Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 89


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu sejak kepulangan mereka dari rumah sakit. Laura tidak bisa memungkiri, ia merindukan moment seperti ini sejak Sabiel harus terbaring lemah di rumah sakit. Matanya tak bisa lepas dari mata Sabiel yang terpejam karena kelelahan setelah keduanya melepas hasrat dini hari tadi.


Pagi ini adalah pagi yang hangat dalam balutan sensual bagi keduanya. Ditengah kondisi tubuhnya yang masih berusaha untuk pulih, ternyata stamina Sabiel cukup kuat untuk melakukan pertarungan erotis dengan Laura. Meskipun pertarungan tadi hanya berlangsung dalam rentan waktu yang cukup singkat, dibandingkan ketika tubuh Sabiel benar-benar dalam kondisi prima.


Laura tersenyum menatap kelopak mata yang tampak tenang dihadapannya. Tangannya bergerak mengusap lembut permukaan perutnya yang mulai tampak menonjol.


Akhirnya lelaki itu terbangun dengan sebuah senyuman hangat langsung menyapa Laura. Kelopak matanya masih terlihat menghitam meski samar, gurat-gurat kelelahan masih tampak juga disana.


"Sejak kapan kau bangun?" suara serak Sabiel terlontar dengan cara yang cukup membuat tubuh Laura meremang.


"Beberapa saat yang lalu, sebelum kau bangun" sahut Laura yang lekat memperhatikan wajah suaminya.


Sabiel memiringkan tubuhnya, matanya menatap mata coklat Laura dalam jarak yang begitu dekat. "Kau cantik sekali Laura" ucapnya mengelus sisi wajah istrinya.


"Jangan melebih-lebihkan" tukas Laura memukul halus bahu atas suaminya.


Laura berusaha meninggalkan tempat tidur, namun Sabiel menangkap pinggangnya dan menyeretnya untuk berbaring kembali disisinya. "Mau kemana?" tanya Sabiel dengan santai.


Laura tersentak ketika lelaki itu berguling ke atasnya. Tubuh mereka yang polos saling merapat. Sabiel tersenyum merasa tubuh Laura yang terlalu nikmat untuknya.


"Sabiel!!" pekik Laura menatap mata Sabiel yang terpaku padanya.


Tanpa menunggu rontaan lain keluar dari mulut istrinya, Sabiel mencium bibir Laura. Laura berusaha untuk melepaskan diri. Namun semakin ia mencoba, Sabiel semakin memperdalam ciumannya. Di detik selanjutnya, Laura memilih pasrah. Ia mengalungkan tangannya di leher Sabiel, dan ikut terhanyut pada morning kiss yang terlalu liar dari suaminya itu. Respon Laura yang membalas ciumannya, membuat Sabiel senang dan menciumnya lagi dan lagi.


"Oke, sudah cukup" Laura menahan dada Sabiel untuk menghentikan lelaki itu menciumnya.


Ekspresi wajah Sabiel berubah masam ketika Laura menghentikan ciuman bertubi yang masih ingin ia lakukan. Mimik mukanya menunjukkan ketidakrelaannya untuk melepaskan Laura.


"Masih ingin" rengeknya.


"Aku lapar, dan kau pun pasti lapar, bukan?!" ujar Laura beralasan.


Laura memaksa Sabiel untuk berguling kembali ke arah sampingnya. Kemudian ia bangkit dari tempat tidur setelah mengambil lingerie jenis nightie berbahan sutera yang teronggok di lantai.


"Sabiel, pakai celanamu!" gersah Laura yang melihat Sabiel berjalan tanpa mengenakan apapun.


"Nanti" sahutnya asal.


"Ya Tuhan, bagaimana bisa dia tidak malu berjalan telanjang seperti itu?!" gumam Laura memperhatikan Sabiel yang duduk di sofa dan menyalakan tv dengan santai. Kedua kakinya yang panjang melintang di atas sofa dan bersilang dibagian pangkal mata kaki.


Laura berjalan mengambil jubah lingerie-nya di kaki tempat tidur, kemudian menarik selimbut untuk ia pakaikan pada tubuh suaminya yang polos. Sabiel tersenyum seperti seorang bocah. Ia menarik Laura hingga Laura terjatuh mengenai dadanya.


"Sabiel lepas! Aku ingin membuat sarapan" gersahnya.


"...Aliansi buruh dari berbagai kota di Indonesia berkumpul di pengadilan negeri Jakarta pagi ini. Mereka ingin menyaksikan persidangan yang menjerat seorang direktur perusahaan besar yang baru-baru ini di dakwa telah menjadi otak atau dalang dari hilangnya para aktivis buruh beberapa tahun belakangan hingga kasus hilangnya pemuda bernama Bimasakti beberapa waktu yang lalu... "


Laura langsung duduk begitu mendengar berita pagi yang tengah suaminya lihat. Mata kedua manusia itu mendadak serius menyaksikan siaran langsung dari salah satu stasiun tv swasta.

