
Kembali terjadi.
Kelopak mata Laura terjaga di dini hari yang dingin akibat hujan deras. Ini sudah beberapa hari berlalu sejak pemberitaan menghilangnya Bimasakti, selama itu Laura sering terbangun dari tidurnya. Ia mengalami mimpi buruk, mimpi yang terasa nyata sampai ia sendiri merasa begitu lelah ketika terbangun.
Dalam mimpi itu, Laura melihat Bimasakti. Lelaki itu berpakaian lusuh dengan wajah penuh dengan luka. Dari sudut matanya, Laura melihat darah mengalir deras menetes dan membasahi pakaiannya. Seketika Laura bergidik ngeri, ketika benaknya begitu jelas mengingat gumaman Bimasakti yang memanggil namanya dari kejauhan sebelum lelaki itu ambruk di tanah. Dan tiba-tiba tanah itu menelan tubuh Bimasakti yang ringkih.
Laura mengusap tenggorokkannya. Rasa nyeri akibat teriakan histeris di dalam mimpinya seolah masih ia rasa. Sekian hari berlalu, mimpi itu terus berlangsung. Bayangan Bimasakti yang kesakitan menghantuinya sejak hari itu. Lelaki itu seolah ingin mengatakan sesuatu pada Laura. Namun setiap ia ingin mengatakannya, tanah selalu berhasil menelannya lebih dulu.
Laura menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan nanar. Ia tak mengerti apa yang harus ia lakukan, dan apa sebenarnya arti dari mimpi-mimpi itu? Semua tampak abu-abu dalam benaknya.
"Kau bangun, sayang?" suara parau Sabiel membuat Laura menoleh seketika pada suaminya. "Kau memimpikannya lagi?" tebak Sabiel.
Lelaki itu sudah terbiasa dengan kebiasaan baru istrinya yang sering terbangun di dini hari. Sejak berita itu muncul, Laura tampak berbeda. Wanita itu sering kedapatan melamun. Laura bahkan mengakui bahwa akhir-akhir ini ia sering bermimpi buruk tentang Bimasakti.
Laura memiringkan tubuhnya, sebelah tangannya ia jadikan bantalan. "Entah mengapa dia selalu muncul dan membuatku ketakutan" aku Laura.
Sabiel mengucek sebelah matanya, lelaki itu bangkit dari posisi tidurnya dan bersandar di headboard ranjang. Laura beringsut mendekati tubuh suaminya. Ia ikut menyandarkan tubuhnya di dada Sabiel.
"Aku hanya merasa bersalah padanya" suara Laura terdengar sendu.
"Mengapa begitu?" tanya Sabiel.
"Aku hidup bahagia bersamamu, sedangkan ia..." Laura ragu untuk mengatakannya.
Sabiel mencium puncak kepala Laura. "Kau bahagia bersamaku?" tanya Sabiel. Dia hanya ingin membahas apa yang menarik baginya.
Laura mengangguk dengan yakin. Dan itu berhasil menerbitkan senyuman puas pada wajah tampan Sabiel. Laura melepaskan diri dari dada suaminya, matanya menangkap binar kepuasan di bola mata legam itu.
"Apa?!" tanya Sabiel sembari mengulum senyum menatap mata coklat yang memicing padanya.
"Kau menertawaiku?" selidik Laura.
Sabiel mengangkat bahunya, dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Mana berani aku menertawakanmu sayang" ucapnya membela diri.
Buk!
Tiba-tiba Laura meninju pelan dada suaminya. "Wajahmu mengatakan itu!" dengus Laura kesal.
Sabiel terkekeh. "Kau menggemaskan" ucapnya seraya menarik kembali Laura dalam dekapannya.
"Aku senang mendengar kau mengatakan bahagia bersamaku. Dadaku terasa terbang, melambung ke atas awan, hanya karena ucapanmu" ungkap Sabiel. Tanpa Sabiel ketahui, Laura tersenyum simpul dalam dekapannya.
