
Seperti dejavu. Itulah yang dirasakan Laura sore itu. Kondisi rintik-rintik hujan diluar menahannya untuk pulang. Sementara teman-temannya yang lain, sebagian memilih menerjang rintikan hujan dan sebagian lagi memilih menghabiskan waktu dengan berbincang di sekitaran teras gedung kuliah.
Laura hanya berdua dengan Sabiel, lelaki itu duduk dihadapannya memperhatikan Laura yang sedang membuka Laptop.
Suasana ini persis seperti yang dulu Laura rasakan. Saat diawal kedekatannya dengan Sabiel, lelaki itu selalu menemaninya di penghujung hari dalam kelas yang sepi sambil bercerita hal yang menarik. Saat itu hujan juga sering menjadi alasan mereka menahan diri untuk kembali pulang.
"Apa?!" tanya Laura menatap bola mata hitam Sabiel.
"Tidak" sahut Sabiel singkat. "Dulu kita sering berdua seperti ini, bukan?" ucap Sabiel.
Laura tersenyum tipis. Ternyata yang mengingat kebiasaan itu bukan hanya dirinya.
"Kau duduk membuka Laptop, aku duduk di depanmu. Diam menikmati celotehan tentang banyak hal yang kau ceritakan." sambung Sabiel mengenang masa indah itu.
"Ya. Sebelum kau memaksaku menjadi istri sirimu" timpal Laura sinis.
Sabiel tersenyum lebar. Ingatannya melayang pada saat awal-awal kejadian ia menyuruh Tomi untuk menculik Laura. Seperti sedang memasuki dimensi lorong waktu, kejadian demi kejadian tergambar jelas dalam benaknya. Tak ia sangka, hingga detik saat ini telah banyak hal yang ia lakukan bersama Laura.
"Sayang, aku belum nanyakan sesuatu padamu" tanya Sabiel. "Apa kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan aktivis itu?"
Deg!
Laura terpaku mendengar pertanyaan itu. Mendadak dia merasakan nyeri kembali di dadanya. Tatapannya berubah dingin, menatap kosong pada laptop yang menyala.
"Sayang?"
Laura menoleh pada Sabiel, "Belum. Aku menunggu ia datang menemuiku" ucapnya lirih.
Sabiel merasa tak jelas mendengar apa yang dikatakan Laura, ia mencondongkan tubuhnya pada istri mudanya itu. "Apa? Aku tidak mendengar"
Laura menarik nafasnya yang berat dan menghembuskannya perlahan.
"Aku bilang aku sedang menunggu ia datang menemuiku, aku ingin mengakhirinya langsung" ucap Laura sekali lagi.
Tiba-tiba Sabiel mendelik, dia tak suka dengan apa yang Laura katakan. Yang benar saja, kenapa mesti menunggu bertemu hanya untuk mengakhiri sebuah hubungan? Laura bisa langsung memutuskannya melalui sambungan seluler. Alasan!
"Untuk apa menunggu dia menemuimu? Kau bisa langsung mengakhiri tanpa mesti bertemu" suara kesal Sabiel mengusik Laura. "Apa kau berencana kabur saat aktivis itu menemuimu, huh?!" Sabiel menegakkan tubuhnya, mulai gusar. Tiba-tiba saja pikiran itu menghampiri benaknya.
Telinga Laura terasa berdenging mendengar ucapan kasar suaminya. Ya Tuhan, lihatlah manusia egois ini. Setelah dia memaksa Laura menjadi istrinya, dia menyuruh wanita itu mengakhiri hubungan dengan orang yang dicintai dengan cara kejam tak berperasaan.
"Ya! aku akan kabur! Menghilang darimu dan pergi dengan lelaki itu" ucap Laura jengkel dengan ucapan Sabiel.
Sabiel merasa tersulut emosinya. Lelaki itu menatap tajam Laura yang mendongah menatapnya penuh tantangan. Jemarinya sudah mengepal kuat di atas meja.
"Awas saja jika kau berani menghilang dariku, Laura" ucap Sabiel lamat-lamat. "Lelaki itu akan aku buat hilang juga dari muka bumi ini" Sabiel menyeringai mengerikan menatap wanita yang mulai pucat di hadapannya.
