
"Sayang, kau bisa diam tidak? Orang-orang akan melihat kita nanti" bisik Laura menahan gerayangan tangan Sabiel di pinggangnya.
Sabiel menengok sebentar ke sekeliling ruangan bioskop yang gelap. Matanya melihat banyaknya pasang mata yang tampak serius menikmati film yang sedang diputar. Diantara mereka, ada juga beberapa pasangan yang sedang menonton sambil merangkul mesra pasangannya.
"Salahmu sendiri memilih menonton di bioskop ini, padahal aku ingin mengajakmu menonton di bioskop termewah di kota ini. Disana mereka menyediakan sofabed, bukan kursi biasa seperti ini. Kau pasti belum pernah kan?" tanya Sabiel menengok pada Laura
"Memang kenapa dengan bioskop ini? Aku rasa bioskop ini sudah lebih dari cukup untuk memenuhi keingiananku menonton" ujar Laura. Laura memang tidak suka neko-neko dalam segala hal. Wanita itu menyeruput minuman yang tadi ia beli.
"Tapi tidak memenuhi keinginanku mencumbumu" gumam lirih Sabiel.
"Apa kau bilang?" tanya Laura yang mendengar gumaman tak jelas dari mulut Sabiel.
Sabiel menggeleng sambil mengkatupkan mulutnya. "Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa" ucap Sabiel. Laura kembali melihat layar bioskop, sementara tangan suaminya kembali berulah.
Plak! Laura memukul tangan Sabiel yang tidak bisa diam menggerayangi tubuhnya. "Bisa kau kondisikan tangan nakalmu, pak dosen?!" sindir Laura menggeram kesal karena Sabiel terus saja mengganggunya. Sabiel malah tersenyum jahil melihat raut wajah cantik istrinya yang terlihat kesal.
"Kau membuat mata penonton lain melihat kita nanti" sambung Laura gusar.
Sabiel terkekeh sambil melirik penonton yang ada di kursi bagian bawah mereka. "Tidak ada yang melihat kita sayang, itu hanya perasaanmu saja" bisiknya tepat ditelinga Laura.
Laura menoleh padanya dengan jengah, matanya mendelik mengejek kemesuman suaminya yang tak tahu tempat.
"Itu alasanmu memesan kursi paling pojok di baris paling belakang ini?"
Sabiel menyeringai. Aksi muslihatnya terbongkar oleh Laura. Lelaki itu bahkan membayar semua kursi yang sebarisan dengan tempat mereka duduk. Tujuannya hanya satu, agar tidak ada siapapun yang akan memergokinya ketika sedang mencumbu istrinya disana.
"Sambil menyelam minum air sayang. Kau lakukan keinginanmu menonton, dan aku lakukan keinginanku mencumbumu" bisiknya sangat pelan hingga Laura merasa suara suaminya seperti desahan.
"Tapi kau membuatku tak bisa fokus sayaaang" bisik Laura penuh penekanan.
"Itu bagus. Jadi kau bisa membalas cumbuanku. Kau belum pernah kan bercumbu di tempat seperti ini?" Sabiel menyeringai jahil. "Rasanya penuh tantangan sayang" bisiknya membuat tengkuk Laura meremang.
"Aku tidak segila dirimu" tukas Laura. Matanya kembali fokus menatap layar bioskop yang sedang memutar film.
Sabiel mengecup pelipis Laura, ia akan membiarkan istrinya itu puas menonton film yang ia tunggu sejak lama. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di pundak Laura. Ia menjalin jemari Laura hingga berada diantara sela jemarinya. "Pundakmu pendek sekali sayang, leherku bisa kram jika begini" keluhnya
Laura melirik sekilas. Ia menggoyangkan pundaknya sampai Sabiel merasakan benturan ringan disana. "Suruh siapa kau menyandar seperti itu" timpal Laura gemas melihat tingkah suaminya yang mendadak manja. "Kepalamu berat seperti batu" ledeknya.
Sabiel mengangkat ke atas pembatas kursi yang menghalangi dirinya dari Laura, hingga pembatas itu berada disela-sela kursinya dan kursi Laura. Ia merapatkan diri pada tubuh istrinya dengan membawa Laura masuk dalam dekapan dadanya. Tangannya menggenggam tangan Laura kembali, mengelus lembut jemari mungil istrinya perlahan.
"Baiklah aku akan berhenti mengganggumu, sebagai gantinya, nanti malam kau pakai lingerie merah maroon oke?" bisik Sabiel menyeringai jahil tanpa melihat Laura yang sudah membelalakan matanya.
Bisikan itu memancing benak Laura untuk mengingat lingerie lain yang Sabiel belikan bersamaan dengan lingerie kemarin malam yang ia kenakan.
