
Hai Guys!
Mohon maaf atas keterlambatan up dari cerita ini. Begitu banyak urusan di dunia nyata yang harus Author kerjakan, membuat cerita ini sedikit terhambat.
Tadinya akan Author up besok saja sekalian, Tapi begitu ingat dengan komitmen untuk up setiap hari kecuali minggu, Author putuskan untuk tetap up. Walaupun mungkin lebih sedikit dari episod-episod sebelumnya hihihi
Mohon dimaklumkan ya Guys!
Semoga tetap suka dengan ceritanya.
Jangan sungkan untuk mengatakan saran atau kritik. Author akan senang hati membacanya di kolom komentar.
Happy Reading and I Love You All 😘😘
Terima kasih atas dukungannya sampai sejauh ini 😍😍
...****************...
Pagi berikutnya, Laura berjalan pelan menuju lift untuk berangkat ke kampusnya. Ia meninggalkan Sabiel ketika lelaki itu telah selesai dengan semua urusan mandi dan sarapannya. Laura termangu menatap tombol lift sambil bersandar di tembok paling ujung. Sebenarnya sejak kemarin ia ingin menghubungi Laras. Tapi urusan kuliah, naskah dan waktunya yang habis bersama Sabiel membuatnya tidak bisa leluasa menghubungi wanita itu.
Kemarin saat ia memergoki Sabiel dan Tomi, Laura dengan jelas mendengar nama Bimasakti disebut-sebut oleh mereka. Tapi Laura tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan tentang lelaki itu. Terbersit dalam benaknya bahwa Sabiel mungkin saja memerintahkan Tomi untuk menemukan Bimasakti. Jika benar apa yang dipikirkannya. Mungkinkah Tomi telah berhasil menemukan lelaki itu? Lantas dimana dia menyembunyikannya?
Laura keluar dari lift dengan benak berisi penuh pertanyaan. Langkahnya memelan ketika Tomi berjalan masuk dari arah lobby utama rumah sakit.
"Nyonya" sapa lelaki itu.
Laura tampak termangu sejenak. "Kau sudah datang" ucapnya seperti menahan sesuatu.
Tomi yang memang sangat peka pada majikannya mengetahui itu. Lelaki klimis dengan jas hitam melekat di tubuhnya itu sedikit merunduk mengimbangi tubuh Laura yang mungil. "Ada sesuatu yang ingin Nyonya sampaikan?" tanyanya
Laura tersenyum tipis. Ia memuji intuisi Tomi dalam hal menebak apa pun yang tengah berkecambung dalam benaknya. Wanita itu menghela nafasnya perlahan. "Kemarin aku mendengarmu dan Sabiel mengatakan sesuatu tentang Bimasakti"
Deg! Tomi terkesiap. Ia menegakkan kembali tubuhnya, menyadari apa yang akan Nyonyanya tanyakan.
"Apa kau sudah menemukannya?" tebak Laura.
Mata coklatnya mengawasi raut wajah Tomi yang tiba-tiba berubah. Lelaki itu jelas sedang menyembunyikan sesuatu darinya. "Dari raut wajahmu, sepertinya kau memang sudah menemukan lelaki itu. Benar begitu, Tom?" Laura kembali memastikan.
Lamat-lamat Laura menelisik Tomi dengan tatapan curiga. Ia mencari sisa-sisa kebohongan lain yang tengah disembunyikan lelaki itu dan suaminya di belakang dirinya.
"Katakan Tom. Apa yang sebenarnya Sabiel rencanakan dibelakangku? Dan dimana kau sembunyikan Bimasakti?" Laura menjadi sedikit tidak sabaran.
Tomi termangu sesaat, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan. "Lelaki itu kini berada di pulau pribadi Tuan, Nyonya. Di pondok mendiang orangtua Tuan Sabiel"
__ADS_1
Ucapan Tomi membuat Laura terkejut. "Benar kau telah menemukannya? Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja?" pertanyaan memburu Laura membuat Tomi sedikit bingung harus mulai menjawab darimana.
"Pemuda itu dalam kondisi yang baik. Tuan Sabiel memerintahkan seorang dokter untuk merawatnya. Hanya saja..."