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika terjadi sesuatu padanya" suara Laura bergetar.
"Maka jangan sekali-kali kau ucapkan kata menghilang, kabur atau pergi dihadapanku lagi" ujar Sabiel. "Aku tidak ingin melukai orang-orang yang berarti dalam hidupmu. Jangan menantang batas kesabaranku!" ucap Sabiel lugas.
Dalam sekejap suasana hangat tadi berubah dingin. Pandangan keduanya sinis menatap satu sama lain, hanya karena satu ucapan Laura yang bernada provokasi, sudah cukup berhasil menyulut emosi Sabiel hingga puncak.
Sabiel memutuskan untuk berdiri dari duduknya. Dia tidak bisa memaksa dirinya untuk menemani wanita itu dengan suasana hatinya yang kacau.
"Lekas kembali ke apartemen, aku akan menyuruh Tomi menjemputmu" ujarnya dingin pada Laura yang terdiam.
Sabiel melangkahkan kakinya, meninggalkan Laura yang masih terpaku dengan rasa muak di dada. Pandangan matanya berkilat oleh rasa benci yang tak mampu lagi ia tutupi.
__ADS_1
Sabiel terus melangkah, hingga akhirnya ia sampai di depan pintu yang sengaja dibiarkan terbuka.
"Surpriseee!"
Mata Sabiel terbelalak ketika melihat Intan muncul dari balik pilar yang searah dengan posisi pintu. Wanita itu tersenyum cantik sambil berdiri di hadapan suaminya yang terkejut.
"Intan?" suara Sabiel sedikit terbata.
Laura menoleh dengan cepat ketika nama istri sah suaminya terdengar. Namun pandangannya terhalang oleh punggung Sabiel.
"Aku datang menjemputmu sayang" ucap Intan. "Tadi aku ke ruanganmu tapi mereka bilang kau masih di kelas. Jadi aku memutuskan menjemputmu disini" Intan tersenyum lebar.
"Kau dengan siapa didalam? Apa yang kau lakukan?" tanya Intan sembari mencoba melihat ke dalam kelas, namun Sabiel segera menahannya. Ia memutar balik tubuh Intan, merangkul pundaknya dan mengajak Intan berjalan meninggalkan kelas.
Sebelum melangkahkan kakinya, Sabiel sempat berucap, "Bukan siapa-siapa, dia hanya mahasiswaku. Aku memberinya kelas tambahan"
Perkataan Sabiel sontak membuat Laura membelalakan matanya, entah mengapa hatinya merasa perih ketika mendengar ucapan Sabiel itu. Belum sempat Laura menyembuhkan lukanya atas keegoisan Sabiel tadi, sekarang ia mesti mendapat luka kembali akibat ucapan Sabiel pada istri sahnya. Perkataan Sabiel terngiang di telinganya, seperti sebuah radio rusak yang terus mengulang siaran yang itu-itu saja.
Matanya tiba-tiba berkabut. Laura secepat kilat mendongahkan kepala, dia enggan membiarkan satu tetes pun air matanya jatuh karena ucapan lelaki bajing*n itu. Dia menolak untuk menangisi perkataan Sabiel, lebih tepatnya Laura menolak mengasihani dirinya sebagai istri siri.
Laura berdiri dengan menahan sakit di dadanya. Ia memasukan laptop yang belum sempat ia pakai ke dalam tasnya lalu berjalan menuju pintu keluar."Dasar pengecut!!" umpat Laura lirih.
Sebelum sampai di pintu Laura menghubungi Rena.
"Kalian masih disana? Baiklah, tunggu aku." ucap Laura. Sesuai rencana Rena, sore ini mereka memang ingin pergi kesuatu tempat. Tadi sepulang kuliah, Laura meminta teman-temannya untuk pergi lebih dulu.
