Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 6


__ADS_3

Hari berlalu tanpa terasa. Seminggu bagaikan waktu sehari karena sang matahari terbit dan tenggelam dengan begitu cepat.


Sulit bagi Laura untuk menghindari permintaan Gisel dari beberapa hari yang lalu, mengenai keikutsertaan nya dalam acara inagurasi asrama gumilar.


Setiap Laura berada di kamar asramanya, Gisel tidak pernah absen untuk menanyakan apakah ia akan datang atau memilih menunda diri disini.


Acaranya sendiri akan diadakan besok malam. Seluruh senior yang menjadi panitia acara sudah menyebar undangan pada beberapa pihak untuk hadir di acara tahunan tersebut. Para penanggung jawab asrama putri dan putra di undang pula pada perhelatan itu. Tujuan utamanya adalah untuk mempererat ikatan antar sesama penghuni asrama. Acaranya sendiri di adakan di aula utama milik universitas dan akan di akhiri oleh sesi makan-makan disana.


"Laura.." panggil Gisel setengah merajuk pada teman sekamarnya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Laura terus berjalan menghampiri lemari pakaiannya dan mengambil beberapa potong pakaian yang akan ia gunakan untuk berangkat kuliah. Gisel yang sudah mulai akrab dengan Laura berlari kecil menghampiri Laura yang hendak berpakaian.


"Lauraaaa.." nada suara Gisel semakin dibuat manja. Dia memegangi hodie biru langit yang akan di pakai Laura.


"Apa?!" Laura menatap jengah pada Gisel.


"Besok malam kau ikut bukan?!" ucap Gisel membiarkan Laura memakai kembali hodie nya.


"Kenapa kau tidak datang sendiri kesana? Aku malas datang ke acara seperti itu." ucap Laura menatap lembut pada teman manja-nya itu.


"Aku tidak mau kalau kau tidak ikut." Gisel mengerucutkan bibirnya kesal.


Laura menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Semakin hari semakin dekat dengan Gisel, membuatnya tahu bagaimana karakter Gisel tersebut. Gisel anak terakhir dari tiga bersaudara. Dua kakaknya adalah lelaki, dan dia menjadi satu-satunya perempuan di keluarganya. Ayahnya seorang karyawan di perusahaan asuransi bonafide di Jakarta, sedangkan ibunya telah meninggal dunia sejak ia masih SMA. Sementara itu kedua kakak lelakinya bekerja di sebuah perusahaan. Kakak pertama yang belakangan Laura ketahui namanya sebagai Hendra, bekerja di sebuah tambang minyak di Sumatera. Sedangkan kakak keduanya bernama Ibram baru beberapa bulan lalu lulus dari pendidikannya di Universitas Indonesia, dan sekarang sudah berhasil menduduki salah satu jabatan bergengsi di perusahaan besar Jakarta.


Dengan menjadi wanita satu-satunya ditambah posisinya sebagai anak terakhir, membuat Gisel memiliki pembawaan yang manja dan sedikit cengeng. Gisel sendiri dapat dengan mudah menjadi akrab dengan Laura karna karakter Laura yang kuat, tegas dan penyayang. Karakter yang tepat bagi Gisel untuk bisa bermanja-manja pada teman tidurnya itu.


Laura menghela nafasnya pasrah. Melihat wajah Gisel yang merajuk membuatnya tidak tega untuk tidak menemaninya di acara inagurasi itu.


"Hanya sebentar." ucapnya kemudian. Seketika mata Gisel bersinar cerah, bibirnya mulai tersenyum lebar menatap senang pada temannya itu. "Aku akan menemanimu hanya sebentar. Setelah acara makan-makan, kita kembali." Laura menekankan maksudnya agar Gisel paham.


"Oke. Aku mengerti." Gisel mengangguk cepat.


"Sekarang minggir dari jalanku." Laura mendorong kearah samping tubuh Gisel yang berada di hadapannya. "Kau tidak kuliah?" tanyanya kemudian sembari mengambil sepatu dari dalam raknya.


