Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 87


__ADS_3

Beberapa pekan berlalu.


Sabiel terbangun dan tak ada Laura di ruangan itu, sejak pagi wanita cantik itu sibuk dengan kuliahnya, dan belum juga kembali. Suara pintu ruangannya yang terhempas dalam sekali tarikan, membuat Sabiel menolehkan kepalanya. Dilihatnya Tomi berjalan tegap menghampirinya.


"Bagaimana laporanmu?" tanya Sabiel berusaha bangkit dari ranjangnya.


"Semua sesuai dengan keinginan Tuan" Tomi memegangi lengan Tuannya yang hendak turun dari ranjang sambil memegangi pula tiang infus.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sabiel sembari berjalan pelan mendekati jendela ruangan. Diikuti Tomi dibelakangnya.


"Berkat dokter yang Tuan perintahkan, kondisi pemuda itu jauh lebih baik" ujar Tomi sopan.


Sabiel mengangguk dengan pandangan mengarah pada suasana ramai pelataran rumah sakit dari balik jendela. "Kerja bagus, Tom. Terus pantau dia, untukku"


Raut wajah Tomi berubah keruh. Lelaki itu teringat niat Tuannya ketika suatu saat nanti penyakit itu tak berhasil ia lawan. Lelaki yang sudah sejak lama Tomi layani memberi hak penuh pada dokter Andri untuk membongkar matanya jika kondisi mata Tuannya masih layak untuk digunakan. Tuan Sabiel ingin memberikan satu-satunya bagian yang tersisa di tubuhnya untuk pemuda asing yang pernah menjadi rivalnya dalam mendapatkan Laura.


"Tuan, dokter Andri mengatakan kondisi tubuh Tuan semakin membaik. Apa tidak sebaiknya Tuan cabut keinginan mendonorkan mata Tuan?" saran Tomi. "Jika Tuan ingin membuat pemuda itu bisa melihat kembali, saya akan carikan donor mata yang lain" sambungnya.


Sabile membuang nafasnya yang terasa sesak. "Itu rencana keduaku Tom. Kau tahu sendiri bukan? Kanker adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan. Kau lihat tubuhku, mata Laura bahkan selalu berair ketika ia membantuku untuk membersihkan diri" ujar Sabiel getir.


"Setiap menyaksikan helai rambutku yang rontok akibat radioterapi sialan itu, wajah Laura selalu tampak bersedih. Meskipun ia mencoba menutupinya dengan memberiku senyuman. Tapi aku tahu, dalam hatinya ia menangis. Aku tidak ingin membuat Laura terus bersedih ketika penyakit itu memaksaku berpisah dengannya. Maka dari itu aku memintamu untuk mencari dan merawat Bimasakti. Kehadirannya setelah kepergianku, pasti akan menjadi obat bagi kesedihan Laura" Sabiel menjelaskan panjang lebar.


Tanpa mengurangi rasa hormatnya, Tomi membantah. "Tuan terlalu pesimis. Dokter Andri jelas telah memberi kabar gembira dengan kemajuan kondisi tubuh Tuan. Dan baik saya ataupun Nyonya Laura memiliki harapan besar akan kesembuhan Tuan" Tomi tidak ingin Tuannya berkubang dalam keputusasaan.


"Aku pun menaruh harap banyak pada ucapan dokter itu. Tapi kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan selanjutnya untukku, Tom" ujarnya keluh. "Aku hanya ingin mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk"


Tanpa Sabiel dan Tomi sadari, Laura mendengar apa yang mereka ucapkan. Laura diam memperhatikan keseriusan kedua lelaki di hadapannya, sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa pintu ruangan telah terbuka.


"Apa yang kau bicarakan?" gersah Laura kesal.


Ia berjalan dengan kedua bola mata mengarah tajam pada Sabiel. Hatinya merasa kesal setiap kali Sabiel mengatakan sesuatu dengan penuh kepasrahan. Seolah lelaki itu telah siap untuk meninggalkan Laura dan anak mereka.


"Sayang? Kapan kau kembali?" tanya Sabiel kaget. Sama halnya dengan raut wajah Tomi yang tak menyangka kehadiran Nyonyanya. Benak keduanya sibuk berpikir apakah Laura mendengar obrolan mengenai lelaki masa lalunya atau tidak.