Sesampainya diluar, dia langsung dihadapkan dengan tubuh atletis Tomi. Lelaki itu saat Intan datang tadi, ia langsung bersembunyi di lorong toilet. Sedikit lebih jauh dengan posisi pintu, dia juga melihat Intan yang menguping pembicaraan Tuan Sabiel dan Nyonya Laura sebelum akhirnya bergegas sembunyi ketika Tuannya terlihat hendak keluar. Dalam benaknya, ia mengingatkan diri sendiri untuk melaporkan kemungkinan lain yang ia pikirkan mengenai Nyonya Intan.
"Antarkan aku ke Jalan Setiabudi. Aku ingin bertemu temanku disana" ucap Laura datar.
🍁🍁🍁
Sementara itu di parkiran mobil lain, Intan duduk manis menatap suaminya yang hendak menjalankan mobil. Bibirnya yang merah merekah tersenyum lebar, namun tidak dengan hati dan benaknya.
Intan benar-benar penasaran akan sosok wanita yang tadi bersama suaminya di dalam kelas. Dia ingat dengan jelas ketika ia sampai di depan pintu, suara Sabiel yang terdengar emosi menahan langkahnya. Telinganya dengan yakin mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Kabur? Pergi? Menghilang? Apa maksud perkataannya? Siapa yang ia maksud itu? Dan siapa wanita itu?" gumam Intan dalam hati.
Rasa penasaran Intan membuat banyak pertanyaan terasa sesak di rongga kepalanya. Sejak kepulangan dia dari Singapura, kenapa semuanya terasa berbeda? Pertama, Sabiel menolak bercinta dengannya. Kedua, menghilangnya dua pembantu andalan dari rumahnya. Dan sekarang, ketiga, ada wanita lain yang membuatnya penasaran.
"Apa yang sedang terjadi selama aku tak ada? Apa yang kau sembunyikan Sabiel?!" Intan bertanya dalam hati sembari melirik Sabiel yang fokus mengemudi.
Intan bertekad dalam hatinya, ia akan mencari tahu sendiri akan perasaan gelisah yang tetiba menghinggapi relung hatinya terdalam. Dia akan menuntaskan rasa penasarannya dengan mencari tahu kebenaran yang suaminya sembunyikan.
"Sayang, aku lupa bertanya padamu. Kemana Mbok Suti dan Mbok Yayu?" Intan membuka kekosongan itu dengan sebuah pertanyaan.
🍁🍁🍁
Laura dan kedua temannya mengayunkan tubuhnya kekiri dan kanan, menikmati lantunan suara merdu dari seorang penyanyi di sebuah kafe.
Lagu melow membuat hati Laura semakin sendu sore itu. Gemerisik air menerpa bambu-bambu kuning yang menjadi dekorasi di taman buatan dalam kafe. Posisi kafe yang berada di pinggir jalanan membuat raungan knalpot dari kendaraan yang melintas terdengar memekakkan telinga, namun tak menyusutkan suasana melankolis yang tercipta diantara hujan, petikan gitar dan senja.
Laura hanyut. Dalam suasana hati yang kelabu bersama alunan musik akustik dari penyanyi itu. Matanya melirik pada kedua temannya yang berada di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Tersenyum karena mereka telah berhasil mengisi kesepian dan kesedihan Laura sore itu.
Ucapan Sabiel masih saja mendominasi isi kepala Laura. Sejauh apapun Laura mencoba mengabaikan ucapan itu, maka semakin terperangkaplah kata-kata itu dalam benaknya.
"Tega sekali dia. Setelah membuatku terikat, dengan santainya mengatakan aku bukan siapa-siapa" Laura membatin.
__ADS_1
Laura merasa terpukul. Hatinya yang kecil nan rapuh, seperti baru saja mendapatkan lebam, rasa ngilu dan nyeri datang bersamaan.
"Laura, kau kenapa?" Destri ternyata memperhatikan Laura sejak tadi. "Kau sakit?"
Deg! Tepat sekali!
Oh Tuhan betapa inginnya Laura berteriak mengatakan kesakitannya, menubrukkan diri dalam pelukan teman-temannya dan menangis hebat.