Waktu yang terus berlalu, ujian perasaan yang akhirnya berhasil Laura lewati. Membawa ia pada satu kondisi dimana ia merasa begitu bersyukur atas garis hidup berliku yang Tuhan pilihkan untuknya.
Ia tak menyangka, bahwa lelaki yang semula ia benci habis-habisan ini, ternyata malah menjadi lelaki yang ia cintai sepenuh jiwa dan raga. Laura bahagia saat ini, bersama lelakinya. Namun kabar lelaki masa lalunya, berhasil mengusik batin Laura. Ditengah kebahagiaan yang sedang menaungi Laura, terselip rasa gelisah akibat perasaan bersalahnya pada lelaki itu.
🍁🍁🍁
Bunga-bunga kamboja mekar menyambut mentari yang terbit dengan keanggunannya. Daunnya bergerak seiring sentuhan angin menyapa. Sabiel berdiri di balik jendela, menyibak tirai yang menjadi satu-satunya penghalang dari pemandangan indah di pagi hari.
Penampilannya yang sendu tanpa menghilangkan kesan maskulin di parasnya membuat lelaki itu bertambah tampan dalam kematangan usia. Laura yang setengah bergumam dalam pembaringan membuatnya menoleh. Sabiel tersenyum lembut, penampilan Laura saat bangun tidur adalah satu penampilan yang selalu Sabiel sukai. Rambut kusut masai, mata bulat setengah terbuka, mulut yang menguap lebar, dan satu lagi, "Sayaaang"
Itu dia! cara Laura memangilnya sesaat setelah bangun tidur. Suara serak setengah mendesah itu terdengar seksi bagi Sabiel. Suara itu selalu membuat Sabiel mabuk akan pesona Laura di pagi hari.
__ADS_1
Lelaki itu berjalan menghampiri pujaannya. Dia duduk di tepi ranjang, dengan tangan mengusap rambut istrinya yang terburai.
"Hari ini aku akan ke pengadilan. Akta ceraiku sudah selesai. Sekarang kau resmi menjadi istriku satu-satunya" ucapnya sembari membelai kepala Laura.
Laura tersenyum cantik. Bibir lembab berwarna merah mudanya melebar dengan cara yang menawan. Wajahnya terlihat cerah mendengar apa yang diucapkan suaminya. Dia tak sadar, bahwa apa yang ia tunjukkan telah memberi efek yang mematikan bagi Sabiel.
Sabiel tak bisa mengendalikan getaran tubuhnya ketika senyuman cantik dan raut wajah secerah mentari menerpa bola matanya. Ia melihat jam di dinding, kemudian memiringkan kepalanya menatap Laura penuh isyarat. Laura menangkap isyarat itu, ia terkekeh geli ketika mengawasi gerak gerik suaminya yang mencurigakan merangsek masuk dalam selimbut dan memeluknya dari arah belakang dengan gairah yang matang dan posesif.
"Hei, kau akan terlambat" Laura mengingatkan.
Sabiel terlalu serakah pagi hari ini. Ia menghirup aroma lembut tubuh Laura. Merengkuhnya hanya membuat Sabiel merasa tak puas. Dengan sebelah tangannya, ia melepaskan dua kancing kemeja yang sedang ia kenakan.
"Aku ingin bercinta" bisiknya seperti desahan yang membuat Laura membelalakan matanya. Wajahnya seketika terasa panas.
"Kau akan terlambat" Laura memperingati kembali.
Sabiel membuka kancing piyama istrinya, tanpa membalik tubuh Laura. Dia tak menghiraukan peringatan itu. Setelah berhasil membuka piyama, Sabiel langsung membelai lembut kedua bukit yang masih bersembunyi dalam bra merah sang istri. "Tubuhmu memanggilku sayang" ujarnya menyeringai jahil.
Sabiel menjilat cuping Laura, merangsekkan kepalanya di ceruk leher hangat istrinya. Tubuh Laura mulai meremang, sentuhan Sabiel membuatnya bergidik dalam konteks gairah seksual. Perlahan Sabiel membalikkan tubuh Laura. Ia mencium bibir bawah Laura dengan ciuman ringan yang memabukkan. Perlahan ciuman itu berubah menjadi hisapan. Laura mengerang sebagai tanda menyerah pada kepiawaian Sabiel mencumbunya. Ia pasrah. Jiwa dan raganya bertekuk lutut atas ekspansi tiba-tiba Sabiel pada tubuhnya.