"Apa yang kau katakan?" tuntut Laura. "Tidak bisakah kau sedikit optimis pada penyakitmu itu? Aku selalu kesal jika kau berkata seolah-olah kau memang ingin meninggalkanku" ujar Laura.


"Sayang..." Sabiel mencoba merangkul Laura, namun Laura yang tengah jengkel padanya menepis rangkulannya.


"Apa kau tidak kasihan padaku? Pada anakmu ini?" Laura mengelus perutnya. "Berhenti bersikap putus asa Sabiel, dokter Andri bahkan mengatakan peluangmu untuk hidup semakin besar dengan semua pengobatan yang kau jalani. Apa alasanmu untuk menepis harapan itu?" ujar Laura berapi-api.


Tomi yang menyadari situasi genting antara majikannya, memilih mengundurkan diri perlahan tanpa mengucapkan apapun. Lelaki itu berjalan menggapai pintu ruangan dan segera menghilang di balik pintu tersebut.


Tinggallah dua manusia yang kini masih bersitegang. Sabiel yang merasa Laura sedang berada di puncak emosinya, mencoba menenangkan wanita itu.


"Bukan begitu sayang, aku hanya menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk. Meskipun dokter Andri mengatakan peluang kesembuhanku besar, tapi kau tahu sendiri bukan, kanker bisa datang kembali tanpa kita duga" Sabiel mencoba menjelaskan. Namun sayang, Laura yang sudah kepalang tanggung emosi menjadi sedikit lebih sulit untuk dilunakkan. Wanita itu berjalan menghampiri ranjang Sabiel, duduk di tepiannya sambil tertunduk sedih.

__ADS_1


"Tidak bisakah kau membuatmu tenang, dengan tidak mengatakan semua praduga kemungkinan terburukmu itu? Kau benar-benar menyiksaku, Sabiel! Setiap hari aku meyakinkan diri bahwa kau akan sembuh, bahwa kita akan kembali pulang dengan bahagia bersama. Tapi apa yang kau lakukan? Ibarat bunga, kau adalah bunga yang layu sebelum berkembang. Kau pasrah dan membuatku menderita" Laura mengeluarkan semua yang terasa membebaninya sejak mengetahui kondisi Sabiel. Air matanya sudah tak bisa lagi dibendung.


Laura terisak, ketakutan akan Sabiel yang tiba-tiba pergi selamanya membuat dadanya terasa sesak oleh rasa sedih. Sabiel tak tega melihat istrinya tertunduk dengan air mata menetes membasahi pangkuannya. Lelaki itu berjalan dengan memegangi tiang infusnya, ia mendekati Laura.


"Maafkan aku sayang" gumamnya lirih sembari menyandarkan kepala Laura didadanya.


Laura yang sudah terlalu lelah menghadapi sikap pesimis Sabiel, melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping suaminya. Aroma obat-obatan tercium samar dari pakaiannya.


"Jangan menyerah, sayang. Aku mohon jangan biarkan pikiran burukmu menguasai dirimu" pinta Laura. "All is well. Semua akan kembali seperti sedia kala" sambungnya.


Sabiel terdiam. Air matanya menggenang mendengar nada penuh kekhawatiran meluncur dari bibir manis istrinya. Sabiel sulit menjelaskan bagaimana perasaannya saat itu. Disatu sisi ia merasa bahagia dengan apa yang dokter Andri ucapkan mengenai kesembuhannya. Tapi disisi lain ia takut penyakit ini tiba-tiba muncul kembali dan merenggut paksa nyawanya. Karena tidak sedikit para penyintas kanker yang akhirnya meregang nyawa karena kanker yang hilang, muncul kembali. Sabiel hanya tidak ingin Laura terlalu berpegang pada sebuah harapan semu.


"Aku..." Sabiel terbata.


Laura mendongahkan kepalanya ketika merasa suara Sabiel terdengar sembab. Air matanya semakin menderas ketika ia melihat kerapuhan Sabiel dalam sorot sendu bola mata legamnya.


"All is well, sayang. All is well" ucapnya menguatkan.