__ADS_1


"Apa kau mengenal orang itu?" tanya Laura dengan mata terpaku pada sosok lelaki usia sekitar lima puluhan yang digiring polisi menuju gedung persidangan.


Sabiel mengangguk, "Aku mengenalnya. Dia konglomerat perusahaan minyak. Ayahku pernah mengenalkannya padaku dulu, saat aku masih sekolah" matanya tak henti menatap tajam pada lelaki yang pernah mendekati ayahnya untuk memberi saham pada perusahaan minyak itu.


"Jahat sekali dia" ucap Laura merasa geram melihat tayangan sekilas para aktivis yang menjadi korban penyekapannya.


Sabiel menolehkan kepala pada Laura, ia ingin mengatakan sesuatu yang belum ia sampaikan pada istrinya itu. "Sayang..." ujarnya.


"Hmmm" mata coklat itu masih setia pada layar tv.


"Ada sesuatu yang harus aku katakan padamu"


Laura menoleh pada Sabiel. Lelaki itu terlihat berpikir keras sambil menatap lekat wajah Laura. Tiba-tiba suaranya seperti sedang tersekat ketika Laura menaikkan alisnya sebagai tanda menanti apa yang hendak ia katakan.


"Lelaki itu...Bimasakti" Sabiel memperhatikan raut wajah istrinya. "Dia..."


Seketika Laura tersenyum, ia mengerti apa yang hendak di ucapkan suaminya. "Aku tahu" ucapnya meredakan kebingungan Sabiel.


Sabiel membulatkan matanya. "Kau tahu?"


Laura menyandarkan kepalanya di dada Sabiel, tak ia hiraukan selimbut yang tadi ia kenakan untuk menutupi badan suaminya yang kini tersingkap. "Kau menemukan Bimasakti, bukan?"


"Bagaimana kau bisa tahu?" Sabiel heran.


Mata laura mengedip jahil pada suaminya, "Menurutmu, darimana aku bisa tahu?"


"Aku juga tahu rencana apa yang ingin kau lakukan untuk dia"


Shit! Laura tahu!


Ucapan Laura membuat Sabiel menegakkan tubuhnya, diikuti oleh Laura. Raut wajahnya berpendar antara terkejut dan khawatir Laura akan marah padanya. "Sayang..."


Mata Laura langsung mendelik tajam mengingat rencana bodoh yang sempat terlintas dalam benak suaminya. "Apa?!" ucap Laura dengan tatapan menantang. "Kau ingin menyumbangkan matamu untuk lelaki itu? Dengan alasan konyol agar aku tidak bersedih jika kau gagal melawan penyakitmu?!" ucap Laura ketus.


Buk! Buk! Buk!


"Bagaimana bisa otakmu itu berpikir sampai sejauh itu, huh?" ucap Laura sembari memukul dada Sabiel.


Sabiel menggenggam kedua tangan istrinya. Wajahnya meringis, berpura-pura sakit karena pukulan ringan istrinya itu. "Aku takut sayang"


"Apa yang kau takutkan?" tanya Laura kesal.


Sabiel menarik tubuh Laura dalam dekapannya. Ia mencium kening Laura beberapa kali, pandangannya melembut selembut usapannya pada punggung Laura.


"Aku takut Tuhan memisahkanku darimu. Kau tahu sendiri kondisiku sering berubah-rubah. Sewaktu-waktu kondisi tubuhku membaik, di waktu yang lain kondisiku justru memburuk. Itu semua membuatku ketakutan, sayang" ucap Sabiel mengingat saat-saat terpuruknya. "Bayangan kau akan meratapi kepergianku, membuatku berencana membuat lelaki itu ada disampingmu. Menggantikanku menjagamu dan anak kita"


Laura terdiam mendengarkan. Hatinya begitu tersentuh dengan apa yang diucapkan oleh suaminya. Meskipun ia merasa kesal karena Sabiel dengan lancangnya menyusun rencana masa depan Laura seorang diri, namun ia bisa mengerti bahwa semua hal itu terjadi karena rasa cinta dan kasih sayang Sabiel yang terlalu besar pada dirinya.

__ADS_1


Laura mendongahkan kepalanya, sementara Sabiel merunduk. Pandangan keduanya bertemu dan terikat dalam keheningan sejenak. Bola mata legam itu berubah sendu, mematik rasa haru yang menyeruak memenuhi jiwa Laura.


"Jangan pernah merencanakan apapun lagi tanpa melibatkanku" titah Laura.


Sabiel tersenyum tipis, ia membenamkan kembali kepala Laura di dadanya yang telanjang. "Tidak akan pernah, sayang. Aku akan melibatkanmu dalam hal apapun. Karena kau adalah bagian dari diriku" ucap Sabiel.


