
Tiga part sebelum tamat! 😉😉
...----------------...
"Kau akan memberi judul apa pada novelmu sayang?" tanya Sabiel memperhatikan keseriusan Laura melihat hasil editan novel di laptopnya.
Laura tampak berpikir sejenak. Dia memang belum memikirkan judul yang tepat untuk novelnya. Beberapa judul yang sementara ia sematkan hasil rekomendasi editor tak membuatnya tertarik. Ia ingin menggantinya. Laura ingin judulnya benar-benar sederhana namun merangkum keseluruhan isi cerita.
"Aku tidak menyangka kisah kita yang amat rahasia dulu, malah kau publish menjadi sebuah cerita" sambung Sabiel.
Mendengar ucapan Sabiel, tiba-tiba membuat Laura menoleh padanya. Seolah baru saja mendapat ilham, wanita yang memutuskan akan menekuni dunia menulis itu menyeringai misterius. Membuat Sabiel yang melihatnya penasaran.
"Ada apa?"
Tiba-tiba Laura merangkum wajah suaminya. Mata indahnya berkilat penuh siasat, menambah kebingungan Sabiel semakin jelas tergambar. Dalam hitungan beberapa detik, Laura langsung mencium kuat-kuat bibir Sabiel. Sabiel terperangah, namun ia memilih untuk menikmati ciuman itu. Lelaki itu hampir saja mengerang nikmat karena terlena dengan sesapan Laura pada dua bongkahan bibirnya.
Ditengah hujanan kenikmatan yang Sabiel rasakan, Laura menghentikan aksinya. Ia menarik wajahnya hingga memberi jarak pandang yang cukup bagi Sabiel untuk menyaksikan binar kesenangan dalam bola mata coklat itu.
"Aku sudah mendapatkannya"
Ucapan Laura belum sepenuhnya bisa dimengerti Sabiel. Otak Sabiel hanya mempertanyakan akan sensasi sensual yang hilang akibat ciuman yang terjeda. Ah, sial! Sabiel merutuki sikap Laura yang hanya memberinya kenikmatan sekejap.
"Mendapatkan apa?" tanya Sabiel mulai tak suka ketika Laura melepas kedua tangan dari pipinya.
Laura menatap kembali layar laptop terkutuk itu. Pandangannya teralihkan pada huruf-huruf kecil yang memenuhi satu lembar microsoft word. Sabiel melipat bibirnya kesal. Namun Laura tak melihat kekesalan itu.
"Secret Affair"
Jemari Laura mengetik dua kata di bagian paling atas novelnya. Senyumnya mengembang sempurna. Dua kata itu cukup pas untuk menggambarkan keseluruhan kisah yang ia buat. Semua awal dan akhir dari perjalanan hidupnya dengan Sabiel adalah rahasia Tuhan. Rahasia yang terlalu indah hingga tak ada lagi kata yang bisa mewakili rasa syukur keduanya pada Sang Pencipta.
"Secret affair?" Sabiel merapal apa yang Laura ketik.
Laura menoleh padanya. Senyuman itu membuat Sabiel berdecak kagum karena berhasil menambah pesona Laura. "Awal hubungan kita adalah rahasia, kau ingat? Tidak ada satupun yang tahu bahwa aku terikat padamu" Laura mengingat kejadian dulu.
Sabiel memicingkan matanya, benaknya mulai menyimpulkan alasan ciuman liar yang tadi Laura berikan padanya. "Karena itu kau menciumku?" selidiknya.
Laura mengangguk dengan kuat. Memang ucapan Sabiel sebelumnyalah yang membuat Laura berhasil menemukan judul tepat untuk novelnya.
"Apa jika aku memberimu ide lagi, kau akan menciumku seperti tadi? Tapi aku harap lebih dari sekedar ciuman" Sabiel hanya menanyakan apa yang menyulut api gairahnya.
Laura mendelik seketika. Mencemooh Sabiel dengan tatapannya sambil mengerucutkan bibir. "Ish, kau selalu saja mencari keuntungan dariku" dengusnya
"Siapa yang mencari keuntungan darimu?" Sabiel tak terima. "Ide dari seorang dosen itu tidak gratis Laura. Aku hanya meminta royalti yang pantas" ujarnya tak tahu malu.