"Nanti siang." jawab Gisel singkat. Dia terus saja tersenyum mengikuti Laura menuju pintu kamar. Perasaannya menjadi tidak sabar untuk segera datang ke acara tahunan itu. Laura tersenyum kecut melihat wajah ceria temannya itu, sebelum akhirnya ia berangkat untuk memulai perkuliahan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Laura berjalan menuju gedung kuliahnya. Dia membawa laptop dalam tas ranselnya. Udara Bandung kala itu terasa bersahabat dengan kulitnya, pagi yang segar dengan udara sejuk membuat langkah kakinya terasa santai. Semilir angin menggoyangkan helai rambutnya yang tergerai.


Jarak antara gedung asrama dengan gedung kuliah tidak lebih dari 500 meter. Gedung asrama berada beberapa blok jalan di belakang gedung kuliah-nya. Di sepanjang jalan menuju gedung kuliah, berjejer rapi pohon pucuk merah. Daun-daun sisa terpaan angin terserakan di jalan aspal yang dijejaki Laura saat itu.


Matanya melihat dua bangunan berlantai tiga di sebelah kiri dekat dengan persimpangan antara jalan menuju gerbang belakang kampus dengan lapangan basket. Disana tampak sedang ramai oleh para mahasiswa yang sedang bersiap menuju gedung kuliahnya masing-masing. Itu adalah gedung asrama sakula dan sadewa, tempat dimana para mahasiswa putra tinggal.


Laura terus berjalan melewati gedung itu. Beberapa mahasiswa baru melintasinya menggunakan sepeda. Dari tampilannya ia menduga, mereka pasti dari jurusan kedokteran. Pakaian rapi dengan kemeja panjang yang dimasukan dalam celana bahan slim fit ditambah sepeda gunung dari merk terbaik yang mereka gunakan, cukup meyakinkan Laura bahwa kelak mereka akan berakhir menjadi seorang dokter.


Memang benar, terkadang penampilan menunjukan status sosialmu. Namun sayangnya, perbedaan status sosial bisa begitu terasa meski di dalam kampus. Seharusnya kampus menjadi tempat yang netral bagi semua status sosial. Di kampus yang membedakan orang yang satu dengan yang lain harusnya adalah kualitas otaknya. Bukan kualitas penampilannya. Namun nampaknya pemikiran itu hanyalah pemikiran utopis belaka. Karena pada realitasnya status sosial akan selalu terasa dimana pun dirimu berada. Termasuk ditempat dirimu menimba ilmu.


"Ternyata kau disini."


Laura mendongakkan kepala sejenak, menatap heran pada Rena yang berada di belakangnya. Mata Laura mengikuti Rena yang mulai duduk di kursi sampingnya.


"Aku tadi pergi ke kantin. Aku pikir kau disana." Rena menjelaskan ketika melihat tatapan heran dari temannya itu.


"Oh. Aku memang tidak ke kantin pagi ini. Malas." Laura berkata santai.


Laura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, ia langsung memberikannya pada Rena yang sudah menunggu sejak tadi.


"Seharusnya sudah sejak lama kita bertukar nomor ponsel." ucap Rena sembari jarinya mengetik beberapa nomor di layar ponsel Laura. "Kau terlalu tak peduli, hingga tak pernah meminta nomor ponselku terlebih dulu." dengusnya kemudian.


"Maaf. Aku melupakan hal itu." Laura tersenyum penuh sesal. Dia memang tidak pernah terlihat sibuk bertukar nomor ponsel seperti teman sekelas yang lain. Dia terlalu malas untuk berbagi hal yang menurutnya privasi. Terkecuali untuk Rena dan Gisel yang kini menjadi teman karibnya.


🍁🍁🍁


Sabiel menyeruput teh melati hangat dari cangkir yang ada di hadapannya. Saat ini ia sedang berada di ruang Dekan Fakultas. Sanjaya yang sejak tadi berbicara dengan seseorang melalui sambungan telephon tersenyum ramah pada Sabiel yang memperhatikannya.