Laura mencondongkan tubuhnya pada Tomi yang semakin membuatnya penasaran. "Katakan Tom! hanya saja apa?" pintanya
Tomi tampak ragu untuk mengatakannya, ia menelan ludahnya kasar. "Pemuda itu kini buta, Nyonya. Kami menemukannya dalam kondisi mengenaskan, sepertinya seseorang telah menyiksanya di tempat penyekapan itu"
Laura menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya menutupi mulut yang terperangah ngeri membayangkan lelaki yang dulu mengisi hatinya tidak bisa lagi melihat. Tanpa terasa air mata merembes membasahi pipinya.
Laura cepat-cepat menghapus air matanya. Dengan nada suara tersendat, ia menatap Tomi penuh rasa syukur. "Terima kasih Tom. Apapun kondisinya saat ini, itu lebih baik daripada kau tidak menemukannya sama sekali" ucapnya lirih.
"Berterimakasihlah pada Tuan, Nyonya. Tuan yang memerintahkan saya untuk menemukannya dan merawat semua lukanya" sahut Tomi.
"Aku mengerti" timpal Laura. "Lalu apa yang Tuanmu rencanakan untuk dia?" tanya Laura kemudian.
Tomi kembali meragu. Janjinya untuk menyembunyikan rencana Tuan sabiel berkelebatan dalam benaknya.
"Tomi! Apa rencana Sabiel? Katakan padaku?!" Laura memaksa. "Aku yang akan bertanggung jawab jika Sabiel marah padamu" sambungnya.
Tomi mengerjapkan matanya yang terasa panas oleh kebingungannya sendiri. Melihat keseriusan Nyonyanya, lelaki itu memilih untuk mengatakan apa yang selama ini Tuan Sabiel rencanakan.
Di menit-menit selanjutnya, Laura tidak bisa lagi menyembunyikan emosi dan rasa kesal yang berbaur dalam hatinya. Matanya membulat sempurna tak kala Tomi membeberkan semua hal gila yang ingin dilakukan Sabiel pada masa depannya. Laura menggeleng, beberapa orang yang lalu lalang di lobby itu melirik padanya dengan penuh rasa ingin tahu.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Tomi tak bisa berhenti melirik Nyonya Laura yang memilih duduk di kursi sebelah kemudi. Wanita itu masih terlihat syok mendengar apa yang disampaikan kepadanya mengenai rencana Tuan Sabiel untuk menjadi pendonor mata untuk Bimasakti.
"Carikan dia pendonor yang lain, Tom. Sabiel tidak akan pernah bisa menjadi pendonor matanya. Dokter Andri bahkan mengatakan kesehatannya semakin membaik. Dia hanya terlalu pesimis. Sore nanti dia akan tahu, bahwa ketakutannya akan berakhir sia-sia" ujar Laura pada akhirnya. Benaknya mengingat ucapan Dokter Andri yang mengatakan bahwa hasil radioterapi terakhir akan keluar begitu pihak dokter telah selesai melakukan evaluasi pada tubuh Sabiel.
Ucapan Laura membawa angin segar pada diri Tomi. Ia mengangguk sebagai tanda bahwa Ia setuju dengan apa yang di ucapkan Nyonyanya itu. Bagaimana bisa Tuan Sabiel menjadi pendonor sementara Tuhan telah memberinya perpanjangan waktu untuk tetap hidup.
"Baik Nyonya. Akan saya lakukan" ucap Tomi dengan lega.
🍁🍁🍁
"Kau ingin jalan-jalan, sayang?" tanya Laura pada Sabiel yang duduk ditepian ranjang.
"Aku merasa bosan" keluh lelaki bermata legam.
Laura yang berada di dekatnya memperhatikan pundak Sabiel. Matanya tertuju pada helaian rambut yang berjatuhan disana. Sabiel mengikuti arah pandang Laura. Tangannya yang terasa lemas menghalau sisa kerontokan parah yang terjadi pada rambut lebatnya.
"Tampangku sangat kacau, bukan?" Sabiel tidak percaya diri.
Laura tersenyum penuh kehangatan, "Kau tetap lelaki tampanku, sayang" ucap Laura seraya memeluk suaminya. "Penyakit tidak akan mengubah ketampananmu sedikit pun" sambungnya.
__ADS_1
"Jadi kau ingin kemana?" tanya Laura bersiap membawa Sabiel keluar menghirup udara segar.
"Aku ingin ke taman" sahut Sabiel.
"Baiklah. Aku akan bawakan kursi roda sebentar" timpal Laura.
Belum sempat Laura beranjak, Dokter Andri membuka pintu ruangan. Matanya bersiroboh dengan mata pasangan yang kini tengah memperhatikannya. Raut wajah Luara berubah antisipasi ketika dokter itu tersenyum lebar menatap bola matanya dan Sabiel bergantian.
