Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 11


__ADS_3

Beberapa minggu terlewati begitu saja. Saat ini Laura memiliki hobi baru selain buku dan menulis. Hobi itu baru ia sadari beberapa waktu yang lalu, berkat kehadiran akun Bimasakti di kolom komentarnya. Interaksi mereka bertambah sering seiring berjalannya waktu. Setiap kali Laura membuka laman blog-nya, secara tidak sadar ia pasti akan melihat komentar apa lagi yang akun Bimasakti tulis disana.


Laura sebenarnya sudah berada pada titik dimana dirinya merasa penasaran akan rupa asli dari akun Bimasakti itu. Begitupun dengan Bimasakti, dari komentar yang ia tulis di blog Laura. Jelas sekali bahwa ia pun begitu penasaran dengan rupa dari Laura.


Berapa lama kau akan biarkan hatiku resah menanti sebuah pertemuan sakral denganmu?


Satu komentar yang sering Bimasakti ulang-ulang dalam beberapa kali kesempatannya berbalas prosa dengan Laura.


Laura sendiri, entah mengapa meskipun dirinya begitu penasaran pada sosok Bimasakti, namun rasa penasarannya itu tidak membuatnya serta merta mengijinkan Bimasakti untuk mengetahui sosoknya. Laura terlalu nyaman dengan kemisteriusannya di dunia blogger. Dia begitu keras kepala untuk hanya menjadi bayang-bayang dalam benak Bimasakti.


Apa yang kau harapkan dari sebuah pertemuan? aku rasa jika Tuhan mentakdirkan kita untuk saling bertemu, maka suatu saat di hari yang tanpa kita sengaja. Kita pasti akan bertemu. Kau akan tahu rupaku, dan aku akan tahu rupamu.


Balasan komentar yang pernah Laura kirim untuk akun Bimasakti di suatu hari yang lalu. Dan itu cukup ampuh untuk menghentikan tuntutan Bimasakti untuk bertatap muka dengannya.


Saat ini Laura sedang berdiri di teras sebuah rumah makan di Jalan Merdeka. Menunggu kedatangan Sabiel yang kini menjadi lelaki satu-satunya di dunia nyata yang paling dekat dengannya.


Sabiel telah berhasil menghilangkan sekat antara guru dan murid dengan Laura. Ia selalu memiliki cara untuk dapat menjadi teman Laura dalam segala hal. Mereka berdua sering bertemu tanpa sepengetahuan orang lain. Perpustakaan adalah tempat yang paling sering mereka jadikan sebagai tempat bercerita. Seiring kedekatan mereka, Laura menjadi tahu sedikit demi sedikit kehidupan Sabiel. Sabiel sering bercerita tentang banyak hal, tentang orangtuanya, tentang hobinya, tentang kehidupannya saat remaja dan cerita lainnya.


Hanya satu yang tidak pernah Sabiel ceritakan pada Laura, yaitu tentang hubungannya dengan Intan, istrinya.


Sabiel seolah enggan untuk bercerita ketika Laura bertanya mengenai kehidupan rumah tangganya dengan Intan. Entah bagaimana, Sabiel yang seperti itu justru terlihat mencurigakan bagi Laura. Namun Laura tidak memaksakan kehendaknya agar Sabiel mau bercerita. Laura menyadari satu hal dalam diri manusia, bahwa ada satu bagian di diri setiap orang yang terkadang ingin disembunyikan dari orang lain. Dan Laura menghormati itu, dia tidak pernah lagi menanyakan perihal Intan pada Sabiel.


Bandung saat itu sedang turun hujan. Langit tampak kelabu di waktu yang mestinya matahari sedang bersinar terang. Rintik hujan yang jatuh pada dedaunan menciptakan irama yang konstans. Laura mengeratkan jaket jeans yang ia kenakan. Udara terasa menggigit kulitnya karna hujan turun berjam-jam yang lalu. Genangan air tak lekas surut dari jalanan aspal yang berlubang.


Tin tin.. Tin tin..


