat Laura memperhatikannya dari jarak dekat. Sementara itu, Laura tersenyum berpikir bahwa Sabiel menangis karena terlalu bahagia. Kedua tangannya merangkup pipi Sabiel. Laura mencium kelopak mata suaminya seperti apa yang sering Sabiel lakukan padanya.
"Kau bahagia?" Laura menatap lekat suaminya.
Sabiel tersenyum tipis. Apa yang harus ia katakan tentang bahagia? Jika nyatanya Tuhan masih ingin membuatnya menderita oleh penyakit. Namun Sabiel tak mungkin mengatakan itu pada istrinya. Dia tidak ingin Laura bersedih.
"Lebih dari bahagia, sayang" ucap Sabiel merengkuh tubuh istrinya dalam pelukan.
Dalam pelukan, Laura bercerita tentang mimpi indahnya bersama Sabiel dan calon anak mereka nanti. Sabiel hanya merespon dengan memberi kecupan di puncak kepala istrinya. Lelaki itu mengelus punggung Laura dengan gerakan sehalus sutra. Dalam relung hatinya tiba-tiba rasa benci dan putus asa hadir serentak. Sabiel merasa Tuhan sedang mempermainkan hidupnya. Ia merasa dirinya seperti kuncup mawar yang tengah bahagia menyambut musim untuk bermekaran namun kembali bersedih karena harus rela membiarkan satu per satu kelopak indah itu nanti berguguran seiring waktu.
Sabiel berharap hari-hari selanjutnya akan berjalan lambat, karena dengan begitu ia memiliki banyak waktu untuk ia habiskan bersama Laura dan buah cintanya.
🍁🍁🍁
Siang harinya Sabiel berencana memeriksakan kandungan Laura. Kini lelaki itu tengah menanti istrinya di ruang keluarga.
Tap.. Tap... Tap..
Suara sepatu di anak tangga, membuat Sabiel menolehkan kepalanya. Senyumnya mengembang melihat wanita dengan kilau keanggunan menuruni tangga. Laura tampak bersinar, gaun dengan lengan pendek berwarna biru langit membuat penampilannya terlihat segar dan lembut. Rambut yang mulai semakin panjang itu berkibar sempurna mengiringi langkah kakinya. Sabiel berdiri dari duduknya, tak sabar ingin menghampiri sang kekasih yang sebentar lagi mencapai dasar lantai.
"Berangkat sekarang?" Laura merapikan sedikit penampilannya.
Mata Sabiel berbinar oleh rasa takjub memandang wajah cantik berseri Laura. Laura memang terlahir menjadi wanita cantik yang sulit untuk dilupakan oleh siapapun yang melihatnya. Namun fakta kehamilan yang kini tengah dialami olehnya, membuat wajah cantik itu semakin mempesona.
Sabiel menarik pinggang Laura untuk merapat padanya. Tangannya melingkar dengan posesif. Sementara bola mata legamnya tak bisa berhenti untuk memperhatikan lipatan bibir Laura yang menggoda. Warna nude yang samar, terasa pas di dua bongkahan itu.
Sabiel mencecap bibir Laura perlahan. "Aku ingin memakanmu!" geramnya menahan gairah yang tetiba muncul akibat Laura.
Tangannya bergerak dengan kasar meremas bokong Laura. Namun Laura menyukai kekasaran yang menurutnya seksi itu. Wanita itu tersenyum dengan maksud menggoda yang terlalu jelas. Dikalungkannya kedua tangannya di leher Sabiel. "Aku tak sabar ingin menjadi santapanmu... Tapi setelah kita pastikan hadiah dari Tuhan ini" ujar Laura mengingatkan Sabiel pada isi di balik perutnya.
Sabiel memiringkan kepala dengan gerakan yang jantan, senyum tipis mematikan ia tunjukkan untuk menyepakati apa yang Laura katakan. "Bersiaplah nanti, aku akan melahapmu dalam sekali suapan" Sabiel menyeringai.
Laura melepaskan kedua tangannya dari leher Sabiel, matanya berubah genit dan sedikit menantang. "Oh baby, aku ingin kau melahapku berkali-kali"
Sabiel terkekeh geli mendengar kalimat menggoda Laura yang bernada liar. Namun ia menyukainya. Teramat menyukainya.
Tak berapa lama kedua orang itu berjalan bersisi keluar dari apartemen. Sabiel berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil Laura. Belum sempat pintu mobil itu terbuka, tiba-tiba pandangannya menjadi kabur. Kepalanya terasa berdentum karena merasa seperti dipukul oleh benda berat. Kakinya terasa lemas tiba-tiba. Dan seketika tubuh Sabiel ambruk. Kepalanya membentur tanah disaksikan oleh Laura yang terkejut dan berlarian mendekatinya.
Wanita itu berteriak histeris dengan kedua bola mata berkabut. Rasa takut dan cemas, menyelimbuti hatinya. Tubuh Sabiel terkapar di hadapannya. Ia takut sesuatu yang buruk menimpa suaminya.
"Sabieeel!" teriak Laura bergetar, sambil berjongkok memangku tubuh Sabiel yang kehilangan kesadaran.
__ADS_1
🍁🍁🍁