Lingerie model t**hong dengan gaun c**hamise di atas paha yang berbahan transparan melambai-lambai dalam benaknya. Tiba-tiba pipinya merona membayangkan akan menjadi seperti apa penampilannya nanti malam. Cepat-cepat Laura menggelengkan kepalanya. Wajahnya terasa panas seketika. Dia tak sanggup membayangkan betapa malunya ia menggunakan pakaian supermini dan superseksi itu.
__ADS_1
"Kau saja yang pakai!" ucapnya sebal sembari menahan malu.
🍁🍁🍁
"Aku ingin ke toko buku dulu, apa boleh?" tanya Laura yang sedang berjalan disamping Sabiel keluar dari gedung bioskop saat pemutaran film telah usai.
Sabiel merangkul pundak Laura mesra, lelaki itu mencium lembut rambut wanitanya yang terasa selalu wangi bagi dirinya. "Tentu boleh sayang"
Mereka berjalan menyusuri jejeran toko yang ada di sepanjang koridor sebuah mall terkenal di Bandung. Sabiel tampak menikmati suasana ramai disana bersama dengan istrinya. Hatinya berbunga dapat merasakan hal seperti apa yang ia lakukan saat itu bersama Laura.
Lelaki itu membiarkan Laura berjalan mendahuluinya begitu kakinya memasuki area toko buku besar.
Mata Laura sudah berpencar sejak tadi, menelisik buku-buku yang berjejeran rapi di rak dinding dan meja persegi. Langkahnya santai menyusuri barisan novel best seller disana.
"Sayang, kenapa kau tidak membuat tulisan lagi di blog mu?" tanya Sabiel yang mengingat tulisan terakhir di laman Laura telah usang.
"Banyak hal yang terjadi membuatku kehilangan minat menulis" ucapnya dengan mata terpaku pada novel yang sedang ia pegang. "Tapi aku berencana akan menulis lagi" sambungnya.
Tiba-tiba Sabiel melingkarkan kedua lengan kokohnya di pinggang Laura dari arah belakang. Ia merapatkan kepalanya di ceruk leher wanita itu. Laura menoleh. Ia merasakan hembusan nafas penyesalan menerpa sisi wajahnya.
"Maafkan aku" ucapnya lirih. Sabiel cukup sadar bahwa banyak hal yang terjadi dalam hidup Laura, itu semua karenanya. Karena obsesinya pada wanita itu.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Semua terjadi sesuai garis takdir kita, sayang" Tangannya tergerak mengelus rambut Sabiel. "Memang kau masih suka membuka blogku?" tanyanya kemudian.
Sabiel mengangguk. Ia menegakkan kembali tubuhnya, sementara Laura membalikkan badan menghadapnya.
Lelaki itu cukup terkejut dalam diamnya. Melihat ekspresi Laura yang bertolak belakang dengan perkiraannya. Sabiel pikir Laura akan merasa risih atau malah sedih ketika sosok lelaki yang pernah mengisi hatinya disebut. Namun sorot mata datar wanita itu, ditambah sunggingan tipis senyumnya, membuat Sabiel bertanya dalam hati. Apa sosok lelaki itu telah hilang dalam hati Laura? Ataukah Laura hanya sedang berusaha menutupi lukanya dengan bersikap seolah biasa-biasa saja.
"Kau membacanya juga?" Laura terperangah mendapati Sabiel yang membongkar kebiasaannya dulu.
Mata Sabiel sedikit tersentak, ekspresi Laura benar-benar membuatnya didera banyak pertanyaan. Bola mata coklat itu berkilat oleh rasa terkejut yang menggemaskan. Tidak Sabiel temukan sinar kepedihan didalamnya.
"Kau tidak sedih jika aku membahas mantanmu itu?" Sabiel tak tahan dengan rasa penasarannya.
"Tidak" ucap Laura lugas. "Aku tidak ingin mengenang hal yang lalu dengan kesedihan" sambungnya.
Laura menatap Sabiel yang masih merasa belum puas dengan jawabannya. Wanita itu tersenyum sangat cantik. Ia meletakkan kembali novel yang ia pegang, dan beralih mengenggam tangan Sabiel.
"Sejak aku memutuskan menerimamu. Aku memutuskan pula menerima luka di hatiku. Tapi Tuhan memang Maha Baik, disaat aku menerima semuanya, Ia sembuhkan hatiku perlahan. Hingga ketika hal menyakitkan itu kembali muncul dipermukaan, hal itu tak lagi membawa kesedihan. Tapi pembelajaran. Dan aku mensyukuri itu" tutur Laura.