"Tapi kau bukan lagi dosen. Kemarin kau baru meresmikan diri jadi pengangguran, bukan?" Laura mengingatkan pengunduran diri Sabiel yang lelaki itu lakukan setelah mereka kembali dari pulau pribadi beberapa minggu yang lalu.
"Ish! Tetap sa..."
Brak! "Apa yang sedang kalian lakukan?!"
Suara berat dan gebrakan pintu kamar menghentikan ucapan Sabiel. Keduanya menoleh pada sumber suara dan langsung terperanjat kaget melihat seseorang berdiri dengan menyilangkan tangan di dadanya.
"Ayah!" seru Laura turun dari atas tempat tidur dan berjalan menghampiri ayahnya. Perutnya yang buncit membuat langkahnya sedikit melambat.
__ADS_1
"Astaga Laura, perutmu" mata tua renta itu tertuju pada perut buncit Laura. "Hati-hati! Kau sedang membawa cucuku" pekiknya melihat Laura mempercepat langkahnya.
Sabiel yang melihat itu tersenyum. Dilihatnya paman Ali dan Bibi Dina yang baru datang menghampiri mereka di kamar. "Ayah, paman, bibi.. Kalian datang?" ucap Sabiel.
"Tentu saja kami akan datang. Kau pikir keluarga macam apa yang tidak segera datang setelah menerima kabar pernikahan kalian" gersah ayah Laura. Lelaki itu masih saja bertingkah menyebalkan pada Sabiel.
Paman Ali berjalan menghampiri Sabiel, ia memeluk keponakannya dengan rasa bahagia. "Abaikan saja ucapannya. Dia terlalu senang dengan pernikahan kalian, tapi dia khawatir kau besar kepala jika ia lembut padamu" bisik paman Ali di balik punggung Sabiel.
Sabiel mengulum senyumnya sambil tertunduk ketika paman Ali melepas pelukan hangatnya.
"Apa yang kalian bicarakan?" selidik ayah Laura memperhatikan tingkah mencurigakan menantu dan adiknya.
"Tidak" paman Ali menggeleng sambil berjalan menghampiri Laura dan kakaknya di dekat pintu kamar. Sementara Sabiel berjalan untuk memeluk bibi Dina yang sejak tadi diam mengawasi semuanya.
"Ayaaah" ucap Laura mendayu.
Rama merangkul pundak anaknya, "Mereka pasti sedang membicarakan ayah, sayang" tukasnya.
"Sudahlah, biarkan saja. Ayah baru datang, jangan langsung bertengkar lagi" Laura bergelayut manja.
"Dengarkan anakmu" timpal paman Ali.
"Diam kau. Akhir-akhir ini kau selalu berkubu dengannya" gersah ayah Rama pada adiknya.
Belum sempat paman Ali menyanggah, Bibi Dina menyela terlebih dulu. "Berhenti membuat gaduh di rumah ini. Kalian selalu tidak melihat tempat jika sudah bertengkar. Seperti anak kecil saja" ucap bibi Dina yang merasa bosan dengan pertengkaran kakak beradik itu. "Laura, lebih baik kita ke dapur. Bibi bawakan makanan kesukaanmu" ajak bibi Dina yang langsung disambut Laura.
Bibi Dina menggandeng tangan Laura. Mereka keluar kamar tanpa memperdulikan kedua lelaki tua yang sedang berkonfrontasi di dalam kamar. Sementara Sabiel mengikuti dari belakang.
Sabiel menoleh pada mertua dan pamannya. Dengan maksud menggoda, ia mengangkat bahunya. "Tentu saja ikut dengan para wanita, daripada aku berubah jadi anak kecil"
Ucapan Sabiel sontak mendapat respon kesal dari ayah mertuanya. Lebih kesal lagi saat ayah Laura melirik adiknya yang berdiri disebelahnya tengah tertawa puas menertawakan jawaban Sabiel yang membuat ayah Laura mati kutu.
"Dasar menantu durjanah" gumam Ayah Laura menatap kesal pada Sabiel yang mulai menjauh.
🍁🍁🍁
Waktu berlalu tanpa terasa oleh dua manusia yang tenggelam dalam kesibukannya mempersiapkan pernikahan mereka beberapa hari lagi. Laura baru saja selesai dengan urusan gaunnya. Seorang desainer yang Sabiel tunjuk datang ke apartemen sejak pagi hari dan baru kembali pulang ketika sore menjelang.