Bunyi klakson memecah suara deru hujan yang turun. Sabiel terlihat menurunkan kaca mobilnya untuk memanggil Laura yang tampak menunggunya sembari menahan dingin.


"Laura!" teriak Sabiel kencang.


Laura langsung menolehkan kepala mencari sumber suara tersebut. Dia mengerucutkan bibirnya kesal, karna menunggu terlalu lama. Sabiel terkekeh melihat bibir mungil Laura mengerucut dengan kedua bola mata menatapnya sinis.


"Ayo!" Sabiel meminta Laura naik dalam mobilnya. Laura menuruti ajakan Sabiel. Dia berlari kecil dengan tas ransel di atas kepalanya, sebagai tamengnya dari rintik hujan.

__ADS_1


"Kau membuatku menunggu lama, Sabiel." Laura tidak tahan ingin memarahi lelaki yang kini sedang menjalankan mobilnya itu.


"Maafkan aku, tadi ada rapat dadakan di Fakultas." ucap Sabiel melihat sekilas pada Laura yang masih terlihat kesal.


Sesuai rencana, Sabiel ingin mengajak Laura untuk ikut dengannya ke Lembang. Beberapa hari sebelumnya, Sabiel diminta untuk menjadi dosen pendamping dalam acara jelajah alam yang sebentar lagi akan diadakan. Sabiel bertugas untuk memastikan kesiapan tempat untuk para peserta nanti.


🍁🍁🍁


Mobil Sabiel terparkir mulus di pelataran parkir Pine Forest Camp. Mereka sampai ketika hari mulai beranjak sore. Laura bergegas keluar dari dalam mobil itu, dia merentangkan kedua tangan menikmati kesegaran alam hijau yang terbentang di hadapannya. Hujan sudah berhenti, menyisakan suasana dingin di tubuh mungil Laura.


"Ayo" Sabiel tersenyum menatap Laura yang terlihat menikmati keindahan alam kota Lembang.


Laura tak mengeluarkan sepatah kata ketika ia mulai mengikuti langkah kaki Sabiel yang berjalan sedikit di depannya. Matanya sibuk menatap begitu indahnya hutan pinus yang berjejer rapi membelah jalanan yang hijau karna rumput yang memenuhi permukaan tanah.


Di bawah pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi itu terdapat beberapa camp-camp kecil terbuat dari kayu yang digunakan untuk tempat bersantai para penunjung. Laura berdiri disalah satu camp hijau tersebut. Matanya mencoba melihat keadaan dalam camp melalui jendela hitam yang sedikit terbuka.


Cekrek!


Suara bidik kamera mengejutkan Laura. Ia membalikkan badan pada sumber suara tersebut.


"Aku butuh dokumentasi." jawabnya santai menghampiri Laura.


"Tapi nanti dosen yang lain tahu, aku bersamamu disini." Laura sedikit khawatir. Ingatannya kembali pada kasus hubungan asmara dosen dan mahasiswa yang digembor-gemborkan itu. Ia khawatir jika fotonya terlihat oleh pihak lain, mereka akan berpikiran macam-macam pada Sabiel dan dirinya. "Apa tidak masalah?" tanyanya kemudian.


"Tenang saja, aku bisa mengatakan bahwa kau perwakilan dari angkatan." ucap Sabiel cuek. Bagi Sabiel diketahui atau tidak diketahui hubungan dekatnya dengan Laura, bukan masalah yang berarti. Lagipula jika kedekatannya menjadi bahan gosip di kampus, itu sama sekali tidak mempengaruhinya. Dia bisa berhenti kapan pun dia mau. Yang menjadi titik berat masalah itu adalah nasib Laura. Sabiel tidak bisa membayangkan jika orang-orang satu kampus, menjadikan Laura sebagai bahan bakar gosip mereka.


"Coba aku lihat hasilnya." ucap Sabiel melihat kembali kamera digitalnya untuk memeriksa hasil jepretan tadi. "Tidak terlalu buruk." Dia mencibir potret Laura yang tertangkap bidikannya.


Laura menengokkan kepala ke arah kamera yang dipegang Sabiel. Dia melihat potret dirinya sendiri sedang memunggungi kamera.