"Tunggu sebentar." ucap Sanjaya hanya berupa gerakan bibir yang cukup jelas untuk Sabiel pahami. Sabiel mengangguk santai.


Matanya melihat kartu undangan terbungkus rapi dalam plastik transparan tergeletak tak jauh dari posisinya. Ia ambil kartu itu, dan membaca tulisan besar di cover depan kartu tersebut. MALAM INAGURASI ASRAMA PUTRI GUMILAR.


Asrama gumilar? Itu tempat Laura tinggal.

__ADS_1


Sabiel tampak berpikir sejenak, bayangan wajah Laura langsung terlukis jelas dalam benaknya. Dia tersenyum penuh siasat.


"Itu acara tahunan di asrama kampus."


Penjelasan ayah angkatnya membuat pandangan Sabiel kini beralih pada orang tua yang berjalan menghampirinya setelah menutup kembali telephon di meja kerjanya.


"Siapa tadi?" Sabiel bertanya


"Orang dari Rektorat. Mereka mengajukanku untuk menjadi Pembantu Rektor." Sanjaya tampak memijit pelipisnya.


"Bukankah itu bagus?"


"Aku tidak berminat. Apa kau lupa?! selesai dari jabatanku ini aku akan mengajukan pensiun." Sanjaya merasa sudah cukup baginya untuk selalu disibukkan perkara kampus dan pekerjaan. Dia ingin di usia senjanya, ia selalu berada bersama istrinya tercinta. Menikmati masa tua sepanjang hari tanpa direcoki oleh agenda rapat yang monoton.


"Sudah cukup bagiku untuk menghabiskan waktu dalam pekerjaan. Kini saatnya aku menikmati masa tua dengan santai dirumah...bersama istriku." ucap Sanjaya bijaksana. Perasaan senang jelas terdengar dari setiap kata yang terucap.


Sabiel tersenyum mendengarnya. Orangtua angkatnya ini memang orang yang beruntung. Memiliki keluarga yang harmonis dengan istri yang patuh dan penyayang, yang mencurahkan semua waktunya hanya untuk mengurusi suami dan dua orang anaknya. Sungguh, orangtua angkatnya ini menjadi gambaran ideal sebuah keluarga bagi Sabiel. Setiap datang berkunjung ke kediaman Sanjaya, Sabiel terkadang merasa iri melihat kehangatan yang terpancar dari sikap menyayangi dan saling menjaga di antara anggota keluarga itu.


Betapa inginnya Sabiel merasakan kehangatan itu setiap hari. Setiap waktu. Hingga sampai di ujung usianya nanti.


"Inagurasi asrama itu acara apa?" Sabiel sengaja mengubah topik pembicaraan. Disamping ia menghormati pilihan Sanjaya untuk menolak tawaran jabatan itu, disisi lain Sabiel memang penasaran dengan undangan dari asrama Laura tersebut.


"Semacam acara ramah tamah. Semua penghuni hadir untuk mempererat rasa kekeluargaan." Sanjaya menjelaskan secara garis besar. Sabiel tampak menganggukan kepalanya.


"Kau ingin mencoba datang?" pertanyaan yang Sabiel tunggu akhirnya keluar juga. Matanya menatap penuh minat ketika ia memikirkan akan bertemu dengan gadis itu lagi disana.


Hari ini Sabiel tidak memiliki jadwal mengajar di kelas Laura. Begitupun dengan dua hari kedepan karna weekend. Namun undangan inagurasi ini akan membuatnya bertemu kembali dengan gadis cantik itu tanpa menunggu hari masuk kuliah. Tentu ini tawaran menggoda yang tidak akan mungkin Sabiel lewatkan begitu saja.


Dia harus datang besok malam.


"Ya. Aku akan datang." ucap Sabiel menyeringai senang mendapat tawaran itu.


🍁🍁🍁


Jangan lupa Like, Koment dan Vote nya 😍😍

__ADS_1


__ADS_2