Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 8


__ADS_3

Laura terbangun dan samar-samar dia melihat Gisel sedang menjemur pakaiannya di depan kamar. Matahari sudah terasa hangat menembus jendela kamar yang telah Gisel buka.


Laura merenggangkan badannya yang terasa kaku. Kemudian mengusap wajahnya pelan. Dia menatap gaun yang semalam ia pakai masih tersampir rapi di ujung kursi meja belajarnya.


Benaknya memutar kembali pembicaraan semalam dengan dosen Sabiel. Dia mengingat-ngingat permintaan dosen itu untuk mulai tidak berbicara formal padanya. Dia juga ingat dosen muda yang digilai para mahasiswi itu berhasil membuatnya memberikan nomor ponsel pribadinya malam itu. Padahal selama ini, Laura tidak pernah memberikan kontak person-nya pada lelaki manapun. Kecuali ayah dan pamannya di Jakarta.


"Seharusnya aku menolak memberikan nomorku padanya." sesal Laura dalam hati.


Apa yang terjadi pada dosen itu? Mengapa tiba-tiba dia meminta Laura memanggil namanya. Lalu bagaimana bisa Laura bersikap tidak sopan dengan hanya memanggil 'Sabiel' pada dosennya sendiri. Terlebih lagi dosen itu berusia jauh di atasnya. Laura mengernyitkan dahinya sembari menggelengkan kepalanya tak mengerti.


Orang dewasa terkadang susah dipahami.


"Kau sudah bangun?"


Pertanyaan Gisel membuat Laura langsung tersenyum lebar.


"Dasar kau ini!" Gisel menempar handuk yang ia pakai untuk melilit rambutnya yang basah tepat mengenai wajah Laura. "Semalam kau kemana huh?! Aku mencarimu di dalam aula tapi kau tidak ada." Gisel berkacak pinggang di hadapan Laura yang masih bermalas-malasan di atas kasur.


"Aku juga mencarimu. Tapi kau tidak ada." Laura mencoba membela diri.


"Memang kau kemana setelah mencariku?" tanya Gisel duduk di kasur Laura.


"Aku duduk di dekat pintu luar." Laura diam sejenak. "Menunggu kau keluar, tapi kau tak kunjung keluar. Jadi aku langsung pulang ke asrama bersama beberapa penghuni lain." Dia tidak mengatakan masalah dosennya kepada Gisel.


"Kau pulang jam berapa?" tanya Laura beranjak dari tidurnya. Matanya menatap mata Gisel yang tampak bersinar. Matanya mulai memicing curiga melihat kilat kebahagian dan pipi yang bersemu kemerahan di wajah bulat temannya itu.


"Kau tahu, aku berkenalan dengan senior jurusan kimia disana." Gisel tak tahan untuk menyeringai senang. "Dia tinggal di asrama sakula." sambungnya.


"Pantas saja aku tidak melihatmu disana, ternyata kau sedang asik berduaan dengan lelaki." Laura mendelik pada Gisel yang terkekeh malu sembari kembali mengeringkan rambut setengah basahnya dengan handuk yang tadi ia lempar pada Laura.


"Sudahlah. Hari ini kau ada acara tidak?" tanya Gisel. Dia bangkit dari duduknya meninggalkan Laura yang kembali merebahkan diri.


"Tidak ada. Memang kenapa?" tanya Laura sambil mengangkat kedua kakinya untuk disandarkan pada headboard kasur.


"Temani aku ke toko buku. Ada beberapa buku yang harus aku cari." pinta Gisel tanpa menoleh pada Laura.

__ADS_1


"Kapan?" tanya Laura


"Nanti sore." sahut Gisel singkat.


🍁🍁🍁


Sore harinya, mengikuti permintaan Gisel, mereka pergi ke satu toko buku. Toko buku besar itu terletak di pusat kota Bandung. Di jalan Merdeka berseberangan dengan Bandung Indah Plaza Mall, salah satu tempat hangout populer di Bandung.


Laura dan Gisel berjalan menyusuri jalan utama menuju toko buku tersebut. Gisel beberapa kali melirik aneka gerobak makanan yang terparkir rapi di bahu jalan. Laura harus menariknya cepat, agar Gisel tidak selalu berhenti untuk memborong semua makanan yang tersaji disana.


Ketika mereka berdua sampai di toko buku besar tersebut, baik Laura maupun Gisel langsung berjalan memisahkan diri mencari buku-buku yang menarik menurut selera mereka. Gisel berjalan pada barisan rak bagian buku-buku pengetahuan, sedangkan Laura berjalan pada meja-meja yang terdapat banyak novel di atasnya.


Laura tampak berlama-lama berada di rak novel-novel terjemahan. Matanya terlihat bersemangat menelusuri satu per satu judul novel di hadapannya. Sesekali tangannya mengambil beberapa buku untuk kemudian ia baca sinopsisnya. Tak membutuhkan waktu lama, Laura sudah mulai tenggelam menikmati begitu banyaknya buku yang menggoda untuk ia beli.


Tatapannya tertuju pada berbagai genre novel yang tertata rapi di rak-rak buku itu. Ia terus berjalan menyusuri setiap sudut rak buku disana, hingga tanpa disengaja bahunya bersenggolan dengan seseorang yang berjalan melewatinya.


