Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 84


__ADS_3

Hari berlalu bulan terlewati membawa Laura pada satu kecurigaan pasti. Sabiel tampak mencurigakan setiap hari. Tingkahnya yang tak biasa membuat Laura terus terusik dan merasa ada sesuatu yang tengah lelaki itu sembunyikan dari dirinya.


Dia baru saja kembali dari kampus. Semester baru dengan kesibukan yang lebih padat, tak membuatnya berhenti mencurigai Sabiel. Seperti saat ini. Lelaki itu kembali pergi dengan alasan yang terasa dibuat-buat. Sabiel mengatakan ia ingin melakukan rapat dadakan dengan pekerja di outlet-outletnya. Satu hal yang sungguh diluar dari kebiasaannya.


Laura yang sudah cukup lama hidup bersamanya, tahu pasti jika suaminya itu tidak pernah turun langsung untuk menangani semua bisnis yang orangtuanya wariskan kepadanya. Ia selalu memiliki tangan kanan di masing-masing bisnisnya yang langsung berada di bawah komando Tomi sebagai kepercayaan keluarga besarnya.


Laura menatap jam dinding di ruang keluarga. Jarum jam menunjukkan pukul enam sore hari. Waktu dimana seharusnya Sabiel sudah kembali. Laura meraih ponselnya, ia ingin menghubungi Sabiel sekarang juga.


"Halo? Sayang?" tanya Laura sebagai ucapan pembuka.


"Laura, ada apa? Aku sedang sibuk saat ini. Kau bisa menghubungiku lagi nanti" Sabiel langsung berucap dengan nada tergesa.


Laura tampak kesal. "Kau dimana? Kenapa belum pulang?" tanyanya sinis.


"Aku sedang meeting. Nanti aku pulang. Jangan menungguku, kau tidur lebih dulu" ucap Sabiel terdengar seperti ingin menyudahi pembicaraan dengan Laura.


"Aku hanya..."


Tut.. Tut.. Tut..


Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, ponsel Sabiel sudah dimatikan oleh lelaki itu. Laura menggenggam erat ponsel itu dengan tangannya, sampai buku-buku jemarinya memutih. Sabiel jelas menyembunyikan sesuatu. Dada Laura kesal oleh sikap dingin suaminya. Matanya berkabut seketika menerima perlakuan kasar itu. Entah mengapa sikap Sabiel begitu membuat hatinya terasa sakit. Sebelumnya lelaki itu tidak pernah sekalipun memutus panggilan Laura. Namun apa yang kini terjadi? sikapnya terasa dingin bagi Laura. Dia seperti kehilangan Sabiel yang selalu mengutamakan dirinya. Hal apa yang membuat Sabiel seperti itu? Siapa yang telah mengalihkan perhatiannya dari Laura?


Mata Laura menatap tajam layar ponsel yang mati, gerahamnya langsung mengeras pertanda emosi sedang menguasainya. Tanpa ragu sedikitpun, wanita yang tengah dirasuki rasa curiga dan cemburu itu, melempar benda pipih yang ia genggam dengan sembarang.


Prank!


Dentuman nyaring di lantai membuat kedua pembantu Laura berlarian menghampiri nyonyanya.


"Tidak usah di bereskan Mbok. Biarkan saja" ucapnya ketika Mbok Suti dan Mbok Yayu bersiap untuk memungut ponsel yang rusak itu.


Tak berapa lama, Laura berjalan menghampiri tangga. Ia menjejak anak-anak tangga penuh penekanan. Sementara kedua pembantu saling bertatapan mempertanyakan apa yang telah terjadi pada majikannya.


🍁🍁🍁


Tatkala sisa-sisa malam terakhir akan menjelang, Sabiel berjalan tanpa suara di kegelapan. Sinar purnama dari jendela membentuk bayangan tubuh mungil meringkuk dalam selimut. Hanya sedikit rambutnya yang tampak.


Sabiel menghela nafasnya yang terasa berat, mengingat laporan para pembantunya tadi yang mengatakan Laura membanting ponsel dengan raut wajah menahan murka.