Dalam keraguan Sabiel mengangguk perlahan. Ia memutuskan untuk melepaskan semua kemungkinan buruk yang selama ini ia takuti. Entah apa lagi rencana Tuhan nanti, yang harus ia lakukan saat ini hanyalah berusaha hingga titik darah penghabisan. Dia tidak akan mungkin menyia-nyiakan kekuatan yang Laura persembahkan dengan segenap jiwa untuknya.


"All is well, sayang. Aku akan sembuh dan kita akan bahagia menyambut kelahiran anak kita" ucapnya meyakinkan diri.


Laura mengangguk dengan cepat, ia hapus air matanya dengan kasar dan memeluk kembali Sabiel dengan erat. Sabiel membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Sisa senja masih berpendar megah di langit kala itu, sepasang suami istri hanyut dalam suasana haru dekapan saling menguatkan. Tuhan di atas sana, menyaksikan keteguhan hati keduanya. Dia tersenyum sembari mengukir akhir bahagia bagi dua hambaNya di bumi.


🍁🍁🍁


Rok rampel dengan hiasan bintang kecil membuat kedua paha mulus Laura yang telanjang tersingkap akibat posisi duduknya yang bersila, hal itu menarik perhatian Sabiel. Lelaki dengan raut wajah pucat itu menelan ludahnya kasar. Saat itu sudah hampir tengah malam, seharusnya ia sudah jatuh terlelap dalam bunga mimpi. Namun eksistensi tubuh Laura malah membuat hasrat birahinya mencuat. Satu kondisi memalukan bagi seorang lelaki berpenyakit seperti dirinya. Ditengah tubuhnya yang lemah, benaknya tanpa sopan santun membayangkan persetubuhan yang intim dengan hasrat yang gelisah.


Semburat cahaya layar laptop yang sengaja diatur agar tidak terlalu menyakiti retina, membuat bulu mata Laura berkedip berkali-kali. Mata coklatnya menyusuri barisan kata yang tersusun apik dihadapannya. Ia belum menyadari kedua bola mata legam tengah mengintainya dengan penuh minat.


Tidak ada hal yang lebih diinginkan Sabiel selain menutup layar itu dan membuat perhatian Laura teralih sepenuhnya pada dirinya. Perasaan yang lebih dari sekedar naif, membuatnya ingin bertingkah layaknya bocah pemaksa.


Sabiel tersenyum dengan alis mata terangkat ketika Laura akhirnya menoleh dan menatap dirinya yang masih terjaga. "Tidur, sayang" suara merdunya mengisi gendang telinga Sabiel. Menimbulkan perasaan hangat dalam palung jiwa pesakitan yang sedang bertaruh dengan api gairahnya.


"Aku ingin tidur denganmu" saut Sabiel yang kemudian ia rutuki sendiri karena merasa keinginannya seperti seorang anak yang menagih sebuah lagu pengiring tidur.


Ketika Laura menutup laptopnya, ekspresi kesenangan terlintas dalam mimik wajah Sabiel. Bibir pucatnya merekah dengan sempurna tak kala wanita cantik itu memilih berjalan menghampirinya.


Hatinya bergemuruh oleh huru hara hasrat yang menggeliat ketika kaki semampai itu terangkat untuk kemudian ikut berlabuh dipermukaan ranjang yang empuk. "Naskahku hampir rampung, aku harus mengejar target sebentar lagi" ucap Laura menjelaskan kesibukkannya tadi.


Wanita itu tidur miring menghadap suaminya. Dia tak sadar bahwa bukan naskah itu yang menjadi pusat perhatian Sabiel. Namun kegilaannya akan aroma segar dan sentuhan Laura yang menyiksa telah mengganggu kesenyapan malamnya menjadi sedikit gaduh oleh rasa yang menyengat dalam sanubarinya.


Rasa sesal dan kecewa bercampur baur dalam hatinya, ketika menyadari bahwa tubuhnya terlalu lemah untuk sekedar melepaskan geletar hasrat dengan sebuah percintaan.


"Cerita apa yang kau buat?" tanya Sabiel mengalihkan kegilaan yang menyiksa kinerja otaknya.

__ADS_1


Laura membelai pipi Sabiel tanpa permisi, Sabiel memilih untuk tidur miring menghadap wajah cantik istrinya. Ia ingin belaian yang lebih intim dari pujaannya.


"Nanti kau baca sendiri saja" Laura memberi kecupan singkat di bibir Sabiel.