"Katakan sayang, apa yang kau ingin aku lakukan saat ini?" tanya Sabiel ketika ia berada di atas tubuh polos istrinya.
Laura memalingkan wajah karena rasa malu yang tiba-tiba muncul ketika mendengar pertanyaan suaminya. Sabiel mengeratkan gerahamnya, wajah bersemu merah Laura membuatnya semakin berhasrat untuk melumpuhkan wanita dalam kungkungannya itu. Ia merundukkan tubuhnya, kedua tangannya memegangi sisi wajah Laura agar menghadap padanya.
"Kau tahu, aku sangat memuja dirimu sampai seperti orang gila rasanya" ujar Sabiel sembari memberi kecupan-kecupan kecil di bibir mungil Laura.
Laura mengalungkan kedua tangannya di leher Sabiel. Senyuman mematikan itu kembali ia tunjukkan. "Maka tunjukan caramu memujaku" ucap Laura menahan malu.
"Akh!"
Erangan kuat membuat keduanya terpejam dengan rasa puas dan nikmat yang muncul bersamaan. Nafas Sabiel terengah, entah mengapa percintaan kali ini begitu menguras tenaganya. Namun meski begitu, ia tidak bisa memungkiri bahwa percintaannya dengan Laura tidak pernah gagal untuk menghilangkan dahaganya akan gairah erotis.
Sabiel berguling menyamping. Kedua lengannya langsung menarik Laura untuk masuk dalam dekapannya. Hampir saja lelaki itu tergoda untuk memejamkan kedua matanya, jika ketukan pintu tidak terdengar mengganggu kekhitmadan prosesi akhir dari penyatuan dua tubuh yang berbeda jenis.
Tok.. Tok.. Tok..
"Tuan, sudah waktunya datang ke pengadilan" suara bass Tomi mengusik kedua manusia yang tadi sibuk bergulat di atas ranjang.
Laura tersenyum menatap wajah Sabiel yang merasa terganggu. Ia memijit dahi suaminya yang mengkerut. "Kau akan terlambat, sayang" ucapnya sembari tersenyum.
Sabiel mencium kening istrinya, "Aku akan pergi. Setelah aku pulang, kita akan membahas acara pernikahan kita"
"Kita akan menikah lagi?" tanya Laura.
Sabiel mengeratkan pelukannya, "Lebih tepatnya, mengulang kembali pernikahan kita secara resmi"
"Tapi bagaimana dengan kuliahku? Apa kita akan mengundang teman-temanku juga?" tanyanya mengingat statusnya sebagai mahasiswa.
Sabiel melepaskan pelukannya, ia menatap bola mata Laura yang indah dan melabuhkan kecupannya disana. "Kita akan bahasa nanti"
Sabiel segera bangkit dari pembaringannya, tanpa mengenakan apapun, lelaki itu melangkah menuju kamar mandi dengan derap langkah malasnya.
"Tom, tunggu sebentar. Aku akan bersiap" serunya pada Tomi yang berada di balik pintu kamar.
__ADS_1
Melihat suaminya masuk kedalam kamar mandi, Laura ikut bangkit dari atas ranjang. Ia mengambil pakaiannya yang teronggok bagai sampah. Dan melangkah untuk menyiapkan pakaian suaminya.
🍁🍁🍁
Siang hari Bandung kala itu sedang di guyur hujan. Laura duduk bersila di sofa ruang keluarga dengan mata terpaku pada layar laptop di hadapannya.
Jemarinya lincah menari di permukaan kursor, menekan dan memilih beberapa laman berita tentang Bimasakti yang kini tengah ia selidiki. Laura tidak puas melihat pemberitaan Bimasakti yang menggantung karena beberapa pihak terkesan angkat tangan. Ia kemudian membuka kembali tayangan ulang aksi buruh yang menuntut pengusutan menghilangnya dua aktivis yang beberapa waktu lalu Laura lihat di tv.