Sabiel mengerti. Kemarahan Laura pasti berasal darinya. Panggilan yang ia putus sepihak membuat hati wanita itu digelayuti perasaan marah hingga ia memilih membanting ponselnya untuk melampiaskan semua emosi dalam hati.


Rencana perawatan yang Sabiel jalani tanpa sepengetahuan Laura benar-benar membuatnya kesulitan. Ia harus berkali-kali mencari alasan masuk akal yang bisa diterima Laura agar mengijinkannya pergi dalam waktu yang cukup lama.


Sebelum ia melangkah mendekati tempat tidur, Sabiel berjalan terlebih dulu ke dalam kamar mandi. Lelaki itu membasuh wajahnya yang tampak letih. Radioterapi membuatnya tampak kuyuh dalam rentang waktu yang begitu cepat.


Ia naik perlahan ke atas tempat tidur, merapatkan dadanya pada punggung Laura. Tangan kokohnya melingkar dengan posesif di pinggang Laura. Laura merasakan kehadiran suaminya. Perlahan ia membalikkan badannya. Mata sayunya menatap wajah letih Sabiel. Padahal sejak sore tadi, ia ingin sekali meluapkan kemarahannya pada lelaki itu. Namun melihat wajah lelah itu tersenyum lembut, membuat hati Laura tak tega.


Laura mengelus wajah Sabiel, "Kau baru kembali?" tanyanya dengan suara serak.

__ADS_1


Sabiel mengangguk sembari mengecup telapak tangan istrinya. "Maafkan aku, sayang" ucapnya penuh sesal.


Laura menarik udara dengan kuat, ia hembuskan perlahan hingga membuat wajah Sabiel terasa dingin oleh hembusannya. "Kau membuatku khawatir. Apa aku boleh tahu kemana kau seharian ini? Maksudku, kemana kau akhir-akhir ini? Kau sering pergi dalam waktu yang lama" ujar Laura meminta penjelasan.


"Aku ada urusan" Sabiel masih keras kepala untuk tidak memberitahu Laura.


"Jangan sampai aku menemukan selingkuhanmu, sayang" ancam Laura yang curiga dengan sikap aneh suaminya.


Sabiel terkekeh mendengar dugaan yang sudah pasti salah besar itu. Jemarinya membelai anak-anak rambut Laura yang berantakan. "Bagaimana aku bisa selingkuh darimu? Sementara hatiku sudah sesak terisi oleh wajahmu. Tidak ada ruang sekecil apapun untuk wanita lain. Hanya kau! satu dan selamanya ratu dalam hatiku" ungkap Sabiel sebelum mencium mesra bibir Laura.


"Gombal! Kau memang ahli dalam hal menyelamatkan diri" ledek Laura ketika ciuman itu terlepas.


Sabiel kembali terkekeh. Dia membawa tangan Laura pada dadanya. "Rasakan. Jantungku hanya akan berdetak dan berhenti untukmu, Laura" ucap Sabiel sendu.


Laura menarik tangan itu dengan wajah cemberut. "Tapi kau membuatku curiga akhir-akhir ini. Kau tahu, aku sering merasa ditinggalkan olehmu" ujar Laura menatap kesal bola mata legam yang menatapnya hangat.


Sabiel tersenyum mencoba menyimpan raut wajah cemberut Laura yang menggemaskan dalam memorinya. Lelaki itu tak tahan. Ia mendekatkan wajahnya, mempertemukan bibirnya dengan bibir Laura tanpa bisa Laura cegah.


"Berhenti mencurigaiku, sayang. Karena itu sia-sia. Lebih baik kita saling bertukar hangat malam ini" nada bicara Sabiel yang menggoda membuat Laura membalikkan badannya lagi.


"Aku tidak mau" jawabnya ketus.


"Sayang ayolah, satu ronde saja" Sabiel mulai merajuk. Ia menarik kembali Laura hingga berhadapan dengannya. "Satu ronde sebagai obat lelapku" sambungnya.


Tubuh Sabiel sebenarnya sedang lelah. Namun keinginan untuk merengkuh Laura terlalu besar untuk bisa ia abaikan. Bercinta dengannya, membuat Sabiel memiliki banyak kesempatan untuk bisa menyimpan keutuhan tubuh Laura dalam setiap sendi tubuhnya.