"Sayang..." Sabiel memeluk Laura dari belakang ketika wanita itu sedang berdiri di hadapan cermin panjang kamarnya.
Laura tersenyum manis menatap pantulan suaminya di cermin. "Lihat perutku" ucap Laura.
Sabiel mengusap lembut perut buncit itu, "Ada apa?"
"Aku merasa aneh memakai gaun tadi dengan kondisi perutku yang semakin besar ini" keluh Laura.
Sabiel menanggapi keluhan Laura dengan senyuman penuh pengertian sebelum ia mengecup pundak Laura. "Apapun kondisimu, gaun itu akan tetap terlihat cantik ketika kau kenakan"
Laura menghela nafasnya, "Bukan itu...aku berpikir pasti tamu undangan kita akan heboh melihat perutku ini. Kau tahu bukan? mulut manusia itu terkadang lebih tajam dari sebilah pisau"
Mendengar ucapan itu Sabiel melepas pelukannya, lalu membalikkan tubuh Laura untuk menghadapnya. Jemarinya merapikan anak rambut Laura dan menyampirkannya di balik telinga.
"Jangan pedulikan apapun yang keluar dari mulut mereka. Cukup aku dan anak kita yang harus kau pedulikan. Selebihnya, lebih baik kau abaikan" ujar Sabiel.
__ADS_1
Waktu pernikahan yang semakin dekat membuat Laura malah semakin gugup. Tiba-tiba saja Laura merasa khawatir dengan reaksi para undangan yang nanti akan melihatnya bersanding dengan Sabiel dalam kondisi berbadan dua. Bagaimana respon mereka ketika mengetahui bahwa ia telah lama menikah siri dengan Sabiel? Menjadi istri simpanan yang menikah diam-diam dan kini tengah hamil. Astaga! Laura tidak bisa membayangkan jika nanti mereka akan melabeli dirinya dengan predikat perebut suami orang.
"Aku benar-benar khawatir, Sabiel" Laura mengungkapkan kecemasannya.
Sabiel menarik Laura dalam pelukannya, ia mengelus lembut garis punggung Laura. "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan. Nanti aku yang akan membuat mereka mengerti dengan kondisi kita. Itulah mengapa aku meminta Tomi untuk menyiapkan sesi konferensi pers" ucap sabiel. "Lagipula, bagiku tidak penting apakah mereka mau mengerti atau tidak tentang kita. Toh yang menjalani ini semua adalah kita, bukan mereka. Sekalipun mereka mengatakan hal buruk tentang pernikahan kita, selama rasa cinta kita masih utuh. Aku mencintaimu dan kau mencintaiku. Itu sudah cukup untuk menutup semua omong kosong mereka" ujar Sabiel yang entah mengapa berhasil membuat Laura sedikit merasa lega.
Kata-kata Sabiel membuat kekhawatiran Laura menghilang begitu saja. Ya, suaminya memang benar. Urusan pendapat atau reaksi orang lain, bukanlah sesuatu yang harus Laura pikirkan. Fokus utamanya kini adalah kehidupan baru sebagai istri sah Sabiel. Bukan yang lain.
"Sudah malam sayang, daripada mengkhawatirkan hal itu. Lebih baik kau mengkhawatirkan bagian yang ini" Sabiel membawa tangan Laura pada pusatnya, sambil menyeringai.
Laura langsung terbelalak, matanya melihat kilatan gairah pada tatapan Sabiel yang sudah sangat ia kenal. Lelaki itu sedang menginginkannya saat ini. Mata Laura semakin membulat ketika tangannya mulai merasakan sesuatu yang mulai mengeras di balik celana suaminya. Seketika wajah Laura memanas. Astaga! Ini belum terlalu malam untuk memulai pertarungan erotis mereka. Suara ayah, paman dan bibinya yang sedang berbincang di lantai bawah masih jelas terdengar.
"Sabiel..." tubuh Laura meremang ketika Sabiel mulai melabuhkan bibirnya di ceruk leher. Gerakan menyeret penuh penekanan itu membuat mata Laura terpejam meresapi sensasi hangat yang merambat pelan.