Mata keduanya masih bertatapan. Sabiel membiarkan senyum merekah menghiasi ketampanannya. Hatinya melambung oleh rasa lega yang begitu menyenangkan. Laura terus membuatnya kagum akan pemikiran dewasa yang bersembunyi dalam balutan keluguannya. Memang benar apa yang dikatakan orang, bahwa letak kedewasaan seseorang bukan dilihat dari usianya, tapi dari cara ia berpikir. Laura buktinya.
Setelah berhasil membawa beberapa novel di keranjang belanjaannya. Laura dan Sabiel berjalan menuju pintu keluar pusat perbelanjaan itu. Mereka segera menghampiri mobilnya di tempat parkir dan memutuskan kembali ke apartement.
Malam sudah larut, bulan purnama bersinar sempurna menghias langit. Membuat langit yang kelam tampak megah oleh kebesaranNya. Sabiel tersenyum penuh cinta ketika matanya terus saja melirik istri muda yang kini tengah tertidur di sebelahnya. Ia menyibak rambut panjang yang menutupi wajah pulas istrinya. Mengusap lembut bibir yang sedikit menganga dengan ibu jarinya sebelum ia memaksa diri untuk fokus pada jalanan Kota Bandung.
__ADS_1
Sabiel tak segera membangunkan Laura ketika mobilnya sudah berhenti di depan teras apartement. Lelaki itu masih ingin memandangi wajah cantik Laura. Ia tak tahan ingin menciumi wajah itu. Jiwanya meronta mendamba sentuhan bibir pada permukaan kulit mulus Laura. Posisinya yang berada di kursi kemudi, membuatnya sedikit kesulitan untuk memberikan kecupan bertubi pada wajah Laura. Alhasil ia merangkup wajah itu agar menghadap padanya.
"Sudah sampai?" mata Laura terbuka didetik Sabiel sudah mulai bersiap hendak menciumnya.
"Kenapa bangun? Tidur lagi sayang"
Dengan bodohnya lelaki itu malah menyuruh Laura terlelap lagi, karena merasa keinginannya belum tercapai. Laura yang sadar apa yang hendak Sabiel lakukan padanya, mendelik sambil menepis tangan Sabiel.
"Dasar mesum!" hardiknya sembari membuka seatbelt.
"Ah sial!" umpat Sabiel kembali ke posisinya dan menyandarkan kepala di sandaran kursi.
Laura terkekeh melihat kekecewaan Sabiel. Ide gila tiba-tiba muncul dibenaknya. "Kenapa? Kau ingin ini?" ucap Laura menggoda.
Sabiel menoleh cepat pada Laura yang meremas payudaranya sendiri dengan gerakan menggoda.
"Atau ini?" kali ini Laura menyibakkan gaun yang ia kenakan hingga paha bagian atas dan menarik perlahan gaun itu sampai mendekati area sensitifnya.
Mata Sabiel berkilat oleh gairah. Kain penutup pusat Laura yang berenda, terlihat sedikit olehnya. Hal itu membuat ia menelan ludahnya kasar. "Sayang, kau..." suara Sabiel tercekat.
Laura menyeringai jahil. Ia berniat membalas perbuatan Sabiel saat di dalam gedung bioskop.
"Aku ingin menjadi bin*l lagi malam ini. Itu pun jika kau mampu mengejarku dalam hitungan 10"
Setelah mengatakan itu Laura bergegas lari dari dalam mobil.
"Apa? Sayang? Tunggu" Sabiel kelabakan saat membuka seatbelt terkutuk yang malah terasa sulit ia buka.
Lelaki itu bergegas keluar dan berlari menyusul Laura. "Sayang tunggu! 10 terlalu cepat" serunya pada Laura yang terus berlari masuk ke dalam apartement.
Tiba-tiba Laura berhenti. Sabiel menggapai pinggangnya tanpa tahu apa yang menyebabkan langkah Laura terhenti.
"Kena kau!" ucapnya penuh kemenangan.
Lelaki itu belum sepenuhnya sadar, akan keterdiaman Laura memandang seseorang yang duduk manis di ruang keluarga.
"Sayang?" Sabiel mencoba mengikuti arah pandang istrinya.
Matanya terbelalak kaget melihat Intan duduk sambil tersenyum dengan dua koper besar disampingnya.
"Halo sayang" sapa wanita itu sembari beranjak dari duduknya.
Mata Laura masih terpaku mengawasi langkah Intan yang menghampiri tempat mereka berdiri. Laura melihat sekilas sorot mata mendelik tak suka yang Intan berikan ketika wanita itu melewatinya dan menghampiri Sabiel yang berada di belakangnya.
"Aaahh, aku rindu suamiku" Intan memeluk Sabiel erat. Seringai licik terbit dibalik pelukkannya.
__ADS_1
🍁🍁🍁