Sabiel tak mengindahan penolakan Laura. Dia tahu Laura hanya pura-pura menolaknya, padahal jika sudah berada dibawah kuasa gairah, wanita itu yang justru lebih liar.


Sabiel menyibakkan gaun tidur Laura dengan cepat, tanpa permisi. Tubuhnya langsung berada di atas tubuh Laura. "Aku tahu kau tidak akan pernah bisa menolak cumbuanku" ucap Sabiel arogan sebelum ia membenamkan bibirnya dalam lipatan bibir Laura.


Hanya sekejap mata Laura terbelalak. Selebihnya mata indah itu langsung berkabut oleh gairah yang hadir akibat ciuman sensual suaminya. Sabiel merangkup pipi Laura, sementara kedua lengan Laura melingkar dilehernya. Keduanya hanyut dalam suasana romantis yang kelabu. Cahaya purnama menjadi saksi dua tubuh berpadu.


Sabiel membiarkan jemari lentik istrinya bergerak merayu dan menggoda tubuhnya. Liukan gemulai jemari itu membuat hati Sabiel berdenyut oleh gairah yang semakin terpacu. Rayuan Laura terasa mematikan detak jantungnya karena rasa nikmat yang tak terperi.


Perlahan keduanya saling melucuti penghalang dari tubuhnya masing-masing. Seketika Laura mengernyitkan dahi melihat sesuatu yang baru ia sadari.


"Sayang, sejak kapan tubuhmu menyusut?" tanyanya sembari menyentuh lembut sekitaran dada dan lengan atas suaminya.


🍁🍁🍁


Ruangan itu segera menjadi gaduh. Tatapan rasa puas dan lega tergambar jelas dalam senyum kemenangan yang merekah sempurna dari wajah-wajah letih pada aktivis muda dan tua. Laras menepuk-nepuk pundak seorang lelaki berhodie hitam yang duduk di hadapan sebuah komputer. Seringai bangga melintas di wajah badboy-nya.


"Kerja bagus Rick!" ucap Laras puas dengan kinerja mahasiswa universitas swasta Jakarta yang baru saja berhasil menuntaskan misinya sebagai hacker pada satu perusahan besar yang menjadi target Laras dan kawan-kawan.


Beberapa waktu lalu, Laras berhasil menemukan satu berkas yang Bimasakti sembunyikan dibalik pigura Adolf Hitler di kamarnya. Berkas itu berupa flashdisk kecil berbahan logam yang Bimasakti tempel dengan lakban coklat.


Laras tak bisa meredam keterkejutannya ketika melihat isi dari dalam berkas itu. Bimasakti membuat satu laporan panjang tentang kecurangan perusahan bahan baku kelapa sawit yang telah melakukan manipulasi penguasaan lahan dengan membakar hampir 10 hektar tanaman karet yang siap panen di pulau Sumatera. Dalam laporan itu, Bimasakti secara detail menceritakan pihak-pihak pemerintah setempat yang diduga ikut andil dalam pembakaran lahan karet tersebut.

__ADS_1


Setelah melihat dan mempelajari dengan seksama, Laras berkeyakinan bahwa hilangnya Bimasakti pasti ada kaitannya dengan pentolan perusahaan tersebut.


"Bocah gila! pantas saja mereka menangkapmu" saat itu berulang kali Laras bergumam hal yang sama.


Keyakinan Laras pada akhirnya membuat dirinya berinisiatif untuk mulai melakukan pengintaian. Dia meminta salah satu kenalan nya, seorang hacker dunia maya untuk membantu menyusupi jaringan pada sistem perusahaan itu. Tujuannya adalah mencari jejak yang mungkin saja akan mengantarkannya pada lokasi Bimasakti berada.


Dan dugaannya tepat. Hacker bernama Ricki itu berhasil menemukan sejumlah data yang berkaitan dengan Bimasakti dan para buruh lain yang ternyata sudah lebih dulu mereka tangkap. Salah satu email dari komputer ruang direktur itu menjelaskan nama-nama siapa saja yang dianggap berbahaya dan harus segera dilenyapkan. Bimasakti ada dalam deretan nama itu, lengkap dengan foto dan lokasi tempat tinggalnya.