Laura mengetuk-ngetuk tepian laptop dengan telunjuknya, matanya fokus melihat orasi Laras sebagai pemimpin aksi, sementara benaknya berpikir keras memikirkan cara untuk dapat tersambung dengan wanita yang dulu sering di singgung Bimasakti dalam obrolan hangat mereka.
"Bagaimana aku bisa menghubungimu, Laras" gumamnya seorang diri.
Drrrtt... Drrttt... Drrtt...
Laura memutus tatapannya pada layar laptop itu ketika ponselnya berdering. Ia melihat nomor asing yang tertera disana. Dengan setengah ragu, Laura mengangkat panggilan itu. "Halo?"
"Hai Laura, perkenalkan aku Laras, kawan seprofesi Bimasakti..."
🍁🍁🍁
Sudah beberapa kali Tomi melirik Sabiel yang tengah tersenyum cerah duduk di kursi sebelah kemudinya. Orang kepercayaan keluarga Sabiel itu, ikut merasa senang dengan apa yang terjadi pada Tuannya.
"Berhenti melirikku,Tom!" tegur Sabiel ketika ekor matanya memergoki kelakuan Tomi.
Tomi tersenyum. "Saya ikut senang dengan apa yang Tuan tengah rasakan saat ini" ucapnya menatap kembali pada arah jalanan Bandung yang basah akibat hujan.
Sabiel menyandarkan kepalanya, "Ya. Aku sangat senang. Akhirnya perceraian ini terjadi juga. Aku bisa menikahi Laura secara resmi tanpa ada lagi gangguan" ucapnya dengan perasaan tenang.
"Oh ya Tom. Sebelum kembali, antarkan aku ke rumah sakit." sambungnya ketika mengingat sesuatu dengan kesehatannya akhir-akhir ini.
Tomi terkesiap. Kepalanya menoleh perlahan. "Tuan sakit?" tanyanya cemas.
Sabiel menegakkan tubuhnya. Raut wajahnya tampak ragu untuk mengatakannya. "Entahlah, aku hanya merasa akhir-akhir ini aku selalu merasa kelelahan tanpa sebab. Padahal kau tahu sendiri pekerjaanku hanya mengajar dan membaca laporan bisnisku darimu"
Tomi mendengarkan dengan seksama. Matanya berpencar penuh curiga dengan apa yang diucapkan Tuannya. "Sejak kapan Tuan merasa seperti itu?" selidik Tomi.
Sabiel terlihat sedang berpikir, ia mengingat-ngingat kapan rasa lelah itu mulai mengganggunya. "Aku merasa itu sejak lama, hanya saja akhir-akhir ini intensitas kelelahanku semakin sering. Sepertinya aku harus minta resep vitamin nanti" ujarnya.
Dari luaran Tomi tampak tenang mengemudikan mobilnya menuju satu rumah sakit besar yang selalu menjadi langganan keluarga Sabiel. Namun tidak ada yang tahu, bahwa dalam hatinya Tomi begitu gelisah dan cemas atas apa yang baru saja Tuannya ungkapkan.
"Tuan"
"Hmm"
"Apa tidak sebaiknya Tuan berhenti menjadi dosen, dan menghabiskan waktu untuk bersantai dengan Nyonya? Bukankah Tuan berencana untuk membuat Nyonya Laura hamil kembali?!" tanya Tomi tiba-tiba.
"Apa maksudmu?" Sabiel mengernyitkan dahinya merasa janggal dengan apa yang diucapkan Tomi.
"Maksud saya, berhenti membuat tubuh Tuan semakin lelah. Dan mulailah bersantai menghabiskan waktu dengan istri Tuan" ujar Tomi lugas.
Orang yang paling bisa dipercaya oleh keluarga Sabiel itu tak bisa lagi menutupi rasa khawatirnya. Dia takut, sesuatu yang ia prediksikan di waktu yang lampau benar-benar menjadi nyata.
🍁🍁🍁
__ADS_1