Sabiel tersenyum lembut menatap wajah istrinya. Terlepas dari apapun yang sedang dibuatnya, Laura selalu tampak menawan ketika ia sedang serius mengerjakan sesuatu. Sabiel memaksa merapatkan tubuhnya pada Laura. Tangan yang bebas dari selang infus, masuk pada celah leher wanita itu. Sementara tangannya yang lain, dengan hati-hati melingkar di pinggang ramping Laura.


"Infusanmu, Sabiel" Laura mengingatkan.


"Ya aku tahu" sahut Sabiel dengan suara yang entah sejak kapan berubah parau.


Mata keduanya bertemu. Laura tersenyum merasakan hembusan nafas suaminya yang berat menerpa wajahnya. Jemarinya mulai menyusuri alis tebal Sabiel, batang hidung mancungnya, dan berlama-lama di permukaan bibir pucat suaminya.


Sabiel gemas dengan godaan yang samar itu. Tangannya tak sabar ingin menyusuri permukaan halus kulit Laura dari balik baju atasannya. "Selang infusmu, Sabiel" peringatan kembali Laura lontarkan dengan sedikit penekanan.


Sabiel terkekeh menyadari gerutuan Laura yang lebih mengkhawatirkan selang infus daripada birahinya yang semakin terasa sesak. Area bawahnya berdenyut dan mulai mengeras.


"Sabiel!!" seru Laura sembari membulatkan matanya.


Wanita itu begitu malu dengan apa yang suaminya perbuat. Dengan gerakan tak terduga, tangannya dibimbing untuk singgah di area sensitif Sabiel yang tegang. Rona merah merambat di wajah Laura, melihat bola mata Sabiel yang berkabut karena menginginkan sesuatu yang tentu saja ia ketahui.


"Aku memang sakit, tapi bagian lain dari tubuhku sepertinya tetap bugar" ucapnya tak tahu malu.


Laura memicingkan mata, "Bagaimana bisa otakmu itu selalu tertuju pada hal vulgar seperti itu?" ledek Laura mendapat kekehan dari Sabiel. "Lepaskan tanganku" Laura ingin melepaskan genggaman tangan Sabiel yang masih menaruh tangan Laura dipusatnya.


"Sayaaaang..." rengekan Sabiel disambut tatapan mencemooh Laura.


Jeda panjang setelah rengekan itu, diisi oleh tatapan Laura yang malu-malu dan mata Sabiel yang mengiba berharap Laura mengerti kebutuhan biologisnya.


"Kau tahu, aku sangat rindu bercinta denganmu, Laura" ujarnya


"Sabiel!!!" pekik Laura ketika lelaki yang tengah dikuasai nafsu memaksa tangan Laura untuk memberi sentuhan di area bawahnya.


"Apa?! Aku hanya sedang meredakan keteganganku" alasan bodoh yang hanya membuat Laura tak kuasa untuk terkekeh geli ketika mendengarnya.


Dalam tarikan nafas berikutnya, Laura memilih bangkit dari posisinya. Tatapannya masih mengejek sikap kekanakan Sabiel. Sementara kedua tangannya mengangkat baju atasan dan melemparnya sembarang.


"Berjanjilah untuk istirahat setelah ini" ucapnya pada Sabiel yang berbinar penuh gairah memandang dua bukit Laura yang menyembul keluar.


Dan dini hari yang dingin diluar sana, menjadi dini hari yang penuh suasana hangat di dalam ruangan itu. Laura tak percaya, ia akan melakukan sesuatu yang erotis kembali diatas ranjang pasien di rumah sakit yang sunyi. Separuh mendesah Sabiel menikmati sesuatu yang menganggunya sejak tadi. Ia tak menyangka, Laura bisa melakukannya tanpa harus ia merasa begitu kelelahan.


Permainannya sepenuh malu sang rembulan menjadi perjalanan panjang Sabiel dalam mengarungi samudera nikmat. Erangan yang teredam mengakhiri batas kekuatannya untuk terjaga. Sayup terdengar, Laura membisikinya sesuatu.


"Kau berhutang malam yang erotis padaku"


Sabiel tersenyum sambil terpejam. Ia mengerti arti ucapan itu. Dan diam-diam ia tak sabar menanti saat-saat Laura bertekuk lutut dalam kungkungan birahinya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2