"Aku tak bisa menahan diri lagi Laura" bisik Sabiel mulai memainkan lidahnya di sepanjang tulang pipi Laura. Hal itu membuat Laura menggigit bibir bawahnya tanpa sadar.
"Tapi keluargaku belum tidur, mereka..." nafas Laura langsung tercekat begitu bibir Sabiel menyapu permukaan bibirnya sambil memberi gigitan halus di bibir bawah Laura.
Sabiel mencecapnya, menghisapnya sebelum akhirnya memutuskan menautkan lidahnya pada lidah Laura yang basah. Laura melayang. Kakinya terasa tak lagi berpijak oleh apa yang suaminya lakukan. Oh ayolah, pertarungan ini tidak imbang. Laura belum sepenuhnya fokus pada sesi sensual yang Sabiel mulai.
"Sabiel... Jangan sekarang" tolak Laura saat ciuman maut itu terlepas. "Tunggu mereka tertidur dulu" Laura mencoba menarik nafas ketika Sabiel memberi ciuman kembali.
Pandangan Sabiel sudah sepenuhnya sayu. Bola matanya berkabut oleh gairah yang semakin memenuhi tubuhnya. "Aku sudah tidak kuat menunggu sayang" bisiknya setengah mendesah.
Laura mengulum bibirnya mendengar ucapan Sabiel yang menciptakan geletar erotis dalam tubuhnya. Dia tak sanggup menolak ketika Sabiel menggendongnya ala bridal. Bibir bengkak Sabiel kembali singgah pada bibirnya di sepanjang langkah kaki tegas lelaki itu.
Laura sibuk memposisikan tubuhnya yang telentang di tempat tidur, sementara Sabiel sibuk melucuti pakaiannya sebelum ia menghampiri tubuh Laura.
"Sabiel..." gumam lirih Laura
Sabiel tak menghiraukan gumaman istrinya. Dia sudah sangat kepayahan mengendalikan nafsunya saat itu. Gaun Laura pun sudah setengah jalan ia buka. Sabiel menelan ludahnya kasar ketika melihat pemandangan indah yang tersaji dalam bentuk mahakarya Tuhan paling berharga di hadapannya. Tubuh polos Laura yang semakin terlihat menggoda dengan bagian-bagian tubuhnya yang berisi akibat kehamilan, membuat Sabiel tak bisa membendung lagi keinginannya untuk mulai menjelajahi kenikmatan surga dunia.
Tok.. Tok.. Tok..
"Laura, kau di dalam?"
Ketukan pintu membuyarkan alam erotis Sabiel dalam sekejap. Laura mendorong tubuh suaminya agar turun dari atas tubuhnya. Dengan gerakan tergesa, wanita itu segera memakai kembali pakaiannya. Tanpa peduli tubuh suaminya yang telentang dengan tatapan kosong menatap langit.
"Iya ayah, sebentar" ucap Laura menatap Sabiel yang membatu. "Sayang, pakai bajumu" Laura memberikan pakaian Sabiel yang tadi sudah lelaki itu lepas.
Seringaian muncul di bibir Laura ketika melihat wajah kesal suaminya yang tampak menggemaskan. Lelaki itu masih membatu dengan posisi telentangnya. Laura merunduk untuk mengecup pipi suaminya, sebelum ia memilih menyelimuti Sabiel yang tampak enggan berpakaian.
"Aku bilang apa? Tunggu sampai mereka tidur, barulah kita bertarung" ucapnya dengan nada suara jahil.
"Laura kau lama sekali? Apa yang suamimu sedang lakukan? Apa dia menyusahkanmu? Oh Astaga! Suami macam apa itu" ayah Laura terus saja mengomel seperti burung beo.
"Sebentar ayah" Laura bergegas turun setelah merapikan pakaiannya. Sementara Sabiel memiringkan tubuhnya dengan selimbut yang menutupinya seperti kepompong.
Tidak ada ucapan yang keluar dari bibirnya sebelum Laura mulai menjauh, membuka pintu dan menutupnya kembali.
"Dasar orang tua pengganggu! Apa dia tidak tahu kalau aku ingin mengunjungi anakku?! Menyebalkan!" gerutu Sabiel dengan wajah kesalnya.
🍁🍁🍁
__ADS_1