Tapi ia tak bisa melakukan itu. Laura tak sanggup dengan rentetan pertanyaan yang pasti akan dilontarkan oleh mereka. Laura tak sanggup! Dia harus menyimpan lukanya sendiri dalam hati. Membiarkan luka-luka itu mengering atau berevolusi menjadi borok.
"Tidak, aku baik-baik saja" ucap Laura ketika Rena dengan wajah khawatirnya, mengusap kening Laura.
"Suhu tubuhmu hangat Laura" ucap Rena.
Destri segera memeriksa suhu tubuh Laura juga, dan sepakat dengan apa yang Rena ucapkan.
"Pulanglah" saran Destri, gadis itu berdiri dari duduknya. "Aku akan panggilkan supir ayahmu, oke?!"
Ketika Destri hendak beranjak, Laura segera memegangi lengannya. "Tidak usah, biar aku yang menghampirinya" ucapnya setengah malas. "Aku pulang ya, sampai jumpa nanti" pamit Laura seraya memeluk bergantian pada kedua temannya.
"Istirahat dan minum obatlah, aku khawatir sakitmu bertambah parah" ucap Rena.
Laura tersenyum, hatinya merasa sedikit terhangatkan mendapat perhatian tulus dari teman-temannya itu. "Tenang saja" ucap Laura sembari tersenyum.
Dia mengambil tasnya di meja, sebelum akhirnya beranjak meninggalkan kedua temannya di dalam kafe.
🍁🍁🍁
Diseberang lain, Sabiel berdiri menatap gerimis dari balik jendela. Lelaki itu sedang berada di ruang kerjanya di rumah. Sementara Intan sedang berada dapur. Entah apa yang merasukinya, tiba-tiba saja ia mengatakan ingin membuat masakan untuk makan malam, setelah sekian lamanya dari terakhir kali Intan memasak untuk Sabiel.
"Jadi, Dia kemungkinan mendengar apa yang aku bicarakan dengan Laura?" tanya Sabiel memastikan apa yang tadi sore Tomi lihat di balik persembunyiannya.
"Benar, Tuan. Saya menyaksikan sendiri raut wajah Nyonya Intan yang sempat terkejut. Karena itu saya berasumsi mungkin Nyonya mendengar pembicaraan Tuan" Tomi menyandarkan tubuhnya pada tembok.
Saat itu ia sedang berada di parkiran kafe, menunggu Nyonya Laura yang sedang bersama teman-temannya di dalam. Lelaki itu duduk di kursi panjang yang beratap kanopi, bersama dua orang tukang parkir kafe yang sedang berteduh.
"Bagus. Itu artinya, saat ini dia pasti sedang penasaran. Pantas saja saat tadi di mobil, Intan menanyakan keberadaan Mbok Suti dan Yayu" Sabiel mengingat kejadian di mobil saat Intan menjemputnya.
"Apa yang akan Tuan lakukan?" tanya Tomi
"Tidak perlu melakukan apapun. Biarkan dia mencari dan menemukan kebenarannya" Sabiel menyeringai penuh perhitungan. "Yang perlu kau lakukan, tetap damping Laura. Jaga dia untukku, karena aku yakin Intan akan berusaha mencelakainya jika ia sudah mengetahui kebenarannya" mata Sabiel berkilat waspada.
"Baik Tuan" ucap Tomi
"Satu lagi, aku ingin kau mulai mencari tahu lelaki bernama Dato' di Singapura. Cari lelaki itu di tempat kerja Intan atau di sekitaran apartemennya" perintah Sabiel. "Aku yakin ada sesuatu antara Intan dan lelaki itu"
"Baik Tuan, saya akan laksanakan" ucap Tomi menyanggupi perintah Tuannya sebelum panggilan itu berakhir.
Bertepatan dengan berakhiran panggilan, Laura keluar dari dalam kafe. Wanita itu melebarkan pandangannya, mencari keberadaan Tomi, namun lelaki itu lebih dulu menemukannya.
" Sudah Nyonya?" tanyanya dari arah belakang Laura.
"Ya. Antarkan aku pulang" ucap Laura menoleh pada Tomi sambil mengusap keningnya.
"Kenapa kepalaku jadi pusing seperti ini" keluhnya dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1