"Ada apa dok?" tanya Laura menghentikan langkahnya untuk mengambil kursi roda.
Dokter Andri tak mengatakan apapun, lelaki tua itu ditemani oleh seorang suster dibelakangnya. Dan meminta suster itu memberinya beberapa lembar kertas yang berisi laporan kesehatan Sabiel yang baru saja keluar.
"Berhasil Nyonya!" ucapnya tak sabar.
Laura mengernyitkan dahinya. Tidak mengerti dengan apa yang dokter itu sampaikan. Namun dalam palung hatinya terdalam satu cahaya harapan bersinar terang seiring rona cerah yang tergambar dalam raut wajah keriput sang dokter.
"Pengobatan kita berhasil" dokter itu kembali mengulang ucapannya.
Laura terperangah kaget. Dadanya berdebar kencang diliputi harapan besar yang semakin menjadi, akan laporan mengenai kesehatan suaminya. Matanya menoleh pada Sabiel, wanita itu menyunggingkan senyumnya ketika ia melihat binar takjub berkelebatan di pelupuk mata jagoannya. Mata legam itu berkabut oleh rasa tak percaya. Bibir pucatnya bergetar tak siap mendengar keajaiban Tuhan yang keluar dari lelaki tua berjas putih dengan stetoskop menggantung di lehernya.
"Jangan memberiku harapan muluk, Dok" Sabiel tak bisa percaya begitu saja.
Laura berjalan mendekati suaminya. Ia mengusap lembut punggung Sabiel dengan mata berkaca-kaca. Sementara Dokter Andri berjalan sambil membusungkan dada merasa bangga atas pencapaian kinerjanya dalam melakukan berbagai upaya pada anak dari orang yang telah lama menjadi pasien VVIP-nya.
"Laporan hasil evaluasi para ahli medis disini mengatakan tubuh Tuan bebas dari sel kanker" Dokter Andri tak bisa menahan diri untuk tersenyum lebar dihadapan kedua manusia yang tengah dilanda badai kegelisahan di hatinya.
Laura menutup mulutnya dengan mata berlinang. Ia memeluk Sabiel dari arah samping dengan penuh haru. "Kau dengar itu, sayang?! tangan Tuhan sedang bekerja" bisiknya lirih.
Sabiel tergugu. Diusapnya tangan Laura yang melingkari lehernya. "Apa semua itu benar dokter?" tanyanya terbata.
Dokter Andri mengangguk kuat-kuat, dia melirik suster dibelakangnya yang tengah tersenyum melihat keharuan yang melingkupi sepasang suami istri dihadapannya. Sebelah tangannya menengadah meminta berkas lain dari sang suster.
"Laporan ini saya dapatkan setelah anda melakukan radioterapi terakhir sebelum dilakukan evaluasi pada seluruh tubuh anda Tuan. Dan setelah melalui serangkaian evaluasi yang panjang, kami menyatakan tubuh anda bebas dari sel kanker" ucap Dokter Andri menjelaskan.
"Sayang..." Sabiel menolehkan kepalanya pada Laura yang memilih menenggelamkan kepalanya di pundak Sabiel.
Tidak ada hal yang lebih melegakan saat itu, daripada apa yang telah diucapkan oleh dokter Andri. Hal yang paling Laura tunggu-tunggu akhirnya terjadi. Suaminya telah sembuh. Lelakinya akan kembali bersama dengannya. Samar-samar Sabiel mendengar isakan Laura, dan isakan itu memancing pula isakan dirinya muncul. Kedua manusia itu terdiam sambil meresapi keajaiban Tuhan yang baru saja terjadi dalam hidup mereka.
Ucapan dokter Andri untuk tetap melakukan kontrol dan menerapkan gaya hidup sehat terdengar seperti iringan musik dalam sebuah pementasan. Dokter tua itu tersenyum sambil mengusap ujung matanya yang berair. Mata rentanya melihat dengan jelas, hati kedua manusia di depannya yang tampak melambung oleh rasa syukur maha dasyat pada Sang Pencipta. Keajaiban yang setiap saat dikumandangkan oleh mereka terjawab sudah dalam lembaran kertas yang ia genggam erat. Dalam kertas itu, kesempatan hidup Sabiel terbuka lebar.
"Dokter, kapan aku bisa pulang?" tanya Sabiel setelah berhasil meredakan gejolak dalam jiwanya.
🍁🍁🍁
__ADS_1