"Kena kau!" salah seorang kawan bernama Agil menunjuk layar komputer yang berisi data-data curian.


"Rick, apa kau bisa melacak lokasi pasti dari Bimasakti?" tanya Laras bersemangat.


Ricki tampak berpikir sebentar, kemudian ia mengangguk yakin. "Akan aku coba"


Jemari jenjangnya mulai lincah bermain di permukaan keyboard. Memadupadankan deretan nomerik dan huruf yang hanya para hacker lah yang tahu artinya. Laras beserta beberapa orang kawan ormasnya, serius menyaksikan kelihaian Ricki dalam merentas beberapa jaringan dalam waktu singkat. Dahi Laras berkerut melihat keseriusan Ricki dalam usahanya untuk menemukan Bimasakti.


Klik.


Ricki mengakhiri pencariannya dengan mengklik satu gambar besar yang menampilkan sebuah bangunan persegi panjang berukuran besar yang berada di tengah-tengah hutan pinus.


"Magelang" ucap Ricki setelah memastikan lokasi gambar tersebut.


Laras saling menatap semua anggota ormas yang berada di ruangan itu. "Kita harus bergerak. Kemungkinan Bimasakti berada disana" ujarnya mendapat sambutan serentak dari semua mata yang menatapnya penuh semangat.


"Ricki, terima kasih. Berkatmu kemungkinan kami bisa menemukan Bimasakti" ucap Laras menatap Ricki.


"Tak perlu sungkan. Kau bisa mengandalkanku jika pemerintah tak lagi bisa diandalkan" sahut Ricki.


"Apa kita akan menghubungi komisi HAM?" tanya salah seorang kawan.


Laras tampak berpikir, matanya memicing bak seorang detektif yang tengah memikirkan cara untuk meringkus target.


"Tidak. Kita lakukan dengan tenaga kita sendiri. Hubungi ormas buruh di Magelang. Ceritakan apa yang kita temukan dan minta mereka mengawasi area tersebut sampai kita datang kesana" suara tegas aktivis wanita itu menjadi awal dari kesibukan rencana panjang penemuan Bimasakti.


Tanpa komando, kumpulan itu terpecah. Masing-masing anggota seperti hafal dengan pasti apa yang harus mereka lakukan. Sementara Laras mengulurkan tangannya pada Ricki.


"Sekali lagi terima kasih Rick. Meskipun akhirnya direktur utamamu akan terjerat kasus ini, kau masih manusia yang memihak kebenaran daripada uang"


Ricki terkekeh. "Aku tinggal mencari tempat magang yang lain, Laras. Lagipula apa enaknya mendapat gaji dari orang yang tangannya berlumuran darah orang tak berdosa" ujarnya santai menerima uluran tangan teman lamanya.


"Kau benar. Sama sekali tak ada enaknya" timpal Laras.


Mata kedua orang itu berpencar menelisik kesibukan yang semakin membangkitkan semangat perlawanan dari semua anggota yang ada dalam ruangan itu. Seseorang sedang sibuk menghubungi ormas Magelang, seorang lagi siap dengan pemesanan tiket kereta api yang mereka pesan satu gerbong penuh. Beberapa orang yang lain sibuk menyusup rencana pencarian Bimasakti. Mereka membuat gambaran kasar dalam sebuah papan whiteboard tentang bagaimana para anggota ditambah beberapa pasukan keamanan yang akan mereka hubungi nanti ketika sampai di Magelang, melakukan penyerbuan tiba-tiba.


Hati Laras melambung oleh rasa optimis akan misi yang hendak mereka buat. Wanita itu berharap, bahwa kedatangannya kesana tidak sangat terlambat bagi penyelamatan Bimasakti dan beberapa tahanan yang kemungkinan ikut menjadi korban penculikan pula.


Ditengah kesibukan itu, Laras mengingat Laura. Wanita yang begitu dicintai Bimasakti itu, harus tahu perkembangan pesat ini.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2