"Aduh." Laura mengaduh pelan sambil mengusap bahunya yang tersenggol seseorang.


"Laura."


"Pak Sabiel?!" Laura memastikan penglihatannya. Matanya sedikit terkejut dengan sosok dosen yang tadi pagi ia sempat pikirkan.


"Kau dengan siapa disini?" tanya Sabiel heran karena tak melihat siapapun bersama Laura saat itu.


"Teman." jawab Laura singkat. "Bapak dengan siapa?" Laura balik bertanya.


"Aku ber... "


"Sayang?"


Belum sempat Sabiel menjawab, Intan datang dari arah belakangnya. Dia menengok pada Laura. Menatapnya dengan pandangan penuh tanya.


"Siapa dia?" tanya Intan. Matanya melihat Laura dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Laura yang merasa di perhatikan seperti itu merasa canggung dan risih. Ia tersenyum kaku menatap Intan yang terlihat hendak merangkul lengan Sabiel.

__ADS_1


Sabiel terdiam. Ia tampak bingung untuk memperkenalkan Laura pada Intan. Seharusnya dua wanita ini tidak perlu bertemu seperti ini. Dia tidak ingin kedua wanita dihadapannya itu saling mengenal.


"Sayang?" Intan menyadarkan keterdiaman suaminya.


"Dia mahasiswaku di kampus. Laura, kenalkan ini Intan. Istri bapak." Sabiel terpaksa memperkenalkan Intan pada Laura.


Laura tampak tersenyum ramah menatap Intan yang tersenyum kaku padanya. Dia tidak menyadari kegelisahan yang melanda hati Sabiel saat itu.


"Kau sedang mencari buku apa?" Sabiel tampak berbasa basi pada Laura.


Laura tidak tahu harus bersikap bagaimana dihadapan dosen dan istrinya itu, dia terlihat begitu canggung untuk menanggapi pertanyaan Sabiel.


"Novel biasa pak." jawab Laura, matanya sesekali melirik pada Intan yang terus merangkul lengan suaminya. Sabiel menyadari pandangan Laura, dia berdehem untuk menetralkan hatinya yang mendadak gelisah.


"Sayang.. Ayo." Intan merajuk manja.


"Baiklah. Silahkan kau lanjutkan. Saya pergi dulu." pamit Sabiel. Ia berjalan bersisian dengan Intan menuju bagian lain dari toko buku tersebut, setelah mendapat anggukan kepala dari Laura.


Laura akhirnya dapat bernafas lega, setelah dosen dan istrinya itu pergi meninggalkannya sendiri. Kini dia bisa kembali melihat novel-novel kegemarannya. Sebenernya daripada novel masa kini, Laura lebih suka novel-novel klasik. Dia merasa setiap kata yang ada disana lebih terasa puitis dari pada novel modern.


Lama Laura tenggelam dalam lautan buku, tanpa dia sadari Sabiel sedang mencuri-curi pandang padanya. Intan begitu meninggalkan Laura tadi, ia langsung mencari lagi buku-buku tentang desiner. Dia tidak tahu, bahwa suaminya berjalan menjauhinya untuk kembali menikmati kecantikan Laura dari jarak jauh. Sabiel menatap lekat gadis itu. Mengintainya seperti seekor predator di tengah hutan.


Sesekali Sabiel tersenyum, melihat Laura tampak bingung memilih buku yang mana yang akan ia masukkan dalam keranjang. Laura begitu menggemaskan ketika ia terlihat bersusah payah berpikir memutuskan pilihannya diantara beberapa novel yang ia pegang.


Sabiel memicingkan mata menatap penuh rasa penasaran ketika melihat ada gadis lain seusia Laura yang datang dan langsung merangkul bahu Laura.


Sabiel baru menyadari bahwa gadis itu adalah gadis yang sama dengan yang bersama Laura saat malam inagurasi. Sabiel melihat mereka tertawa renyah disana, entah apa yang sedang mereka bicarakan, hingga tawa yang keluar begitu menggelitik.


Sabiel tersenyum hangat melihat gadis yang tidak ia ketahui namanya itu, seperti sedang bermanja-manja pada Laura. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Laura, sambil mengerucutkan bibir. Laura terlihat penuh kasih sayang mengelus lembut rambut gadis itu. Sorot matanya teduh, membuat Sabiel betah memandanginya terus.


Sabiel segera membalikkan badan, bersembunyi diantara pilar besar yang berada di toko buku itu ketika melihat kedua gadis itu berjalan menghampiri tempatnya. Hatinya berdebar khawatir kalau-kalau Laura memergokinya. Laura dan Gisel berjalan santai menuju kasir. Mereka tak sadar telah melewati pilar besar yang menjadi tempat persembunyian Sabiel. Mata Sabiel terus mengintai pergerakan Laura dan Gisel. Dia baru bisa bernafas lega ketika melihat kedua gadis itu keluar dari toko buku.


Laura pergi, Meninggalkan Sabiel yang terpaku menatap punggungnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Like, Vote dan Koment, Ok?! 😍😍


__ADS_2