"Ish, kau bicara apa?! Itu hanya bagian punggungku." Laura memukul lengan Sabiel sambil mendengus sebal.


Sabiel terkekeh, dia melihat kembali kamera itu, kali ini tangannya dibuat sedikit menjauh dari pandangannya. Belum sempat ia berucap ingin meledek Laura, tangan Laura lebih dulu merebut kamera itu dari tangan Sabiel. Dia menyembunyikan kamera itu di belakang punggungnya.

__ADS_1


"Biar fotografer asli yang bekerja." Laura berlagak menyombongkan diri sebelum kemudian ia pergi mencari spot lain untuk ia jepret.


Sabiel tersenyum lembut menatap Laura yang berjalan menjauh dari tempatnya. Dia berjalan perlahan mengikuti langkah kaki kemana Laura pergi.


Sudah hampir satu bulan ia tidak bertemu dengan Intan, istrinya. Semenjak kepergian Intan ke Singapura, baik Sabiel ataupun Intan hanya saling berkomukasi melalui ponsel. Di minggu pertama Intan yang lebih sering menghubungi Sabiel, Sabiel sendiri sepertinya hanya menanggapi sekedarnya.


Perasaan Sabiel semakin bias dengan kepergian Intan. Ketiadaan Intan disisinya justru membuka peluang bagi dirinya untuk dapat semakin memantapkan diri berpisah dari Intan.


Toh ada atau tidak adanya Intan, Sabiel tetap merasa sendiri.


Apalagi saat ini Sabiel sudah semakin dekat dengan Laura. Meskipun di awal kedekatan mereka, Laura masih seperti menjaga jarak, namun Sabiel dengan perasaannya yang sudah terlanjur tertarik pada Laura hingga perasaan tertarik itu semakin hari semakin berubah pada perasaan yang lebih intim. Ia berusaha untuk memangkas jarak diantara mereka. Dan ia berhasil. Kini Laura menjadi gadis satu-satunya yang dekat dengannya. Gadis yang selalu ingin ia lihat setiap harinya.


🍁🍁🍁


Laura melambaikan tangan pada Sabiel yang terlihat berbicara dengan penjaga camp. Dia kini sedang duduk di kursi panjang yang terbuat dari bongkahan kayu. Dia menengadahkan kepala, menatap ranting-ranting pinus yang memanjang menaungi kepalanya. Di depan tempatnya duduk, terdapat kolam teratai yang dikelilingi camp-camp berukuran lebih kecil dari camp hijau tadi.


"Apa sudah selesai?" tanyanya pada Sabiel yang baru saja mendudukan dirinya di samping Laura.


"Ya. Semua sudah siap. Tinggal menunggu waktu jelajah alam tiba." ucapnya santai. "Kau lelah?" Sabiel memperhatikan wajah Laura yang tampak mengantuk.


"Ya. Aku mengantuk...dan lapar." Laura mengerucutkan bibirnya.


Sabiel tampak gemas melihat raut wajah Laura. Hatinya berdesir hangat menatap indah lekuk wajah gadis itu.


"Kita bisa pergi sekarang jika kau mau." Sabiel memberi pilihan.


"Ya. Aku rasa memang kita sudah harus kembali." Laura menarik pergelangan tangan Sabiel untuk melihat jam disana. "Aku tidak mau terlambat kembali ke asrama." ucapnya kemudian.


"Baiklah, bagimana jika kita pergi makan terlebih dulu?" Sabiel mulai berdiri dari duduknya diikuti Laura.


"Deal!" Laura menjawab cepat sembari menyeringai senang pada Sabiel.


Mereka berjalan menyusuri hamparan rumput yang terbentang bagai permadani, sementara ranting-ranting pinus sibuk bergemerisik menyambut angin senja yang datang tanpa permisi. Ada kehangatan di tengah udara yang menggigil. Disana. Di hati seorang lelaki dewasa yang menggantungkan harapannya pada seorang gadis mungil.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Like, Koment dan Vote, Oke?! 😘😘😘


__ADS_2