Laura memejamkan mata menghirup aroma menyenangkan yang keluar dari tubuh suaminya. Siaran langsung penangkapan dalang penyekapan para aktivis masih bergelora di balik layar sana. Terdengar suara aktivis wanita yang familiar di telinganya, wanita itu dengan lantang meminta pengadilan menghukum direktur bejat yang membuat kawannya menghilang entah kemana. Laura dan Sabiel memilih tak peduli, mereka hanya ingin hanyut dalam suasana melankolis yang menyelubungi hati mereka.


"Sayang, apa kau ingin menemui lelaki itu?" Sabiel menawarkan.


"Bimasakti?" Laura memastikan lelaki yang dimaksud suaminya tanpa menegakkan kepalanya dari dada Sabiel.


"Memang siapa lagi" Sabiel memutar bola matanya malas.


Laura terkikik geli. "Memang tidak apa-apa bagimu, jika aku bertemu dengannya?!" tanya Laura sambil membuat pola-pola absurd di dada suaminya. "Terakhir kali aku bertemu dengannya, kau marah besar sampai berkelahi dengannya" Laura mengingatkan kejadian dulu.


Sabiel menghela nafasnya perlahan. "Sekarang dan dulu kondisinya berbeda, sayang" ujarnya.


"Maksudmu?"


"Dulu, aku hanya bisa memiliki ragamu. Hingga setiap saat aku akan berubah murka jika melihatmu bersama dengan lelaki lain. Apalagi kau dengannya memiliki hubungan saat itu. Tapi sekarang kondisinya sudah berubah. Tidak hanya ragamu yang aku miliki, tapi hatimu, jiwamu dan seluruh isi dari tubuhmu sampai tulang sumsummu itu, semua milikku" ungkapnya berbangga diri. "Jadi tidak ada lagi alasan untuk aku murka padanya"


Laura menegakkan kepalanya, bibirnya tersungging menjadi senyuman miring menatap kepongahan suaminya. "Kau terlalu percaya diri" cibirnya menerbitkan seringai di wajah tampan Sabiel.


"Kau mencintaiku, itu yang membuatku percaya diri" ujarnya menjawil lembut ujung hidung Laura yang mancung.


"Baiklah Tuan percaya diri, jadi inti dari ucapanmu, kau mengijinkanku bertemu dengannya?!" Laura kembali memastikan.


Sabiel mengangguk. "Aku rasa ada sesuatu yang harus kau selesaikan dengannya"


Laura mengernyitkan dahinya, "Apa maksudmu?" tanyanya penasaran.


"Pesan lelaki itu di inbox laman blogmu"


Ucapan Sabiel membuat Laura terkejut, "Bagaimana kau bisa tahu?" Laura penasaran darimana Sabiel bisa tahu, sedangkan laman blog itu sendiri hanya Laura yang bisa membukanya.


"Mungkin kau lupa, dulu kau pernah menutup blogmu tanpa logout terlebih dulu. Jadi saat aku membuka laptop, laman blog itu masih ada. Aku membacanya saat itu" ungkap Sabiel.


Laura terperangah mendengar kecerobohan dirinya lewat ucapan Sabiel. Kebiasaan buruk yang sulit ia ubah. "Aku tahu, lelaki itu pasti tidak akan tenang sebelum berbicara denganmu" Sabiel mengembalikan topik pembicaraan.


Laura tampak merenung sejenak. Dia tidak menampik bahwa ia pun ingin menyelesaikan masalah itu dengan baik. Terakhir kali ia berpisah dengan Bimasakti, hanya menyisakan dendam dan benci dalam hati lelaki itu. Tanpa ada ruang untuk Laura menjelaskan semuanya. Ditambah dengan pernikahan tanpa sepengetahuan keluarga Laura yang pada akhirnya lelaki itu ketahui berkat pertemuan singkatnya dengan paman Ali. Sudah pasti hati Bimasakti diliputi keresahan mengenai semua yang menjadi tanda tanyanya pada Laura. Dan bagi Laura, hal itu menjadi kesempatan berharganya untuk menuntaskan sesuatu yang masih terasa menggantung.


Ia ingin memulai kehidupannya dengan Sabiel. Ia ingin mengarungi bahtera rumah tangganya tanpa beban apapun di hatinya. Maka, bertemu kembali dengan lelaki itu adalah salah satu cara untuk membebaskan dirinya dari segala beban. Setidaknya lelaki itu akan tahu, bahwa Laura yang kini, berbeda dengan Laura yang lalu. Laura yang kini, hatinya tidak lagi terisi oleh lelaki lain selain Sabiel. Lelaki yang pada akhirnya Tuhan jadikan sebagai jalan takdirnya. Sebagai suami dalam hidup dan matinya.


"Jadi kapan kau akan mengantarku bertemu dengannya?" tanya Laura menatap penuh semangat pada bola mata legam Sabiel.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2